A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 4: Misi Dari Demang


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


Setelah mengantar kepulangan orang terkaya di Kadipaten hingga halaman rumahnya, Adipati Marak Wijaya dikejutkan oleh kedatangan rombongan prajurit Kadipaten yang membawa dua orang tawanan, diikuti oleh satu pedati dan empat kuda. Kedua tawanan itu berpenampilan pendekar.


Tatapan Adipati Marak Wijaya tampak serius kepada Alma Fatara. Namun, ia jadi kerutkan kening ketika melihat Komandan Gendas Pati harus dipapah turun dari pedati kuda.


“Apa yang terjadi, Gendas Pati?” tanya Adipati Marak Wijaya.


“Kami menangkap dua orang asing yang mengambil papan pengumuman dari tempatnya,” jawab Gendas Pati.


“Bukan itu, dirimu yang aku maksud!” tandas Adipati Marak Wijaya.


“Aku dilumpuhkan oleh Alma Fatara, pendekar wanita itu,” jawab sang komandan lagi.


“Aku tidak melumpuhkannya, dia sendiri yang melumpuhkan dirinya. Sudah aku peringatkan agar tidak menyentuhku, tetapi dia tidak ambil peduli. Dia itu seperti orang yang bunuh diri. Sudah aku katakan jangan lompat, eh, tetap saja dia lompat ke jurang. Hahaha!” cerocos Alma menyela obrolan junjungan dan bawahan itu, lalu tertawa.


“Ada apa ini, Ayah?” Seorang pemuda datang dari sisi samping rumah besar itu dan bertanya tiba-tiba. Namun, sikapnya langsung terhenti dan terpukau saat melihat seorang Alma Fatara, “Wow! Bidadari dari mana ini, Ayah? Begitu cantik.”


“Dia orang asing yang melanggar peraturan Kademangan,” jawab Adipati secukupnya. Ia lalu beralih kepada para prajurit, “Bawa kedua orang itu ke penjara. Dan kalian yang lain bubarkan diri!”


“Ayu Wicara, sampaikan kepada Adipati, kami membawa berita rahasia untuknya,” kata Warna Mekararum.


“Baik, Nek,” ucap Ayu Wicara patuh. Ia lalu berteriak kepada Adipati, “Adimati!”


“Hahahak …!” Bukan hanya Alma Fatara yang tertawa terbahak, tetapi juga Magar Kepang, Debur Angkara dan Garam Sakti.


Hal itu membuat Adipati Marak Wijaya dan putranya yang bernama Arya Mungkara mendelik merasa tersinggung, terlihat dari ekspresi wajahnya yang getir.


“Kenapa kalian tertawan?” tanya Ayu Wicara heran sambil memandangi rekan-rekannya dengan heran.


“Bukan Adimati, tetapi Adipati, Ayuuu!” ralat Magar Kepang.


“Ya itu maksud aku, begitu saja terbawa, apanya yang lucu!” dumel Ayu Wicara. Lalu katanya kepada Adipati, “Adipati, kami datang membawa kabar rahasia untuk Adimati!”


“Hahahak!” Alma dan rekan-rekannya kembali tertawa, tapi tidak sekencang tadi.


“Hahaha!” tawa Arya Mungkara yang sudah sadar dengan kelainan Ayu Wicara.


Adipati Marak Wijaya untuk sementara abai dengan kesalahan fatal sebutan Ayu Wicara, ia lebih tertarik dengan kabar rahasia yang disebutkan oleh gadis yang sudah turun dari kudanya itu.


“Kabar rahasia apa yang kalian miliki untukku? Atau itu hanya siasat kalian untuk lepas dari jeratan hukum?” tanya Adipati Marak Wijaya, plus menuduh.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Alma Fatara, membuat perhatian sang adipati dan putranya teralihkan kepada dirinya. “Seperti ini, Paman Adipati. Kami memang punya berita rahasia dari Kademangan Dulangwesi. Tapi kami juga tanpa berniat, terjerat hukum Kadipaten. Jadi, bagaimana ini, Paman Adipati?”


Alma Fatara hanya tersenyum setelah menjelaskan.


Adipati Marak Wijaya dan Arya Mungkara bisa menangkap maksud dari pertanyaan Alma.


“Siapa sebenarnya kalian?” tanya Adipati Marak Wijaya.


“Aku dan teman-temanku hanya orang desa biasa dari pesisir, yang membantu Gusti Ratu Kerajaan Jintamani untuk pergi berobat ….”


“Apa? Ratu Kerajaan Jintamani?” sebut Adipati Marak Wijaya terkejut, memangkas perkataan Alma Fatara. “Maksudmu, kau membawa Gusti Ratu Warna Mekararum?”


“Eh, Paman Adipati kenal?” tanya Alma Fatara terkejut.


“Tidak kenal, hanya tahu bahwa Ratu Kerajaan Jintamani adalah Ratu Warna Mekararum,” jawab Adipati Marak Wijaya.


Ia lalu memandangi wanita tua berwajah agak kebiruan yang duduk bersandar di bak pedati.


“Apakah dia Gusti Ratu Warna Mekararum?” tanya Adipati Marak Wijaya sambil memandang nenek di pedati.


“Benar, Paman Adipati,” jawab Alma Fatara seraya tersenyum selalu.


“Hormatku, Gusti Ratu Warna Mekararum!” ucap Adipati Marak Wijaya setelah ia meyakini bahwa wanita tua yang sedang sakit itu memang ratu dari Kerajaan Jintamani.


“Terima kasih kau bisa mengenaliku, Adipati, meski kita baru kali ini bertemu,” ucap Warna Mekararum dengan pembawaan yang tetap berwibawa.


“Ayah, tunggu!” sergah Arya Mungkara sambil mendatangi ayahnya dari belakang. Lalu katanya, “Jelas wanita tua itu jauh untuk disebut seorang ratu. Dia tidak lebih dari seorang nenek yang sakit. Mereka pasti bermaksud menipu kita!”


“Kau pikir ayahmu ini bodoh dan mudah ditipu? Aku yakin dia adalah Ratu Warna Mekararum. Beri hormat!” kata Adipati Marak Wijaya lalu menekan tengkuk putranya yang bertubuh cukup jangkung.


“Hormatku, Gusti Ratu!” ucap Arya Mungkara sambil menjura hormat.


“Jadi, bagaimana ini, Paman Adipati?” tanya Alma lagi.


“Lepaskan mereka berdua dan kalian bubar, kembali bertugas!” perintah Adipati Marak Wijaya kepada para prajuritnya.


“Eh, berikan golok pusakaku!” sentak Debur Angkara cepat kepada prajurit yang membawa Dua Golok Setia miliknya, seolah takut jika golok tersebut lupa dikembalikan.


Inilah sebab yang membuat Alma Fatara dan Debur Angkara lepas dari ancaman penjara.


Akhirnya, Adipati Marak Wijaya menyambut kedatangan Alma Fatara dan rekan-rekan. Mereka kemudian berkumpul di teras rumah Adipati yang lapang. Arya Mungkara mendampingi ayahnya.

__ADS_1


“Kami ingin memastikan, Paman Adipati. Apakah Paman punya pejabat bernama Pamong Sukarat?” tanya Alma Fatara yang berdiri sambil memegangi kedua lengan Warna Mekararum yang duduk dikursi. Ia berdiri di belakang kursi.


“Benar. Dia wakilku,” jawab Adipati Marak Wijaya.


“Di mana dia sekarang, Paman?” tanya Alma Fatara.


“Pamong Sukarat sedang mengawasi pembuatan arena tanding besok di alun-alun dekat sungai,” jawab sang adipati.


“Seperti ini ceritanya, Paman, ….”


Maka mulailah Alma Fatara menceritakan upaya kudeta Nyi Kenanga terhadap suaminya, yaitu Demang Baremowo. Sampai perkara kedatangan Pasukan Kademangan pimpinan Komandan Utara Kadipaten Balongan Dampuk Ulang.


“Apa? Dampuk Ulang membawa pasukan ke Kademangan Dulangwesi?” kejut Adipati Marak Wijaya. “Siapa yang memerintahkan dia untuk pergi ke sana?”


“Kami sudah tahu, Paman Demang. Dia itu datang malam-malam ke Kademangan justru membantu Nyi Kenanga dan hendak membunuh Demang Baremowo dan Nyi Bungkir, istri muda Demang. Jadi tidak mungkin mereka diutus oleh Paman Adipati, tapi pasti diutus oleh pejabat Kadipaten yang lain ….”


“Maksudmu Pamong Sukarat?” terka Adipati Marak Wijaya memotong penjelasan Alma.


“Benar, Gusti Adipati. Karena si Pamong Sukarat itu adalah ayah dari Nyi Kenanga!” sahut Magar Kepang yang lidahnya gatal untuk ikut masuk ke dalam perbincangan penting dan serius itu.


Adipati dan putranya sejenak memandang kepada Magar Kepang yang senyum-senyum.


“Pantas kemarin Komandan Dampuk Ulang tidak hadir, Ayah,” kata Arya Mungkara.


“Arya, kirim prajurit untuk memanggil Dampak Ulang menghadap kepadaku!” perintah Adipati Marak Wijaya kepada putranya.


“Eh, maafkan aku, Paman Adipati!” sahut Alma cepat sambil tersenyum kikuk. “Paman Komandan itu sudah mati aku bunuh. Hehehe!”


“Apa?!” kejut Adipati Marak Wijaya dan Arya Mungkara.


“Harap maklum, Paman. Daripada aku membunuh semua prajurit Pasukan Utara Kadipaten, jadi aku bunuh saja komandannya, agar tidak banyak korban di kedua pihak,” kilah Alma, masih senyum-senyum.


“Rasa kepercayaan Demang Baremowo kepada Adipati sangat besar, sehingga ia masih memintah kami untuk menyampaikan perkara ini, sebagai bukti bahwa di sisi Adipati ada pejabat yang berbahaya.” Kali ini yang berbicara adalah Warna Mekararum, sebagai peredam jika sang adipati marah mengetahui punggawa prajuritnya dibunuh oleh Alma.


“Aku sepakat dengan tindakan Alma membunuh Dampuk Ulang, Ayah,” kata Arya Mungkara.


“Aku juga setubuh!” timpal Ayu Wicara juga.


“Hahahak …!” Tiba-tiba tawa mereka meledak bersama, di mana suara tawa Alma begitu khas mendominasi.


Pada saat itu pula, tampak dua putra Bendara Kadipaten tiba di depan gerbang halaman dengan kuda tunggangannya. Mereka datang untuk menebus kebebasan Alma Fatara yang kemudian berujung kecewa. (RH)

__ADS_1


__ADS_2