
*Para Petarung Panah (Papepa)*
“Komandan Gendas Pati! Rewa Segili!” panggil Adipati tiba-tiba, menunjukkan wajah marah setelah membaca tulisan di dalam gulungan kain putih yang diberikan oleh prajurit pembawa pesan.
“Hamba, Gusti!” sahut kedua komandan yang sejak tadi berdiri di depan panggung utama.
Semua terkejut melihat kemarahan Adipati Marak Wijaya, termasuk Pamong Sukarat. Namun, mereka belum bisa memastikan, kepada siapa Adipati marah dan hal apa yang membuatnya marah.
“Tangkap Wakil Adipati!” perintah Adipati Marak Wijaya sambil berdiri dari duduknya.
“Hah!” terkejutlah mereka semua, terutama Pamong Sukarat.
Namun, kedua komandan sudah melompat naik dan mengapit tubuh Pamong Sukarat. Kedua komandan segera mencekal kedua lengan Pamong Sukarat. Sebagai orang berkesaktian, Pamong Sukarat bisa saja memberontak dan melawan, tetapi ia tidak mau buang-buang tenaga.
“Apa salahku, Gusti Adipati?” tanya Pamong Sukarat pura-pura tidak tahu, tapi dia ingin memastikan, kesalahan apa yang junjungannya maksud.
“Tanpa sepengetahuan dan izinku, kau mengirim Pasukan Utara Kadipaten ke Kademangan Dulangwesi untuk menggulingkan Demang Baremowo. Itulah sebabnya Komandan Dampuk Ulang tewas!” jawab Adipati Marak Wijaya dengan tegas. Lalu perintahnya, “Ikat dia di tiang kaki panggung!”
Pamong Sukarat tidak melawan ketika kedua komandan menggiringnya turun dari panggung. Ia lalu diikat menggunakan tali yang diambilkan oleh prajurit.
“Kurang ajar, siapa orang yang membocorkan tentang pengiriman Pasukan Utara?” batin Pamong Sukarat di balik tatapan amarahnya. “Kau mempermalukan aku di depan umum, maka sebentar lagi kau pun akan mengalami nasib mengenaskan, Marak Wijaya!”
“Gusti Panglima, kiranya Gusti bersedia memberi komando untuk memulai pertandingan ini,” ujar Adipati Marak Wijaya kepada Panglima Ragum Mangkuawan.
“Baik,” jawab Ragum Mangkuawan.
Ia pun bangkit berdiri dan maju lebih ke depan. Ia berdiri gagah memandang ke seantero alun-alun. Di atas dua gawang pun, kedua belas pinalis sudah lama menunggu.
“Wahai, warga Kadipaten Balongan!” seru Ragum Mangkualam dengan suara yang juga mengandung tenaga dalam, seperti yang dilakukan oleh Pamong Sukarat sebelumnya.
Semua perhatian kini tertuju kepada sang panglima.
“Persiapkan diri kalian untuk menyaksikan Pertandingan Petarung Panah saat ini. Pertarungaaan, dimulai!” teriak Ragum Mangkualam pada puncak aba-abanya.
Set set set …!
Dalam waktu satu ketukan waktu, sebagian besar Petarung Panah kompak memanah target mereka. Saling baku panah pun terjadi, membuat semua penonton dibawa tegang atas dan bawah.
__ADS_1
Dari kedua belas peserta, hanya Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa yang tidak langsung memanah. Keduanya memilih menahan panahnya dan lebih fokus menghindari serangan dengan tetap menjaga keseimbangan tubuh di atas gawang bambu tersebut.
Karena sejak awal mendapat tatapan seperti hendak dimangsa, maka Pangeran Derajat Jiwa langsung melakukan sepuluh panahan secara beruntun dalam ritme isi ulang yang begitu cepat.
Namun, sang pangeran tidak tahu bahwa Pendekar Mata Ular memiliki ketajaman pandangan yang tinggi. Meski kesepuluh anak panah datang seperti hujan meteor, tetap saja Pendekar Mata Ular dengan cepat bisa membaca arah panah. Pendekar Mata Ular dengan gesit miring sana, miring sini, bahkan melakukan satu kali salto di udara menghindari anak panah Pangeran Derajat Jiwa.
Dak!
“Akh!”
Sungguh mengejutkan, ketika aba-aba dari Panglima Ragum Mangkuawan baru terucap, satu anak panah dari Ariang Banu telah melesat cepat dan tepat menghantam jidat Ujang Barendo, padahal dia sendiri baru melepas satu anak panah.
Tubuh Ujang Barendo seketika terlompat ke belakang dengan pandangan yang berubah gelap. Untung mata anak panah itu berlapis kayu kubus kecil, sehingga hanya menimbulkan benjol merah pada jidat anak juragan jengkol.
Begitu keras hantaman itu, sehingga Ujang Barendo merasakan kepala dan wajahnya seperti mati rasa. Pandangannya mendadak gelap.
“Gugur!” teriak Panglima Ragum Mangkuawan.
“Aaah payah!” pekik pendukung Ujang Barendo penuh kecewa.
“Payah, bodoh, seperti bau jengkol!” maki yang lain.
Dak!
Ariang Banu yang sempat senang karena ia menjadi orang pertama yang mejatuhkan lawan dari atas gawang, harus terkejut saat satu anak panah milik Ronggo Manik mengenai bahunya. Namun, itu hanya membuatnya oleng sejenak, tapi tidak sampai jatuh.
“Satu!” teriak Ragum Mangkuawan menghitung.
Adya Bangira sebagai ayah Ariang Banu pun berubah tegang. Itu artinya tinggal satu kali hantaman panah lagi, maka Ariang Banu akan gugur, mau jatuh atau tidak.
Berhasilnya memanah Ariang Banu, membuat Ronggo Manik semakin bersemangat. Sementara ada Arung Seto yang berdiri tidak jauh dari Ronggo Manik sebagai satu kelompok gawang kanan.
Set!
Satu anak panah dari Tiro Mulaga melesat menyerang Arung Seto. Kakak dari Ariang Banu itu melompat tinggi di udara menghindari panahan Tiro Mulaga. Anak panah itu lewat lolos di bawah tubuh Arung Seto lalu terus jatuh jauh ke belakang.
Dak!
Cukup keras kedua kaki Arung Seto mendarat di bambu gawang, menciptakan gelombang guncangan pada bambu gawang yang sama-sama mereka pijak. Gelombang itu membuat Ronggo Manik yang hendak memanah Ariang Banu kembali, jadi terganggu keseimbangannya.
__ADS_1
Set!
Akibat dari gangguan yang diciptakan Arung Seto, membuat arah panah Ronggo Manik yang menargetkan Ariang Banu, jadi meleset.
“Apa yang kau lakukan, Arung Seto?!” teriak Arya Mungkara yang posisi berdirinya di sisi kanan Arung Seto. Dia juga jadi sedikit terganggu keseimbangannya berdiri di atas gawang akibat gelombang pendaratan Arung Seto.
Masih beruntung Arya Mungkara, karena kemudian dia tidak menderita kerugian, karena ia sanggup menghindari panah dari Bandeng Prakas.
Ariang Banu yang selamat dari panahan kedua Ronggo Manik, balas memanahi Ronggo Manik bertubi-tubi.
Dak!
Dari beberapa panahan Ariang Banu yang meleset dan bisa dihindari oleh Ronggo Manik, akhirnya ada satu yang mendarat di dada. Namun, panah yang tidak menancap itu tidak cukup untuk mendorong jatuh Ronggo Manik. Justru dalam kondisi sempat oleng itu, Ronggo Manik bisa melesatkan satu anak panah dengan jitu.
Serangan anak panah ketiganya kepada Ariang Banu tepat mendarat di paha kanan.
“Dua! Gugur!” teriak Ragum Mangkuawan yang merujuk kepada gugurnya Ariang Banu.
“Yaah!” desah sekelompok penonton pendukung Ariang Banu. Mereka kecewa.
Ariang Banu dengan kesal membuang busurnya begitu saja. Ia lalu melompat turun dari atas gawang. Meski ia tidak jatuh, tetapi karena sudah terkena panah tumpul dua kali, maka Ariang Banu gugur.
“Hahahak!” tawa Ronggo Manik menertawakan Ariang Banu.
Dak!
“Aww!” pekik Ronggo Manik saat tiba-tiba saja satu anak panah menghantam batang lehernya.
Ronggo Manik tidak langsung jatuh, tetapi oleng terlebih dahulu, lalu jatuh tanpa luka berarti.
“Hahaha!” Giliran Balingga yang tertawa melihat kejatuhan Ronggo Manik. Dialah yang memanah Ronggo Manik.
“Gugur!” teriak Ragum Mangkuawan.
Dengan demikian, sudah tiga Petarung Panah yang tumbang.
Sementara itu, Ninda Serumi fokus memperhatikan baku panah antara Arya Mungkara dengan Bandeng Prakas.
Sejak jauh-jauh hari, Bandeng Prakas sudah berniat menargetkan Arya Mungkara. Demikian sebaliknya. Isu bahwa Ninda Serumi adalah kekasih Bandeng Prakas, membuat Arya Mungkara berniat lebih dulu harus menjatuhkan Bandeng Prakas.
__ADS_1
Dan faktanya, kedua pemuda tampan itu memang saling baku panah. (RH)