A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 32: Kesaktian Lain Bola Hitam


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Jangkung Jamur alias Ki Ramu Empedu lebih dulu memprioritaskan untuk mengobati Genggam Sekam, karena lukanya lebih parah dan tidak bisa menunggu lama, terlebih luka Genggam Sekam adalah luka umum yang biasa diderita oleh pendekar dan biasa ditangani oleh sang tabib.


Sementara luka dalam yang diderita Warna Mekararum sudah lama dan jenisnya adalah racun yang telah mengakar. Penanganannya dibutuhkan cara khusus yang hanya diketahui oleh Ki Ramu Empedu, itupun perlu proses agak lama dan harus melalui beberapa tahapan.


Adapun Alma Fatara, ia memilih tidak segera mengajukan lukanya untuk disembuhkan. Ia percaya dengan perkataan Jangkung Jamur bahwa Bola Hitam bisa mengobati pemiliknya. Ia memutuskan untuk mengotak-atik Bola Hitam lebih dulu, siapa tahu ada hadiah kejutan tidak terduga.


“Pengobatan terhadap Genggam Sekam butuh waktu satu pekan. Sedangkan untuk Nenek Mekararum, dua pekan adalah proses penarikan semua jenis racun yang ada di dalam tubuh. Satu pekan berikutnya adalah pencucian, sampai pasti bahwa tidak ada sisa-sisa racun yang tertinggal, baik di dalam daging, tulang dan darah,” kata Jangkung Jamur kepada Alma.


“Baiklah, aku akan menunggu,” kata Alma.


“Jika kau bisa, tolong hilangkan es itu, aku kedinginan,” ujar Jangkung Jamur.


“Hahaha! Baik, Kek,” ucap Alma.


Di hari pertama, Ki Ramu Empedu menyiapkan berbagai perlengkapan dan bahan untuk pengobatan.


Debur Angkara kembali ke darat untuk menghangatkan tubuh. Sementara Alma memilih duduk di tangga sambil mengutak-atik Bola Hitam yang berbentuk kotak kubus kecil berwarna biru terang.


“Kirak Sebaya pernah menyaksikan dua kehebatan Bola Hitam, kata Kakek Jangkung pusaka ini bisa mengobati pemiliknya, berarti senjata ini memiliki banyak kesaktian,” pikir Alma Fatara sambil memandangi Bola Hitam.


Bruss!


Alma Fatara menyalurkan tenaga dalamnya kepada benda kubus itu, membuatnya berubah warna menjadi hitam total dan dibungkus lapisan sinar putih tipis berbentuk bola. Sementara itu, akal Alma Fatara berpikir keras.


“Jika Bola Hitam menghantam benda yang berbeda, maka kesaktian yang dikeluarkannya pun berbeda. Cara lempar yang berbeda pun mempengaruhi apa yang akan dihasilkan,” pikir Alma.


Alma lalu melompat bersalto dan mendarat di lapisan es tebal. Ia lalu berlari pelan menjauhi rumah panggung tersebut, kemudian meluncur dengan kedua alas kakinya seperti pemain sky.


Wuut wuut!


Ketika berhenti di tengah-tengah, tangan Alma mengayun Bola Hitam dengan memutarnya di atas kepala seperti memutar tali **** cowboy. Meski tidak terikat oleh tali, tetapi Bola Hitam berputar cepat di atas kepala, seolah-olah ada tali gaib yang mengikatnya sehingga tidak melesat pergi jauh.


Ziiing!


Tiba-tiba dari putaran Bola Hitam yang cepat tanpa henti itu tercipta sinar biru tipis berbentuk piringan besar. Alma tersenyum lebar melihat piringan sinar biru yang tercipta, meski dia belum tahu seperti apa cara kerjanya.


Ziiing!  Zet! Zet!


Alma Fatara lalu melempar Bola Hitam dengan gaya menyabet. Hasilnya, sinar biru tipis itu melesat dengan lintasan melengkung. Dua pohon yang tumbuh di rawa itu tertebas rapi batangnya, lebih tajam dari tebasan gergaji mesin.

__ADS_1


Alma kembali memutar Bola Hitam, tetapi kali ini ia memutarnya di sisi kanan tubuh. Lagi-lagi muncul piringan sinar biru tipis yang terpelihara di dalam putaran Bola Hitam.


Ziiing! Zreeet!


Alma kembali melepaskan ayunan Bola Hitam ke bawah, seperti ayunan orang bermain gangsing. Gerakan itu membuat piringan sinar biru melesat berputar berdiri di lantai es tebal. Sinar itu melesat cepat memotong lapisan es seperti piringan gergaji yang membelah lantai es sampai jauh.


“Apa lagi?” tanya Alma lirih.


Ia terdiam berpikir.


“Bagaimana caranya agar Bola Hitam bisa menjadi obat?” tanyanya dalam hati. “Pantas banyak orang sakti menginginkan Bola Hitam. Memiliki Bola Hitam mungkin seperti memiliki segudang kesaktian.”


Alma menghentikan tenaga dalamnya kepada Bola Hitam, membuat benda itu kembali berwarna biru terang. Alma memisahkannya menjadi dua.


Kembali Alma menyalurkan tenaga dalamnya kepada kedua bagian benda kotak itu. Kedua bagian benda itu bersinar biru di tangan Alma.


Alma mencoba menempelkan benda bersinar di tangannya ke dahi. Ia diamkan sejenak, mencoba merasakan, apakah ada pengaruh. Ternyata tidak ada. Alma terus menempelkan ke pipinya, lalu ke dadanya, lalu ke perutnya, ke sela pahanya, hingga ke telapak kaki. Namun, tidak ada rasa yang mengarah kepada mengobatan.


Akhirnya Alma menyerah. Untuk sementara ia berhenti mencoba.


Alma memilih pergi bergabung bersama para sahabatnya di darat. Kepada rekan-rekannya, Alma menjelaskan tentang waktu mereka harus berada di tempat itu, yaitu sekitar satu purnama.


Magar Kepang dan yang lainnya sepakat tinggal lebih lama di Rawa Kabut itu.


“Kenapa aku?” tanya balik Alma.


“Kau tidak seceria aku,” jawab Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa Alma yang memperlihatkan gigi ompongnya.


“Hahaha!” tawa Ayu Wicara karena merasa lucu dengan gigi Alma.


“Aku sedang memikirkan bagaimana caranya mengobati diriku dengan Bola Hitam,” jawab Alma.


“Kau yang punya senjata, tapi kau tidak tahu memanennya,” kata Ayu Wicara.


“Memakainya, bukan memanennya,” ralat Alma.


“Iya, itu maksudku,” kata Ayu Wicara pula.


“Bola Hitam aku temukan sewaktu aku kecil, jadi aku tidak menguasai sepenuhnya cara menggunakannya,” jelas Alma.

__ADS_1


“Oooh,” desah Ayu Wicara.


“Kak Alma, apa yang akan kita lakukan selama menunggu?” tanya Ning Ana yang datang bergabung.


“Ya menunggu,” jawab Alma.


“Apa asiknya?” kata Ning Ana merengut tidak setuju. “Bagamana kalau melihat Kang Debur dan Kak Ayu bikin anak?”


“Apa?!” kejut Alma dan Ayu Wicara serentak.


Pak!


Buru-buru Ayu Wicara memukul kepala Ning Ana.


“Aw!” pekik Ning Ana sambil memegangi kepalanya.


“Dasar Anak Otak Kolor (Kotor)! Masih dekil (kecil) seperti ini pikirannya sudah macam-macam!” maki Ayu Wicara.


“Hahahak!” tawa Alma mendengar kata-kata Ayu Wicara. Lalu katanya kepada Ning Ana, “Bagaimana jika dalam waktu satu purnama kau berguru di Perguruan Pisau Merah?”


“Tidak mau. Kecuali ….”


“Kuali apa?” tanya Ayu Wicara.


“Kecuali, bukan kuali, Kak Ayu. Kecuali jika Kang Garam Sakti ikut,” kata Ning Ana.


“Tapi di sana kau akan terpisah dengan lelaki lain,” kata Alma.


“Jika di sana ada Kakang Garam Sakti, jadi aku bisa menjaga hati, tidak jelalatan mencari kenikmatan baru,” kilah Ning Ana.


“Dasar bola (bocah) mata ranjang!” maki Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa Alma.


Alma lalu memanggil Garam Sakti untuk menyuruhnya menemani Ning Ana berguru selama sepurnama di Perguruan Pisau Merah.


Garam Sakti pun setuju untuk menemani Ning Ana berguru di Perguruan Pisau Merah.


Keesokannya, mereka berangkat ke Perguruan Pisau Merah. Alma Fatara menemani agar komunikasinya lebih mudah. Alma dan rekan-rekan kembali bertemu dengan Dato Jari Sambilan.


Ning Ana ditempatkan pada pendidikan kelas paling dasar, karena memang dia sangat dari dasar. Sementara Garam Sakti, ia ditempatkan di tingkat menengah.

__ADS_1


Ning Ana dan Garam Sakti menjadi murid khusus, jadi mereka memiliki hak istimewa dibandingkan dengan murid-murid lainnya. (RH)


__ADS_2