A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 17: Peninggalan Orangtua Alma


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Dalam dua tahun terakhir, sejumlah nelayan yang mencari ikan atau lewat di dekat Pulau Seribis, mengalami serangan ikan besar yang mereka sebut ikan siluman. Tidak hanya nelayan-nelayan dari Desa Iwaklelet yang menjadi korban, nelayan dari Desa Iwakculas dan Desa Jalamuda juga menjadi korban.


Bahkan di Desa Iwakculas ada nelayan korban serangan ikan siluman yang sempat selamat, tetapi harus kehilangan satu kakinya yang digigit oleh si ikan.


“Siapa yang mau ikut aku memburu ikan itu?” tanya Alma Fatara kepada warga Desa Iwaklelet.


Terkejutlah semua warga atas tawaran yang diumumkan oleh Alma.


“Alma, itu sangat berbahaya!” kata Slamet Lara.


“Jika ikan itu tidak dibunuh, lama-lama nelayan desa kita bisa habis, Pak,” kata Alma.


Alma kembali memandang para warga yang berkumpul setelah berita kematian Lulapa, suami Cemungut.


“Aku akan ikut, Alma!” kata seseorang dari belakang warga.


Semua wajah segera menengok ke arah sumber suara. Mereka melihat keberadaan Kepala Desa Jaring Wulung.


“Aku juga ikut, Alma!” seru Debur Angkara. “Jika Kepala Desa saja ikut, aku sebagai Pendekar Desa harus ikut.”


“Aku juga ikut!” teriak Slamet Lara juga. “Aku harus ikut untuk melindungi anakku!”


“Aku ikut!”


“Aku juga!”


Akhirnya beberapa pemuda juga siap ikut.


“Tapi aku harus pulang dulu ke guruku untuk minta izin,” kata Alma.


Akhirnya Alma Fatara memutuskan untuk kembali pulang ke kediaman gurunya. Sementara Kepala Desa dan yang lainnya menyiapkan perahu serta senjata.


Di kediaman gurunya, Alma diizinkan untuk melakukan perburuan. Untuk malamnya, ia bermalam di kediaman gurunya.


Pagi harinya, Alma mendapat sejumlah wejangan dari kedua gurunya.


“Meski kau memiliki kesaktian dan kelebihan tidak mudah terluka, tetapi kau tetap harus berhati-hati, jangan bertindak ceroboh tanpa perhitungan,” kata Wiwi Kunai menasihati.


“Baik, Guru,” ucap Alma.


“Ingat, kau nanti akan membawa orang lain bersamamu, maka kau harus memperhatikan keselamatan mereka juga. Jangan sampai kau berindak hebat sendiri, sementara orang-orang yang bersamamu mengalami celaka,” pesan Garudi sambil duduk memangku si kecil Janur Perkasa.


“Baik, Guru.”


“Gunakan pusaka Bola Hitam untuk kondisi yang memang itu dibutuhkan. Demikian pula Benang Darah Dewa,” kata Wiwi Kunai.

__ADS_1


“Baik, Guru.”


“Yang penting juga, jaga nama baik gurumu berdua ini,” kata Garudi.


“Pasti, Guru!”


Setelah itu, barulah Alma pergi meninggalkan kediaman gurunya, kembali ke desanya.


Setibanya di desa tepat ketika tengah hari. Orang-orang yang hendak berburu ikan siluman di sekitar Pulau Seribis telah menunggu.


“Ayo berangkat!” seru Alma ketika tiba.


“Ayooo! Kita bunuh ikan siluman itu!” teriak Debur Angkara penuh semangat.


“Ayooo!” teriak pemuda yang lain juga.


Mereka pergi dengan tiga perahu. Kepergian mereka dilepas oleh warga yang ramai berkumpul.


“Alma, kau harus pulang dengan selamat, Nak!” teriak Muniwengi yang menyimpan kekhawatiran mendalam.


“Siap, Mak. Ayah juga akan aku bawa pulang dengan selamat!” sahut Alma yang sudah berdiri di perahu.


Mereka yang berangkat harus mendayung hingga cukup jauh, karena di siang hari angin sedang bertiup ke arah darat.


Alma satu perahu dengan ayahnya dan seorang pemuda bernama Juminta.


“Ayah belum pernah bertemu, tetapi kata mereka yang pernah melihatnya, dua kali lebih besar dari perahu ini,” jawab Slamet Lara. “Alma, tapi kau yakin bisa membunuh ikan itu?”


“Tenang saja, Ayah. Ayah belum pernah melihat cara aku berenang lagi, kan? Aku memiliki kemampuan bisa berenang segesit ikan. Aku memiliki dua tangan berbahaya, tetapi ikan tidak. Hahaha!” kata Alma.


“Alma, kalau kau sudah sakti dan tidak berguru lagi dengan gurumu, apa rencanamu?” tanya Juminta.


“Aku akan mencari orangtua kandungku,” jawab Alma.


Terkejut Slamet Lara mendengar jawaban Alma. Gadis itu bisa menangkap reaksi pada wajah ayahnya.


“Kenapa, Ayah?” tanya Alma.


“Itu artinya kau akan meninggalkan Ayah dan Emak,” kata Slamet sedih.


“Tidak akan, Ayah,” kata Alma seraya tersenyum. “Jika aku pergi, aku pasti akan kembali suatu hari nanti kepada Ayah dan Emak.”


“Iya, kau memang punya hak untuk menemukan siapa sebenarnya orangtuamu, Alma,” kata Slamet Lara sambil menyeka sedikit air matanya yang bertengger di sudut matanya.


Alma hanya tersenyum lebar melihat reaksi ayahnya.


“Tapi, bagaimana caranya kau mencari siapa orangtua kandungmu, Alma? Setahuku, waktu kau ditemukan, semua desa yang ada di Pantai Parasemiris, tidak ada yang mengaku membuangmu ke laut,” kata Juminta sambil terus mendayung perahu tersebut.

__ADS_1


“Entahlah. Namun aku berkeyakinan, Jum, sudah takdirnya seorang anak mengetahui siapa orangtuanya. Suatu saat nanti aku pasti bisa mengetahui siapa ayah dan emak kandungku,” jawab Alma.


“Sebenarnya orangtuamu meninggalkan tanda padamu waktu bayi. Benda itu emakmu simpan dengan baik dan rencananya akan memberikanmu ketika kau dewasa. Benda itu berupa gelang orang dewasa. Gelang itu sangat baguuus, Alma. Aku dan emakmu tidak pernah bercerita atau menunjukkannya kepada siapa pun. Sebab, jika orang lain tahu, aku khawatir mereka akan berniat mencurinya,” tutur Slamet Lara.


“Jika demikian, sepulang dari membunuh ikan siluman, aku ingin memintanya, Ayah,” kata Alma.


“Melihat gelang yang sangat bagus itu dan peti kayu tempatmu berada ketika dibuang, kami menduga kau itu anak bangsawan Alma. Peti kayumu sangat bagus,” kata Slamet.


“Oh iya, aku masih ingat. Peti tempatmu waktu dibuang itu sangat bagus. Tidak ada orang bersandal yang pernah punya peti sebagus itu,” kata Juminta pula. Saat usianya dua belas tahun, ia ikut menyaksikan kehebohan yang dibuat oleh Slamet karena menemukan bayi di dalam peti kayu yang mengapung di laut.


“Kapan kau berencana mencari orangtuamu, Alma?” tanya Slamet.


“Setelah berguruku selesai. Aku masih memiliki waktu berguru selama dua tahun lagi, Ayah,” jawab Alma.


“Pulau Seribis sudah terlihat!” teriak Debur Angkara di perahu lain yang berwarna merah terang.


Mereka semua yang berjumlah sepuluh orang di tiga perahu, segera melihat ke arah depan.


Sebuah pulau cukup besar terlihat di depan. Jika melihat dari warnanya yang hijau, menunjukkan bahwa pulau itu berhutan.


“Pasang layar!” teriak Slamet Lara, karena angin memang bertiup ke arah pulau.


Juminta segera mengembangkan layar tunggal yang ada di perahu milik Slamet Lara. Layar pada dua perahu lain pun dikembangkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mendayung lagi.


“Siapkan senjata!” teriak Debur Angkara lagi sambil memegang sebatang tombak yang ujung belakangnya terikat oleh tali yang tertambat di perahu.


Kepala Desa juga sudah siap dengan tombak sambil pandangannya memandang ke air, ke sana dan ke sini. Sikap yang sama dilakukan pula oleh yang lainnya.


Slamet Lara menggunakan tongkat pengait besi. Juminta memegang sebuah tembakan kayu yang pelurunya adalah panah besi. Hanya Alma yang tidak memegang senjata, meski ia memiliki senjata berbeda.


Namun, Alma sudah memiliki rencana sendiri. Dibayangannya adalah bahwa mereka akan menghadapi ikan yang gerakannya berenang di air, seperti ikan-ikan lainnya. Hanya bedanya, ikan siluman sifatnya menyerang dan jauh lebih besar. Alma sudah punya rencana sendiri untuk menaklukkan ikan siluman itu.


Mereka terus bersiaga, melihat ke sekeliling. Sementara perahu-perahu mereka terus mendekati Pulau Seribis.


“Pulau Seribis ada penghuninya, Ayah?” tanya Alma sambil memandang ke air.


“Tidak ada. Tidak ada orang yang berani datang ke pulau itu. Karena jarang ada yang mencari ikan di sekitar pulau itu, ketika nelayan sesekali mencari ikan di sini, terkadang dapat ikan besar-besar. Baru dua tahun terakhir saja ada nelayan yang hilang bersama perahunya,” jelas Slamet Lara.


“Oh,” ucap Alma.


“Ada ikan besar yang datang!” teriak seorang pemuda di perahu pimpinan Debur Angkara.


Mereka semua langsung memandang ke arah tunjukan si pemuda tersebut.


Benar, mereka melihat ada bayangan hitam di dalam air di kejauhan. Ikan itu berenang cepat ke arah perahu merah, tempat Debur Angkara berada.


Semua pun menjadi tegang, terutama Debur Angkara dan ketiga temannya. Mereka berempat siap menombak. Perahu satu dengan perahu lainnya memang berjarak agak berjauhan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2