A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 25: Ulah Penyamun


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


“Paman Magar Kepang!” panggil Alma Fatara seperti memanggil teman sebaya, padahal orang yang dipanggil usianya sudah separuh abad.


“Hmm?” sahut Magar Kepang berdehem, seolah enggan menyahuti Alma yang memanggilnya seenak tawanya.


“Gusti Ratu Warna menanyakanmu,” kata Alma.


“Hah! Gusti Ratu Warna?” ucap Magar Kepang terkejut.


Garam Sakti juga terkejut. Namun, Magar Kepang belum begitu yakin, sebab Alma adalah anak yang suka bergurau. Ia cepat menengok kepada Alma dan setengah berbisik.


“Be-be-benar, wa-wa-wanita ini se-se-seorang ratu?” tanya berbisik Magar Kepang tiba-tiba gagap.


Meski berbisik, tetap saja Warna Mekararum mendengar pertanyaan Magar Kepang.


“Hahaha! Buat apa aku mendustai orang tua semewah dirimu, Paman?” kata Alma yang didahului dengan tawa khasnya.


Plak!


“Garam Sakti! Cepat hormat!” teriak Magar Kepang cepat sambil menepuk lengan besar berotot Garam Sakti.


Maka buru-buru keduanya sibuk berbalik dengan membaguskan duduknya, Garam Sakti bahkan melepas tali kendali kudanya, kemudian mereka menghormat dengan bersujud.


“Hormat sembah kami, Gusti Ratu!” ucap Magar Kepang dan Garam Sakti.


Warna Mekararum hanya tersenyum kecil kepada Alma yang membuat kedua lelaki itu bertindak sedemikan rupa.


“Bangunlah!” perintah Warna Mekararum dengan suara yang lemah.


Keduanya pun segera bangun dan kembali duduk.


Plak!


“Kendalikan kudamu! Bisa-bisa kita menabrak nanti!” hardik Magar Kepang setelah menepak keras lengan besar Garam Sakti yang bertindak sebagai sais.


Dengan hati yang tersungut-sungut, Garam Sakti segera berbalik dan kembali mengendalikan langkah kuda.


“Hamba, Gusti Ratu!” kata Magar Kepang seraya merendahkan diri.


“Gusti Ratu menanyakan, kenapa kau mau ikut dalam perjalanan ini? Padahal, kau tidak memiliki kepentingan dalam perjalanan ini,” ujar Alma.


“Oooh itu. Hahaha!” ucap Magar Kepang lalu tertawa sambil tangan kirinya garuk-garuk belakang kepala yang tidak gatal. Lelaki gemuk dan gendut itu terlihat lucu karena jadi salah tingkah.


“Hahahak!” tawa Alma terbahak melihat sikap Magar Kepang.


Ditertawai oleh Alma, Magar Kepang jadi tersenyum kecut. Namun kemudian jawabnya, “Aku ingin jadi orang hebat seperti Debur Angkara yang merasakan petualangan seru bersama Alma.”


“Seru tapi taruhannya nyawa, Paman,” kata Alma kepada Magar Kepang.


“Tenang saja, Garam Sakti lebih hebat dari Debur Angkara,” kata Magar Kepang.

__ADS_1


“Penampilanmu bisa menarik bahaya, Magar Kepang,” kata Warna Mekararum.


“Ah!” desah Magar Kepang terbengong.


“Perjalanan kita jauh dan banyak orang jahat di sepanjang perjalanan,” kata Warna Mekararum.


Garam Sakti menghentikan jalan pedatinya karena di depan ada yang menghalangi perjalanan. Ada sebatang pohon besar yang rebah dalam posisi melintang menutupi jalan, sehingga tidak mungkin untuk dilalui tanpa menyingkirkannya.


“Ada pohon besar tidur di jalan!” teriak Debur Angkara yang duduk di punggung salah satu kuda penarik pedati.


“Apakah pohon roboh atau ditebang?” tanya Warna Mekararum yang berbaring tanpa bisa melihat keberadaan rebahan pohon besar di depan.


Alma berdiri sejenak untuk memperhatikan pohon lebih seksama.


“Ditebang,” jawab Alma sambil duduk kembali.


“Itu pekerjaan penyamun,” kata Warna Mekararum tanpa ada kesan khawatir.


“Pohonnya terlalu besar, Alma! Tidak bisa aku singkirkan!” teriak Debur Angkara lagi.


“Tidak usah disingkirkan! Tunggu saja, sebentar lagi para perampoknya pasti keluar! Biar mereka yang menyingkirkannya sendiri! Hahaha!” teriak Alma sengaja dikeraskan, lalu tertawa, agar para perampok yang ia duga sedang sembunyi mendengarnya.


“Hah! Perampok?” kejut Debur Angkara lalu cepat memegang gagang golok kepala ikannya. Ia tegang.


Magar Kepang dan Garam Sakti jadi ikut tegang dengan mata mencari ke sana dan ke sini.


Mereka kini berada di sebuah jalan tanah yang diapit oleh hutan kecil di kanan dan hamparan ilalang setinggi pinggang di kiri.


Benar kata Alma.


“Ular ular ular!” teriak lelaki lain yang juga melompat dari jongkokannya di balik ilalang, di posisi yang sama tempat lelaki pertama melompat ketakutan.


“Hahahak …!”


Melihat kejadian itu, Alma Fatara tertawa terbahak dan panjang. Magar Kepang, Garam Sakti dan Debur Angkara jadi turut tertawa.


Dari balik sisi ilalang yang lain dan balik pepohonan pinggir hutan bermunculan sejumlah orang bersenjata, dari senjata pisau dapur sampai cangkul sawah.


“Anak buah tidak berkutu!” teriak seorang lelaki kurus usia separuh abad. Ia marah kepada kedua anak buahnya yang tadi keluar duluan dari balik semak. Ia melempar sepotong ranting yang nyaris mengenai kaki lelaki besar berkumis tebal.


“Anak buah tidak berkuku, Ketua!” bisik pemuda kucel berbaju merah muda usang kepada pemimpinnya. “Ulang lagi, Ketua!”


Lelaki kurus yang disebut Ketua lalu memungut sebatang ranting.


“Anak buah tidak berkuku!” maki Ketua lagi sambil melempar kayu kepada anak buahnya.


Si anak buah hanya mengerenyit tanpa sakit, karena kayu itu tetap tidak mengenainya.


“Percuma badan besar kumis telat kalau sama ular saja ketahuan!” maki Ketua lagi.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara kencang melihat kelucuan adegan drama jalanan tersebut.

__ADS_1


“Siapa yang menertawakan aku, hah?!” teriak Ketua sambil memandangi anak buahnya satu per satu.


Para anak buahnya yang berjumlah sepuluh orang itu kompak menunjuk ke arah rombongan yang mereka hadang.


Melihat Alma Fatara menertawakannya, Ketua buru-buru mematahkan ranting kecil di pohon tumbang dengan susah paya.


“Jangan berani menertawakan Perampok Paling Ganas!” hardik Ketua sambil melempar ranting di tangannya kepada Alma.


Tak!


“Aww!” jerit Debur Angkara karena ranting justru mengenai jidatnya.


“Hahahak …!” Alma, Magar Kepang dan Garam Sakti tertawa terbahak.


Ketua jadi terkejut sendiri dan mengerenyit merasa bersalah. Terlebih ketika Debur Angkara yang berbadan kekar turun dari punggung kuda dan mendatanginya sambil cabut goloknya.


Ketua jadi takut dan mundur hingga punggungnya tertusuk ranting kayu pohon. Namun, langkah Debur Angkara tertahan oleh hadangan anggota rampok bertubuh besar yang tadi takut dengan ular.


Jleg!


Melihat hadangan itu, Garam Sakti melompat bersalto dan berdiri di sisi Debur Angkara. Dia lebih berotot dan lebih mendebarkan bagi lawan. Garam Sakti menatap tajam kepada lelaki besar berpakaian compang-camping itu.


“Kau itu lebih mirip pengemis dibanding perampok!” kata Debur Angkara sambil menunjuk dada penghadangnya dengan ujung golok.


“Akk! Dadaku berdarah, Ketua!” jerit lelaki besar itu sambil menangis ketakutan, karena dadanya sedikit tergores oleh lancipnya ujung golok Debur Angkara.


“Hahaha!” Alma Fatara masih tertawa saja. Pertunjukan yang terjadi di depan itu dinilainya sangat lucu.


“Kalian! Kalian! Malu!” perintah Ketua kepada anak buahnya yang lain.


Namun, kesembilan anak buahnya yang lain tidak ada yang bergerak maju. Meski mereka bersenjata, tetapi mereka tidak berani maju.


“Maju, Ketua, bukan malu,” ralat pemuda kucel berbaju merah muda, meralat perintah ketuanya.


“Iya maju, kau saja yang tuli!” bentak Ketua kurus itu. “Percuma kalian membawa janda begitu jika takut melawan mereka yang hanya berani kalau berkuda saja!”


“Hahahak …!” tawa Alma dan Magar Kepang mendengar Ketua yang menyebut “senjata” menjadi “janda”.


Seet!


Tiba-tiba Ketua merasakan ada benang yang melilit bahunya. Lalu dia tertarik kencang ke arah pedati, sampai lari-lari hendak jatuh.


Alma Fatara telah melesatkan Benang Darah Dewa-nya yang nyaris tidak terlihat. Ujung benang itu melilit bahu kanan Ketua, sehingga ia tidak bisa menolak tertarik menuju pedati.


“Aaa! Tolong, kok aku jalan sendiri?” teriak Ketua karena ia tidak melihat benang yang menariknya. Ia jadi panik ketika dirinya sudah berada di sisi pedati.


“Hajar, Paman!” seru Alma.


“Dengan senang hati!” sahut Magar Kepang senang.


Plak! Plak! Buk!

__ADS_1


“Aw! Aw! Akk!” Ketua berpekikan seperti anak perawan dicubit, saat dua tamparan keras Magar Kepang dan satu tinju menghajar wajah.


“Hahaha!” tawa Magar Kepang yang puas. (RH)


__ADS_2