
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Ujang Barendo mengangkut dua karung biji jengkol di bahunya untuk dipindahkan ke atas pedati sapi. Di bak pedati sudah menumpuk beberapa karung biji jengkol mentah.
Set! Teb!
“Jengkol nikmat!” teriak Ujang Barendo memaki, bukan memuji, ketika karung yang masih ada di bahunya tahu-tahu ditancapi sebatang anak panah, tepat di sisi kanan kepalanya.
Serangan panah itu juga mengejutkan sejumlah lelaki yang sedang bekerja di lapak jengkol. Dengan marah Ujang Barendo membanting karungnya ke pedati.
Sebentar saja, ada dua kuda yang datang mendekati posisi Ujang Barendo dan pedatinya. Ujang Barendo menatap tajam kepada kedua pemuda penunggang kuda yang datang. Kedua pemuda itu tidak lain adalah Arung Seto dan Ariang Banu. Terlihat Ariang Banu sudah memegang busur, menunjukkan bahwa dialah orang yang melesatkan anak panah kepada Ujang Barendo.
Kakak adik itu berhenti tidak terlalu dekat dengan pedati dan Ujang Barendo.
“Ariang Banu!” teriak Ujang Barendo gusar sambil menunjuk kepada Ariang Banu.
Ujang Barendo dengan gestur kesal mencabut paksa anak panah pada karung di pedati.
Set! Tep!
Anak panah itu dilesatkan oleh Ujang Barendo kepada Ariang Banu. Namun, dengan mudahnya Ariang Banu menangkap anak panah miliknya tersebut.
“Apa maksudmu mau membunuhku, Ariang?!” hardik Ujang Barendo sambil maju beberapa langkah.
“Sekarang kau marah. Kau tidak berpikir bahwa ketika tadi kau memperlambat kami, itu bisa menggagalkan apa yang kami inginkan. Dan akhirnya kami terlambat karena ulah tidak pentingmu itu!” marah Ariang Banu.
“Aku tidak tahu jika kalian sedang punya urusan mendesak. Jika kalian gagal, itu nasib kalian!” balas Ujang Barendo.
Perkataan pemuda tidak berbaju itu kian menyulut amarah Ariang Banu dan Arung Seto.
“Jika begitu, kematianmu hari ini adalah nasibmu juga!” seru Ariang Banu sambil lepaskan pedangnya dari pengait di pelana.
Selanjutnya, Ariang Banu melompat dari atas kudanya yang langsung menyerang Ujang Barendo dengan terjangan keras. Sementara pedang yang masih bersarung dengan warangkanya terpegang di tangan kiri. Menurutnya, menghajar Ujang Barendo adalah cara terbaik untuk melampiaskan kemarahan karena gagal berbuat jasa kepada Alma Fatara.
__ADS_1
Dak dak!
Dua hentakan tendangan ditahan oleh kedua batang tangan Ujang Barendo yang besar dan kokoh, tetapi itu membuatnya terjajar beberapa tindak. Setelah menerjang, Ariang Banu langsung menyusulkan serangan berikutnya setelah kakinya mendarat di tanah.
Uniknya, kaki Ariang Banu tidak butuh berpijak sempurna untuk langsung menyerang lagi. Ketika satu kakinya baru menyentuh tanah, kaki itu langsung bertolak. Hasilnya, Arian Banu memiliki momentum lebih cepat dibandingkan Ujang Barendo.
Buk! Sret!
Tinju kanan Ariang Banu telak menghantam dada gempal Ujang Barenda, menambah jumlah langkah terjajarnya.
Setelah tangan kanannya meninju, tangan itu pula yang langsung menarik pedang, meloloskannya dari warangkanya.
Ujang Barendo tidak berdaya ketika ujung pedang itu berhenti dan mengancam nyaris menempel di kulit lehernya.
Set! Tang!
Tiba-tiba satu kerikil melesat dari arah lain dan menghantam bilah pedang. Pedang itu terlempar menjauhi leher Ujang Barendo, tetapi tidak sampai lepas dari tangan Ariang Banu.
Buk!
Setelah itu, ketiga pemuda tersebut menengok ke arah sumber pelesat batu kerikil. Mereka melihat seorang pemuda yang usianya kira-kira sedikit lebih tua dari Arung Seto. Ia juga memiliki perawakan tubuh yang keras berotot. Warna kulitnya hitam, lebih hitam dari Ujang Barendo dan kontras dengan warna kulit kedua putra Bendahara Kadipaten yang putih. Pemuda berpakaian sederhana warna biru gelap itu mengenakan caping anyaman bambu berwarna natural. Ia adalah Balingga, putra juragan ikan.
“Aku tidak mengerti pokok seteru kalian. Namun, jika memang kalian berselisih, lebih baik selesaikan besok di arena. Buktikan bahwa kalian adalah jagoannya dan bukan pecundang!” seru Balingga, pemuda yang terkenal dengan ketampanan hitam manisnya.
“Tindakanmu barusan jelas menunjukkan kau berpihak kepada Ujang Jengkol, Balingga!” tukas Arung Seto.
“Aku tidak berpihak pada siapa pun. Semua menjadi lawanku besok di arena. Hanya, sangat tidak ksatria jika lawan harus kita lemahkan di hari sebelum pertandingan. Aku menganggap itu curang. Apalagi kalian kakak dan adik, mudah mengeroyok kami yang sendiri-sendiri,” kilah Balingga.
“Kalian memang bisa berbuat pongah karena bisa mengeroyok, tapi lihat besok, kalian akan menjadi korbanku satu demi satu!” koar Ujang Barendo pula.
Tiba-tiba Arung Seto melihat kemunculan Alma Fatara yang berkuda bersama Magar Kepang. Posisi Alma saat Arung Seto melihat, masih cukup jauh dari tempat itu.
“Ariang, kita lanjutkan besok saja di pertandingan!” kata Arung Seto cepat kepada adiknya.
__ADS_1
Melihat nada perkataan kakaknya, Ariang Banu segera menangkap pesan tersembunyi dari kode gerakan alis kakaknya. Ia pun menjelajahkan pandangannya ke daerah sekitar. Ia kemudian melihat keberadaan Alma Fatara yang berkuda santai menuju ke tempat itu.
“Bersiaplah besok, kalian berdua!” kata Ariang Banu sambil memandang sekilas kepada Ujang Barendo dan Balingga.
“Huh!” dengus Ujang Barendo seraya tersenyum sinis.
Ariang Banu menyarungkan kembali pedangnya dan segera kembali ke kudanya. Ia naik ke punggung kuda.
Pada saat itu, Alma Fatara dan Magar Kepang melintas di jalan itu. Namun, karena melihat ada dua orang yang dikenalnya, yaitu Arung Seto dan Ariang Banu, Alma memutuskan berhenti yang diikuti oleh Magar Kepang.
Alma Fatara langsung tersenyum kepada kakak beradik yang belum dikenal namanya itu. Ia juga sejenak melemparkan senyum dan tatapan kepada Ujang Barendo dan Balingga.
“Ayo, Kakang! Bukankah ayah kalian mengundangku?” kata Alma sok akrab, sampai Ariang Banu dan Arung Seto kikuk sendiri menghadapi sikap Alma.
“I-iya. Ayo, Alma!” tanggap Arung Seto agak tergagap di awal. Meski demikian, adalah kegembiraan, penawar dari kemarahan dan kekesalan bagi Arung Seto yang begitu terkesima dengan kecantikan Alma.
Balingga berjalan mendekati Ujang Barendo sambil pandangannya tetap terlekat pada sosok Alma Fatara.
Arung Seto dan Ariang Banu lalu menggebah kudanya meninggalkan tempat itu, tanpa kata basa-basi kepada kedua pesaingnya di pertandingan besok. Alma Fatara dan Magar Kepang mengikuti keduanya.
“Siapa wanita cantik jelita itu?” tanya Balingga, sambil tetap memandangi Alma yang pergi menjauh.
“Jika aku kenal, aku lebih memilih tidak mendaftar bertanding demi mengejar cintanya. Pastinya dia bukan tinggal di Ibu Kota ini,” kata Ujang Barendo.
“Apa urusanmu tadi dengan anak Bendahara Kadipaten itu?” tanya Balingga.
“Mereka marah karena tadi aku mengganggu perjalanannya dengan lemparan sekarung jengkol. Saat mereka berjalan pulang, tiba-tiba mereka marah dan menyalahkanku!” jawab Ujang Barendo.
“Meski orang tua kita adalah orang kaya dan terpandang, tetapi pada pertandingan besok, kita berdua jadi simbol kaum melarat. Meski begitu, justru warga Ibu Kota akan lebih banyak mendukug kita,” kata Balingga. “Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk besok?”
“Bah! Aku kira kau orang jujur, ternyata kau mau mengajak berbuat curang!” kata Ujang Barendo sambil tersenyum satu sudut bibir.
“Dengan saling membantu, maka peluang sebagai pemenang akan lebih besar. Tentunya kau sangat menginginkan Ninda Serumi untuk menjadi istrimu?” (RH)
__ADS_1