
*Alma Fatara (Alfa)*
Jangan tanya bagaimana cara Alma Fatara membebaskan si nenek yang mengaku bernama Warna Mekararum. Singkat cerita, Warna Mekararum sudah dibebaskan dari kerangkeng dan kolam yang penuh binatang beracun.
Menurut Warna Mekararum, dirinya tidak dalam kondisi sekarat, tetapi racun yang banyak di dalam tubuhnya membuatnya sangat menderita, menahan sakit. Bisa-bisa dari berbagai binatang itu tidak bisa membunuhnya, karena di dalam tubuhnya ada benda sakti. Namun, jika racun-racun itu tidak dikeluarkan, akan menimbulkan rasa sakit yang menyiksa.
“Alma, kau harus menemukan seorang tabib yang bisa membersihkan seluruh daging, tulang dan darahku dari racun,” kata Warna Mekararum yang digendong oleh Debur Angkara.
“Baik, Nek,” jawab Alma.
Singkat cerita. Mereka bertiga pun meninggalkan Pulau Seribis menggunakan perahu milik prajurit Kerajaan Jintamani. Mereka pulang ke Pantai Parasemiris, tepatnya ke Desa Iwaklelet. Setibanya di pantai, perahu yang mereka gunakan harus dikaramkan untuk menghilangkan jejak.
Kepulangan Alma Fatara dan Debur Angkara disambut meriah layaknya dua orang pahlawan perang. Bahkan Magar Kepang sebagai Kepala Desa Iwakculas dan Ganggang Rusuh sebagai Kepala Desa Jalamuda, datang bersama pendekar desa dan sejumlah warga nelayannya ke Desa Iwaklelet. Mereka turut menyambut kepahlawanan Alma dan Debur Angkara.
Sebagai kepala desa terkaya dari kepala desa lainnya di sepanjang Pantai Parasemiris, Magar Kepang mengajukan proposal agar pesta kemenangan diadakan di Desa Iwakculas. Namun, Kepala Desa Jaring Wulung, Slamet Lara sebagai ayah Alma, dan warga Desa Iwaklelet, menolak proposal tersebut. Meski desa mereka sederhana dan kalangan orang bersandalnya tidak begitu mewah, tetapi mereka ingin menjadi tuan rumah sendiri dari kegembiraan mereka.
Akhirnya Magar Kepang memutuskan untuk mengadakan pesta perayaan kemenangan Alma Fatara di Desa Iwakculas sendiri, sehari setelah Desa Iwaklelet merayakan pesta. Itupun hanya Alma yang diunang hadir ke Desa Iwakculas, tanpa kehadiran Debur Angkara.
Kepala Desa Jalamuda dan warganya akan bergabung pesta di Desa Iwakculas.
Daging ikan siluman yang mereka bunuh dan bagi-bagi, menjadi menu istimewa dalam pesta di kedua desa. Mereka benar-benar berpesta dengan gaya warga nelayan.
Alma Fatara menjadi bintang samudera yang diidolakan oleh semua warga tiga desa nelayan. Khusus Debur Angkara, ia hanya menjadi idola di desanya saja.
Di kedua pesta, Alma bercerita kepada seluruh warga tentang apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan warga menuntut cerita detail tentang pertarungan di laut saat menaklukkan ikan siluman yang menjadi momok.
Namun, untuk hal nenek Warna Mekararum, Alma bercerita seperlunya saja.
Alma yang sangat cantik, sakti dan masih sangat muda, membuat para pemuda desa jadi jatuh jantung. Penampilannya di atas panggung dua pesta desa, membuat kaum batangan terpukau dengan kedua mata mengeluarkan gambar love-love warna merah terang, menurut versi animasinya.
Sementara itu, Warna Mekararum untuk sementara ditempatkan di rumah Slamet Lara. Ia dan istrinya harus berikhlas untuk sementara tidur di balai luar yang kecil. Sebagai seorang nelayan, Slamet Lara bisa tidur di perahu. Sementara Alma sebagai seorang pendekar, bisa tidur di mana saja, kecuali di dalam air.
Slamet Lara sudah memanggil beberapa tabib, tetapi tidak ada yang sanggup membersihkan tubuh Warna Mekararum dari banyaknya racun bisa.
__ADS_1
“Bagaimana jika aku bertanya kepada guruku, Nek? Mungkin mereka tahu caranya,” kata Alma pada suatu hari setelah beberapa hari.
“Baiklah. Di mana gurumu tinggal?” tanya Warna Mekararum.
“Agak jauh, butuh waktu satu hari. Tapi, Nenek matinya masih lama, kan?”
“Bocah!” maki wanita tua itu. “Racun itu tidak akan membunuhku, hanya menyiksaku. Aku akan mati jika ada orang yang membunuhku!”
“Hehehe!” Alma hanya tertawa.
Setelah itu, Alma memutuskan pergi pulang ke kediaman gurunya.
“Aku boleh ikut, Alma?” tanya Debur Angkara yang semakin akrab dengan Alma, bahkan melebihi akrabnya sahabat-sahabat kecil Alma.
“Tugas Kang Debur adalah menjaga Nenek Warna!” tandas Alma.
“Siap!” sahut Debur Angkara patuh.
“Alma, kami ingin sekali ikut kau ke tempat gurumu untuk berguru juga,” kata Juling Jitu.
“Saat ini belum bisa. Aku harus buru-buru, kasihan Nenek Warna jika lama-lama menahan sakit,” kata Alma.
“Yaaa!” seru teman-teman Alma kecewa.
Sebelum pulang, Alma sudah berbekal cerita tentang siapa sebenarnya Warna Mekararum dan apa penyebabnya dia dicap sebagai buronan nomor satu Kerajaan Jintamani.
“Kau tahu Kerajaan Jintamani ada di mana, Alma?” tanya Warna Mekararum kepada Alma yang saat itu ditemani oleh Debur Angkara, Slamet Lara, dan Kepala Desa Jaring Wulung.
“Tidak, Nek. Kepala Desa tahu?” Alma melempar soal itu kepada Jaring Wulung.
“Tidak. Aku hanya tahu bahwa desa ini ada di dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Singayam,” kata Jaring Wulung.
“Di sebelah timur Kerajaan Singayam ada Kerajaan Pelilitan. Di sebelah timur Kerajaan Pelilitan adalah Kerajaan Jintamani. Di sanalah asalku,” kata Warna Mekararum.
__ADS_1
Mereka hanya terbelalak mendengar kejauhan letak Kerajaan Jintamani.
“Tapi, kenapa Nenek dipenjaranya di Pulau Seribis?” tanya Alma tidak habis mengerti.
“Supaya tidak ada orang yang menemukanku. Aku adalah ratu di Kerajaan Jintamani ….”
“Hah! Ratu?” kejut keempat orang itu mendengar pengakuan Warna Mekararum.
“Hormat! Hormat!” teriak Jaring Wulung seperti orang panik, lalu buru-buru berlutut dan menghormat layaknya seorang abdi. Kedua telapak tangannya dipertemukan di depan dahi dengan kepala menunduk.
Tindakan Kepala Desa membuat Alma, Slamet Lara dan Debur Angkara juga berlutut dan menghormat.
“Bangunlah! Kalian tidak perlu menghormat. Aku adalah ratu yang sudah dianggap mati.”
Itulah sedikit keterangan yang Warna Mekararum ceritakan tentang dirinya.
Namun, ada pula cerita yang Warna Mekararum sampaikan secara rahasia hanya kepada Alma.
“Aku melihatmu adalah pendekar wanita yang sangat bisa diandalkan dan dipercaya, Alma. Mungkin kau bisa membantuku menyelamatkan Kerajaan Jintamani dari kehancuran dan kepunahan. Mungkin ada pertanyaan, jika aku tidak diinginkan oleh penguasa Kerajaan Jintamani, kenapa aku tidak dibunuh saja,” ujar Warna Mekararum saat ia hanya berdua dengan alma di kamar.
“Benar, Nek!” sahut Alma.
“Karena hanya aku yang mengetahui di mana harta kekayaan Kerajaan Jintamani berada. Di Istana Kerajaan Jintamani ada seorang sakti yang ingin meruntuhkan Kerajaan Jintamani, lalu ia akan membangun kerajaan baru di bawah kekuasaannya. Tetapi dia membutuhkan harta Kerajaan Jintamani untuk membangun sebuah kerajaan yang dikehendakinya. Jika kau bisa menolongku, pergilah ke Kerajaan Jintamani untuk mengabarkan kepada Prabu Marapata bahwa aku masih hidup.”
“Tapi aku sedang dalam masa berguru kepada guruku. Aku harus mendapat izin darinya untuk bisa memenuhi permintaanmu, Nek,” kata Alma.
“Jika demikian, mintalah izin kepada gurumu. Ini masalah nyawa rakyat Kerajaan Jintamani!” tandas Warrna Mekararum.
“Baiklah, Nek.”
Setelah itu, akhirnya Alma Fatara pulang kembali ke hutan tempat kediaman gurunya berada.
Setibanya di kediaman gurunya, di hadapan Wiwi Kunai, Garudi Malaya dan Janur Perkasa, Alma menceritakan ulang apa yang dia pahami dari cerita Warna Mekararum. (RH)
__ADS_1