A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 5: Kampung Siluman


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


“Siapa yang mau masuk duluan?” tanya Alma Fatara kepada rekan-rekannya setelah mereka sepakat untuk terus maju melewati dinding misterius itu.


Dengan hujjah bahwa kuda dan Alma tidak mengalami hal buruk ketika memasukkan kepalanya ke dalam dinding, kemudian mereka mungkin akan menempuh jalan memutar yang jauh jika memilih mundur, mereka sepakat tetap maju dengan slogan “sekali kaki melangkah, pantang tangan ikut berjalan”.


“Bagaimana kalau kita masuk bersama-sama tanpa berhenti?” usul Magar Kepang.


“Paman Magar memang cerdas. Setuju!” puji Alma Fatara.


“Kalau Alma setuju, aku juga setuju,” kata Debur Angkara.


“Aku juga,” kata Garam Sakti.


“Dasar kalian tidak punya pendirian,” gerutu Ayu Wicara.


“Lalu kau tidak setuju, Ayu?” tanya Debur.


“Aku juga setubuh!” tandas Ayu Wicara.


“Hahahak!” tawa Alma dan Magar Kepang.


“Dasar kau, Ayuuu!” maki Debur Angkara sambil mencekik kepala Ayu dengan pitingan lengannya.


“Lekas (lepas)! Bau!” teriak Ayu Wicara sambil meronta dan mendorong Debur Angkara untuk membebaskan diri.


“Hahaha …!” Yang lain hanya bisa tertawa.


“Ayo bersiap semua!” seru Alma. “Pada hitungan ketiga, maju semua. Jangan ada yang berhenti!”


“Siap!” jawab mereka serentak seperti tim operasi penggerebekan judi gaple.


Semua kembali kepada posisinya masing-masing. Yang berkuda kembali naik ke kuda. Garam Sakti tetap sebagai kusir. Alma bersama Warna Mekararum di bak pedati.


“Satu! Dua! Tigaaa!” teriak Alma kencang.


“Heah! Heah! Heah!” gebah para pemegang tali kendali kuda.


Kuda Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara berlari lebih dulu. Barulah kereta kuda menyusul sama-sama berlari.


“Hiaaat!” teriak Debur Angkara kencang menjelang kuda dan tubuhnya masuk ke dalam dinding.


Dalam hitungan detik, kuda-kuda itu berlari kencang masuk membawa para tunggangannya masuk ke dalam dinding bening, seolah tanpa ragu. Pedati pun akhirnya masuk menyusul yang depan.


Ketika mereka semua sudah masuk secara utuh. Yang mereka lihat hanya warna putih, tapi tidak menyilaukan mata. Mereka tetap berlari di dalam alam serba putih, hingga kemudian kelopak mata mereka semua terasa sangat berat.


Akhirnya, mata mereka semua terpejam dan putus kesadarannya.

__ADS_1


Boam! Boam!


Suara ledakan di kejauhan dan getaran yang ditimbulkan adalah hal yang pertama kali Alma rasakan, sehingga wajahnya yang cantik itu bergerak mengerenyit.


“Wajah gadis cantik itu bergerak!” teriak satu suara lelaki begitu keras, seolah ia berteriak di dekat Alma.


Alma pelan-pelan membuka matanya. Sepasang matanya menyipit karena silau oleh cahaya langit. Namun kemudian, matanya bisa beradaptasi dan Alma bisa melihat dengan sempurna.


“Gadis cantik itu sudah banguuun!” teriak seorang lelaki yang berdiri di sisi pedati tempat Alma terbangun.


Alma segera membangunkan tubuhnya sehingga ia bisa melihat secara luas ke tempat sekitar.


Dilihatnya lelaki bergigi tonggos tersenyum senang kepada Alma. Alma melihat Warna Mekararum masih terpejam, tetapi sang ratu masih memiliki gerak napas. Garam Sakti juga terkulai di tempat duduknya sebagai kusir pedati.


Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara sama-sama tertelungkup di atas punggung kudanya masing-masing. Kuda-kuda itu tidak tertidur seperti mereka, tetapi kuda-kuda itu diam.


Ternyata, mereka semua ada di tengah-tengah permukiman yang memiliki rumah-rumah panggung berbahan bambu hijau. Namun, suasananya tidak begitu ramai.


Terdengar suara bising keramaian di tempat yang jauh, seperti suara pasukan yang bertempur. Dalam waktu-waktu yang berjarak, terdengar suara dentuman yang menggetarkan bumi yang mereka pijak.


Namun yang jelas, saat itu ada dua lelaki gagah berjalan cepat mendatangi pedati. Dua lelaki berbeda generasi itu tampil dengan tubuh penuh senjata, seolah-olah semua jenis senjata mereka bawa. Masing-masing mereka membawa tombak, busur dan anak panah, pedang, kapak, hingga pisau-pisau kecil. Masih ada senjata-senjata ukuran kecil yang terlalu panjang untuk disebutkan satu demi satu.


Lelaki satu berusia separuh baya, tetapi masih gagah. Ia berpakaian putih-putih. Sedangkan yang muda berparas tampan dengan leher beton seperti Mike Tyson. Ia berpakaian loreng corak kulit harimau.


“Selamat datang di Kampung Siluman, Alma!” sapa lelaki berpakaian putih kepada Alma.


Alma terbeliak karena orang itu menyebut namanya, padahal ia belum pernah mendaftar di biro jodoh sehingga namanya dipublikasikan ke publik.


Alma Fatara tidak menanggapi. Ia hanya kerutkan kening lalu memilih untuk membangunkan Warna Mekararum.


Merasa diabaikan, lelaki bernama Rempah Putih menelan salivanya.


“Sabung, cepat pergi beri tahu Panglima Kampung bahwa Alma sudah bangun!” perintah Rempah Putih.


“Baik, Kepala!” teriak pemuda bergigi tonggos penuh semangat.


Pemuda bergigi tonggos yang bernama Sabung segera berlari pergi. Dia hanya membawa senjata berupa dua kapak gagang pendek dan satu kapak gagang panjang. Senjata itu tidak dipegang, tetapi memiliki tempat untuk bersarang di tubuh pemiliknya.


“Nek, bangun, Nek!” sebut Alma sambil menggoyang-goyangkan bahu Warna Mekararum.


Ternyata cara itu cukup untuk membuat Warna Mekararum terbangun. Sang nenek pun menunjukkan kebingungan melihat daerah sekitar.


“Apa yang terjadi, Alma? Di mana kita?” tanya Warna Mekararum.


“Entahlah, Nek,” jawab Alma.


“Tempat ini adalah Kampung Siluman, Nek,” sahut Rempah Putih.


“Paman, tujuan kami adalah Gunung Alasan, bukan Kampung Siluman. Apakah Paman menculik kami?” tukas Alma.

__ADS_1


“Kalian sendiri yang masuk ke Kampung Siluman melalui Gerbang Rawa Hijau,” jawab Rempah Putih.


“Apakah kalian menjebak kami sehingga masuk ke kampung ini dalam kondisi tertidur seperti ini?” tuding Alma.


“Kami tidak menjebak. Lebih tepatnya kami sudah lama menunggumu, Alma,” jawab Rempah Putih.


“Menungguku? Kalian jangan mengada-ngada. Lebih baik kalian kembalikan kami ke Rawa Hijau karena kami harus pergi ke Gunung Alasan,” tandas Alma.


“Kami bisa menunjukkan jalan yang lebih cepat, tetapi kami memang sangat membutuhkan kedatanganmu, Alma,” tandas Rempah Putih.


“Aku tidak mengenal kalian, bagaimana bisa kalian menunggu kedatanganku? Aku bukan calon pengantin paksa, kan?” tanya Alma serius.


Pertanyaan Alma membuat Lingkar Dalam tersenyum lebar.


“Bola Hitam yang membuat kami menunggumu, Alma,” jawab Rempah Putih.


“Siapa yang memberi tahu namaku kepada Paman?” tanya Alma.


“Panglima Kampung.”


“Aku ingin bertemu dengannya!”


“Panglima Kampung sedang memimpin warga Kampung Siluman berperang.”


“Dengan siapa kalian berperang?” tanya Warna Mekararum.


“Dengan Kerajaan Ringkik,” jawab Rempah Putih.


“Apa? Satu kampung berperang melawan satu kerajaan?” tanya Alma terkejut.


“Benar. Kemungkinan kami tidak bisa bertahan dalam waktu lama, tapi dengan kedatangan pemilik Bola Hitam mungkin akan berbeda ceritanya!” jelas Rempah Putih.


“Jadi kalian tidak bermaksud merebut Bola Hitam?” tanya Alma lagi.


“Tidak. Bola Hitam adalah milik Raja Tanpa Tahta yang pernah menolong kami beberapa kali. Namun sayang, orang yang kami harapkan telah mati. Jadi, kami sejak lama menunggu kedatangan orang yang mewarisi Bola Hitam untuk kembali bisa menolong kami.”


“Kalian benar-benar membingungkan kami,” keluh Alma. Lalu tanyanya kepada Warna Mekararum, “Bagaimana, Nek?”


“Itu adalah tanggung jawabmu karena membawa pusaka itu. Apalagi mereka minta tolong,” jawab Warna Mekararum.


“Tapi ini peperangan, Nek, bukan pertarungan dua orang pendekar,” kilah Alma.


“Apa kau takut mati?” tanya Warna Mekararum.


“Tidak. Sejak awal kita berangkat dari Desa Iwaklelet, kita sudah siap mati dalam perjalanan, apa pun yang akan membunuh kita,” jawab Alma.


“Tidak ada alasan untuk tidak menolong!” tandas Warna Mekararum.


“Baiklah,” ucap Alma akhirnya. Lalu tanyanya kepada Rempah Putih, “Apakah kalian manusia?”

__ADS_1


“Kami manusia,” jawab Rempah Putih.


“Aku harus membangunkan teman-temanku lebih dulu!” (RH)


__ADS_2