
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Untuk menyukseskan rencana tersembunyinya, Wakil Adipati Pamong Sukarat mengundang secara resmi Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan yang bernama Ragum Pangkuawan. Undangan itu tanpa sepengetahuan Adipati Marak Wijaya.
Karena itu, wajar saja sang adipati terkejut melihat kedatangan seorang pejabat Kerajaan Singayam, apalagi kedudukannya sangat tinggi, yaitu Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan Singayam.
Namun, Pamong Sukarat hari ini justru pura-pura lugu, berlakon tidak tahu apa-apa tentang rencana kedatangan Ragum Mangkuawan.
Orang yang lebih terkejut jelas adalah Pangeran Derajat Jiwa. Ia yang berusaha menyembunyikan identitasnya dari masyarakat umum, justru ada pejabat tinggi Kerajaan yang hadir.
Pangeran Derajat Jiwa tidak bereaksi ketika Ragum Mangkuawan memandang kepadanya dari jauh.
Di atas panggung, Adipati Marak Wijaya terpaksa memberikan kursinya untuk diduduki oleh Ragum Mangkuawan.
“Baiklah, para hadirin warga Ibu Kota Balongan!” teriak Pamong Sukarat kepada khalayak ramai, suaranya kembali mengandung tenaga dalam.
Warga yang berkerumun di luar alun-alun kembali bereaksi ramai, mereka sudah tidak sabar untuk menyaksikan kehebatan para Petarung Panah.
“Pertandingan Petarung Panah akan segera dimulai!” teriak Pamong Sukarat menggebu-gebu.
“Yeee …!” sorak penonton girang penuh semangat.
“Namun, sebelum ke pertandingan utama, kedua belas Petarung Panah akan melakukan pertandingan pembuka, untuk menentukan siapa yang berhak memilih anak panah lebih dulu! Pertandingan itu adalah mendobrak pertahanan tameng!” seru Pamong Sukarat. Lalu teriaknya lebih keras, “Pasukaaan!”
Drag drag drag …!
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki serentak yang menggema. Seiring itu, muncul puluhan prajurit bertameng berjalan keluar dari belakang gudang yang ada di sudut alun-alun.
Sebanyak enam puluh prajurit berjalan berbaris dan kompak dengan hentakkan kaki yang membumi agar suaranya lebih terdengar keren.
Pertunjukan PBB (Pasukan Baris Berbaris) begitu menarik bagi warga. Biasanya mereka hanya melihat belasan prajurit yang berjalan tidak rapi.
“Belok baraaat, tarik!” teriak sang komandan pasukan berkomando.
Drag drag drag …!
Pasukan itu semakin kencang menghentakkan kakinya ketika mereka diperintah berbelok ke arah barat, tepatnya belok kanan.
Meski tidak rapi seperti pasukan Paskibra di negeri masa depan, tetapi mereka memenuhi standar PBB.
“Hentikan langkahmuuu, diam!” teriak komandan pasukan lagi.
Drag drag!
__ADS_1
Terdengar dua hentakan keras kaki pasukan sebelum mereka benar-benar berhenti dalam formasi dua banjar ke belakang.
“Pertahanan pertama, silakan maju!” perintah Pamong Sukarat dari atas panggung.
Lima prajurit terdepan segera berlari maju memisahkan diri dari barisan. Kelimanya lalu membentuk pertahanan perisai berlapis. Perisai berbahan rotan itu dirapatkan saling menempel, sehingga tidak ada celah di tengah-tengahnya. Sementara kelima prajurit yang ada di belakang perisai memasang kuda-kuda yang sekuat mungkin.
Kedua belas Petarung Panah terlihat tersenyum tipis masing-masing. Mereka sepertinya begitu yakin bisa menghancurkan kekuatan pertahanan tameng tersebut.
“Peraturannya! Setiap Pertarung Panah harus mendobrak benteng perisai itu sehancurnya. Ingat, kalian tidak boleh menggunakan ilmu kesaktian yang berbahaya. Siapa yang bisa menghancurkan pertahanan itu paling hebat, maka dialah yang berhak memilih anak panah lebih dulu, lalu selanjutnya dan selanjutnya. Sebagai penghormatan kepada juara tahun lalu, maka kesempatan pertama akan diberikan kepada Petarung Panah Arya Mungkaraaa!” teriak Pamong Sukarat.
“Yeee …!” sorak sebagian penonton yang mendukung putra Adipati.
“Dan kalian yang ada di luar sana! Siapkan taruhan kalian sebanyak-banyaknya! Serahkan kepada prajurit pengumpul taruhan! Dari hasil pertandingan tambahan ini kalian akan bisa melihat, siapa kira-kira akan menang!”
Maka para penonton yang doyan judi, segera mengeluarkan uang mereka masing-masing. Hampir semuanya laki-laki, tapi ada juga wanita janda yang mau ikut bertaruh. Mereka sudah mengerti aturan taruhannya, yaitu sejumlah kepeng yang diikat dengan tali, lalu diberi nama si pemilik uang di secarik kain.
Seiring itu, ada dua belas prajurit yang berjalan berkeliling di antara penonton. Masing-masing prajurit membawa keranjang mambu yang pada satu sisinya ada tulisan nama satu dari dua belas Petarung Panah.
“Taruhan untuk Arya Mungkara! Ayo, Arya Mungkara!” teriak prajurit yang membawa keranjang atas nama Arya Mungkara.
Sejumlah penonton segera memasukkan dan melemparkan uang taruhannya ke dalam keranjang bernama Arya Mungkara.
“Untuk Bandeng Prakas! Bandeng Prakas! Pasti menang!” teriak prajurit lain sambil berjalan di depan para penonton. Dia membawa keranjang yang bertuliskan nama Bandeng Prakas.
“Aku bertaruh untuk Bandeng Prakas!” seru seorang pemuda sambil melemparkan untaian uangnya ke dalam keranjang.
“Taruhan untuk Ujang Barendo. Ayo, Ujang Barendo!” teriak prajurit lain untuk Ujang Barendo.
Meski ada juga yang mendukung dan bertaruh untuk putra si juragan jengkol, tetapi jumlahnya tidak signifikan.
“Ayo! Taruhan untuk Derajat Jiwa, pendekar ganteng yang gagah!” teriak prajurit lain.
Ternyata taruhan untuk Pangeran Derajat Jiwa cukup banyak, meski ia adalah petarung baru.
Sebanyak dua belas prajurit berlaku seperti pedagang asongan yang menawarkan jagonya masing-masing. Mereka berkeliling di antara barisan penonton yang antusias.
Ada juga warga yang tidak langsung memilih. Mereka menunggu hasil dari pertandingan pembuka.
Nantinya, pemenang taruhan akan datang ke panitia menuntut haknya berdasarkan uang mereka yang sudah beridentitas.
Sementara itu di tengah lapangan, Arya Mungkara telah maju dan bersiap untuk mendobrak lima perisai prajurit yang berlapis.
“Arya Mungkara! Arya Mungkara! Arya Mungkara!” teriak sebagian penonton yang mendukung.
“Heaaat!” teriak Arya Mungkara keras lalu berlari ke arah kelima perisai rotan. Ketika separuh jarak, Arya melompat jauh dan menerjang dengan kedua telapak kakinya.
__ADS_1
Bdak!
Kedua telapak kaki Arya Mungkara menghantam keras titik tengah susunan lima perisai itu. Kelima prajurit yang bertahan seketika berjengkangan semua seiring berantakannya kelima perisai.
“Yeee …!” teriak pendukung Arya Mungkara.
Dengan gagahnya Arya Mungkara berdiri tersenyum jumawa. Jelas itu hasil yang memuaskan.
“Selanjutnya! Arung Seto!” teriak Pamong Sukarat.
Lima prajurit terdepan dari barisan segera maju lalu memasang posisi seperti kelima rekannya yang awal. Mereka pun memasang benteng perisai dengan model yang sama.
Arung Seto melangkah maju. Ia cukup dengan berlari maju tanpa melompat.
Bdak!
Arung Seto mendaratkan tendangan kaki kanannya ke tengah tameng. Hasilnya, formasi itu hancur. Namun, hanya tiga prajurit yang terjengkang. Sementara dua lainnya hanya terdorong mundur nyaris jatuh. Itu jelas hasil yang tidak lebih baik dari Arya Mungkara.
“Huh!” dengus Arung Seto.
“Yaaah!” desah pendukung Arung Seto kecewa.
“Itu tidak masalah. Keahlian menendang tidak ada hubungannya dengan kekuatan memanah,” kata seorang warga kepada temannya, sesama pendukung Arung Seto.
Maka satu per satu Petarung Panah disebut oleh Pamong Sukarat. Satu per satu pun Petarung Panah melakukan pendobrakan terhadap benteng tameng.
Ketika giliran Pangeran Derajat Jiwa, ia melompat ke depan tameng dan menghantamkan kedua telapak tangannya.
Baks!
Kelima prajurit itu sampai terloncat dan jatuh dengan tulang ekornya masing-masing. Kelimanya sampai menggeliat dan mengerang kesakitan. Hasil itu jelas lebih baik dari hasil tendangan Arya Mungkara.
“Waaah …!” sorak penonton begitu meriah.
Namun, hasil yang diraih Pangeran Derajat Jiwa jadi biasa saja, ketika Jenjer Mahesa, Tiro Mulaga dan Gegas Simanuk unjuk kesaktian pula. Mereka bertiga bisa melakukan hal yang sama. Semakin menderita para prajurit yang harus menjadi obyek unjuk kehebatan para peserta.
Namun, hasil spektakuler ditunjukkan oleh Pendekar Mata Ular. Hanya dengan satu pukulan telapak tangan kanan, kelima prajurit harus terlempar dan jatuh bergulingan. Itulah hasil terdahsyat dalam pertandingan pembuka itu.
Sementara Bandeng Prakas menunjukkan hasil yang kurang menjanjikan, membuat pendukungnya kecewa lemas. Pendukungnya yang belum memasang uang taruhannya, jadi beralih mendukung Pendekar Mata Ular atau lainnya yang lebih menjanjikan.
Hasil dari Bandeng Prakas itu membuat Ninda Serumi kian cemas di tempat duduknya. Jelas hasil itu isyarat buruk bagi optimisme yang dimiliki oleh Bandeng Prakas.
Ketika mendapat hasil buruk dari dobrakannya, Bandeng Prakas hanya bisa melirik ke arah Ninda Serumi tanpa ekspresi.
“Pemenang pertandingan pembuka ini adalaaah, Pendekaaar Mataaa Ulaaar!” teriak Pamong Sukarat penuh keseruan.
__ADS_1
“Yeee …!” sorak suporter dadakan yang tiba-tiba mendukung Pendekar Mata Ular, meski mereka belum kenalan.
“Jadi, Petarung Panah yang berhak memilih lebih dulu anak panah adalah Pendekar Mata Ular!” seru Pamong Sukarat lagi. (RH)