
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Singkat cerita.
Pandekar Mata Ular yang tangguh tidak sanggup mempertahankan nyawanya saat menghadapi kebrutalan kesaktian Panglima Ragum Mangkuawan. Karena setali tiga uang dengan Jenjer Mahesa yang telah memanah Pangeran Derajat Jiwa, Pendekar Mata Ular pun dieksekusi di tempat.
Singkat cerita pula, Debur Angkara dan Garam Sakti yang berusaha mencegah Gemba Arek membawa kabur Ninda Serumi, kini terkapar. Kedua lelaki bertubuh besar dan berotot itu menderita luka dalam.
Ketika keduanya berhadapan dengan Gemba Arek, muncul pula Junjung Kemilau yang berjuluk Cangkang Sejati dan Obol-Obol yang membantu rekannya. Kedatangan Bandeng Prakas ke dalam pertarungan hanya setor raga saja.
Pusaka Dua Golok Setia dan Keris Petir Api milik Debur Angkara dan Garam Sakti, tidak banyak berguna ketika melawan pendekar selevel Lima Pendekar Sungai Ular.
Namun masih untung, Debur Angkara, Garam Sakti dan Bandeng Prakas hanya dibuat terkapar, tidak sampai modar. Kondisi itu membuat Gemba Arek dan dua rekannya bebas pergi membawa Ninda Serumi, sebelum pendekar lain datang campur tangan.
Sementara itu, Pangeran Derajat Jiwa sudah mendapat penanganan dari seorang tabib. Menurut sang tabib, panah yang tertancap di lambung sang pangeran harus dicabut melalui operasi, sangat berisiko jika main cabut saja tanpa menanganan medis profesional.
Kini Pangeran Derajat Jiwa diletakkan di kereta kuda milik Adipati Marak Wijaya.
“Tabiiib! Periksa putraku!” teriak Adipati Marak Wijaya yang sudah memangku raga putranya, Arya Mungkara.
Dengan tergopoh-gopoh, sang tabib datang memeriksa kondisi Arya Mungkara yang sebelumnya diklaim telah tewas dengan panah yang manancap di dada.
Setelah memerhatikan dengan seksama dan memeriksa tanda-tanda kehidupan Arya Mungkara, tabib yang bernama Ki Layu Nanar lalu menekan beberapa titik pada tubuh Arya Mungkara. Setiap tekanan dilakukan selama lima hitungan.
Setelah menekan titik diafragma yang terletak di bawah paru-paru dan jantung, tiba-tiba ….
“Uhhukr uhhukr!”
Tiba-tiba Arya Mungkara tersentak terbatuk darah. Darah sampai terlompat keluar dan mengotori sekitar mulutnya.
“Arya! Kau masih hidup, Nak!” teriak Adipati Marak Wijaya. Lalu katanya kepada sang tabib, “Ki Layu Nanar, cepat obati putraku!”
“Maafkan hamba, Gusti. Sama seperti Gusti Pangeran, untuk mencabut anak panah ini, diperlukan pembedahan. Beruntung mata panahnya tidak mengenai jantung. Namun, jika panah ini dibiarkan terus, hamba khawatir putra Gusti tidak bisa bertahan,” kata Ki Layu Nanar.
“Lalu, bagaimana, Ki?” tanya Adipati Marak Wijaya cemas.
“Lebih baik Gusti rundingkan dengan Gusti Panglima, sebab kemungkinan Gusti Panglima akan memanggil tabib kerajaan ke sini untuk mencabut panahnya. Sebab, jika Gusti Pangeran dipaksa dibawa ke Kerajaan dalam kondisi panah masih menancap, itu sangat berbahaya,” jelas Ki Layu Nanar.
Panglima Ragum Mangkuawan muncul menghampiri mereka.
“Bagaimana, Tabib?” tanya Ragum Mangkuawan.
“Sebagaimana tadi yang hamba katakan, lebih baik Gusti Panglima memanggil tabib kerajaan ke sini dan katakan bahwa Gusti Pangeran membutuhkan pembedahan. Untuk sementara Gusti Pangeran tinggal menunggu di sini. Semoga waktu bisa bersahabat sampai tabib Kerajaan tiba,” jawab Ki Layu Nanar.
“Gusti Adipati! Gusti Adipati!” teriak seseorang memanggil sambil datang mendekat.
Mereka menengok ke arah sumber panggilan.
Kepal Kepeng datang dengan berjalan terpincang bersama istrinya yang sedang menangis.
“Gusti Adipati, putriku diculik, putriku dibawa kabur!” lapor Kepal Kepeng.
“Kau masih untung putrimu hanya diculik. Kau tidak lihat, putraku dan Gusti Pangeran kondisinya di ambang kematian?” kata Adipati Marak Wijaya agak membentak. Lalu katanya lagi dengan nada yang lebih datar, “Nanti kita bahas bersama Alma Fatara.”
“Siapa Alma Fatara?” tanya Ragum Mangkuawan lebih dulu sebelum Kepal Kepeng bertanya juga.
“Gadis cantik berjubah hitam di sana,” jawab Adipati Marak Wijaya sambil menunjuk kepada Alma yang sedang mendatangi Debur Angkara dan Garam Sakti. “Dia yang membongkar kejahatan Pamong Sukarat. Tapi kami tidak menyangka jika Pamong Sukarat menargetkan Gusti Pangeran.”
“Sekarang bawa Gusti Pangeran ke rumahmu, Adipati. Kita akan bicarakan masalah ini di kediamanmu!” perintah Ragum Mangkuawan.
__ADS_1
Adipati Marak Wijaya segera memanggil prajurit untuk membantunya mengangkat tubuh Arya Mungkara.
“Sampar Yogo!” teriak Ragum Mangkuawan memanggil prajuritnya.
Seorang prajurit gagah berseragam kuning kunyit segera datang menghadap.
“Hamba, Gusti Panglima!” jawab prajurit bernama Sampar Yogo.
“Bawa empat orang pulang ke Istana untuk melapor kepada Gusti Prabu. Pergilah secepatnya, jangan beristirahat selama perjalanan. Sampaikan bahwa Gusti Pangeran terkena panah dan perlu tabib kerajaan untuk pembedahan. Ingat, jangan menunda-nunda waktu!” perintah Ragum Mangkuawan.
“Baik, Gusti Panglima,” ucap Sampar Yogo sambil menghormat dan berbalik pergi dengan berlari.
Sang panglima sejenak memandang ke arah keberadaan Alma Fatara.
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara yang melihat keadaan Debur Angkara dan Garam Sakti. Lalu sambil melongok-melongok, ia bertanya, “Kang Debur, Kang Garam, kalian masih hidup?”
Padahal jelas-jelas Alma melihat kedua rekan besarnya itu bergerak dan meringis sakit.
“Alma, apakah kau baik-baik saja?” tanya Debur Angkara lirih.
“Hahaha! Jika aku tidak baik-baik saja, aku tidak mungkin mentertawai kalian. Hahaha!” jawab Alma.
Alma Fatara lalu memandang jauh ke arah posisi pedati kuda yang tidak jauh dari kerumunan warga yang masih betah melihat akhir dari kekacauan itu. Alma melambaikan tangannya kepada Magar Kepang, memanggil.
Magar Kepang segera melecut kudanya agar berjalan ke tempat Alma dan kedua rekannya berada.
“Amal, kenapa kau biarkan perempuan mabuk itu pergi?” tanya Ayu Wicara yang baru datang, kondisinya sudah baik-baik saja.
“Kau sudah bisa menguasai pedang besarmu, Ayu,” Alma justru membahas hal lain.
“Ayu Wicara itu selalu berlayar, makanya cepat bisa,” kata Ayu Wicara bangga.
“Ah, baru sakti sedikit sudah manja!” rutuk Ayu Wicara lalu menyepak kaki Debur Angkara.
Dak!
“Akk!” pekik Debur Angkara.
Garam Sakti menggeliat berusaha bangun duduk. Terlihat dadanya lebam biru.
Pedati kuda sudah tiba di dekat mereka.
“Paman Magar, tolong bantu mereka,” kata Alma kepada Magar Kepang.
“Baik,” sahut Magar Kepang sambil melompat turun dari tempat duduknya. “Tapi lebih baik mereka di bawa dengan kuda.”
Alma Fatara mengangguk. Ia membenarkan Magar Kepang. Tidak mungkin menyatukan Ratu Warna Mekararum satu bak dengan kedua orang besar itu.
“Biar aku ambilkan kuda,” kata Alma.
“Alma!” panggil Ratu Warna Mekararum sebelum Alma pergi.
“Iya, Nek?” sahut Alma seraya tersenyum kepada wanita tua yang duduk di bak pedati.
“Lebih baik kita kembalinya ke penginapan. Aku rasa urusannya belum selesai,” ujar Warna Mekararum.
“Sebenarnya sudah selesai, tetapi aku punya janji kepada Ninda Serumi,” kata Alma.
“Baiklah,” ucap Warna Mekararum.
“Aku mau ambil kuda dulu, Nek,” kata Alma.
__ADS_1
Alma lalu berjalan pergi untuk mengambil kuda yang ditambatkan di bawah pohon.
“Pendekar cantik, kau sungguh hebat!” teriak seorang warga perempuan sambil tersenyum senang kepada Alma.
“Luar biasa, masih muda dan sangat cantik, tetapi sudah sakti!” kata warga yang lain.
Plok plok plok!
Warga yang masih berkerumun bertepuk tangan untuk Alma. Mereka memang melihat kehebatan Alma yang menjatuhkan lawannya satu demi satu.
“Hahaha!” tawa Alma melihat respon warga kepadanya. Ia hanya memberi hormat kepada para warga dengan kedua telapak tangan dipertemukan di depan dada.
“Siapa kau, Nisanak?” tanya seseorang tiba-tiba dengan suara datar yang berat.
Alma cepat menengok ke samping kanan. Dilihatnya Panglima Ragum Mangkuawan sudah berjalan tidak jauh darinya.
“Eh, Paman Pejabat. Hehehe!” tegur Alma yang sedikit terkejut, karena kehadiran lelaki separuh baya itu tidak terdeteksi datangnya. “Namaku Alma Fatara, Paman.”
Dengan santainya Alma menjawab sambil berjalan menuju batang pohon.
“Aku sudah tahu namamu, tapi siapa kau sehingga bisa memiliki Bola Hitam?” tandas Ragum Mangkuawan.
“Oh, Paman juga tertarik mau merebutnya?” tanya Alma sambil menengok memandang sang panglima. Ia sedikit pun tidak menujukkan sikap siaga.
“Tidak. Aku tidak mungkin berani merebut milik Raja Tanpa Tahta. Aku hanya penasaran, bagaimana bisa anak ingusan sepertimu memegang Bola Hitam,” kata Ragum Mangkuawan.
Ketika dia pergi mendatangi Alma, ia belum tahu tentang keberadaan Bola Hitam. Namun, ketika ia berada di dekat Alma, ia langsung merasakan aura dari pusaka Bola Hitam.
“Hahaha!” tawa Alma sambil melepas tambatan tali kuda di batang pohon. “Paman pejabat Kerajaan?”
“Benar.”
“Wah, kalau pejabat, pasti banyak uangnya.”
“Dasar, Gadis Emas!” rutuk Ragum Mangkuawan.
“Kok Gadis Emas sih, Paman?” tanya Alma.
“Itu sebutan untuk wanita yang hidupnya tergiur dengan kepeng dan emas.”
“Oooh! Hahaha!” tawa Alma.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Ragum Mangkuawan sambil berbalik dan berjalan mengikuti Alma lagi.
“Yang mana, Paman?”
“Bagaimana Bola Hitam bisa ada padamu?”
“Waktu kecil aku menemukannya, Paman. Lalu aku simpan.”
“Kau mengerti cara menggunakannya?”
“Sangat mengerti, Paman. Paman mau lihat aku menggunakannya?”
“Tidak perlu. Aku sudah sering melihat kehebatannya. Siapa yang mengajarimu cara menggunakannya?”
“Guru Wiwi Kunai.”
“Maksudmu Wiwi Kunai yang berjuluk Pemancing Roh?”
“Benar, Paman.” (RH)
__ADS_1