A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 13: Perang Lembah Hilang


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


“Seraaang!” teriak Adipati Lalang Lengir membahana. Sifat kewanitaannya seolah hilang dalam kondisi perang seperti itu.


Pasukan Kadipaten Sorangan yang jumlahnya hanya beberapa puluh orang, tetap dengan penuh semangat menyerang pasukan yang berseragam biru gelap.


“Seraaang!” teriak Adipati Garongjaga mengomandoi pasukannya pula.


“Seraaang!” teriak Adipati Panji Gumo, Adipati Kendrang, dan Adipati Butak Jelaga memimpin pasukan kadipatennya masing-masing.


Belum apa-apa, mental pasukan Kerajaan Jintamani sudah jatuh duluan mendapati kenyataan bahwa mereka diserang mendadak dari dalam pasukan sendiri. Bahkan teriakan penyemangat dari Komandan Jaru Berawak dan Komandan Bariat tidak memberi efek semangat juang lebih.


“Jangan biarkan diri kalian lemah! Selamatkan nyawa kalian sendiri!” teriak Komandan Jaru Berawak.


Namun, enam pasukan kadipaten itu sudah lebih dulu mengatur siasat sebelum menyerang. Mereka langsung menyerang mengikuti prajurit pembawa panji sambil mengepung dari segala arah, membuat pasukan Kerajaan Jintamani kehilangan lubang sebagai jalan untuk melarikan diri.


Tang ting tang ting! “Akk …!”


Tang ting tang ting! “Akk …!”


Kira-kira seperti itulah irama perangnya.


Sementara itu, para adipati juga tidak takut mati. Mereka sepakat langsung melesat mengepung Komandan Jaru Berawak dan Komandan Bariat. Khusus Adipati Lalang Lengir yang cantik, ada dua pendekar tampan yang mengawal dan bekerja sebagai pelindung.


Pedang dan tombak para prajurit saling beradu, perisai saling menangkis.


Secara kwalitas, prajurit pasukan Kerajaan Jintamani lebih unggul dari prajurit pasukan kadipaten. Namun, pasukan kerajaan saat ini mentalnya sedang down. Kondisi itu diperparah lagi dengan jumlah mereka yang jauh lebih kecil dari total pasukan kadipaten.


Kondisi buruk pasukan Kerajaan Jintamani kemudian akan semakin terpuruk.


“Seraaang!” teriak seorang remaja wanita cantik yang tiba-tiba muncul berlari kencang dari pinggir lembah.


Remaja wanita jelita berhidung bangir dan berbibir bawah belah itu, berlari dengan kedua tangan memegang pisau berwarna merah. Ia mengenakan pakaian serba merah. Ia tidak lain adalah Ning Ana, anggota kelompok rombongan Alma Fatara yang untuk sementara sedang berguru di Perguruan Pisau Merah.


“Serang sampai habis! Bunuh! Potong lehernya! Tusuk jantungnya! Potong ***********!” teriak Ning Ana tanpa terkendali seperti cewek kesetanan. Dia berlari seorang diri menuju ke pusat pertempuran.


Mendengar suara perempuan muda berteriak-teriak dari kejauhan, sebagian prajurit jadi bertanya-tanya.


Demikian pula dengan Komandan Jaru Berawak dan para adipati. Di tengah kebisingan suara pertarungan, sayup-sayup mereka mendengar suara perempuan. Di tengah kesibukan dalam pertarungan, mereka menyempatkan diri sejenak untuk melihat ke sumber suara perempuan.


Para pemimpin pasukan itu dan para prajurit jadi terkejut ketika melihat siapa yang berteriak-teriak.


“Anak siapa itu?”


“Kenapa bisa ada anak kecil?”

__ADS_1


“Itu anak manusia atau anak setan?”


Itulah sejumlah pertanyaan di dalam pikiran mereka ketika melihat kemunculan Ning Ana yang tanpa takut berlari menuju ke pusat pertempuran.


Namun, kemudian kejutan baru muncul. Seorang lelaki berpakaian serba merah muncul berdiri dari balik semak liar yang setinggi pinggang, yang ada di sisi selatan lembah. Lelaki berbaju lengan pendek itu adalah Sudigatra, tangan kanan Ketua Perguruan Pisau Merah.


“Seraaang!” teriak Sudigatra keras membahana.


“Seraaang!” teriak orang banyak yang tiba-tiba bermunculan dari balik semak belukar, salah satunya adalah Garam Sakti yang juga berseragam merah. Mereka berlari kencang menuju pusat pertempuran menyusul Ning Ana.


Terkejut kedua pihak yang sedang bertempur. Mereka tidak menyangka jika ada pihak lain yang siap bertempur di Lembah Hilang itu. Namun, mereka tidak tahu, puluhan pasukan berseragam merah bersenjata pisau merah itu di pihak siapa.


“Perguruan Pisau Merah!” sebut Komandan Jaru Berawak dan beberapa adipati bersamaan ketika mengenali tampilan orang-orang tersebut.


“Seraaang!” teriak seorang lelaki dari sisi utara lembah.


Teriakan itu kembali mengejutkan semua pasukan Kerajaan dan kadipaten. Mereka sontak menengok ke utara. Mereka melihat Adipaksa, salah satu murid utama di Perguruan Pisau Merah, sedang berkomando.


“Seraaang!” teriak puluhan lelaki berseragam merah berlari keluar dari balik semak belukar.


Kini ada dua kelompok pasukan dari Perguruan Pisau Merah yang menyerang dari dua arah.


“Pihak siapa mereka?” tanya Adipati Panji Gumo kepada Adipati Lalang Lengir. Mereka tampak tegang.


Adipati Panji Gumo cepat melakukan arahan dari Adipati Lalang Lengir.


“Baju hijau teman! Baju hijau teman!” teriak Adipati Panji Gumo.


Mendengar itu, para adipati lain segera berteriak sama.


“Baju hijau teman! Baju hijau teman!” teriak para adipati.


Para prajurit yang mengerti maksud teriakan itu, segera ikut berteriak.


“Baju hijau teman! Baju hijau teman!” teriak para prajurit sambil melanjutkan pertempurannya.


Komandan Jaru Berawak dan Komandan Bariat jadi bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan pasukannya, termasuk dirinya sendiri.


“Bunuh prajurit baju biru!” teriak Sudigatra kepada pasukannya, merujuk prajurit pasukan Kerajaan Jintamani.


“Bunuh prajurit baju biru!” teriak Adipaksa pula di sisi lain.


Garam Sakti berkelebat cepat di udara menyusul Ning Ana yang sebelumnya berlari duluan sebelum ada aba-aba. Ia harus melindungi anak yang baru belajar berkelahi itu.


Di bawah teriakan-teriakan “baju hijau teman” dan “bunuh prajurit baju biru”, pertempuran kembali berkecamuk hebat.

__ADS_1


Pada akhirnya, dua pasukan baju merah menghantam masuk ke dalam pertempuran seperti bibir gelombang banjir bandang.


“Habisi pasukan pemberontak!”


“Rasakan kekuatan Perguruan Pisau Merah!”


“Hancurkan!”


Teriakan-teriakan dari murid-murid Perguruan Pisau Merah terdengar bersahutan, seiring mereka melancarkan serangan kepada prajurit-prajurit berseragam biru gelap.


Ketika para prajurit bertempur menggunakan bantuan tameng sebagai pelindung, maka berbeda dengan para pendekar tersebut. Tanpa segan-segan, para murid Perguruan Pisau Merah menabrak tameng para prajurit dengan terjangan bertenaga dalam. Banyak pula yang langsung main pisau terbang untuk melumpuhkan prajurit lawan.


Pasukan Kerajaan Jintamani yang awalnya sudah bertumbangan dan berguguran karena kalah jumlah, kini menyusut semakin cepat. Pasukan Kerajaan Jintamani seolah menjadi pasukan yang benar-benar tidak bisa melawan dan hanya menjadi mangsa lezat.


Di sela-sela pertempuran itu, Ning Ana yang bertindak nekat ikut berperang, hanya bisa berdiri di tengah-tengah peperangan. Pandangan matanya sangat liar memandang ke sana dan ke sini. Ia tidak sedang mencari mangsa untukya, tetapi lebih kepada bingung. Meski ia memegang dua bilah pisau merah, tetapi ia bingung harus ditusukkan kepada siapa.


Adik Ning Ara itu memang nekat habis, tetapi tetap dia punya rasa takut.


“Aaak!” jerit Ning Ana saat satu tubuh prajurit berbaju biru tumbang di dekat kakinya dalam kondisi perut robek besar.


Ning Ana buru-buru menjauh sambil waspada.


Sementara itu, tidak jauh darinya, Garam Sakti bertempur galak. Ia membunuh prajurit musuh satu demi satu.


“Hiaat!” teriak seorang prajurit berbaju biru seperti kesetanan.


Terkejut Ning Ana dan Garam Sakti. Ternyata prajurit yang sudah terlihat frustasi itu berlari menyerang ke arah Ning Ana.


Ning Ana yang panik cepat melempar satu pisaunya kepada prajurit yang datang, tetapi lemparannya masih meleset.


“Aaak!” jerit Ning Ana mendelik melihat mata tombak prajurit menusuk mengincar dada mungilnya.


Tap! Crass!


Sebelum mata tombak itu mencapai sasaran, tiba-tiba Garam Sakti melintas cepat di tengah-tengah menabrak batang tombak, sehingga arahnya berbelok.


Namun, seiring itu tangan Garam Sakti yang memegang pisau merah, berkelebat merobek leher si prajurit.


“Aaak!” jerit Ning Ana melengking panjang saat tubuh si prajurit tersungkur menabrak tubuh Ning Ana, sehingga jatuh tertindih.


Buk!


Garam Sakti langsung menendang mayat prajurit itu dari atas tubuh Ning Ana. Maka terlihat Ning Ana yang berlumuran darah, darah yang bersumber dari luka di leher prajurit tadi.


Garam Sakti cepat membantu Ning Ana bangun. Ia sudah tidak menjerit lagi, tapi wajah dan pakaiannya kotor oleh darah. (RH)

__ADS_1


__ADS_2