
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Pertandingan Petarung Panah adalah kompetisi tahunan yang sudah sangat populer di Kadipaten Balongan. Pesertanya dianggap adalah putra-putra terbaik Balongan.
Namun, sejak pertandingan itu dinilai membosankan karena pesertanya selalu dia-dia saja, Adipati Marak Wijaya lalu membuka pintu bagi pendekar mana saja untuk mendaftar. Pendaftaran pun terbatas hanya dua belas peserta yang akan diterima.
Sebenarnya banyak orang yang mendaftar untuk ikut Pertandingan Petarung Panah, tetapi Adipati hanya memilih peserta yang cocok, bukan sekedar peserta yang dia sukai.
Seperti Bandeng Prakas. Adipati Marak Wijaya sebenarnya tidak menyukai Bandeng Prakas, karena diketahui bahwa pemuda itu memiliki hubungan dengan Ninda Serumi, hadiah utama tahun ini. Namun, justru faktor itulah yang membuat Adipati meloloskan Bandeng Prakas sebagai peserta, karena pasti akan bersaing dengan Arya Mungkara. Percikan persaingan itu yang akan memancing semangat pertaruhan berbagai kalangan.
Seperti Pangeran Derajat Jiwa, Pendekar Mata Ular, Jenjer Mahesa, Tiro Mulaga, dan Gegas Simanuk dari Hutan Balewang, mereka berasal dari luar ibu kota Balongan.
Pagi-pagi warga Ibu Kota sudah berduyun-duyun datang ke alun-alun pinggir sungai. Mereka datang berkelompok-kelompok dengan riang gembira, seolah hari itu adalah hari raya Kadipaten Balongan. Banyak warga yang datang ke alun-alun mengenakan pakaian terbaiknya. Jika ada yang biasa-biasa saja, maka yang biasa itulah pakaian terbaik yang dia miliki.
Semua warga berkumpul di luar pagar yang telah dibuat oleh para prajurit. Semua prajurit Kadipaten seolah-olah dipusatkan di alun-alun dan sekitarnya. Pasukan Utara dan Pasukan Selatan Kadipaten Balongan dipanggil ke Ibu Kota untuk membantu pengamanan, sehingga ke mana mata memandang di situ ada seorang prajurit.
“Hidup Ujang Barendo!” teriak seorang lelaki tiba-tiba memecah kebisingan warga di luaran alun-alun.
Lelaki itu berjalan memimpin selusin orang yang mengiringi langkah Ujang Barendo yang datang bertelanjang dada. Ia mengenakan celana pangsi biru dan totopong warna biru di kepalanya. Di badannya melintang busur warna hitam berbahan dasar dari kayu yang kuat.
“Hidup Ujang Barendo!” teriak keenam lelaki lain yang mengawal putra pengusaha jengkol itu.
“Hidup Putra Mahkota Juragan Jengkol!” teriak lelaki pemimpin rombongan.
“Hidup Putra Mahkota Juragan Jengkol!” teriak keenam lelaki lainnya.
Ujang Barendo yang berjalan gagah dengan wajah penuh keyakinan, semakin angkat dagu lebih tinggi saat dielu-elukan seperti itu.
“Ayo Ujang, kau pasti menaaang!” teriak seorang pemuda di barisan terdepan dari penonton. Dia adalah calon adik ipar Ujang Barendo.
“Ujang pasti menang!” teriak lelaki pemimpin tim.
“Ujang pasti menang!” Kali ini bukan keenam lelaki pengiring itu saja yang berteriak, tetapi termasuk sejumlah warga yang mendukung dan bahkan meletakkan taruhannya teruntuk Ujang Barendo.
Mendapat dukungan dari barisan warga, semakin mengembang dada kekar Ujang Barendo.
“Hidup Ujang Barendo! Hidup Putra Mahkota Juragan Jengkol! Ujang Barendo pasti menang!”
Slogan-slogan seperti itu terus diteriakkan berulang-ulang sambil rombongan tim Ujang Barendo berjalan masuk ke dalam alun-alun.
Di tengah alun-alun ada sebuah panggung kecil seperti meja setinggi kepala, tetapi memiliki tangga pada kedua sisinya yang berseberangan. Panggung kecil itu di jaga oleh empat prajurit di sekitarnya.
__ADS_1
Sementara di panggung utama yang penuh dengan janur dan umbul-umbul, juga panji merah milik Kadipaten, telah berdiri sosok Wakil Adipati, Pamong Sukarat. Ia tampil dengan pakaian dan perhiasan terbaiknya.
Ujang Barendo diarahkan menuju ke panggung kecil oleh prajurit yang berjaga di sekitar alun-alun.
Ujang Barendo yang dikawal oleh para pegawai lapak jengkolnya menaiki sendiri tangga panggung kecil.
“Warga dan hadirin Kadipaten Balongan!” teriak Pamong Sukarat yang mengandung tenaga dalam, sehingga suaranya menggema dan didengar jelas oleh seluruh hadirin sejelas speaker.
Mendengar suara Pamong Sukarat, semakin riuh para warga dan makin bersemangat. Mereka suka mendengar suara bertenaga dalam seperti itu yang tidak bisa mereka lakukan, maklum mereka itu kalangan awam.
“Inilah! Petarung Panah pertama yang hadir di arena pertandingan, seorang pemuda perkasa yang disebut-sebut sebagai Putra Mahkota Juragan Jengkol! Dialaaah, Uuujaaang Baaareeendooo!” teriak Pamong Sukarat laksana pembawa acara tinju kelas pro. Suaranya yang bertenaga dalam begitu menggema hebat, memberi nuansa pemanas bagi semangat para penonton.
“Uaaaa!” teriak sebagian penonton sambil bertepuk tangan meriah.
Ujang Barendo yang berdiri di atas panggung meja mengangkat kedua tangan kekarnya tinggi-tinggi, selain memamerkan otot-otot perkasanya, juga memamerkan kumpulan bulu ketiaknya yang hitam. Dengan jumawanya dan tanpa senyum, Ujang Barendo memandang berputar kepada para warga yang mengelu-elukannya.
“Jengkol! Jengkol! Jengkol!” teriak para pendukung Ujang Barendo.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara yang sedang duduk di cabang pohon setinggi dada. Posisinya di belakang para warga.
Alma tertawa karena mendengar merdunya teriak “jengkol”.
Sementara Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara berdiri di sekitar batang pohon. Tidak jauh dari pohon, terparkir pedati kuda yang di atasnya ada Ratu Warna Mekararum dan Magar Kepang di posisi sais. Di bawah pohon tertambat tiga kuda mereka.
Teriakan “jengkol” tiba-tiba terhenti ketika tiga penunggang kuda muncul masuk ke alun-alun.
“Yeee …!” sorak gembira sebagian warga saat melihat kedatangan ketiga penunggang kuda itu.
Plok plok plok …!
Mereka bertepuk tangan dengan riuh, seolah sedang kedatangan para pahlawan.
“Bendahara! Hidup Bendahara! Hidup Bendahara!” teriak seorang warga lelaki yang menjadi komando suporter.
“Bendahara! Hidup Bendahara! Hidup Bendahara!” teriak sebagian warga yang suka dengan Bendahara Kadipaten, yaitu Adya Bangira.
Adya Bangira hanya tersenyum manis sambil melambai satu tangan kepada warga yang mengelu-elukannya.
Dua penunggang kuda yang bersama Adya Bangira tidak lain adalah Arung Seto dan Ariang Banu. Karenanya, suporternya juga mengelu-elukan kedua anaknya.
“Hidup Ksatria Arung Seto! Hidup Ksatria Ariang Banu!” teriak komandan suporter yang digendong leher oleh seorang rekannya, sehingga posisinya lebih tinggi dari warga lainnya. Ia tampil seperti koordinator suporter sepak bola.
“Hidup Ksatria Arung Seto! Hidup Ksatria Ariang Banu!” teriak fans yang lain.
__ADS_1
“Siapa yang pegang harta Kadipaten?!” teriak komandan pendukung kepada kelompoknya.
“Bendahara!” sahut warga pendukung beramai-ramai.
“Siapa yang akan menang?!” teriak komandan pendukung lagi.
“Ksatria Arung Seto!” sahut para fans.
“Siapa lagi yang menang?!”
“Ksatria Ariang Banu!”
Bapak dan kedua anaknya itu hanya tersenyum-senyum mendapat sambutan meriah dari sebagian warga Ibu Kota. Tentunya komandan suporter itu sudah mendapat sangu di muka dari Bendahara untuk menciptakan kelompok pendukung yang ramai.
Setibanya di dekat panggung, kuda mereka bertiga disambut oleh prajurit yang kemudian mengarahkan mereka untuk naik ke panggung kecil.
“Warga dan hadirin Kadipaten Balongan!” teriak Pamong Sukarat lagi yang mengandung tenaga dalam. “Harta Kadipaten Balongan ada di tangannya. Terkenal sebagai sosok yang ramah kepada warga. Kita beri tepukan yang meriah kepada, Bendaaahaaaraaa Adyaaa Baaangiiiraaa!”
Plok plok plok …!
Warga riuh bertepuk tangan sambil tersenyum-senyum. Sementara Adya Bangira yang sudah berdiri di atas panggung kecil, melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum lebar.
Tidak lama Adya Bangira melambai. Setelah itu ia berjalan menuruni tangga.
Selanjutnya, giliran Arung Seto yang naik ke atas panggung.
“Inilah putra tertua dari Bendahara Adya Bangira. Tampan dan tangguh. Dia menjadi andalan kedua orangtuanya. Dia termasuk Petarung Panah yang tangguh. Tahun lalu, dia nyaris mengalahkan putra Adipati. Dialah Aaaruung Seeetooo!” teriak Pamong Sukarat saat Arung Seto sudah berdiri di atas panggung sambil melambaikan tangan.
Plok plok plok …!
Pengenalan Arung Seto disambut tepuk tangan bergemuruh.
“Selanjutnya! Putra kedua Bendahara Adya Bangira, pemuda yang tidak kalah tangkas dari kakaknya. Pemuda tampan yang penuh pesona. Kita sambut Petarung Panah Aaariaaang Baaanuuu!” teriak Pamong Sukarat.
Plok plok plok …!
Lagi-lagi warga memberikan tepukan yang semakin kencang, seperti sedang menyemangati burung merpati balap.
“Hahahak …! Meriah sekali acara ini!” kata Alma yang diangguki oleh ketiga temannya yang juga tertawa-tawa.
Wuss!
Tiba-tiba mereka semua terdiam dan terkejut, ketika seorang pemuda berpakai hijau gelap berlari kencang di udara memasuki alun-alun. Orang itu tidak lewat pintu utama yang dijaga pagar prajurit, tetapi lewat di atas kepala para warga. (RH)
__ADS_1