A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 5: Drama Cinta Kekasih Desa


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Nyai Delima cepat berkelebat berlari di atas permukaan air yang dingin, seiring tubuh Nyai Langsat yang bergerak pelan hendak tumbang.


Demi menahan jatuh tubuh saudari kembarnya, Nyai Delima menurunkan kedua kakinya ke bidang es.


Nyess!


Nyai Delima sampai mengerenyit menahan dingin yang menusuk kedua telapak kakinya. Namun, ia berhasil menahan jatuh tubuh Nyai Langsat yang kondisinya sangat pucat dan menggigil hebat. Nyai Delima cepat membopong tubuh saudari kembarnya kembali ke darat.


Semendaratnya di pinggir sungai, terlihat samar bahwa sepasang kaki Nyai Delima gemetar karena menggigil. Nyai Delima cepat duduk bersila dengan memeluk erat tubuh saudara kembarnya yang kuyup. Nyai Delima lalu menyalurkan tenaga hangat untuk mengurangi hawa beku pada tubuh Nyai Langsat yang menggigil hebat.


Melihat pemandangan itu, mereka semua jadi terenyuh dan tersentuh hatinya. Dua saudara kembar yang saling menyayangi. Nyai Delima terlihat begitu sayang kepada Nyai Langsat.


Tenaga hangat yang disalurkan oleh Nyai Delima kepada saudaranya perlahan berpengaruh baik. Gigilan tubuh Nyai Langsat mulai berkurang.


Melihat kondisi Nyai Langsat mulai membaik, Alma pun ambil keputusan.


“Ayo kita lanjutkan perjalanan, Sahabat!” seru Alma lalu melangkah menuju pedati yang sudah diputar arahnya lagi.


“Tunggu!” seru Nyai Delima cepat.


“Apakah Nenek masih mau merebut pusakaku?” tanya Alma Fatara. “Aku tidak mau berurusan dengan nenek-nenek sakti seperti kalian. Namun, jika kalian masih mencoba, maafkan aku jika tidak berlaku hormat, Nek.”


“Baik, kami tidak akan mencoba merebut Bola Hitam lagi, tapi sebenarnya siapa kau, Tikus Brojol?” tanya Nyai Delima.


“Hahahak …!” Alma tertawa panjang mendengar sebutan untuknya.


“Wah kacau, Alma disebut Tikus Brojol!” gerutu Debur Angkara.


“Maklum orang sakti, bebas,” timpal Magar Kepang pula.


“Aku Alma Fatara, Nek. Murid Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit,” jawab Alma Fatara.


“Apa?!” kejut Nyai Delima. “Jadi Pemancing Roh sekarang sudah punya murid.”


“Muridnya cantik, kan Nek?” kata Alma memuji dirinya sendiri. Lalu katanya, “Semoga cepat sembuh, Nek.”


Kedua nenek kembar itu tidak menanggapi. Alma Fatara telah naik ke atas bak pedati. Ia tersenyum kepada Warna Mekararum yang balas tersenyum.


Rombongan Alma kembali melanjutkan perjalanan. Nyai Delima hanya memandangi kepergian mereka. Ia harus mencari tempat bagus dulu untuk memulihkan kondisi Nyai Langsat.


“Semuda itu tapi sudah menguasai Bola Hitam. Tikus Brojol itu sangat berbahaya. Kau bisa saja mati tadi jika Tikus Brojol itu berniat membunuhmu, Langsat,” kata Nyai Delima kepada saudaranya.


“Lebih baik kita cari Pisau Bunuh Diri saja,” kata Nyai Langsat lemah dengan suara yang masih menggigil.

__ADS_1


“Kita harus mencari tempat istirahat dulu. Ayo!” kata Nyai Delima lalu bangun memapah tubuh Nyai Langsat.


Sementara itu, semua personel rombongan yang menuju ke Rawa Kabut bisa bernapas lega, setelah tadi mereka sempat tegang gegara Nyai Delima.


“Apakah es tadi adalah perbuatanmu, Alma?” tanya Warna Mekararum.


“Iya, Nek. Aku awalnya hanya ingin tahu, apa jadinya jika kesaktian Bola Hitam bersentuhan dengan air. Aku tidak menyangka akan sehebat itu. Jika aku tadi berniat membunuh nenek yang menjadi patung es, mungkin ia sudah mati sekarang. Aku kadang heran, kenapa sudah tua-tua masih serakah terhadap kehebatan?”


“Sifat-sifat buruk seperti itu akan selalu bersemayam di banyak diri seseorang, termasuk pada diri kedua nenek kembar itu,” kata Warna Mekararum.


“Nenek galak itu membuat dada indahku terluka,” gerutu Garam Sakti.


“Hahaha! Aku pikir nenek itu akan memelas minta tolong kepadamu, Kang Garam. Eh nyatanya, justru Kakang jadi tawanan,” kata Alma yang didahului tawa khasnya.


“Mulai senja, sepertinya kita perlu tempat untuk bermalam. Besok pagi baru kita mencari Rawa Kabut,” ujar Warna Mekararum.


“Baik, Nek,” ucap Alma. Lalu teriaknya kepada Magar Kepang, “Paman Magar, cari desa untuk istirahat!”


“Siap, Keponakan!” sahut Magar Kepang.


“Hahaha!” tawa Debur Angkara dan Garam Sakti mendengar Magar Kepang menyebut Alma “Keponakan”.


“Kenapa kalian tertawa?” tanya Magar Kepang setengah membentak.


“Tidak, ada tikus brojol,” ucap Debur Angkara sambil tersenyum kambing.


Ketika mereka sampai di sebuah pertigaan, mereka memilih berbelok meninggalkan jalan pinggir sungai yang masih panjang. Ternyata arah mereka tepat, karena mereka menuju ke sebuah desa.


Hingga akhirnya mereka berhenti di tengah jalan desa.


“Kang Debur, tolong tanyakan rumah Kepala Desa!” seru Alma Fatara.


“Siap, Alma!” sahut Debur Angkara.


“Aku temani, Kacang Dengkur!” kata Ayu Wicara.


“Baik. Tapi namaku bukan Kacang Dengkur, tapi Kakang Debur!” desis Debur Angkara gemas.


“Hihihi! Memangnya siapa yang menamai pendekarku Kacang Dengkur?” tanya Ayu Wicara tanpa merasa berdosa.


“Tuuuh, si Kacang Garam!” tunjuk Debur Angkara ke arah Garam Sakti, tapi matanya melirik kepada Ayu Wicara.


Debur Angkara dan Ayu Wicara lalu pergi ke depan sebuah rumah warga untuk bertanya, karena warga pemilik rumah ada sedang bekerja sore di depan rumahnya.


“Ning Ara, tunggu! Dengarkan aku dulu!” teriak seorang lelaki yang muncul dari kejauhan sambil berlari.

__ADS_1


Lelaki itu masih muda dan berparas tampan. Ia berkulit sawo matang dan manis tanpa gula. Penampilannya sederhana sebagai pemuda desa. Kepalanya mengenakan totopong warna biru lusuh. Bajunya putih lusuh dan bercelana hitam. Ada kain sarung yang mengikat di pinggangnya.


Pemuda bernama Jataru itu berlari ogah-ogahan. Kadang berlari, kadang berjalan cepat. Ia mengejar seorang wanita muda berpakaian ala wanita desa. Namun, jangan ditanyakan kecantikannya. Model wajah yang panjang berhias hidung mancung sempurna produk pribumi, dengan background kulit yang putih mulus seperti daging bengkuang, menampilkan kecantikan level wanita bangsawan.


Gadis segar yang dipanggil dengan nama Ning Ara itu berlari kecil lewat dekat rombongan Alma parkir.


Ning Ara hanya memandangi Alma dan rekan-rekannya sekilas sambil terus berlari, seolah tidak sudi menunggu Jataru yang mengejarnya.


Namun, lari kecil Ning Ara dengan langkah cepat Jataru tidak sebanding, sehingga Jataru bisa menyusul Ning Ara tepat tidak jauh dari pedati Alma. Jataru berhasil mencekal tangan Ning Ara dari belakang dan memaksa gadis jelita itu berhenti melangkah.


“Lepaskan!” pekik Ning Ara sambil menghentak lepas tangannya dari cekalan. Terlihat mata dan wajah putih Ning Ara memerah karena memendam amarah dan kesedihan.


“Dengarkan dulu penjelasanku, Ning Ara. Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau ….”


“Cukup!” potong Ning Ara dengan membentak, bukan dengan pisau, seperti lakon salah paham di sinetron. “Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, bukan dengan mata kakiku, Kakang Jataru. Dalih dan penjelasanmu hanya akan membuatku ingin muntah!”


Warna Mekararum, Alma Fatara dan yang lainnya hanya diam mendengarkan drama gaya pedesaan itu, kecuali Ayu Wicara.


“Hoekh!” lagak Ayu Wicara pura-pura mual, membuat pasang muda desa itu menengok sejenak kepada Ayu Wicara yang justru memandang ke negeri entah berantah.


Sementara Alma dan rekan-rekan jadi menahan tawa.


“Mulai saat ini, aku dan Kakang tidak ada hubungan hati dan cinta. Tuntaskan saja cinta Kakang dengan Menur Mawangi!” teriak Ning Ara sambil menahan ombak tangisnya yang terhalang tanggul ketegaran.


Mendengar keputusan Ning Ara, terdiamlah Jataru dalam keterpakuan, tetapi sepasang matanya berkecamuk dalam huru-hara kiamat hati.


Ning Ara menatap buas dan penuh kebencian kepada Jataru. Beberapa kejap kemudian, gadis cantik itu berbalik dan berlari kecil sambil menangis tanpa suara.


“Ning Araaa!” teriak Jataru kencang dan panjang, tapi tidak mengejar. Mungkin langkahnya menjadi sangat berat karena menanggung pedih hati dan memilih menangis di tempat.


Jataru lalu membuka ikatan kain sarungnya di pinggang dengan gerakan yang kesal dan marah. Setelah dikeluarkan dari tubuhnya, sarung itu lalu dikepal-kepal seperti nasi.


“Menur Mawangi liciiik!” teriak Jataru memaki satu nama, sambil dengan kuat membanting kain sarungnya ke tanah. Kain sarung itu lalu ia injak-injak dengan penuh kekesalan.


“Hahahak …!” Alma yang menilai lucu tindakan Jataru, jadi tertawa lepas.


“Hahaha!”


Mau tidak mau, Magar Kepang dan Garam Sakti akhirnya turut tertawa.


Di tertawakan ramai-ramai seperti itu, semakin gusarlah Jataru.


“Apa yang kalian tertawakan?! Tidak pernah melihat lelaki ganteng menangis, hah?!” bentak Jataru kepada Alma dan rekannya. Jataru lalu memungut kembali sarungnya dan kemudian melemparkannya ke arah Garam Sakti. “Makan itu!”


Namun, sarung itu tidak sampai lemparannya. Sementara Alma terus tertawa melihat kelucuan Jataru.

__ADS_1


Pemuda itu lalu berbalik pergi membawa kemarahan, kesedihan, yang dikombinasikan menjadi kehancuran cinta. (RH)


__ADS_2