A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 2: Alma Mengamuk


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Wuss!


Dengan menggunakan dorongan tenaga angin, tubuh Alma Fatara meluncur laksana atlet skating atau seluncur es profesional, tetapi tidak bergaya balet. Sampai-sampai Adipati Girik Songko, kedua pendekar bayarannya dan semua prajuritnya terpukau takjub. Mereka laksana melihat bidadari sedang menari di atas lapangan es.


Sreet!


Alma mengerem luncuran kakinya menggunakan sisi telapak kaki yang bertenaga dalam tinggi, sehingga bisa menggerus kelicinan es.


Alma Fatara kini berdiri gagah di atas es, sejauh lima tombak dari pasukan panah yang berlutut menahan dingin. Posisinya masih masuk dalam jangkauan anak panah.


“Aku tidak peduli kalian pasukan dari negeri mana. Tunjukkan kedua sahabatku sekarang juga!” seru Alma lantang penuh keseriusan.


Adipati Girik Songko mengangkat tangan kirinya, seolah memberi tanda kepada seseorang.


Keheningan tercipta. Namun, tidak berapa lama, pada sebuah pohon tinggi di belakang pasukan, ada dua tubuh manusia yang bergerak perlahan naik dari bawah lurus ke atas dahan. Masalahnya, kedua tubuh itu dalam kondisi terikat terbalik. Mereka digantung dengan kaki di atas dan kedua tanganya terjuntai lemah ke bawah, seperti sudah mati.


Kedua orang itu tidak lain adalah Magar Kepang dan Ayu Wicara.


Melihat pemandangan itu, semakin mendidih darah Alma Fatara yang sebelumnya sudah bergolak karena kondisi Debur Angkara.


“Paman Magar! Ayu Wicara!” teriak Alma Fatara keras memanggil.


“A-amal,” ucap Ayu Wicara lirih. Matanya yang terpejam terbuka sedikit mendengar panggilan itu. Ada luka cakaran yang hangus di perut dan punggungnya.


Sementara Magar Kepang diam tidak bergerak, kecuali gerakan tubuhnya yang berputar pelan karena digantung. Wajahnya belepotan oleh darah yang bersumber dari dalam mulutnya.


“Kenapa kalian menghukumi sahabat-sahabatku?!” tanya Alma dengan berteriak marah. Kemarahan terlihat jelas di wajah jelitanya yang memerah. Pandangan matanya tajam lagi buas, benar-benar seperti makhluk cantik yang siap membunuh.


“Kalian kami hukum karena melindungi buruan nomor satu Kerajaan!” jawab Adipati Girik Songko setengah berteriak.


“Kalian telah membunuh sahabatku! Aku tidak akan menaruh belas kasih!” teriak Alma Fatara marah.


Ziiing!


Alma Fatara langsung mengeluarkan Bola Hitam yang ia putar-putar di atas kepala. Piringan sinar biru cepat tercipta di atas kepala.


Adipati Girik Songko dan semua bawahannya tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi jelasnya Alma akan menyerang mereka. Perlu diketahui, piringan sinar biru itu seluas satu pelukan tangan. Sinar itu melesat ke samping lalu berbelok melengkung.


“Panaaah!” teriak Adipati Girik Songko.

__ADS_1


Seset seset …!


Ziiing!


Puluhan anak panah melesat untuk menghujani Alma. Pada saat yang sama, Alma melempar Bola Hitam. Meski Bola Hitam yang dilempar jauh, tetapi yang melesat adalah piringan sinar birunya.


Wuss! Tetep tetep!


Tangan kanan Alma yang vakum cepat menghentak melepaskan angin dorongan, seiring gerakan tubuhnya yang meluncur mundur menjauhi kedatangan hujan panah. Puluhan anak panah itu bertancapan di lapisan es, tidak begitu jauh dari posisi tubuh Alma.


Ziiing!


Sungguh mengejutkan, piringan sinar biru yang tadi melesat melengkung, tahu-tahu menerabas pasukan panah dari samping tanpa bisa dihindari. Selain pasukan panah fokus memanah Alma, sinar tipis itu datangnya terlalu cepat.


Belasan tubuh prajurit panah dipangkas menjadi dua. Sungguh mengerikan bagi para prajurit yang ada di belakangnya.


Mental semua prajurit seketika berubah down menyaksikan kematian rekan-rekan mereka yang begitu singkat. Mental yang jatuh membuat mereka semakin menggigil dalam berdiri setelah bertahan menahan dingin.


Swess! Bluarr!


Gugurnya para prajurit panah disusul dengan ledakan dahsyat yang menghancurkan bidang es yang tidak jauh dari pinggir rawa, tepat di depan pasukan.


Sesaat sebelumnya, setelah Alma lolos dari hujan panah, Alma langsung melompat tinggi ke langit dan melesatkan Pukulan Bandar Emas. Sinar kuning emas menyilaukan melesat dari atas menghantam bidang es di depan pasukan.


“Akk! Akh! Akk …!”


Sejumlah prajurit berjeritan ketika kristal-kristal es yang runcing dan tajam menghujami tubuh mereka.


Ketiga kuda punggawa itu juga meringkik ketakutan, membuat penunggangnya cukup bekerja keras untuk menenangkan si kuda.


Sess! Ctar!


Seset! Seset!


Ternyata Alma tidak berhenti sedikit pun. Dia benar-benar mengamuk. Setelah mengacau-balaukan pasukan sang adipati, kini dia melesatkan Bola Hitam ke tanah dengan gaya lemparan seperti bermain bowling.


Terciptalah ledakan gesekan yang memunculkan lesatan sinar-sinar biru berekor kepada pasukan yang baru saja berjengkangan.


Sama seperti ketika Alma membantai pasukan Kerajaan Ringkik dengan Bola Hitam, para prajurit yang terkena sinar biru seketika terpotong anggota tubuhnya, apakah itu leher, badan, tangan, kaki, atau lainnya.


Kaki kuda Digdaya Sewu alias Setan Cakar Biru juga terkena sinar biru. Kuda itu langsung tersungkur bersama penunggangnya ketika dua kaki depannya terpotong.

__ADS_1


“Akk!” jerit Adipati Girik Songko saat sinar biru melesat memotong kaki kirinya sekaligus merobek perut kiri kuda.


Sang kuda langsung meringkik kesakitan dan berlari liar. Adapun Adipati Girik Songko terlempar jatuh bersama jeritannya.


Di saat Adipati Girik Songko dan pasukannya dihancurkan, Alma terus menyerang dengan berkelebat di atas mayat-mayat yang bergelimpangan.


Baks!


“Akhrr!”


Bukan manusia yang dihajar oleh Alma, tetapi kuda yang ditunggangi oleh Sanggar Aga alias Pengelana Kepeng.


Pengelana Kepeng yang belum tersentuh oleh serangan Alma, membuat pemuda itu ditargetkan. Ia berkelebat cepat ke depan kuda dan menghantamkan pukulan Tapak Rambat Daya ke dada kuda.


Pukulan itu membuat Pengelana Kepeng terpental ke belakang dari punggung kudanya, mulutnya menyemburkan darah kental. Sementara kuda yang dihantam tidak terluka sedikit pun. Seperti itulah pukulan Tapak Rambat Daya, menghajar target harus melalui media perantara.


Kini Alma telah berdiri di dekat Adipati Girik Songko. Tiba-tiba sang adipati berhenti menjerit dan juga berhenti bergerak. Sebab Adipati Girik Songko merasakan ada lilitan benang tajam di lehernya.


Setan Cakar Biru yang hendak menyerang Alma, terpaksa berhenti bergerak karena melihat keanehan pada Adipati yang kini hanya berkaki satu.


“Jika ada yang berani menyerangku, maka leher orang ini akan putus!” seru Alma.


“Gusti Adipati!” sebut para prajurit yang masih selamat terkejut.


Situasi itu membuat Setan Cakar Biru dan Pengelana Kepeng yang mengaku sebagai orang sakti, tidak berani bergerak gegabah. Khusus Pengelana Kepeng, dia sudah menderita luka dalam yang cukup parah.


“Turunkan kedua sahabatku!” perintah Alma kepada prajurit yang berdiri di bawah pohon tempat Magar Kepang dan Ayu Wicara digantung.


Dua orang prajurit yang menggantung tubuh Magar Kepang dan Ayu Wicara segera membuka simpul tali dan mengulur tali panjang secara perlahan. Tubuh Magar Kepang dan Ayu Wicara turun perlahan sampai akhirnya menyentuh tanah, lalu jatuh terkulai.


“Lepaskan ikatannya!” perintah Alma.


Dua prajurit segera melepas ikatan tambang pada tubuh dan kaki Magar Kepang dan Ayu Wicara.


“Siapa kau, Paman?” tanya Alma kepada Adipati Girik Songko.


“Adipati Girik Songko, Adipati Kadipaten Pagamuyung,” jawab sang adipati sambil menahan sakit yang luar biasa pada potongan kakinya yang sebatas lutut.


“Aku ampuni Paman Adipati sebatas ini. Perintahkan orang-orang Paman mundur. Jika membantah, aku langsung akan membunuh Paman. Setelah itu, kirim orang-orang biasa untuk mengangkut pergi mayat-mayat ini!” peritah Alma. “Apakah kau mengerti, Paman?”


“Iya, a-aku me-mengerti,” jawab Adipati Girik Songko tergagap.

__ADS_1


Maka Alma membebaskan leher Adipati Girik Songko dari jeratan Benang Darah Dewa. (RH)


__ADS_2