A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 32: Pilihan Gadis Tercantik


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


 


Alma Fatara memilih tidur siang saja di kamar sewanya. Ia mau beristirahat, sebab perjalanan harus ditunda hingga besok pagi, itu karena Debur Angkara dan Garam Sakti harus menjalani pengobatan yang dilakukan oleh Ki Layu Nanar.


Alma membiarkan urusan pembebasan Ninda Serumi berjalan dengan sendirinya. Ia sudah bersepakat dengan Si Cantik Mabuk. Alma melepaskan nyawa Si Cantik Mabuk dan menukarnya dengan janji pembebasan gratis Ninda Serumi.


Sebelum melawan Si Cantik Mabuk, Alma sudah membaca peta kekacauan yang terjadi di alun-alun. Ia tahu sekali bahwa Debur Angkara dan Garam Sakti tidak akan mampu menghentikan Lima Pendekar Sungai Ular, karenanya Alma mengatur rencana dadakan yang berkaitan pula dengan janjinya kepada Ninda Serumi.


Siang itu, dengan berbekal sekantong uang milik mendiang Pamong Sukarat, Komandan Gendas Pati pergi ke basis Lima Pendekar Sungai Ular. Gendas Pati datang ke Sungai Ular bersama dua puluh prajurit pilihan.


Di sisi selatan Kadipaten Balongan ada sebuah sungai yang cukup besar alirannya. Sungai itu dikenal dengan nama Sungai Ular. Di salah satu areanya ada permukiman kecil yang merupakan basis Lima Pendekar Sungai Ular. Meski ada bilangan “Lima” tetapi penghuni permukiman kecil itu lebih dari lima orang, bahkan lebih dari dua puluh orang.


Sebenarnya, Gendas Pati membawa perasaan gentar dan was-was, terlebih ketika ia dan pasukannya tiba di pinggir sungai yang berseberangan dengan perkampungan kecil.


“Ada pasukan Kadipaten datang!”


Tiba-tiba satu teriakan menggema keras tanpa terlihat orang yang berteriak tersebut.


Terlihat jelas di seberang sana, orang-orang bermunculan dari dalam rumah yang jumlahnya hanya beberapa saja. Ternyata empat orang berperawakan pendekar juga ada yang muncul di dahan-dahan pohon, yang ada di sekitar Gendas Pati dan pasukannya.


Seorang wanita di atas pohon dalam posisi siap melepas anak panah di busurnya. Ada pula seorang lelaki bertombak yang siap melempar senjatanya dari atas pohon. Dua lainnya berdiri mengawasi.


“Tahan! Kami datang dengan damai!” teriak Gendas Pati cepat sambil angkat kedua tangan kekarnya yang tidak bersenjata.


Kedua puluh prajurit Kademangan juga mengangkat kedua tangannya tanpa memegang senjata, sebagai tanda mereka tidak bermaksud menyerang.


Orang-orang di seberang sungai telah berkumpul dan menyaksikan dari seberang.


Sebuah perahu kecil meluncur di tengah sungai menuju ke tepian, di mana Gendas Pati dan pasukannya berada. Di perahu itu berdiri dua orang wanita cantik, yakni Si Cantik Mabuk dan gadis tercantik se-Kadipaten Balongan, Ninda Serumi.


Putri Kepal Kepeng itu tidak dalam kondisi terikat atau tertotok. Ia bahkan lebih terlihat sebagai bagian dari kelompok pendekar Sungai Ular.


Akhirnya, perahu menabrak pelan tanah pinggir sungai.


Jleg!


Tiba-tiba dua orang lelaki muncul berkelebat di udara lalu mendarat di hadapan Gendas Pati. Dua lelaki itu adalah Gemba Arek alias Ular Terbang Mungil dan Obol-Obol.

__ADS_1


Kemunculan kedua pendekar itu cukup mengejutkan Gendas Pati, membuat hatinya gemetar.


“Apa yang kalian inginkan?” tanya Gemba Arek.


“Kami ingin membawa Ninda Serumi,” jawab Gendas Pati, berusaha bersikap tenang.


“Dia adalah gadis tercantik di Kadipaten Balongan. Harganya sangat mahal. Apa yang kalian bawa untuk menebusnya? Atau kalian ingin menebusnya dengan nyawa kalian?” tanya Gemba Arek.


“Aku membawa ini,” jawab Gendas Pati lalu memperlihatkan kantong kain hitam yang berisi kepeng sebesar dua raupan telapak tangan.


“Lemparkan!” perintah Gemba Arek.


Gendas Pati lalu melemparkan kantong kain yang berat itu. Gemba Arek menangkap uang banyak tersebut.


“Sudah aku katakan, harga gadis itu begitu mahal dan belum kami sentuh. Pulanglah, bawakan kami dua kantong lagi!” kata Gemba Arek.


Terkesiap Gendas Pati. Jika ia nekat bertarung bersama pasukannya, bisa-bisa Sungai Ular akan menjadi kuburan mereka.


“Kami datang ke sini atas perintah Alma Fatara!” seru Gendas Pati akhirnya.


“Oh!” Hanya itu ucapan Gemba Arek mendengar perkataan Gendas Pati.


“Alma Fatara yang mengutusnya,” kata Gemba Arek kepada Si Cantik Mabuk.


“Pergilah, Ninda Serumi!” perintah Si Cantik Mabuk kepada Ninda Serumi.


“Terima kasih, Pendekar,” ucap Ninda Serumi seraya tersenyum senang.


Ninda Serumi segera berjalan ke depan perahu lalu bergerak naik. Gendas Pati yang melihat itu, segera datang meraih tangan Ninda Serumi.


Setelah itu, orang-orang Sungai Ular sudah tidak ada yang mengancam dengan panah atau tombak.


Gendas Pati dan pasukannya segera berbalik pergi dengan membawa Ninda Serumi.


Kepulangan Ninda Serumi disambut penuh suka cita oleh kedua orangtuanya di penginapan, karena mereka masih menginap di penginapan tersebut.


Suara ramai di penginapan membangunkan Alma dari tidurnya.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dari lantai dua saat melihat Ninda Serumi sedang dipeluk cium oleh ibunya.

__ADS_1


Suara tawa Alma yang keras membuat mereka yang sedang ramai di lantai bawah jadi menengok ke atas.


“Terima kasih, Alma!” ucap Ninda Serumi sembari tersenyum lebar kepada gadis berjubah hitam di atas.


“Bagaimana? Apakah kau sudah menentukan pilihan mau menikah dengan siapa, Kakak Ninda?” tanya Alma. “Ayah ibumu sudah setuju jika kau mau menikah dengan Bandeng Prakas.”


“Tidak, aku kecewa dengan Kakang Bandeng Prakas!” jawab Ninda Serumi mantap.


Bertepatan ketika ia berkata seperti itu, Bandeng Prakas muncul di ambang pintu masuk penginapan dan ia mendengar perkataan kekasihnya.


“Ninda!” sebut Bandeng Prakas yang dalam kondisi tangan kanan digantung oleh kain penyanggah. Ia mengalami luka pada tulang tangannya setelah bertarung dengan Pendekar Sungai Ular.


Semua mata jadi beralih memandang kepada wajah tampan Bandeng Prakas yang agak bengap.


“Apakah kau sudah tidak ingin bersamaku lagi, Ninda?” tanya Bandeng Prakas dengan raut wajah yang sedih.


“Maafkan aku, Kakang. Aku terlanjur kecewa kepadamu. Kau tidak mau mendengarkan kata-kata orang yang kau cintai,” tandas Ninda Serumi.


Semua orang hanya bisa memandangi Bandeng Prakas. Pemuda itu mengerenyit ingin menangis. Ia mundur dua langkah, lalu tiba-tiba berbalik pergi membawa kehancuran hati.


“Wah, ternyata kau tega juga, Kakak Ninda. Lalu, kau mau dengan siapa? Apakah kau akan menunggu Pangeran yang belum jelas nasibnya?” tanya Alma, masih dari atas. “Atau kau memilih Paman Gendas Pati yang datang menjemputmu? Hahaha!”


“Hahaha!” Orang banyak jadi tertawa pula mendengar candaan Alma.


Gendas Pati yang ada di ruangan itu jadi tersenyum malu.


“Untuk sementara aku memilih sendiri,” jawab Ninda Serumi.


“Aku setuju!” seru Alma.


“Kau setubuh apa, Amal?” tanya Ayu Wicara yang datang dari belakang bersama Magar Kepang.


“Hahahak!” tawa Alma mendengar pertanyaan Ayu Wicara. Lalu katanya kepada Ayu, “Aku mau setubuhi dirimu!”


“Hah!” pekik Ayu Wicara sambil cepat mundur dan mendekap dadanya sendiri. Ia menatap Alma dengan penuh selidik.


“Hahahak …!” tawa Alma dan Magar Kepang. Alma bahkan mengulurkan kedua tangannya hendak menyentuh dada Ayu Wicara.


Dengan ekspresi yang benar-benar merasa ngeri, Ayu Wicara buru-buru berlari pergi masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


“Hahahak …!” Semakin tertawa Alma dan Magar Kepang melihat tingkah Ayu Wicara. (RH)


__ADS_2