A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 9: Adipati Wanita


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


“Pendekar Tongkat Berat, apa yang kau ceritakan bertolak belakang dengan apa yang telah aku dengar sebelumnya. Aku tidak percaya semua perkataanmu. Kau tidak memiliki bukti bahwa kau adalah utusan dari Gusti Ratu Warna Mekararum. Pergilah kalian!”


Genggam Sekam lalu mengeluarkan tusuk rambut emas dari balik pakaiannya. Ia lalu menunjukkan perhiasan itu kepada Adipati Girik Songko.


“Inilah bukti bahwa aku adalah utusan Gusti Warna Mekararum. Ini juga membuktikan bahwa Gusti Ratu masih hidup!” tandas Genggam Sekam.


Terkejut Adipati Girik Songko melihat tusuk rambut emas itu. Ia ingat bahwa Ratu Warna Mekararum pernah memberinya tusuk rambut emas seperti itu sebagai hadiah. Hadiah itu diberikan kepada seluruh adipati saat diundang ke Istana.


“Jadi benar Gusti Ratu masih hidup?” tanya Adipati Girik Songko, seakan ia sudah sulit membantah.


“Berita kematian Gusti Ratu adalah dusta Senopati Gending Suro!” tandas Genggam Sekam.


“Namun sayang, jika Gusti Ratu memintaku untuk membatalkan pengiriman pasukan ke Rawa Kabut, itu sudah terlambat, sebab pasukan kadipaten sudah diambil alih perintahnya oleh orang Senopati Gending Suro,” kata Adipati Girik Songko.


“Jadi, Adipati sudah tidak bisa membatalkan pengiriman pasukan kadipaten?” tanya Genggam Sekam.


“Aku sudah tidak berkuasa atas pasukanku.”


“Mereka semua mungkin akan mati, Adipati. Berapa pun pasukan yang dikirim ke Rawa Kabut, mereka semua akan dihancurkan oleh Alma Fatara,” tandas Genggam Sekam.


“Aku tidak akan mundur. Aku akan membalas dendam atas luka yang dia berikan kepadaku,” kata Sanggar Aga menimpali.


“Jika kau sudah bosan hidup, pergilah!” sindir Genggam Sekam.


Akhirnya, Genggam Sekam dan Sumirah tidak mendapat hasil dari pertemuan itu. Setelah itu, Genggam Sekam langsung melakukan perjalanan menuju Kadipaten Sorangan. Hanya butuh satu setengah hari untuk tiba di ibu kota Kadipaten Sorangan yang dipimpin oleh Adipati Lalang Lengir.


Genggam Sekam dan Sumirah terkejut ketika bertemu dengan sang adipati, ternyata dia seorang wanita berusia empat puluh tahun. Masih sangat cantik di usia matangnya. Penampilannya sungguh menggairahkan. Sembulan sebagian dadanya yang terang lagi lembut begitu menggoda selera lelaki.


Adipati Lalang Lengir adalah seorang janda. Ia selalu dikawal oleh dua pemuda tampan bertubuh besar berotot dan bertelanjang dada, tapi tidak bertelanjang paha.


Awalnya sama dengan Adipati Girik Songko, Adipati Lalang Lengir juga tidak mempercayai perkataan dan cerita Genggam Sekam. Namun, ketika ditunjukkan perhiasan tusuk rambut emas, barulah ia percaya.


“Remuk Pusaka, persiapkan kereta kuda. Kita akan pergi ke Rawa Kabut!” perintah Adipati Lalang Lengir kepada salah seorang pengawalnya.


“Baik, Gusti!” ucap pemuda tampan bernama Remuk Pusaka.

__ADS_1


Maka, Adipati Lalang Lengir bersama sepasukan prajurit berkuda pergi menuju Rawa Kabut. Ia ingin bertemu langsung dengan Ratu Warna Mekararum.


Sementara Genggam Sekam melanjutkan perjalanan tugasnya menuju Kadipaten Rangkas Kelud yang dipimpin oleh Adipati Garongjaga.


Butuh perjalanan dua hari untuk sampai ke kediaman Adipati Garongjaga. Namun sayang, Genggam Sekam dan Sumirah terlambat. Adipati Garongjaga dan pasukan kadipaten sudah berangkat setengah hari lebih cepat.


“Maaf, Kisanak. Gusti Adipati dan pasukannya sudah berangkat menuju peperangan,” kata prajurit penjaga gerbang rumah Adipati Garongjaga.


“Apakah kalian tahu arah kepergian Adipati?” tanya Genggam Sekam.


“Menurut yang kami dengar, pergi berperang ke Rawa Kabut,” jawab prajurit tersebut.


“Kita harus segera mengejar ke arah Rawa Kabut. Semoga bisa tersusul!” kata Genggam Sekam kepada Sumirah.


Genggam Sekam dan Sumirah pun melanjutkan perjalanan untuk mengejar Adipati Garongjaga yang searah dengan perjalanan pulang ke Rawa Kabut.


Sementara itu, rombongan Adipati Lalang Lengir telah sampai di Lembah Hilang. Namun, ketika mereka hedak bergerak maju ke arah Rawa Kabut, mereka harus berhenti karena daerah yang akan mereka masuki sangat berkabut. Jarak pandang sangat terbatas. Selain itu, udara sangat dingin. Kedua pengawal Adipati Lalang Lengir yang tidak berbaju sampai menggigil.


Napas para prajurit dan kuda-kuda sampai berwujud uap. Adipati Lalang Lengir kemudian menambah pakaiannya menjadi beberapa lapis. Kepalanya bahkan ia selimuti dengan kain tebal, sehingga yang tampak tinggal sepasang mata indahnya.


“Bagaimana ini, Gusti?” tanya Remuk Hasrat, pemuda tampan berotot, teman Remuk Pusaka.


“Baik, Gusti.”


“Baru kali ini aku menemukan tempat sedingin ini,” batin Adipati Lalang Lengir.


Tidak berapa lama. Setelah Remuk Pusaka dan Remuk Hasrat mengenakan seragam prajurit karena mereka tidak memiliki baju, kereta kuda Adipati Lalang Lengir melanjutkan perjalanan. Kedua pengawalnya mengawal dengan berkuda. Mereka berempat dengan seorang kusir. Sementara sekitar tiga puluh prajurit berkuda beristirahat di Lembah Hilang.


Rombongan Adipati Lalang Lengir bergerak pelan menuju Rawa Kabut karena jarak pandang memang menyulitkan mereka. Semakin jauh mereka masuk, maka hawa dingin kian ekstrem dan menusuk.


Hingga setengah jam perjalanan, tibalah mereka di depan dinding setinggi pohon randu. Dinding itu tinggi dan panjang ke samping. Dinding itulah sumber suhu dingin yang membuat mereka memeluk diri mereka sendiri, yaitu dinding es yang sangat tebal.


“Gusti Adipati, kita terhalang dinding es!” seru Remuk Pusaka.


Adipati Lalang lengir lalu melongok memandang ke luar. Setelah melihat dinding es di dalam kabut, ia bergerak keluar.


“Tidak mungkin ada dinding es di alam negeri ini. Ini pasti kesaktian seseorang,” kata Adipati Lalang Lengir kepada kedua pengawalnya yang sudah turun dari kudanya.

__ADS_1


Tebalnya kabut membuat mereka tidak bisa melihat puncak dinding.


Prakr!


Tiba-tiba ada lempengan batu es yang jatuh pecah satu tombak di depan mereka. Itu mengejutkan Adipati Lalang Lengir dan pengawalnya. Jatuhan es itu cukup untuk membuat mereka bersiaga dan sontak memandang ke atas dinding. Namun, mereka tidak bisa melihat keberadaan seseorang karena terbatas oleh kabut.


“Siapa kalian, Kisanak?!”


Tiba-tiba terdengar suara lelaki yang berteriak bertanya kepada mereka, karena hanya mereka orang asing yang datang ke tempat itu.


“Aku Adipati Lalang Lengir dari Kadipaten Sorangan. Aku ingin bertemu dengan Gusti Ratu Warna Mekararum!” jawab Adipati langsung.


“Tunggulah, akan aku sampaikan!” seru lelaki di atas sana yang tidak lain adalah Debur Angkara.


“Baik!”


Adipati Lalang Lengir pun menunggu. Ternyata tidak begitu lama, tidak sampai setengah jam, sudah ada respon kembali dari atas. Namun, kali ini yang bertanya adalah Alma Fatara.


“Apakah kau Adipati Lalang Lengir?!” tanya Alma dari atas.


“Benar!” sahut Adipati Lalang Lengir.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma.


Adipati Lalang Lengir dan pengawalnya jadi terkejut heran mendengar suara tawa Alma yang seperti bapak-bapak tanpa beban utang.


“Apa yang kau tertawakan, Nisanak?!” seru Adipati Lalang Lengir.


“Aku kira kau lelaki, ternyata betina. Hahahak!” jawab Alma lalu kembali tertawa.


“Kurang ajar!” desis Adipati Lalang Lengir pelan.


“Siapa yang ikut bersamamu, Bibi?!” tanya Alma lagi.


“Sial! Aku dipanggil Bibi!” rutuk sang adipati pelan. Lalu teriaknya, “Aku bersama dua pengawalku dan seorang kusir!”


“Cukup Bibi yang naik. Bibi berjalanlah ke ujung kanan sampai menemukan tangga es!” seru Alma memberi petunjuk.

__ADS_1


“Baik!” (RH)


__ADS_2