A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 20: Pertolongan Genggam Sekam


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Set! Teb!


Satu pisau dilesatkan oleh pengejar Magar Kepang. Namun, beruntung Magar Kepang, si pelempar pisau baru putus cinta, jadi bidikannya galau dan meleset menancap di batang pohon kelapa yang dilewati oleh Magar Kepang.


Kepala Desa Iwakculas itu benar-benar panik dan ketakutan. Ia benar-benar berlari terbirit-birit. Tubuh gemuk dan perut gendut membuat Magar Kepang terlihat begitu lucu berlari kencang. Ia sudah tidak peduli, apakah terlihat lucu atau menakutkan, yang penting nyawanya bisa selamat.


Berat badan yang memperlambat, membuat ketiga lelaki pengejar itu lambat laun bisa mendekatinya.


Set! Tseb!


“Aaak …!” jerit Magar Kepang begitu panjang dan kencang. Seketika ia berhenti berlari dengan seluruh otot dan syaraf tubuh menegang. Satu pisau merah menancap di bokong kirinya.


Buk! Ting!


Ketiga orang pengejar Magar Kepang cepat mendapati buruannya. Satu tinju menghajar pipi kiri Magar Kepang, membuat wajah tembamnya terguncang keras.


Ketika satu orang hendak menyayatkan pisau merahnya ke punggung Magar Kepang, tiba-tiba satu batang besi muncul menusuk masuk menghadang mata pisau sebelum merobek punggung Magar Kepang.


Ketiga pengeroyok berseragam merah itu terkejut.


Dak!


“Akk!” pekik pemilik pisau saat ujung batang besi itu menghantam batang hidungnya, sehingga remuk tulangnya dan berdarah deras.


Genggam Sekam yang muncul menolong Magar Kepang dengan tongkat besinya, melanjutkan pertolongannya dengan terus menyerang dua lawan lainnya.


Genggam Sekam adalah pendekar pilih tanding, jadi mudah baginya untuk menghajar dua murid Perguruan Pisau Merah.


Dak dak!


“Ahk! Akk!” pekik dua lelaki berbaju merah saat dada mereka dihantam batang tongkat Genggam Sekam. Keduanya terjengkang.


Satu orang lebih dulu bangkit. Ia membuat kedua tangannya menyala merah seperti lampu neon.


Ses ses!


Sing! Ctar ctar!


Ia melesatkan dua sinar merah berwujud pisau kecil. Sigap Genggam Sekam mengelap di udara yang langsung menciptakan lapisan sinar merah tebal. Sinar dari ilmu perisai Menepis Bala itu, membendung dua sinar merah pisau sehingga menciptakan ledakan nyaring tanpa melukai siapa pun.


Selanjutnya, pemuda tampan kekasih Ning Ara itu memburu si penyerang dengan gebukan tongkat.


Buk buk buk!


Setelah bisa menghindari serangan tongkat besi dua kali, selajutnya pemilik pisau tidak bisa menghindari tiga gebukan batang tongkat pada punggungnya. Mati tidak, tapi patah tulang dan daging hancur terjadi.


Ses!


Satu sinar merah berwujud pisau kembali melesat menyerang Genggam Sekam dari samping.

__ADS_1


Sing! Ctar!


Genggam Sekam kembali mengeluarkan ilmu perisai Menepis Bala, menangkis sinar merah berwujud pisau.


Set! Teb!


Babak!


Selanjutnya Genggam Sekam melempar tombak besinya, tetapi bisa dielaki sehingga hanya menancap dalam di batang pohon kelapa.


Selanjutnya, Ganggam Sekam berkelebat cepat menerjang dengan tendangan. Untuk itu, murid Perguruan Pisau Merah tidak bisa menghindar. Dua tendangan keras medarat beruntun di dadanya, membuatnya terjengkang keras.


“Pergi! Aku tidak mau membunuh murid Perguruan Pisau Merah!” usir Genggam Sekam.


“Kau akan menyesal nanti, Kisanak!” ancam lelaki yang hidungnya hancur.


“Rupanya kau mau mati di sini!” gertak Genggam Sekam sambil menyalakan telapak tangannya dengan api ungu.


Buru-buru lelaki itu berlari pergi bersama kedua temannya yang juga menderita luka patah tulang, sehingga harus dipapah dengan hati-hati.


“Aaak!” erang Magar Kepang yang tengkurap di tanah dengan bokong masih memiliki pisau merah yang menancap.


“Paman Magar!” panggil Alma Fatara yang muncul dengan berlari. Ia bersama lainnya sedang mencari Magar Kepang.


“Tolong aku, Alma!” rintih Magar Kepang.


“Hahaha …!” Alma Fatara justru tertawa kencang saat melihat posisi pisau yang menancap. “Wah, bahaya ini, Paman!”


“Alma, teganya kau. Ini sangat sakit, kau malah tertawa!” ratap Magar Kepang.


Garam Sakti dan Debur Angkara segera mengangkat tubuh Magar Kepang dalam posisi tetap tengkurap, seperti Superman terbang.


Ning Ana mendekati Magar Kepang pula.


Seet!


“Aaak …!” jerit tinggi Magar Kepang, ketika tiba-tiba Ning Ana mencabut pisau yang menancap di bokongnya.


Ning Ana yang terkejut mendengar jeritan Magar Kepang, cepat berlari dan bersembunyi di belakang Alma. Ia jadi ketakutan, terlebih melihat darah mengalir deras dari lubang luka di bokong Magar Kepang.


“Anak Setaaan!” teriak Magar Kepang.


Garam Sakti yang mengangkat pada bagian paha, cepat menutupi lubang pada bokong Magar Kepang. Maksudnya lubang luka, bukan lubang lain pada bokong.


“Cepat bawa ke penginapan, Kang!” seru Alma.


Dengan langkah yang cepat, Debur Angkara dan Garam Sakti membawa tubuh Magar Kepang ke arah penginapan. Magar Kepang hanya bisa merintih-rintih.


“Kau punya ide dari mana mencabut pisaunya, Ning Ana? Kalau Paman Magar mati bagaimana?” tanya Alma Fatara sambil memendam kekesalan.


“Maaf. Aku tidak tahu. Aku pikir sakitnya akan hilang kalau pisaunya dicabut,” ucap Ning Ana merasa menyesal.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Genggam Sekam.


“Kakang Mata Buaya, kau tidak mengajak Kak Ning Ara?” tanya Ning Ana.


“Kalau aku bawa, nanti bisa merepotkan seperti kau,” jawab Genggam Sekam.


“Sembarangan! Itu artinya cinta Kakang Mata Buaya hanya sebatas di depan mata. Sayang kalau terlihat di depan mata, selingkuh kalau di belakang mata!” tukas Ning Ana.


“Selingkuhnya dengan aku saja, Kang Senggama!” celetuk Ayu Wicara.


“Hahahak …!” tawa Alma kencang.


“Ayu, namaku Genggam Sekam, bukan Senggama!” hardik Pendekar Tongkat Berat.


“Iya, aku tahu. Siapa sih yang memanggil Kakang Genggam dengan nama jorok seperti itu?” timpal Ayu tanpa dosa.


“Barusan kau yang menyebutku Senggama!” teriak Genggam Sekam.


“Hihihi …!” tawa Ayu Wicara. “Apa iya?”


Genggam Sekam yang kesal hanya menarik kedua sudut bibirnya bersamaan tanpa menjawab.


“Kenapa harus marah kalau dipanggil Senggama?” tanya Ning Ana sambil membersihkan pisau merah di tangannya dengan daun pisang yang diambilnya sambil jalan.


“Kau lagi. Hahaha!” kata Alma sambil mendorong pelan kepala Ning Ana, lalu tertawa.


Dalam waktu singkat, mereka sudah tiba di penginapan.


“Kakang, bisakah penginapan memanggilkan kami seorang tabib?” tanya Alma kepada seorang pelayan penginapan.


“Bisa. Akan segera aku panggilkan,” jawab si pelayan.


“Jangan pakai lama, Kang!” sahut Ning Ana pula.


“Baik, aku akan terbang untuk membawa tabibnya!” sahut pelayan itu meyakinkan Ning Ana.


“Hah, terbang?” kejut Ning Ana. Sementara pelayan itu sudah berlari pergi.


“Hahaha!” tawa Alma dan Genggam Sekam.


Di dalam kamar sewanya, Garam Sakti terus menyumpal luka di bokong Magar Kepang yang kini tengkurap di ranjang.


Genggam Sekam yang duduk menghadap ke pintu masuk penginapan, tiba-tiba terkejut. Ia melihat sesosok orang yang dikenalnya berjalan lewat di depan penginapan. Orang yang dilihatnya seperti seorang pengemis lelaki karena berpakaian compang-camping warna abu-abu. Lelaki itu juga berambut awut-awutan sambil membawa sebuah wadah di tangan kanannya.


“Pengemis Batok Bolong!” sebut Genggam Sekam sambil berdiri dari duduknya.


Sebutan Genggam Sekam itu juga mengejutkan Alma Fatara.


Genggam Sekam cepat berlari ke luar penginapan. Alma Fatara juga segera berjalan menyusul.


Di luar, Genggam Sekam melihat lelaki berperawakan seperti pengemis sedang berjalan membelakanginya.

__ADS_1


“Pengemis Batok Bolong!” teriak Genggam Sekam keras.


Panggilan bernada kemarahan itu mengejutkan lelaki berkumis putih tapi berjenggot hitam, yang sedang berjalan agak membungkuk, sepertinya tulang punggungnya sudah tidak bisa lurus lagi. Ia jadi berhenti melangkah dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. (RH)


__ADS_2