
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Bunga Dara posisinya dilindungi oleh kurungan tubuh ketiga saudaranya, yaitu Bunga Gadis, Bunga Mekar dan Bunga Semi, yang masing-masing melindungi dirinya dengan lapisan sinar kuning. Posisi mereka dilindungi oleh kurungan dinding selendang empat warna, yang terus bergerak terbang memutari posisi tuannya tanpa henti.
Formasi yang bernama Benteng Selendang Pelangi itu dikepung oleh dua puluh lelaki berseragam merah-merah. Kondisi sebagian dari mereka sudah ada yang terluka. Kedua telapak tangan mereka menyala seperti lampu neon merah. Itu adalah ilmu Pisau Penghancur.
Di sisi barat dari arena pertarungan di tengah jalan itu berdiri memantau pendekar yang bernama Ulung Gegap, pemimpin dari murid-murid Perguruan Pisau Merah. Sementara di sisi timur dari medan tarung, berkumpul rombongan Alma Fatara yang hanya ingin lewat.
Baru saja para murid Perguruan Pisau Merah melesatkan sinar-sinar merah berwujud pisau kecil, tetapi semuanya ambyar ketika mengenai dinding selendang.
Giliran Bunga Dara yang melakukan serangan dengan senjata pusaka Pisau Bunuh Diri. Bunga Dara lalu mengiris sendiri lehernya seperti menyembelih. Beruntung, posisinya yang terkurung tidak terlihat oleh siapa pun dari orang luar. Namun, meski ia mengiris lehernya, tetapi lehernya tidak terluka sedikit pun. Tidak ada kulit yang terbeset atau ada darah yang mengalir keluar.
“Akkr!” Tiba-tiba seorang dari murid Perguruan Pisau Merah tumbang sambil memegangi lehernya yang terbelah dengan sendirinya dan mengucurkan darah deras.
Terkejutlah seluruh murid Perguruan Pisau Merah melihat insiden tersebut. Ulung Gegap juga terkejut. Ia tahu bahwa Empat Bunga Pesona telah menggunakan Pisau Bunuh Diri untuk melawan.
Alma dan rekan-rekannya juga terkejut menyaksikan peristiwa itu.
“Aakkr!” jerit seorang murid Perguruan Pisau Merah lagi, sambil memegangi batang lehernya yang tiba-tiba terbuka lebar kulit dan dagingnya. Putusnya urat leher membuat darah mengucur, bahkan menyemprot seperti air mancur.
Murid-murid Perguruan Pisau Merah semakin tegang. Mereka diserang tanpa disentuh dan tidak terlihat penyerangnya.
“Akr! Akk!”
Dalam hitungan detik, menyusul dua murid Perguruan Pisau Merah kembali disembelih secara gaib. Empat orang telah tumbang seperti hewan qurban. Di dalam benteng selendang, Bunga Dara sudah mengiris lehernya sebanyak empat kali, tapi bukan lehernya yang terluka, melainkan leher orang yang telah dipandangnya.
Benteng Selendang Pelangi memang bergerak berputar dengan rapat. Namun, selendang itu bisa dikendalikan oleh Empat Bunga Pesona. Dalam putaran itu, terkadang Bunga Dara membuat pergerakan selendangnya membuka lubang celah secara sekilas. Saat ada celah terbuka, pandangan Bunga Dara langsung menangkap satu sosok murid Perguruan Pisau Merah, lalu ia pun menyayat lehernya.
“Jangan diam saja! Seraaang!” teriak Ulung Gegap kesal karena murid-murid di bawah pimpinannya justru terdiam panik.
Ses ses ses …!
Akhirnya mereka yang masih hidup, segera melepaskan ilmu Pisau Penghancur secara bersamaan. Belasan sinar merah berwujud pisau kecil berlesatan menyerang formasi Benteng Selendang Pelangi.
Bless bless bless …!
Namun sayang, hasilnya sama seperti sebelumnya. Semua sinar merah itu ambyar.
“Akkr!”
“Aakr!”
Yang terjadi justru kembali tumbang dua murid Perguruan Pisau Merah dengan kondisi yang sama.
__ADS_1
Melihat hal itu, Alma Fatara tidak tega hati. Ia tidak betah menyaksikan penyembelihan massal itu. Rekan-rekan Alma pun merasa ngeri melihatnya.
“Hentikan pembunuhanmu, Kakak Bunga!” teriak Alma Fatara keras, mengejutkan mereka semua yang sedang bertarung.
Ulung Gegap juga terkejut. Ia cepat lemparkan pandangannya kepada Alma.
Bunga Dara yang baru saja hendak mengiris lehernya lagi, jadi batal niat. Meski ia hanya mendengar, tetapi ia tahu siapa yang berteriak itu.
“Mereka ingin membunuh kami, maka kami pun akan membunuh mereka semua!” seru Bunga Dara.
“Ulung Gegap! Kau ingin mengorbankan semua anak buahmu?! Jelas-jelas mereka tidak bisa menembus pertahanan itu, tetapi kau masih juga memaksa!” seru Alma kepada Ulung Gegap di seberang.
“Diam kau, pembunuh Ketua Dua!” balas Ulung Gegap. “Jangan campuri urusan Perguruan Pisau Merah!”
“Ulung Gegap! Jika kau masih memaksa mengorbankan murid-murid Perguruan Pisau Merah, aku yang akan menghajarmu dan melaporkanmu kepada Dato Jari Sambilan!” ancam Alma Fatara, sepertinya dia sedang marah sungguhan.
“Bocah ingusan berani bertingkah! Kau pikir kesaktianmu mampu mengalahkanku, hah?!” balas Ulung Gegap yang jadi marah karena terusik.
“Kakak Bunga! Jika kau tidak berhenti menyembelih murid-murid Perguruan Pisau Merah, maka aku yang akan menghentikanmu!” teriak Alma tidak tanggung-tanggung mengancam Empat Bunga Pesona juga.
Terkejut Empat Bunga Pesona mendengar ancaman itu, terutama Bunga Dara. Bukan karena takut terhadap ancaman itu, tetapi terkejut karena Alma mereka nilai nekat main ancam-ancam.
“Kau berani mengancam kami, Gadis Tengik?” seru Bunga Dara membalas.
“Aku tidak bisa diam menyaksikan pembunuhan kalian yang mengerikan itu!” teriak Alma, meskipun ia pernah membunuh orang dengan cara mengerikan.
“Hai, murid-murid Perguruan Pisau Merah! Atas nama Ketua Satu Dato Jari Sambilan, aku perintahkan kalian untuk menyelamatkan diri. Jangan menuruti perintah konyol yang jelas-jelas akan membunuh kalian!” seru Alma kepada keempat belas murid Perguruan Pisau Merah yang masih tersisa.
Seruan Alma itu membuat murid Perguruan Pisau Merah jadi bingung. Sebagai murid tingkat bawah, mereka harus patuh, tapi di sisi lain nyawa mereka terancam dengan jelas. Sementara itu mereka tidak mengenal Alma, tetapi dia membawa nama guru mereka dan sebaliknya dia dianggap sebagai pembunuh Ketua Dua Garet Badat.
Di saat murid-murid itu bingung, tiba-tiba satu murid memberi solusi.
“Semua munduuur! Aku yang bertanggung jawab jika kita disalahkan!” teriak seorang murid Perguruan Pisau Merah. Dialah yang paling tua di antara murid yang lain. Ia bernama ****** Wong.
Ternyata para murid itu sepakat. Mereka pun mundur cepat menjauhi formasi Benteng Selendang Pelangi Empat Bunga Pesona. Tindakan para murid itu mengejutkan dan semakin membuat marah Ulung Gegap.
“Kalian akan mendapat hukuman nanti!” teriak Ulung Gegap gusar bukan main kepada murid-murid bawahannya.
Mundurnya murid-murid Perguruan Pisau Merah membuat Empat Bunga Pesona membongkar formasi Benteng Selendang Pelangi.
Akan tetapi, keempat selendang itu tidak langsung diambil oleh tangan pemiliknya masing-masing. Keempat selendang itu bergerak terbang lalu saling melilit sedemikian rupa di udara, membentuk seperti sebatang tombak warna-warni.
Set! Tseb!
__ADS_1
Tombak kain itu lalu melesat cepat menyerang Ulung Gegap.
Ulung Gegap gesit melompat menghindar sambil menghentakkan sepasang lengannya.
Zwerss! Cresss!
Dari hentakkan kedua lengan itu berlesatan serat-serat sinar putih yang jumlahnya cukup banyak, sehingga terlihat seperti hujan sinar putih. Karena selendangnya sedang tidak di tangan, Empat Bunga Pesona serentak membentengi diri dengan lapisan sinar kuning.
Rupanya ilmu yang dilepaskan oleh Ulung Gegap kelas tinggi. Terbukti, meski melindungi diri, tetap saja keempat wanita cantik itu terjengkang semua, seiring ledakan-ledakan kecil pada tanah-tanah sekitarnya.
Bunga Dara cepat menggunakan Pisau Bunuh Diri dan mengiris lehernya.
Siing!
Terkejut Bunga Darah dan ketiga saudaranya, saat melihat Ulung Gegap menamengi batang lehernya dengan beberapa bilah pisau, sehingga terdengar suara gesekan logam.
Berhasil menggagalkan serangan Pisau Bunuh Diri terhadapnya, Ulung Gegap langsjung melesat maju.
Tsek!
“Akk!” jerit Ulung Gegap tiba-tiba lalu langsung tersungkur ke tanah, karena paha kanannya pada bagian dalam tiba-tiba seperti ditusuk sesuatu. Bukan hanya terasa ditusuk, tetapi juga mengalami luka tusuk.
Rupanya di sisi depan, Bunga Dara telah menusuk paha kanannya. Meski jelas-jelas pisau masuk menusuk pahanya, tetapi paha itu tidak mengeluarkan darah. Ketika pisau dicabut, paha itu tetap tidak terluka, hanya kain celananya saja yang menjadi bolong. Seperti pisau palsu yang biasa digunakan di adegan film.
Zwersss! Cresss!
Sebelum mendapat serangan Pisau Bunuh Diri lagi, Ulung Gegap cepat menghentakkan kedua tangannya, melepaskan ilmu serupa tadi.
Empat Bunga Pesona kembali mengandalkan ilmu perisainya berupa lapisan sinar kuning. Lagi-lagi mereka berempat terdorong terjengkang saat dihujani sinar-sinar putih.
Seet! Tetep!
Sebanyak enam pisau merah melesat cepat menyusul serangan tersebut, target utama adalah Bunga Dara yang memegang Pisau Bunuh Diri.
Namun, Bunga Dara begitu lihai menghindar, bahkan satu pisau ia tangkap dengan tangan kirinya.
Tseb tseb tseb!
“Akk! Ak! Akk!”
Setelah itu, Bunga Dara dengan cepat melakukan penusukan berulang-ulang ke perutnya sendiri. Hasilnya, sejumlah luka tusuk langsung tercipta pada perut Ulung Gegap.
Murid-murid Perguruan Pisau Merah hanya bisa menyaksikan Ulung Gegap berjuang sendirian. Namun, mereka sudah kadung menyimpan rasa benci kepada Ulung Gegap karena tega mengorbankan teman-teman mereka.
__ADS_1
Set!
“Aakr!” jerit terakhir Ulung Gegap saat lehernya tahu-tahu tersembelih secara gaib. (RH)