
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
Situasi di rumah Nyi Kenanga masih mencekam. Rumah besar itu masih dikepung oleh pasukan Kademangan pimpinan Dengkul Geni. Mereka masih masa menunggu.
Sementara di dalam rumah, Nyi Kenanga dan putranya bersama para pelayan yang berjumlah tiga orang, dilanda ketidaktenangan pula. Sesekali Nyi Kenanga mengintip situasi di luar. Setelah mengintip, ia kembali lagi ke kamar putranya.
“Kenapa pasukan dari Kadipaten belum juga tiba?” tanya Nyi Kenanga kepada dirinya sendiri, yang Ninggat tidak bisa bantu jawab.
“Ibu tidak perlu cemas seperti itu,” kata Ninggat.
“Aku ingin segera tertawa lepas melihat pasukan Kademangan itu dihabisi oleh pasukan Kadipaten!” kata Nyi Kenanga gregetan. Lalu katanya kepada seorang pelayan lelakinya, “Coba lihat kembali Gelis Sibening, pastikan kalau anak itu masih ada di kamarnya!”
“Baik, Nyi,” jawab pelayan berusia separuh abad itu.
Si pelayang lalu beranjak pergi ke sebuah pintu kamar yang tertutup. Pintu itu dikunci dari luar. Setelah membuka kuncinya, pintu tersebut didorong sedikit. Si pelayan mengintip dalam kamar yang hanya berpenerang satu dian kecil.
Di atas sebuah ranjang ada sosok Gelis Sibening, masih berpakaian sama dengan yang ia kenakan sejak diculik pada malam sebelumnya. Gadis itu meringkuk di atas ranjang seperti udang rebus. Kedua tangan dan kakinya diikat dibelenggu dalam satu ikatan. Dengan ikatan seperti itu, Gelis Sibening tidak bisa bangun berdiri atau merangkak. Parahnya lagi, mulut Gelis Sibening disumpal dengan kain yang banyak. Untung lubang hidungnya tidak disumpal juga, sehingga ia masih bisa bernapas.
Sosok Gelis Sibening terdiam, sepertinya dia sedang tertidur. Si pelayan lalu masuk dengan langkah mengendap yang sehalus mungkin. Dilihatnya ada gerakan halus pada tubuh Gelis Sibening yang naik turun, menunjukkan bahwa ia masih bernapas. Keindahan tubuh Gelis Sibening, meski ia sudah sehari lebih belum mandi, membuat si pelayan hanya bisa menelan ludah tuanya.
Gelis Sibening yang sebelumnya begitu mengkhawatirkan kondisi Ninggat yang adalah kakaknya, setelah bertarung melawan Brata Ala, datang ke rumah ibu tirinya untuk meminta bantuan. Namun kemudian, Nyi Kenanga justru menangkapnya dan menyekapnya di kamar seperti saat ini.
Pelan-pelan si pelayan kembali melangkah mundur, keluar dan menutup pintu.
Sementara itu di luar rumah, Dengkul Geni tampak dengan sabar duduk menunggu. Dalam hati ia mengadu kesal juga, sebab ia tidak menyiapkan kopi ataulah pisang goreng.
Tuk!
“Siapa?!” teriak Dengkul Genit terkejut sambil terlompat memasang kuda-kuda. Sepotong mangga muda menghantam bahunya, padahal dia tidak sedang berada di bawah pohon mangga, tetapi di sisi pohon pisang.
Keterkejutan Dengkul Geni juga mengejutkan para prajurit. Mereka semua mencari dengan seksama ke daerah sekitar yang gelap.
“Siapa pun itu, tunjukkan ujung hidungmu!” teriak Dengkul Geni gusar dan tegang.
Namun, suasana sunyi senyap setelah teriakan Dengkul Geni.
Kebisingan yang timbul di luar membuat Nyi Kenanga sumringah.
“Pasukan Kadipaten pasti sudah datang,” ucap Nyi Kenanga.
Ia buru-buru pergi ke ruang depan untuk mengintip situasi di depan rumah.
“Apa yang dilakukan oleh Dengkul Geni berengsek itu?” desis Nyi Kenanga saat melihat Dengkul Geni bertingkah siaga seperti sedang bertarung dengan setan. “Sial! Bukan pasukan Kadipaten. Lalu siapa yang membuat Dengkul Geni marah?”
“Ayo keluar, bertarung sampai modar!” teriak Dengkul Geni.
Bsruak!
“Setan kepecirit!” teriak seorang prajurit ketika ia dan beberapa rekannya dilempari sepelepah kelapa. Pelepah kelapa itu jatuh mengenai kaki-kaki yang membuat mereka berlompatan.
__ADS_1
“Hahahak …!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa seorang wanita sambil berjalan muncul dari kegelapan. Pakaiannya yang hitam membuatnya sulit dikenali siapa dia adanya. Namun, suara tawanya yang khas membuat Dengkul Geni bisa langsung mengenalinya.
“Sejak kapan ada setan kepecirit? Hahahak …!” tanya Alma kepada prajurit yang tadi memaki. Makian itulah yang membuat Alma tidak kuat menahan tawanya.
Ketika Alma menjahili Dengkul Geni, ia sudah berjuang keras untuk tidak tertawa, tapi mendengar makian prajurit tadi, tawa Alma langsung meledak, padahal ia masih ingin menjahili Dengkul Geni dan pasukannya.
“Hahaha!” para prajurit itu jadi tertawa, mereka lega karena ternyata orang yang menjahili mereka adalah orang di pihak sendiri.
“Alma kurang asam!” maki Dengkul Geni yang kini meredakan ketegangannya.
“Hahahak!” Alma masih tertawa sambil berjalan mendatangi Dengkul Geni. “Ah, kurang asik. Gara-gara prajurit itu, jadi sebentar saja menjahili kalian.”
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dengkul Geni.
“Ayo tebak, kalau benar, Kang Dengkul gendong aku,” kata Alma sambil membungkuk memungut sebutir kerikil.
“Hahaha! Aku mau sekali jika menggendongmu!” kata Dengkul Geni yang akhirnya terdengar tertawa. “Tapi aku mana tahu jawabannya.”
“Hahahak! Karenanya aku tawarkan tebak-tebakan itu,” kata Alma seraya tertawa.
Set! Tak!
“Aak!” jerit Nyi Kenanga saat tiba-tiba sesuatu menembus dinding papan dan mengenai dahinya yang sedang mengintip. Ia jatuh terjungkal ke belakang.
“Hahahak!” tawa Alma, berisik di tengah malam. Ia tertawa karena berhasil membuat Nyi Kenanga yang mengintip terjungkal dengan kerikil yang dilesatkannya.
Alma tiba-tiba berkelebat naik ke atap rumah. Dengan tanpa suara, Alma berjalan. Dengan menggunakan tenaga dalamnya, Alma bekerja mendeteksi keberadaan orang-orang di dalam rumah.
“Empat satu satu,” ucap Alma lirih, seperti sedang menyebut nomor togel. Empat maksudnya ada empat orang dalam satu ruangan. Satu maksudnya ada satu orang dalam ruangan.
Namun, Alma tidak tahu siapa saja orang di dalam ruangan jika tidak melihatnya langsung. Orang yang jumlahnya empat pastilah Nyi Kenanga, karena pasti ada orang yang mendataginya ketika ia terluka. Sedangkan Alma mencari yang jumlahnya satu karena Gelis Sibening disekap, kemungkinan besar ia seorang diri di dalam ruangan.
Alma lalu menggeser satu susunan genteng di atas ruangan yang menampung satu orang. Alma tidak perlu pelan-pelan lagi dalam bertindak. Ketika Alma membuka satu lubang di langit-langit, Ninggat yang terbaring di ranjang terkejut melihatnya.
“Siapa itu?!” teriak Ninggat terkejut tegang.
Teriakan Ninggat itu mengejutkan Nyi Kenanga dan ketiga pelayan. Mereka buru-buru datang ke kamar Ninggat. Dilihatnya Ninggat dalam kondisi tegang sambil memandang melotot ke atap. Tatapannya seperti orang yang kerasukan setan.
Nyi Kenanga dan tiga pelayan cepat mendongak, melihat atap yang berlubang kecil.
Bruakr!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara atap yang hancur oleh benda besar. Sangat jelas itu terjadi di atap kamar tempat Gelis Sibening disekap.
Buru-buru Nyi Kenanga dan ketiga pelayan berlari keluar menuju kamar sekapan. Setibanya di depan pintu yang dikunci, ….
Brak!
__ADS_1
Tiba-tiba satu hantaman membuat pintu kamar pecah seperti kerupuk. Sontak keempat orang itu terkejut lagi dan mundur menjauh. Mereka takut jika-jika yang keluar dari dalam kamar itu adalah harimau berkepala monyet.
“Hahaha!” Sambil tertawa, Alma muncul berdiri di ambang pintu yang hancur.
Ternyata yang muncul justru bidadari malam, bukan harimau berkepala monyet.
Wuss!
Alma melepaskan satu angin pukulan. Tak ayal lagi, keempat orang itu terhempas menghantam dinding rumah.
Brakr!
Tiba-tiba pintu depan rumah didobrak dari luar.
“Tangkap mereka semua!” teriak Dengkul Geni, pelaku pendobrakan.
Para prajurit berlarian masuk dan langsung menodongkan pedangnya pada leher Nyi Kenanga dan ketiga pembantunya.
“Siapa yang berani menangkapku, aku jitak!” seru Alma ketika ada prajurit yang berlari ke arahnya.
Terkejut prajurit itu saat mengenali siapa adanya orang yang ia datangi.
“Hehehe! Maaf, aku kira anaknya Nyi Kenanga,” ucap prajurit itu seraya cengengesan.
“Hahaha!” Alma akhirnya hanya tertawa.
Alma lalu masuk ke kamar dan menghampiri Gelis Sibening yang sudah terbangun sejak Alma menjebol atap kamar.
“Siapa kau?” tanya Gelis Sibening takut saat sumpalan mulutnya dicabut.
“Aku adalah Dewi Gigi, yang akan membawamu ke pelaminan. Hahaha!” kata Alma dengan suara dibesarkan agar seperti suara raksasa, lalu tertawa pun seperti raksasa palsu.
“Kau tidak apa-apa, Gelis?” tanya Dengkul Geni sambil masuk menghampiri Gelis Sibening. Dia lalu bekerja untuk membuka ikatan tali pada tangan dan kaki gadis cantik itu.
“Tidak, hanya lapar,” jawab Gelis Sibening lugu.
“Hahahak …!” Tertawa terbahaklah Alma mendengar jawaban Gelis Sibening.
Pasukan Kademangan sudah membekuk Nyi Kenanga dan ketiga pelayannya. Ninggat pun digotong ke luar dan Gelis Sibening dituntun ke luar.
Namun, ketika mereka semua berada di luar, tiba-tiba ….
Dari dalam kegelapan berlarian pasukan prajurit berseragam merah gelap. Mereka segera membentuk formasi pagar manusia yang menghadap ke arah rumah.
“Yah, dia lagi!” celetuk Alma seraya hendak tertawa, tapi tidak tertawa.
Pasukan Kademangan segera bergerak membentuk formasi serupa dengan arah hadap berlawanan.
Kini ada dua pasukan yang berbeda jumlah, berbeda tingkatan dan keahlian saling berhadapan di malam itu.
__ADS_1
Komandan Utara Kadipaten Balongan Dampuk Ulang dan Lot muncul dengan berkuda.
Sumringahlah Nyi Kenanga melihat kemunculan pasukan bantuan dari Kadipaten. (RH)