A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jari 13: Jari Hitam VS Tinju Pisau


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


“Kau hebat bisa pulih dari racun jarum itu, Dendeng!” teriak Ninggat sambil melancarkan tendangan-tendangan bertenaga dalam. “Tapi gerakanmu masih lemah. Aku tidak yakin kau akan selamat!”


“Jangan kau sesumbar sebelum benar-benar mengeluarkan kehebatanmu!” balas Dendeng Pamungkas lalu balik melakukan serangan cakaran jari-jari hitam yang berbahaya.


Ninggat memilih menghindari serangan cakaran tersebut. Ia sudah tahu dan pernah melihat kehebatan ilmu Jari Hitam, jangankan kulit dan daging, kayu dan batu saja bisa terlubangi oleh kekuatannya.


Wuut! Sleks!


“Aaak!” pekik Ninggat ketika dia melakukan serangan balasan dengan tendangan memutar yang menggeledek mengincar kepala Dendeng.


Namun, sambil memiringkan badan atasnya, satu cengkeraman jari-jari Dendeng Pamungkas menangkap pergelangan kaki Ninggat. Jari-jari Dendeng Pamungkas langsung menyundut kulit dan daging kaki Ninggat, seperti besi panas menyundut plastik keras.


“Bahaya, kekuatan tenagaku hanya bisa dikerahkan separuh,” batin Dendeng Pamungkas.


Seraya menahan sakit, Ninggat cepat menarik kakinya dengan kuat, sehingga Dendeng agak tertarik.


Buk!


Satu tinju bertenaga dalam berhasil masuk ke dada Dendeng Pamungkas yang sempat kehilangan keseimbangan. Dendeng Pamungkas jadi terjajar beberapa tindak seraya menahan sesak pada dadanya.


Sejenak Ninggat melakukan gerakan tangan bertenaga dalam, selain untuk menahan rasa sakit pada luka di pergelangan kakinya, ia juga akan mengerahkan jurus baru.


“Heaaat!” teriak Ninggat sambil maju dua langkah lalu melompat kepada Dendeng Pamungkas, seiring itu tinju kanannya melesat ingin menghajar wajah tampan Dendeng.


Taps!


Namun, kepal tinju Ninggat terbentur oleh tangkapan jari-jari hitam tangan kiri Dendeng Pamungkas. Ninggat mendelik ketika Dendeng Pamungkas mencengkeram kepalan itu seolah bermaksud meremukkannya.


“Apa?” kejut Dendeng Pamungkas lirih, sebab ternyata, kepalan itu mengandung tenaga dalam yang tinggi, sehingga kulit dan tulangnya tidak bisa diremukkan oleh cengkeraman.


Aksi saling dorong tenaga terjadi sejenak.


Dendeng Pamungkas tidak mau menyerah, ia mengerahkan tenaga dalamnya. Kondisinya yang masih belum pulih total membuatnya cukup terancam.


Tiba-tiba jari-jari hitam tangan Dendeng Pamungkas yang menahan tinju Ninggat, menyala merah seperti bara api.


Cess!


“Aaak …!” jerit Ninggat keras lagi panjang. Ia merasakan panas pada kepalannya yang tersundut. Namun herannya, Ninggat tetap berusaha bertahan dan membiarkan tinjunya disundut jari yang membara merah api.


Set!


“Akh!” pekik Dendeng Pamungkas tiba-tiba dengan punggung tangan yang meledak.


Sontak ia menarik lepas cengkeramannya dan mundur beberapa tindak menjauhi Ninggat. Telapak tangan kiri Dendeng Pamungkas jebol dan hancur. Jari-jarinya sudah tidak menyala membara lagi. Darah bercucuran dari jari-jari tangan itu jatuh ke tanah.


Luka yang dialami oleh Dendeng Pamungkas disebabkan adanya tembakan tenaga tajam dari dalam tinju Ninggat yang ditahan. Tinju yang menghancurkan tangan Dendeng itu bernama Tinju Pisau.


Sementara itu, tangan kanan Ninggat juga rusak berat akibat cengkeraman jari-jari yang membara tadi.


“Kakang Dendeng!” pekik Gelis Sibening cemas melihat kondisi kekasihnya. Lalu teriaknya kepada Ninggat, “Kakang Ninggat, hentikan! Biarkan kami pergi!”


“Tidak!” teriak Ninggat. Tatapannya tajam kepada Dendeng Pamungkas.

__ADS_1


Ninggat kembali maju lalu melompat sambil kelebatkan kakinya bergantian.Ternyata luka kaki yang diderita sebelumnya tidak membuat kemampuan kaki Ninggat terganggu. Untuk sementara Ninggat tidak bisa menggunakan tangan kanannya. Tangan itu hanya mengayun mengikuti gerakan tubuh.


Sama halnya dengan Dendeng Pamungkas yang menahan sakit, satu tangannya jadi lumpuh. Ia menggunakan tangan kanan saja untuk menangkis serangan tendangan-tendangan Ninggat yang hebat. Sesekali pula Dendeng Pamungkas membalas dengan serangan kaki, tapi tidak seintens Ninggat.


Setelah agak lama saling jual serangan kaki, akhirnya Dendeng Pamungkas memilih menyalakan jari-jari hitam tangan kanannya. Jari-jari hitam itu kini menyala seperti bara api yang sangat panas.


Namun, dengan menyalanya jari tangan Dendeng Pamungkas, Ninggat justru menantang kembali dengan melesatkan tinju tangan kirinya. Seolah sengaja mau mengulang peraduan seperti tadi.


Rupanya, Dendeng Pamungkas tidak mau mengambil risiko seperti tadi. Ia tidak berusaha menangkap tinju Ninggat lagi. Ternyata, keputusan itu justru membuat Ninggat semakin berani dan Dendeng Pamungkas kewalahan.


Bak!


Pada satu kesempatan, justru satu tendangan yang berhasil menghantam dada Dendeng Pamungkas, sehingga ia terjengkang.


Werss! Blar!


Ketika Ninggat baru maju setindak, tangan kanan Dendeng Pamungkas tiba-tiba melesatkan seberkas sinar biru.


“Hah!” pekik Ninggat terkejut, tetapi ia refleks menghindar dengan melompat mundur ke samping, membuat sinar biru lolos melesat ke belakang dan menghancurkan sedahan rendah pohon jambu tanpa air.


Ternyata serangan itu memancing kemarahan Ninggat lebih memuncak. Ia pun memutuskan mengeluarkan ilmu tertingginya, yaitu Kapak Siluman.


Ninggat melompat tinggi ke atas dengan melentingkan tubuhnya. Di puncak lompatannya, Ninggat bersalto tetapi kaki kanannya memanjang mengayun ke bawah.


Sezz! Bzer!


Dari ayunan kaki itu, muncul sinar tipis warna hijau yang melesat dari atas menebas ke bawah seperti tebasan pedang.


Buru-buru Dendeng Pamungkas melompat seperti kucing ke samping, membuat sinar itu menebas tanah kosong, menciptakan garis panjang yang dalam pada tanah, seolah usai terkena bacokan pedang raksasa.


Dendeng Pamungkas hanya mendelik karena serangan cakar membaranya disambut dengan tinju. Ingin Dendeng Pamugkas menghindari bentrokan itu, tetapi sayang, sudah kepalang tanggung.


Pak! Cess!


“Aaak!”


Tinju dan cengkeraman telapak tangan bertemu kembali. Jari-jari tangan kanan Dendeng Pamungkas langsung memakan dan membakar kulit dan tulang jari-jari Ninggat. Maka yang pertama menjerit adalah Ninggat.


Cplok!


“Akk!”


Namun tidak lama, bahkan lebih cepat dari sebelumnya, sebelum Dendeng Pamungkas memutuskan menarik lepas cengkeramannya, telapak tangan kanannya lebih dulu meledak kecil.


Menjeritlah Dendeng Pamungkas seraya terhuyung ke belakang.


Alhasil, kini kedua tangan Dendeng Pamungkas rusak parah. Demikian pula dengan kedua tangan Ninggat.


“Kakang Dendeeeng!” jerit Gelis Sibening sambil berlari menangkap tubuh Dendeng Pamungkas yang terhuyung hendak jatuh.


“Akrr!” erang Dendeng Pamungkas kesakitan.


Ninggat juga mengerang kesakitan. Tulang-tulang jari dan telapak tangannya sampai terlihat karena rusaknya lapisan kulit sebab terbakar.


“Dendeng Pamungkas!” panggil seseorang tiba-tiba.

__ADS_1


Dari arah lain muncul berlari seorang pemuda menghampiri Dendeng Pamungkas dan Gelis Sibening. Pemuda itu tidak lain adalah Brata Ala, salah seorang murid Perguruan Jari Hitam pula. Ia kakak seperguruan Dendeng Pamungkas.


“Dendeng Pamungkas!” sebut seorang pemuda lain yang muncul datang berlari dari arah searah dengan Brata Ala. Ia adalah Kulung.


Ninggat terkejut melihat kemunculan dua murid Perguruan Jari Hitam tersebut. Jelas itu adalah situasi yang tidak baik baginya.


Melihat kondisi Dendeng Pamungkas, tersulutlah kemarahan Brata Ala dan Kulung. Keduanya memandang Ninggat dengan sangar, tetapi hanya Brata Ala yang memilih berkelebat menerjang Ninggat.


Ninggat bisa mengelak, tetapi serangan berikutnya membuatnya kewalahan. Permainan jurus Jari Hitam Brata Ala lebih gesit dari permainan Dendeng Pamungkas sebelumnya. Jelas sangat berbeda karena Dendeng Pamungkas dalam kondisi tidak prima.


Jess! Jess!


“Akk!” jerit Ninggat saat dua cengkeraman berhasil masuk menusuk dadanya.


Sambil buru-buru melangkah mundur, Ninggat mengerang menahan panas dan perih. Masih beruntung baginya, sebab jari-jari Brata Ala yang hitam hanya menusuk sebatas kulit dan daging, tidak sampai menjebol tulang dada.


Tiba-tiba Ninggat melompat tinggi ke udara dan bersalto dengan kaki kanan mengayun mengapak dari atas.


“Awas!” teriak Dendeng Pamungkas pemperingatkan saudara seperguruannya.


Sezz! Bzer!


Sinar hijau tipis melesat menebas dari atas ke bawah, mengincar Brata Ala. Gesit Brata Ala mengelak, yang kemudian menjadi mimpi buruk bagi Ninggat.


Werss! Blar!


Ketika Brata Ala melompat menghindari ilmu Kapak Siluman, ia balas melesatkan seberkas sinar biru dari ilmu Mutiara Samudera. Posisinya yang masih bergerak di udara, membuat Ninggat tidak bisa menghindar, kecuali mengerahkan tenaga saktinya untuk memperkuat pertahanan tubuhnya.


Sinar biru itu meledak mengenai lengan kiri Ninggat. Karena pada dasarnya Ninggat tidak memiliki ilmu perisai, maka hancurlah daging lengan dan sebagian bahu.


Bluk!


Ninggat jatuh seperti nangka busuk gugur dari atas pohon.


“Kakang Ninggat!” pekik Gelis Sibening melihat kakaknya jatuh dalam kondisi luka yang parah.


Ninggat sudah tidak bisa bangun lagi. Namun, lukanya itu ternyata belum bisa membunuhnya. Brata Ala segera mengejar Ninggat.


“Jangan bunuh kakakku!” teriak Gelis Sibening sambil menangis. Ia berlari kepada kakaknya yang lain ibu.


Terkejut Brata Ala mengetahui bahwa Ninggat adalah kakak dari Gelis Sibening. Ia berhenti berniat untuk menghabisi nyawa Ninggat. Brata Ala jadi bingung di tempatnya.


“Kakang Ninggat,” sebut Gelis Sibening meratap sedih melihat kondisi Ninggat yang hancur sebagian lengan tangannya.


Ninggat hanya diam mengerang dengan pandangan hanya lurus ke atas, seolah sedang melihat kedatangan malaikat maut. Ia sudah tidak sanggup berbicara lagi. Ia kritis.


“Gelis, aku tidak tahu jika lelaki ini adalah kakakmu,” ucap Brata Ala.


“Kalian lebih baik membawa Kakang Dendeng. Biar aku yang memanggil orang untuk membawa kakakku pulang,” kata Gelis Sibening.


“Baik.” (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada novel baru berjudul "Dendam Tiga Wania"

__ADS_1



__ADS_2