A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 25: Menculik di Kala Kacau


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


 


Pertandingan Petarung Panah yang berlangsung seru, tiba-tiba berubah kacau yang membuat semua orang terkejut. Bahkan Pamong Sukarat yang telah merancang kekacauan pertandingan juga ikut terkejut. Ia terkejut dengan kemunculan Alma Fatara yang berusaha menghentikan serangan terhadap Pangeran Derajat Jiwa.


Kini, Pangeran Derajat Jiwa terkapar dengan satu anak panah menancap dalam di lambung kanannya. Darah bersimbah mengotori pakaian bagusnya yang berwarna perak. Kondisi Derajat Jiwa yang tadi disebut “pangeran” oleh Alma Fatara membuat semua tegang.


Dua Petarung Panah yang mengeroyok Pangeran Derajat Jiwa, yaitu Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa, telah berkelebat hendak melarikan diri setelah menghindari angin pukulan Alma Fatara.


“Gusti Pangeran!” teriak Panglima Ragum Mangkuawan yang terkejut di atas panggung utama. Lalu teriaknya, “Jangan biarkan dua orang itu lolos!”


Komandan Gendas Pati pemimpin Pasukan Keamanan Ibu Kota, Komandan Rewa Segili pemimpin Pasukan Selatan Kadipaten, dan Lot sebagai pengganti mendiang Komandan Dampuk Ulang, bergerak serentak berlari memotong alun-alun untuk menghadang pergerakan Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa.


“Pasukan Keluarga Kerajaan! Tangkap Adipati Marak Wiajaya!” perintah Panglima Ragum Mangkuawan lagi.


Terkejutlah Adipati Marak Wijaya dan pejabat lainnya mendengar perintah itu. Sementara Pamong Sukarat yang masih terikat kuat di tiang kaki panggung, tersenyum karena itulah yang ia harapkan dari rencananya. Tiga target pertamanya telah berhasil, yaitu dipanahnya Arya Mungkara, dipanahnya Pangeran Derajat Jiwa dan ditangkapnya Adipati Marak Wijaya oleh Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan.


Empat prajurit berkuda dari dua puluh Pasukan Keluarga Kerajaan segera melompat berkelebat naik ke atas panggung utama. Empat bilah pedang langsung berkelebat dan berhenti di sekeliling leher sang adipati yang tidak bisa berkutik.


Sementara itu, Panglima Ragum Mangkuawan melesat berkelebat di udara menuju posisi Pangeran Derajat Jiwa.


“Kakang Arung! Periksa kondisi Kakang Arya!” teriak Alma kepada Arung Seto yang juga akrab dengannya.


Alma Fatara segera berlari mengejar ke arah Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa yang sudah dihadang oleh tiga pemimpin prajurit.


Set!


Tiba-tiba Gegas Simanuk melesatkan satu anak panah kepada Alma Fatara dari samping, bermaksud membunuh dan mencegahnya pergi mengejar.


“Kau salah menyerang orang, Kisanak!” seru Alma yang terpaksa berhenti, tetapi Benang Darah Dewa melesat tak terlihat menangkap anak panah yang datang, lalu mengalihkannya.


Set!


Anak panah yang ditangkap lalu diayungkan, kemudian dilesatkan balik oleh Benang Darah Dewa yang dikendalikan Alma. Anak Panah itu melesat menyerang Gegas Simanuk, tetapi pendekar dari Hutan Balewang itu bisa menghindar.


“Arya Mungkara mati!” teriak Arung Seto yang telah membalikkan tubuh Arya Mungkara. Anak panah masih menancap dalam di dadanya yang telah berwarna merah penuh darah.


“Putrakuuu!” teriak Adipati Marak Wijaya histeris dari tempatnya tersandera oleh penahanan prajurit Kerajaan Singayam.


“Gegas Simanuk! Kau yang telah memanah Arya Mungkara!” teriak Ariang Banu lalu berlari dan melompat menerjang Gegas Simanuk.

__ADS_1


Gegas Simanuk cepat menghindar. Namun, Bandeng Prakas dan Balingga telah datang pula menyerang dan mengeroyok Gegas Simanuk.


Tiba-tiba Tiro Mulaga yang bertubuh besar berotot juga masuk dalam pertarungan. Dia bukan untuk ikut mengeroyok Gegas Simanuk, tetapi justru membelanya.


Akhirnya, selaku putra ibu kota Balongan, Ronggo Manik pun tidak mau berdiam diri.


“Ayo, Pendekar Jengkol!” teriak Ronggo Manik mengajak Ujang Barendo sebagai sesama putra Ibu Kota.


Maka Ronggo Manik dan Ujang Barendo masuk pula ke dalam pertarungan. Kemudian menyusul Arung Seto.


“Kelomang gila. Tidak aku sangka situasinya akan sekacau ini,” kata Alma yang berdiri bingung harus memilih yang mana. Bukan bingung memilih siapa yang ganteng tapi bingung siapa yang perlu diurus lebih dulu olehnya.


Dari arah pinggir alun-alun, puluhan prajurit Kadipaten berlarian dalam bentuk barisan. Mereka berlari menuju ke posisi komandannya. Kemudian melakukan pengepungan terhadap Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa.


Pengepungan terhadap kedua pendekar itu kian ketat, ketika belasan prajurit berkuda dari Pasukan Keluarga Kerajaan ikut mengepung.


“Panggil tabib! Cepaaat!” teriak Panglima Ragum Mangkuawan kepada prajurit Kadipaten yang ada di dekatnya.


Panglima kini memangku kepala Pangeran Derajat Jiwa yang sedang dalam kondisi kritis.


“Kurang ajaaar!” teriak Alma Fatara kesalnya bukan main, saat melihat gelinding sesosok tubuh manusia.


Sosok berpakaian kuning dan putih itu menggelinding seperti telur rebus di tanah alun-alun. Ia menggelinding menuju panggung utama. Alma mengenal orang aneh itu bernama Obol-Obol, anggota dari Lima Pendekar Sungai Ular.


Teriakan peringatan Alma itu membuat mereka semua yang berada di panggung utama terkejut dan tegang. Namun, di saat yang bersamaan, tubuh Obol-Obol sudah mencelat tinggi ke udara seperti bola bekel. Mereka yang ada di atas panggung utama hanya ternganga melihat lompatan tubuh Obol-Obol yang akan jatuh ke atas panggung. Yang mengerikan, tubuh bulat yang meringkuk itu telah dilapisi oleh sinar merah.


Broaks!


Tubuh Obol-Obol jatuh menghantam tengah panggung, membuatnya hancur di bagian tengah dan mementalkan orang-orang yang ada di atasnya. Adya Bangira, Kepal Kepeng dan istri, serta tokoh-tokoh yang lain, termasuk Ninda Serumi, terpental oleh gelombang tenaga yang disebarkan dari hantaman itu. Mereka semua berjatuhan di tanah dan kesakitan, kecuali Ninda Serumi yang pentalan tubuhnya disambar oleh wanita berpakaian merah gelap. Wanita itu adalah Si Cantik Mabuk, wanita tertua dalam Lima Pendekar Sungai Ular.


“Ayaaah!” jerit Ninda Serumi.


Jeritan Ninda Serumi itu mengejutkan Kepal Kepeng yang meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


“Arang Saga!” teriak Kepal Kepeng memanggil pendekar pengawal pribadinya.


Pendekar yang telat bertindak melindungi tuannya itu segera datang, entah tidur di mana dia sejak tadi.


“Selamatkan putriku!” teriak Kepal Kepeng setelah melihat kehadiran pendekar pengawalnya yang bernama Arang Saga.


Alma Fatara yang telat sampai, hanya bisa terkejut melihat Ninda Serumi diculik. Awalnya ia ingin mengejar Si Cantik Mabuk yang menculik Ninda Serumi, tetapi ia terhenti ketika melihat Legi Kasep alias Pendekar Pembawa Maut muncul dan sudah berada di tiang tempat Pamong Sukarat diikat.

__ADS_1


“Cepat putuskan talinya!” perintah Pamong Sukarat kepada pendekar bayarannya.


“Pilih pakai celurit atau pakai pedang, Ki?” tanya Legi Kasep bertindak bodoh. Meski tampan, Legi Kasep termasuk pendekar yang berotak kental.


“Pamong Sukarat adalah otaknya, dia tidak boleh lepas!” pikir Alma memutuskan tentang siapa yang harus dia prioritaskan. “Keadaannya benar-benar kacau.”


Alma lalu berkelebat ke arah posisi Pamong Sukarat dan Legi Kasep.


Melihat kedatangan Alma, Pamong Sukarat jadi panik dan gemas dengan kebodohan Legi Kasep.


“Cepat putuskan talinya dengan apa saja!” teriak Pamong Sukarat gusar.


“Ki, kau mau aku tolong, tapi kenapa marah-marah seperti itu?” tanya Legi Kasep tersulut emosi. Ia tidak sadar jika Alma datang mendekat dari arah belakangnya.


“Dasar bodoh! Lihat di belakangmu!” teriak Pamong Sukarat sambil memandang ke belakang Legi Kasep.


Legi Kasep cepat menengok ke samping, tapi melihat ke belakang dengan lirikan sudut matanya.


Melihat kelebatan orang berpakaian serba hitam, Legi Kasep terkejut. Ia cepat berbalik untuk menghadapi, tetapi …


Buk!


Terjangan Alma Fatara lebih dulu menghantam dada Legi Kasep, membuatnya terjengkang keras ke bawah panggung yang sudah rusak parah.


“Kau adalah otak kekacauan ini, Paman Pamong Sukarat!” tukas Alma Fatara kepada Pamong Sukarat yang belum sempat dibebaskan. “Ada salam dari menantumu, Paman, yaitu dari Demang Baremowo.”


Terkesiaplah Pamong Sukarat mendengar nama demang itu disebut.


“Jadi kau yang membongkarku di depan Adipati!” gusar Pamong Sukarat.


“Hahaha! Maafkan aku, Paman, aku telah mengacaukan rencanamu,” ucap Alma setelah tertawa pendek.


“Kalian yang seharusnya kecewa, rencanaku tetap sesuai harapan!” desis Pamong Sukarat agar tidak merasa terhinakan.


Set! Teb!


Tiba-tiba Legi Kasep melesatkan pedangnya dan menancap tepat pada lilitan tali Pamong Sukarat di tiang kaki panggung. Tancapan pedang itu memutus beberapa utas lilitan tali, yang otomatis melonggarkan dan melepas ikatan pada tubuh Pamong Sukarat.


“Maaf mengecewakanmu, Anak Cantik!” desis Pamong Sukarat, lalu tiba-tiba ia menghentakkan kedua lengannya, sehingga tali pada tubuhnya melorot sendiri.


Pamong Sukarat lalu berkelebat dengan tendangan memutar menyerang Alma. Gadis muda itu sigap menangkis lalu mundur beberapa tindak.

__ADS_1


Legi Kasep telah bangkit dan mencabut pedangnya di tiang. Ia pun telah menghunuskan celuritnya. Bersama Pamong Sukarat, dia siap mengeroyok Alma. (RH)


__ADS_2