
*Para Petarung Panah (Papepa)*
“Bagaimana dengan ideku?” tanya Arung Seto setelah menyampaikan idenya kepada adiknya.
“Boleh juga. Aku setuju. Namun, tentunya harus sepertujuan Ayah,” kata Ariang Banu.
“Ayo, kita harus bergegas. Jangan sampai Arya Mungkara melihat gadis itu dan lebih dulu memanfaatkannya!” tandas Arung Seto.
“Ayo, Kakang! Heah heah!” seru Ariang Banu bersemangat, lalu ia lebih dulu menggebah kudanya agar lari lebih kencang pulang ke rumah.
“Heah heah!” teriak Arung Seto pula menyusul kuda adiknya.
Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk sampai ke sebuah rumah mewah untuk standar kediaman bagi warga Ibu Kota. Meski itu adalah rumah pejabat Bendahara Kadipaten, yang artinya berada di bawah kepemimpinan Adipati, tetapi rumah itu lebih besar dibandingkan rumah kediaman Adipati sendiri.
Kuda mereka langsung disambut oleh dua orang pelayan lelaki di rumah itu.
“Jangan dibawa ke kandangnya, mau kami pakai lagi!” kata Arung Seto kepada kedua pelayan itu.
“Mau ke mana lagi kalian? Baru juga tiba,” tanya seorang lelaki bertubuh kurus tapi berkumis tebal seperti kumis Tuan Takur. Ia mengenakan pakaian perak dari sutra. Ia sedang menyiprati burung di dalam sangkar emas yang digantung di depan teras. Sangkar burung itu benar-benar terbuat dari emas sebagian unsurnya. Orang berblangkon warna putih itu bernama Adya Bangira, Bendahara Kadipaten.
“Ayah, kami butuh uang untuk menebus seseorang dari penahanan Adipati!” ujar Ariang Banu tergesa-gesa.
“Menebus seseorang dari penjara itu tidak murah, Ariang. Memangnya siapa yang ingin kalian tebus?” tanya Adya Bangira sambil tetap fokus memandangi burung berwarna kuning indahnya. Ia masih memercikkan air yang diambilnya dari wadah di tangan kirinya.
“Seorang pendekar wanita sakti, Ayah. Dia sangat cantik dan bisa menguntungkan kita dalam pertandingan besok. Dia bahkan lebih memesona dibandingkan Ninda Serumi,” jawab Ariang Banu berapi-api.
“Jika kalian mengakui dia lebih cantik dan lebih memesona dibandingkan Ninda Serumi, lalu untuk apa kalian ikut pertandingan untuk memperebutkan Ninda Serumi?” tanya Adya Bangira, kali ini ia memandang serius kepada kedua anak tampannya.
“Pertandingan besok sangat terkait dengan harga diri. Jika kami bisa memenangkan pertandingan besok, maka dari kami yang menang, berhak memiliki pendekar wanita itu. Dan dari kami yang kalah, akan mendapatkan Ninda Serumi,” jelas Arung Seto.
“Cepatlah, Ayah. Nanti Arya Mungkara justru mendahului kami ketika melihat gadis pendekar itu!” desak Ariang Banu.
“Baiklah. Mintalah uangnya kepada Budak Ijo!” kata Adya Bangira. Ia memang sangat menyayangi kedua putranya, selain menyayangi seorang putrinya yang adalah adik dari kedua putranya itu.
Ariang Banu langsung bergerak dengan langkah lebar ke teras dan masuk ke dalam. Arung Seto menunggu di tempatnya berdiri.
“Ayah jadi penasaran, secantik apa pendekar wanita itu. Tapi, apa kesalahannya?” tanya Adya Bangira.
“Sangat cantik. Jika Ayah masih muda, pasti akan turut memperjuangkannya. Dia mengambil papan pengumuman dari tempatnya,” jawab Arung Seto.
“Jika dia sudah kalian bebaskan, bawa ke mari untuk aku sambut.”
“Baik, Ayah,” jawab Arung Seto sumringah atas minat ayahnya.
Dari dalam rumah, keluar Ariang Banu dengan membawa sekantung uang yang tampak berat bobotnya.
“Ayo, Kang!” seru Ariang Banu sambil melintas menuju kudanya.
“Kami pergi sebentar, Ayah!” pamit Arung Seto.
__ADS_1
“Jangan buat masalah dengan Adipati!” sahut Adya Bangira mengingatkan.
“Baik, Ayah!” sahut Ariang Banu yang sudah tiba pada tunggangannya.
Keduanya lalu kembali menunggangi kudanya dan menggebahnya kencang meninggalkan kediamannya. Seolah berpacu dengan waktu, kakak beradik itu laksana dua pangeran yang hendak menyelamatkan sang putri dari malapetaka.
“Apa yang dilakukan oleh kedua anak itu, Kakang?” tanya seorang wanita berusia hampir separuh baya, yang hanya kurang tig tahun. Ia cantik dengan pakaian bagus dan dandanannya. Wanita bertubuh agak gemuk itu menghampiri suaminya.
“Mereka ingin jadi pahlawan yang menyelamatkan seorang pendekar cantik. Ada pendekar wanita terjerat hukum Kadipaten karena mengambil papan pengumuman. Wanita itu membuat mereka jatuh cinta, tetapi juga ingin memanfaatkannya untuk pertandingan besok,” jawab Adya Bangira.
“Tapi, pada pertandingan besok, mereka berdua tidak tahu, apakah mereka akan mejadi satu kelompok atau justru menjadi lawan,” kata wanita yang bernama Aning Sulasih itu.
“Hahaha!” tawa rendah Adya Bangira. “Biarkan jiwa-jiwa muda mereka menjadi matang dengan mencoba berbagai permasalahan. Kelak mereka akan menjadi para lelaki yang berpikiran matang.”
Sementara itu, Arung Seto dan Ariang Banu terus memacu kudanya dengan kencang. Bisa disebut bahwa mereka bertindak ugal-ugalan di keramaian jalanan Ibu Kota.
Hingga kemudian saat di tengah jalan ….
Set!
Tiba-tiba ada benda melesat di udara, tepat dari arah samping yang sepertinya sengaja menargetkan salah satu dari kedua pemuda itu.
Set! Byar!
Arung Seto yang akan terhantam oleh benda berwujud karung sepelukan itu, terkejut dan sigap cabut pedangnya yang terpasang di pelana kudanya. Pedang dicabut dan langsung sekali tebas, membelah karung, membuat isi karung langsung terhambur menerpa wajah dan tubuh Arung Seto.
Biji-biji jengkol yang terhambur jatuh berserakan di jalanan.
“Hahaha!”
Saat itu juga terdengar suara tawa dari sebuah kios di pinggir jalan. Di depan sebuah kios yang lebih pantas disebut sebagai depot jengkol itu, berdiri tertawa seorang pemuda bertubuh kekar. Ia bertelanjang dada dan berkeringat, hanya mengenakan celana pangsi biru gelap. Pemuda bercambang tebal tanpa kumis itu bernama Ujang Barendo, putra dari juragan jengkol, satu-satunya pengusaha jual beli jengkol di Ibu Kota.
Di belakang Ujang tampak ada beberapa lelaki yang sedang bekerja mengarungkan buah jengkol yang memenuhi keranjang-keranjang bambu.
“Apa yang kau lakukan, Ujang?!” teriak Arung Seto marah, sambil menunjuk Ujang Barendo dengan ujung pedangnya.
“Kenapa marah seperti itu, Sahabat? Aku sudah mengorbankan sekarung jengkol demi menghentikan kalian. Bukankah pengorbananku cukup mahal? Hahaha!” kata Ujang Barendo. “Mampirlah sejenak di surga jengkolku!”
“Jika kami tidak sedang terburu-buru, aku hajar kau, Ujang!” kecam Ariang Banu.
“Jika mau menghajarku, buktikan saja besok. Apakah kalian mampu?” tantang Ujang Barendo seraya tersenyum mengejek.
“Biarkan saja hari ini si mulut jengkol itu berandai-andai, Kakang. Kita bisa telat!” kata Ariang Banu mengingatkan kakaknya.
“Ayo! Heah heah!” seru Arung Seto lalu menggebah kudanya untuk kembali berlari. Sambil menggebah, ia kembali menyarungkan pedangnya.
Kakak adik itu melanjutkan pelariannya menuju kediaman Adipati Marak Wijaya.
Setibanya di depan rumah Adipati Marak Wijaya, mereka berdua dihentikan oleh dua prajurit penjaga gerbang halaman. Arung Seto dan Ariang Banu bisa melihat adanya keramaian di halaman dan teras rumah Adipati Marak Wijaya.
__ADS_1
Setelah menyatakan niatnya kepada prajurit, kedua putra Bendahara Kadipaten itu diizinkan masuk.
“Hahahak …!” tawa seorang wanita terbahak yang disusul oleh tawa rendah yang lainnya, termasuk Adipati Marak Wijaya.
Adipati Marak Wijaya adalah orang yang berusia sekitar enam puluh tahun, tapi dia sudah berbekal tongkat sebagai alat penopang dan alat bantu saat berjalan. Kumis tipisnya sudah berwarna putih dan rambut putihnya ditutupi oleh totopong batik warna hitam putih, selaras dengan warna baju hitamnya.
Alma Fatara dan rekan-rekannya terlihat sedang beramah tamah dengan Adipati Marak Wijaya. Pedati dan kuda mereka terparkir dan tertambat dengan rapi di halaman yang luas.
Di antara mereka juga terlihat ada Arya Mungkara, putra kedua Adipati yang tampan. Pemuda berpakaian merah gelap itu memiliki postur tubuh yang cukup tinggi. Kepala dan rambut gondrongnya diikat oleh totopong kain warna hitam.
Keriuhan tawa mereka terhenti ketika melihat kedatangan Ariang Banu dan Arung Seto.
“Hormat kami, Gusti Adipati!” ucap Arung Seto menjura hormat.
“Ada keperluan apa, putra-putra Adya Bangira?” tanya Adipati Marak Wijaya.
“Kami ingin menebus kebebasan pendekar wanita itu,” ujar Arung Seto lalu memandang kepada wajah jelita Alma Fatara.
“Oh!” desah Adipati Marak Wijaya.
Kelompok Alma Fatara juga terkejut mendengar niatan kedua pemuda tampan itu. Alma terlihat tersenyum lebar.
“Hahaha!” tawa Arya Mungkara mendengar maksud kedua orang yang akan bertanding melawannya besok. “Sayang sekali, kau terlambat sedikit saja, Arung!”
Kecewalah Ariang Banu dan Arung Seto mendengar perkataan Arya Mungkara. Rasa kecewa itu terlihat dari warna raut wajah mereka. Ingin rasanya mereka memaki sebagai pelampiasan dari kekesalannya.
“Apakah kau kenal dengan mereka berdua, Alma?” tanya Arya Mungkara.
“Ya,” jawab Alma seraya tersenyum manis.
Jawaban Alma itu membuat Warna Mekararum yang duduk lemah di kursi sambil dipegangi bahunya oleh Alma, mendelik. Demikian pula Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara.
“Mereka berdua adalah anak dari Adya Bangira. Siapa yang tidak kenal dengan ketenaran ayah mereka,” kata Alma.
Terkejut di dalam hati Ariang Banu dan Arung Seto mendengar jawaban Alma.
“Sampaikan salam Dewi Gigi kepada ayah kalian. Hahaha!” sahut Alma lalu tertawa lepas, seolah tidak ada beban atas sandiwaranya.
“Ayah mengundang datang ke rumah, Alma,” ujar Arung Seto, mencoba mengikuti drama Korea ala Alma. Ia sengaja menyebut nama Alma yang tadi disebutkan oleh Arya Mungkara, agar terkesan lebih kenal.
“Baik, terima kasih, Kang,” ucap Alma.
Arung Seto lalu beralih kepada Adipati Marak Wijaya.
“Karena Alma sudah bebas, jadi kami mohon undur diri, Gusti,” kata Arung Seto.
“Silakan,” ucap Adipati.
Kedua pemuda itu lalu berbalik pergi ke kudanya.
__ADS_1
“Sampai jumpa besok, Arung, Ariang!” teriak Arya Mungkara sambil tersenyum tipis.
Kedua pemuda itu hanya berpaling sejenak memandang kepada Arya Mungkara. (RH)