
*Kampung Siluman (Kamsil)*
Lingkar Dalam menurunkan api obornya ke dekat wajah Alma Fatara. Maka terterangilah wajah jelita Alma Fatara yang tertidur setelah ia melalui pertarungan terhebatnya selama ia hidup.
Mereka semua jadi terkejut karena menduga Alma tewas.
“Amal! Jangan mati!” jerit Ayu Wicara sambil cepat menubruk peluk tubuh Alma yang terbaring bebas.
“Hukh!” keluh Alma tiba-tiba sambil bertindak.
Baks! Bukk!
“Hekk!” keluh Ayu Wicara dengan tubuh terlempar dan terjengkang agak jauh, setelah ia mendapat pukulan dan tendangan keras pada dada dan perutnya.
Alma cepat siaga sambil melihat ke sekelilingnya. Setelah mengenali siapa orang-orang yang ramai di dekatnya, Alma menghentikan kesiagaannya.
“Aku tertidur, ya?” tanya Alma lirih lalu bangun berdiri. Ia mengucek sepasang matanya untuk membersihkannya dari kotoran.
“Kau telah bekerja keras, Alma,” kata Kirak Sebaya seraya tersenyum.
“Di mana Kepala Kampung?” tanya Alma Fatara cepat. Ia tidak melihat kehadiran pemimpin kampung itu, khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
“Angin Tujuh Langit telah menarik celananya hingga raib. Jadi dia pulang lebih dulu untuk mengamankan pusakanya,” jawab Kirak Sebaya.
“Hahahak …!” tawa Alma tiba-tiba terbahak dan berkepanjangan.
“Amal kurang diajar!” teriak Ayu Wicara yang sudah berdiri. “Aku sudah meluangkan waktu untuk mencemaskanmu, tetapi kau justru menggendangku!”
“Hahaha! Tadi aku kira kau lelaki setan!” sahut Alma.
“Lebih baik kita kembali dulu ke atas. Besok pagi baru kita periksa semua kondisi,” kata Kirak Sebaya.
“Benar itu, Kek. Aku merasa lelah,” kata Alma.
Mereka lalu bergerak pergi mendaki bukit untuk kembali ke Kampung Siluman. Ayu Wicara segera menyusul sebelum ia kehilangan jalan karena gelap.
“Apakah kita menang, Kek?” tanya Alma.
“Sepertinya begitu,” jawab Kirak Sebaya. “Beruntung kau gadis yang cerdas. Kau bisa dengan cepat menguasai Angin Tujuh Langit.”
“Aku sedikit pun tidak pernah tahu tentang Angin Tujuh Langit,” kata Alma.
“Setiap membantu kami dalam peperangan melawan pasukan Kerajaan Ringkik, Raja Tanpa Tahta selalu menggunakan Angin Tujuh Langit dalam berperang. Hasilnya kami selalu dibuatnya menang. Dua kali berperang melawan Raja Tanpa Tahta, dua kali pula Kerajaan Ringkik harus kehilangan senopatinya. Kita belum tahu nasib Senopati Gulung Sedayu seperti apa setelah melawanmu, Alma,” kata Kirak Sebaya.
“Apakah Raja Tanpa Tahta hanya menggunakan Angin Tujuh Langit saat berperang?” tanya Alma.
“Ada satu lagi, namanya Pernikahan Kotak.”
__ADS_1
“Kenapa namanya seaneh itu?” tanya Alma cepat.
“Nanti kau akan tahu suatu saat. Ilmu itu juga bersifat pembunuh massal karena menebarkan racun ganas,” jawab Kirak Sebaya.
“Kerajaan Ringkik sudah tahu cara menghancurkan kita. Bagaimana jika nanti mereka menyerang kembali dan kita tidak memiliki Alma?” kata Lingkar Dalam.
“Nanti itu akan kita pikirkan,” kata Kirak Sebaya. “Lingkar, apakah kita banyak kehilangan orang?”
“Benar, Panglima. Sekitar lima belas orang yang gugur,” jawab Lingkar Dalam.
“Ini korban terbesar kita,” kata Kirak Sebaya sambil mengembuskan napas masygul.
“Kita juga kehilangan banyak rumah,” kata Lingkar Dalam.
“Bagaimana dengan wanita dan anak-anak?” tanya Kirak Sebaya lagi.
“Mereka semua aman, tapi sepertinya mereka mengalami ketakutan yang cukup tinggi karena serangan bola api sampai ke tengah kampung,” jawab Lingkar Dalam.
Keesokan paginya, barulah terlihat dengan jelas kehancuran yang melanda Kampung Siluman. Bisa dikatakan bahwa separuh dari kampung itu benar-benar hancur.
Maka warga Kampung Siluman dibagi dua kelompok, yaitu kelompok pertama membersihkan kehancuran yang terjadi dan kelompok kedua turun ke bawah untuk memeriksa keadaan.
Kirak Sebaya, Lingkar Dalam, Alma dan rekan-rekannya pergi turun ke kaki bukit. Sejumlah lelaki kampung juga ikut dalam rombongan. Sementara Rempah Putih memimpin warga lainnya untuk membereskan kehancuran yang terjadi di atas.
Dari atas bukit mereka bisa melihat serakan mayat-mayat prajurit Kerajaan Ringkik yang berseragam biru-biru. Di bawah juga terlihat jelas ada sebuah kawah cukup besar, bekas hantaman ilmu Pukulan Bandar Emas.
Serakan mayat para prajurit tersebar hingga jauh ke mana-mana. Ada juga serakan kayu-kayu besar peninggalan alat pelontar yang dihancurkan oleh Alma semalam.
“Jika kalian tidak kenal wajah Senopati Gulung Sedayu, kalian bisa mengenali dari pakaiannya yang berbeda dari prajurit biasa,” kata Kirak Sebaya kepada yang lainnya.
Setibanya di kaki bukit, lelaki kampung yang bersama mereka bertugas mengumpulkan persenjataan yang masih bisa digunakan. Tameng-tameng yang masih utuh mereka juga kumpulkan. Barang-barang itu untuk sementara mereka kumpulkan, nanti barulah mereka lanjutkan dengan mengangkutnya ke atas.
Harta perhiasan yang mereka temukan pada jasad mayat, mereka kumpulkan, tidak boleh diambil secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Harta rampasan perang harus dikumpulkan menjadi satu dulu. Nanti Kepala Kampung yang mengaturnya.
Ternyata, para prajurit Kerajaan Ringkik ada yang diterbangkan sampai jauh hingga ke hutan yang ada di sisi selatan bukit.
“Aku menemukan prajurit perwira!” teriak seorang lelaki kampung dari tempat yang cukup jauh.
Kirak Sebaya cepat berkelebat datang ke tempat lelaki itu berada. Alma dan rekan-rekannya juga ikut menyusul ke sana.
Mereka menemukan sesosok mayat bertubuh kurus dan kepalanya pecah di antara dua bongkahan batu. Mayat itu mengenakan pakaian perang berbahan kulit tebal.
“Ya, dia Senopati Gulung Sedayu. Dengan mengetahui kematiannya, berarti kita bisa memastikan bahwa kita menang. Apalagi pasukan kerajaan sudah tidak terlihat oleh mata kita,” kata Kirak Sebaya.
“Lalu bagaimana dengan mayat-mayat ini?” tanya Magar Kepang. Jumlah mayat yang mencapai beberapa ratus itu membuatnya pusing memikirkannya. Tentu akan menjadi pekerjaan yang berat bagi warga Kampung Siluman.
“Tetap kita yang akan menguburnya,” jawab Lingkar Dalam.
“Biasanya ada keluarga dari prajurit yang mati datang secara khusus untuk menanyakan mayat kerabat mereka. Mereka sekedar ingin tahu letak makamnya agar jelas akhir dari cerita prajurit yang mati itu, tidak menimbulkan tanda tanya,” tutur Kirak Sebaya. “Untuk pemimpin pasukan ini, dia akan kami makamkan di satu liang lahat. Adapun prajurit biasa akan dimakamkan di beberapa lubang.”
__ADS_1
“Aku rasa, kesaktianmu bisa membantu kami membuat liang lahat besar, Alma,” ujar Lingkar Dalam.
“Hahaha! Ya ya ya, aku mengerti maksudmu, Kang Lingkar,” kata Alma yang didahului dengan tawanya.
Lingkar Dalam tersenyum lebar, terlebih melihat begitu jelitanya paras Alma yang tersorot oleh cahaya matahari pagi.
Deg!
Ada satu rasa asik yang menyentak di jantungnya.
“Seram! Pergilah berkuda mengejar pasukan Kerajaan Ringkik. Cukup awasi saja. Jika mereka sudah pergi sampai meninggalkan Lembah Kerang, pulanglah. Berarti mereka benar-benar pulang!” perintah Kirak Sebaya.
“Baik, Panglima!” ucap lelaki kampung yang bernama Seram.
“Katakan, di mana aku harus membuat liang kubur!” kata Alma langsung siap memenuhi permintaan putra pemimpin kampung itu.
“Di sebelah sana saja!” tunjuk Lingkar Dalam sambil menunjuk ke satu lahan tanah kosong. Ia lalu berjalan pergi ke arah tempat yang ditunjuknya.
Alma Fatara mengikuti. Jika Alma mengikuti, berarti Magar Kepang dan tiga pendekar lainnya juga ikut. Meski Magar Kepang tidak berkesaktian, tetapi ia sangat bersemangat menyaksikan hal-hal luar biasa, yang selama tumbuh berkembang di Desa Iwakculas tidak pernah ia saksikan dan alami.
Mereka pun tiba di lokasi yang Lingkar Dalam maksud.
“Minggirlah kalian semua. Aku tidak tanggung jawab jika seranganku berbelok!” kata Alma Fatara seraya tersenyum penuh misteri kepada sahabat-sahabatnya.
“Ayo jauh-jauh. Amal sekarang tidak sangkar-sangkar kepada kita!” kata Ayu Wicara dan menjadi orang yang pertama pergi menjauh.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar perkataan Ayu Wicara.
Lingkar Dalam dan yang lainnya segera menjauh sampai pada jarak yang aman.
Tanpa pakai lama, Alma Fatara meloncat tinggi di udara. Pada puncak loncatannya, Alma menghentakkan kedua lengannya.
Swess! Swess! Bluar! Bluar!
Kedua tangan Alma Fatara melesatkan sinar kuning emas menyilaukan mata, menghantam dua titik tanah yang berjauhan. Tanah yang dihancurkan terbongkar naik ke udara yang kemudian terciptalah dua kawah besar yang berdampingan.
“Ayu, apakah kau sudah punya kekasih?” celetuk Lingkar Dalam tiba-tiba kepada Ayu, setengah berbisik.
Mendelik Ayu Wicara mendapat pertanyaan itu. Ia langsung menatap serius kepada wajah tampan Lingkar Dalam yang hanya tersenyum melihat reaksi Ayu.
Ayu buru-buru memeriksa kerapian rambutnya.
“Hihihi! Aku masih belum menikah,” jawab Ayu yang didahului tawa malu-malu.
“Oh,” desah Lingkar Dalam tanpa senyum berlebih. Lalu tanyanya lagi, “Bagaimana dengan Alma? Apakah dia sudah punya kekasih?”
Berubahlah warna muka Ayu Wicara yang bisa paham arah pertanyaan Lingkar Dalam.
“Kau tanyakan saja kepada Nenek Warna! Huh!” ketus Ayu Wicara lalu mendengus dan berbalik pergi.
__ADS_1
Lingkar Dalam hanya mendelik terdiam mendapat jawaban seperti itu.
“Hahaha!” tawa Debur Angkara dan Garam Sakti melihat sikap Ayu kepada Lingkar Dalam, meski mereka tidak tahu apa yang didialogkan. (RH)