
*Alma Fatara (Alfa)*
Debur Angkara sudah mengikat kencang tubuh pemimpin prajurit yang mengaku bernama Luwisopak. Diikat di batang pohon kelapa. Sementara Alma Fatara duduk bersila di pasir, tiga tombak di depan Luwisopak. Di dekat Alma banyak anak panah yang sudah ia punguti.
“Jawab! Dari kerajaan mana kalian berasal?” tanya Alma, sementara tangannya sudah memegang sebatang anak panah besi yang hendak ia lempar kepada Luwisopak.
“Kerajaan Jintamani!” jawab Luwisopak yang bagian bahunya telah berdarah.
Jawaban itu tidak membuat Alma melempar anak panahnya.
“Bagus! Sekarang, apa yang kalian lakukan di Pulau Seribis ini?” tanya Alma lagi.
“Menjaga tahanan kerajaan,” jawab Luwisopak.
“Siapa tahanan itu?” tanya Alma.
“Tidak tahu!” jawab Luwisopak.
Set! Teb!
“Aakk!” jerit Luwisopak saat Alma melesatkan anak panahnya dan menancap tipis di sisi leher kiri.
“Aaah! Meleset! Hahahak!” ucap Alma lalu tertawa terbahak. Ia lalu mengambil satu anak panah lagi. “Kali ini pasti tidak meleset. Ayo jawab, siapa tahanan itu!”
“Sungguh, aku tidak tahu!” jawab Luwisopak, tetapi wajahnya tampak ketakutan dan berkeringat dingin.
Set! Teb!
“Aaak!” jerit Luwisopak saat anak panah di tangan Alma melesat dan menancap tipis di sisi kanan leher.
“Adduh! Meleset lagi, Kang Debur! Hahaha!” kata Alma pura-pura mengeluh.
“Hahaha! Biar aku, Alma. Pasti tokcer!” kata Debur Angkara lalu dengan senang segera ke sisi Alma dan memungut satu anak panah. Ia berdiri dengan tatapan serius kepada Luwisopak, membuat pemimpin prajurit itu kian khawatir.
“Ayo jawab lagi! Siapa orang yang kalian tahan di pulau ini?” tanya Alma, sementara Debur Angkara siap lempar anak panah.
“Buronan nomor satu Kerajaan Jintamani!” jawab Luwisopak cepat dan kencang, takut kalau-kalau Debur Angkara melempar anak panah di tangannya.
“Bagus. Siapa nama buronan nomor satu itu?” tanya Alma lagi.
“Tidak tahu!” jawab Luwisopak akhirnya dengan perasaan sangat takut.
__ADS_1
Set! Teb!
“Aaak …!” jerit Luwisopak panjang, ketika panah yang dilempar oleh Debur Angkara menancap di bawah perut.
Anak panah itu menancap mengenai bagian paling sudut celana Luwisopak. Namun, beruntung Luwisopak, anak panah itu tidak menembus sesuatu di dalam celana itu. Meski demikian, itu sangat membahayakan masa depan Luwisopak. Wajar jika dia menjerit panjang.
“Hahahak …!” Alma tidak bisa menahan tawanya melihat target lemparan Debur Angkara. “Sepertinya dia memang tidak tahu namanya.”
“Di mana tahanan itu dipenjara?” tanya Debur Angkara.
“Di ruang bawah tanah di tengah pulau!” jawab Luwisopak, kali ini semangat, sebab ia tahu jawabannya.
“Kenapa ada ikan siluman yang memangsa para nelayan?” tanya Debur Angkara.
“Supaya tidak ada nelayan yang mendekati pulau!” jawab Luwisopak lagi.
“Jadi ikan itu piaraan kalian?” tanya Alma terkejut.
“Iya. Setiap ada nelayan mendekat, ikan akan kami lepas!”
“Waaah, kurang asin!” maki Alma.
“Aaak!” jerit Luwisopak lagi. Namun, kali ini ia menjerit karena benar-benar merasakan sakit. Anak panah yang dilesatkan oleh Alma menancap di paha kanan.
“Apakah masih ada prajurit di pulau?” tanya Debur Angkara.
“Aak! Masih, masih! Sekitar dua puluh orang! Akk!” jawab Luwisopak sambil menjerit menahan sakit.
“Bagaimana, Alma? Apakah mau kita lepaskan atau bunuh saja?” tanya Debur Angkara.
“Jangan! Jangan bunuh aku! Aku mohon! Aku belum menikah!” teriak Luwisopak memelas.
“Ayo, Kang Debur! Kita cari tahu siapa orang yang ditahan di pulau ini!” kata Alma sambil bangun berdiri. Ia tebas-tebas bokongnya agar bersih dari pasir.
Alma Fatara dan Debur Angkara lalu melangkah pergi meninggalkan pantai dan Luwisopak. Mereka pergi menuju ke tengah pulau yang memang tidak begitu luas.
Mereka berjalan sambil tetap waspada. Debur Angkara berjalan paling depan sebagai seorang lelaki dan juga berbadan paling besar. Setelah mengikuti jalan setapak yang membelah semak belukar, pada satu titik tertentu, tiba-tiba Alma berkelebat melewati atas kepala Debur Angkara.
Seet! Slet! Bduk!
Saat berkelebat di udara itu, Alma melesatkan Benang Darah Dewa ke atas. Benang merah yang sulit dilihat oleh mata telanjang biasa itu, melesat cepat ke atas sebatang pohon. Benang itu melilit kaki seorang prajurit lalu menariknya hingg ia jatuh ke tanah.
__ADS_1
“Hiaat!” teriak Debur Angkara yang telah melompat dan mendarat dengan lutut lebih dulu di perut prajurit itu.
Sementara Alma sudah menarik benang saktinya.
Keduanya berhenti. Sebab, dari tempat itu mereka bisa melihat keberadaan sebuah kompleks yang menampung tiga bangunan kayu. Bangunan itu berada tidak jauh dari tebing batu bersemak liar.
“Pasti di sana, Kang Debur!” kata Alma tanpa menunjuk, tetapi memandang ke arah kompleks kecil itu.
“Ayo, Alma! Hanya dua puluh prajurit!” seru Debur Angkara lalu berlari maju mendahului Alma menuju ke kompleks yang tidak terlalu jauh.
Bsrukr!
“Aakk!” jerit Debur Angkara saat tiba-tiba tubuhnya terperosok ke bawah.
Ting ting ting!
Ternyata Debur Angkara menginjak sebuah lubang yang ditutupi oleh dedaunan. Saat Alma cepat melihatnya dari tepian lubang tanah, beruntung Debur Angkara bahwa di dasar lubang yang dalamnya dua kali tinggi tubuh, tidak terdapat tombak-tombak atau binatang berbisa. Hanya lubang tanah yang kosong.
Namun, seiring jatuhnya Debur, terdengar suara ramai dentingan beberapa lonceng yang tergantung pada tali di atas pohon seperti bentangan kabel listrik ilegal.
“Hahahak …!” Alma justru tertawa terbahak melihat nasib Debur Angkara. “Hah!”
Tiba-tiba tawa Alma berubah dengan keterkejutan, saat melihat dua mesin panah serupa dengan yang ada di pantai sudah mengarah kepadanya.
“Jangan keluar dulu dari lubang, Kang Debur!” teriak Alma serius.
Set! Set!
Pada saat yang sama, delapan anak panah besar melesat dari mesin panah yang hanya menyerang Alma. Sang gadis dengan kecepatan tinggi melompat cepat mengelaki serangan rombongan panah itu. Anak panah besar itu bertancapan di tanah. Satu anak panah bahkan menancap dalam tepat di tanah atas lubang, mengejutkan Debur Angkara.
Alma dengan mantap mendarat di tanah. Kali ini ia tampak begitu serius, masalahnya dua mesin panah yang ada di atas pagar itu begitu dekat jaraknya.
Sezt! Sezt! Pras! Pras!
Karena dua mesin panah itu begitu berbahaya, untuk pertama kalinya Alma mengeluarkan ilmu Sabit Murka. Ia melesat maju sambil mengibaskan kedua tangannya. Dari kibasan itu melesat dua lengkungan sinar kuning tipis yang membelah kedua mesin panah, di saat dua alat itu sedang diisi ulang. Mesin dan operatornya terbelah sempurna.
“Kang Debuuur! Keluar!” teriak Alma kencang.
Debur Angkara cepat melompat naik keluar dari lubang. Hanya sekali lompat, tubuhnya sudah melenting ke atas dan keluar dari lubang tanah. Ia segera mengambil dua anak panah yang menancap di tanah sekitar lubang.
Dilihatnya Alma sudah berkelebat melompati pagar kayu dan menerjang kepada sekelompok prajurit yang datang menyambut dengan tombak dan tameng berbentuk bulat. (RH)
__ADS_1