A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 25: Alma VS Bunga Pesona


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Teganglah Empat Bunga Pesona setelah Pisau Bunuh Diri telah berada di tangan Alma Fatara. Dengan demikian, Alma Fatara akan dengan mudah membunuh mereka berempat.


Sementara itu Bunga Dara terduduk lemah. Darah masih terus mengalir keluar dari dalam tubuhnya. Lubang-lubang kecil yang banyak pada kulit wajah, leher dan badannya, terus mengeluarkan darah. Ditambah darah deras yang keluar dari pergelangan tangan kanannya yang buntung.


“Sesuai kata-kataku, aku merebut pisau ini agar tidak digunakan sembarangan membunuh orang. Jadi aku tidak akan menggunakan pisau ini untuk melawan kalian!” seru Alma Fatara.


Alma lalu menyelipkan pisau di pinggang belakang, di balik jubah hitamnya. Hal itu membuat Empat Bunga Pesona lega. Alma berganti mencabut Keris Petir Api sebagai senjata.


Alma lalu merendahkan kuda-kudanya. Tangan kirinya lurus ke belakang menyedot angin, membuat pakaiannya mengembang seperti balon gas.


“Silakan, Kakak!” kata Alma.


Wuss!


Tangan kanan Alma menghentak melepaskan segelombang angin dahsyat, seiring mengempisnya pakaiannya.


Serentak Bunga Gadis, Bunga Mekar dan Bunga Semi meloncat naik ke atas sambil kompak melepaskan ujung selendangnya masing-masing.


Alma bergerak sigap. Ia tidak bisa menghindari semua ujung selendang, karenanya dia memilih menghindari dua selendang dan membiarkan satu selendang membelit satu kakinya.


Selendang biru milik Bunga Semi dihentak, sehingga tubuh Alma tertarik liar di udara. Meski demikian, pandangan Alma tetap terkontrol dengan baik.


Zerzz!


Dalam lemparan tubuhnya di udara, Alma menusukkan Keris Petir Api. Maka sealiran sinar hijau tanpa putus mengenai selendang biru Bunga Semi pada bagian dekat tangan.


Blep!


Bunga Semi cepat melepas pegangannya pada selendangnya yang terbakar cepat dan menjalar ke arah tangannya.


“Kurang ajar kau, Alma!” maki Bunga Semi.


Jleg!


Alma mendarat dengan baik setelah terlempar. Pandangannya cepat waspada.


Seet! Seet!


Bunga Gadis dan Bunga Mekar telah melesatkan selendang kuning dan merahnya.


Breeet!


Alma Fatara memilih menjauhi satu selendang dan justru mendatangi selendang lainnya. Ia mendatangi selendang merah Bunga Mekar sambil mengedepankan sisi tajam kerisnya. Keris itu dengan mudahnya membelah selendang tersebut, seperti golok tajam membelah bilah bambu.

__ADS_1


Setibanya di hadapan Bunga Mekar, Alma langsung disambut dengan serangan tangan kosong tapi bertenaga dalam tinggi.


Alma Fatara memilih hanya mengelak.


Tsuuuk!


“Aaak!” Bunga Mekar menjerit panjang, karena sakit yang ia rasakan juga panjang.


Itu terjadi ketika ia melancarkan satu pukulan telapak tangan, tetapi pada saat yang sama, satu ujung Benang Darah Dewa menyongsong telapak tangan itu dengan menusuk masuk hingga tembus ke siku. Bunga Mekar hanya bisa merasakan sakit tanpa tahu apa yang menusuknya.


Alma Fatara segera beralih kepada Bunga Semi yang datang menyerangnya dengan kedua tangan bersinar hijau. Senjata selendangnya telah hangus terbakar. Dengan beralihnya Alma, Benang Darah Dewa juga ditarik ke luar, membuat Bunga Mekar menjerit lagi.


Alma Fatara bergerak menghindar penuh perhitungan. Kedua tangan Bunga Semi sangat berbahaya. Belum lagi Alma Fatara melakukan serangan balik, Bunga Gadis datang pula mengeroyok.


Mau tidak mau Alma menggunakan dua senjata sekaligus, yaitu Keris Petir Api dan Benang Darah Dewa.


Zersss! Tus tus tus …!


Pada satu kesempatan, tinju bersinar hijau Bunga Semi diadu dengan tusukan Keris Petir Api. Sementara dua ujung Benang Darah Dewa menyerang Bunga Gadis pada saat bersamaan. Yang jadi masalah bagi Bunga Gadis, serangan Benang Darah Dewa tidak terlihat dengan jelas dan tidak terdeteksi gerakannya.


Hasil dari pertemuan antara tinju sinar hijau Bunga Semi dan Keris Petir Api adalah pertukaran api yang sama-sama berwarna hijau.


Api hijau dari keris menjalar ke lengan kanan Bunga Semi, sehingga membakar lengan dan kain bajunya. Sementara api hijau dari ilmu Tinju Api Hijau menjalar membakar tangan kanan Alma Fatara. Tangan kiri Alma cepat menahan api agar tidak membakar kain jubahnya, sehingga api hanya menyala pada tangan sebatas pergelangan.


Sementara itu, pada saat yang sama, Bunga Gadis justru jatuh terlutut, ketika kedua lututnya mendapat serangan dua ujung Benang Darah Dewa secara berulang. Dengan demikian, Bunga Gadis tidak bisa berdiri lagi. Kedua lututnya begitu sakit, bahkan mengeluarkan darah dari lubang-lubang tusukan.


Bunga Mekar yang tangan kanannya menjadi lumpuh, cepat membantu Bunga Semi memadamkan api sebelum merembet ke kepala dan seluruh tubuh. Beruntung api bisa dipadamkan, luka bakar hanya sebatas tangan kanan.


Alma Fatara memutuskan menghentikan pertarungannya. Ia menilai keempat lawannya sudah berada di bawah angin.


“Yeee! Kak Alma menang!” teriak Ning Ana girang dari atas pedati kuda. Lalu teriaknya kepada Ayu Wicara, “Kak Ayu, kau harus bayar kepadaku!”


Terkejut Ayu Wicara ditagih tanpa sebab ada juntrungannya.


“Heh! Sejak kapan kita sarungan (taruhan)?!” hardik Ayu Wicara kepada Ning Ana.


“Hihihi …!” Ning Ana hanya tertawa kencang, sebagai tanda ia sengaja membuat kesal Ayu Wicara.


“Lama-lama Ning Anu jadi susu bebuyutanku!” dumel Ayu Wicara.


“Bukan susu, tapi musuh, Ayuuu! Musuh bebuyutan!” ralat Magar Kepang.


“Eeeh, Paman Magar sedang sakit seperti itu saja masih suka memfitnah aku!” gerutuh Ayu Wicara.


“Hahaha!” Garam Sakti dan Debur Angkara hanya tertawa.

__ADS_1


Kembali ke medan pertarungan.


“Maafkan aku, Kakak. Aku perlu melumpuhkan kalian untuk mencegah kalian mencelakaiku,” ujar Alma kepada para wanita cantik yang terlihat buas menatapnya.


Apa daya bagi Empat Bunga Pesona. Bunga Dara sudah pingsan karena krisis darah, Bunga Gadis sudah tidak bisa berdiri, Bunga Semi mengalami luka bakar parah pada tangan kanannya, dan Bunga Mekar mengalami lumpuh pada tangan kanannya.


“Apakah pertarungan ini sudah bisa kita akhiri, Kakak?” tanya Alma.


Bunga Mekar dan Bunga Semi saling pandang. Jika mereka memaksakan diri untuk terus bertarung, itu bisa dilanjutkan.


“Kita akhiri saja, Semi. Jika ada kesempatan, kita akan membalasnya. Aku khawatir dengan keadaan Kak Dara,” kata Bunga Mekar.


Bunga Semi mengangguk.


“Baik, kami kalah, Alma. Tapi urusan kita belum berakhir,” kata Mekar Semi kepada Alma Fatara.


“Baik, tidak masalah, Kak,” jawab Alma seraya tersenyum manis, tapi sangat pahit bagi ketiga gadis selendang itu.


Alma Fatara lalu berbalik dan melangkah pergi menuju kepada rombongannya. Sementara Empat Bunga Pesona saling bahu-membahu.


“Kita lanjutkan perjalanan!” seru Alma kepada rekan-rekannya sebelum naik ke pedati.


“Kak Alma hebaaat!” puji Ning Ana girang sambil bertepuk tangan. “Nanti aku pijit-pijit!”


“Hahaha!” tawa Alma, lalu naik ke pedati.


“Heah!” gebah Garam Sakti dan yang lainnya terhadap kuda-kuda mereka.


Rombongan itu kembali berjalan. Mereka hanya memandangi Empat Bunga Pesona yang balas memandang dengan penuh dendam.


Namun, setelah melewati posisi Empat Bunga Pesona, rombongan Alma kembali berhenti. Mereka dihadang oleh lima lelaki berseragam merah-merah, yang adalah murid Perguruan Pisau Merah.


“Ada apa, para Kisanak?” tanya Debur Angkara kepada kelima penghadang yang salah satunya bernama ****** Wong.


“Kami lihat Nisanak Pendekar telah memiliki Pisau Bunuh Diri. Pisau pusaka itu adalah milik Perguruan Pisau Merah, jika berkenan, sudilah kiranya datang ke perguruan untuk mengembalikan pisau tersebut,” ujar ****** Wong yang memimpin rekan-rekannya, meski kedudukan mereka sama-sama murid setingkat.


“Bukankah Pisau Bunuh Diri adalah milik Pendekar Tinju Pusaka?” tanya Alma tidak langsung percaya.


“Dia pencuri,” jawab ****** Wong. “Nisanak Pendekar bisa bertanya langsung kepada Ketua Satu.”


“Bagamana, Nek?” tanya Alma kepada Warna Mekararum.


“Lebih baik kau tanyakan saja kepada Dato Jari Sambilan. Lebih baik perkara Pisau Bunuh Diri diselesaikan dulu, baru kita ke Rawa Kabut,” jawab Warna Mekararum.


“Baik, kami akan mampir ke Perguruan,” kata Alma kepada ****** Wong. (RH)

__ADS_1


__ADS_2