A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 7: Menculik Gelis Sibening


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


Gelis Sibening begitu cantik. Jangankan di kala dia terjaga, di kala mendengkur pun ia sangat cantik. Dengkurannya halus seperti suara gesekan biola lagu sedih Bollywood yang mendayu-dayu.


Saat ini, Gelis Sibening sedang tertidur lelap di ranjang kamarnya. Ia tidur hanya berpinjung merah sebatas atas dada. Tubuh bawahnya bersarung batik kuning bercorak hitam. Terangnya kulit putih bersih si gadis seolah menjadi sumber cahaya lain di dalam temaramnya suasana kamar.


Di kamar itu hanya ada satu dian yang menyala.


Orang tidur selalu tidak akan tahu kondisinya ketika ia terlelap, termasuk tidak tahu bahwa ketika tidur ia mendengkur. Kain bawah Gelis Sibening agak tersingkap, sehingga memperlihatkan separuh paha kemilaunya. Terlebih Gelis Sibening tidur dalam posisi terlentang dan satu tangannya terentang menggapai ke atas. Sepasang bibir indahnya agak terbuka, mengeluarkan dengkuran halus yang merdu. Ia masih beruntung karena tidak ada orang lain di dalam kamarnya.


Namun, di dalam kegelapan di luar rumah, ada pergerakan bayangan hitam. Bayangan itu memang hitam karena mengenakan pakaian serba hitam. Wajah dan kepalanya dibalut oleh kain hitam, menyisakan sepasang mata yang terbuka. Benar-benar mirip seperti ninja Jepang, tapi tanpa katana.


Orang itu bergerak pelan tanpa suara. Langkahnya hati-hati sekali dengan kepala yang berputar ke sana dan ke mari seperti radar.


Ternyata orang itu tidak sendiri. Agak berjarak darinya ada pergerakan satu orang lagi yang berpakaian hitam juga.


Setelah menilai situasi aman, orang pertama lalu melompat dan tiarap di atas tembok pagar. Ia kembali memandang ke sana dan ke sini. Setelah itu, ia turun dan masuk ke dalam lingkungan rumah Demang Baremowo. Sementara orang kedua hanya sebatas merapat di sisi luar pagar sambil terus waspada.


Orang pertama melangkah mengendap-endap seperti maling. Ia bergerak menuju ke dinding bagian samping rumah. Ia langsung berhenti di depan sebuah jendela. Orang kedua tetap pada posisinya.


Dari bentuk perawakan orang bertopeng kain hitam, ciri-cirinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang lelaki. Ia menarik pelan daun jendela. Ternyata terkunci.


Sepertinya dia sudah mempersiapkan dengan matang aksinya tersebut. Sebuah pisau ia keluarkan. Dengan pisau itu, lelaki tersebut melakukan beberapa tusukan pada kayu tepian jendela. Tenaga dalam yang terkandung pada tangan orang itu membuat pisau menusuk kayu seempuk menusuk kue bolu aroma daun pandan. Maka dengan mudah engsel jendela dicongkel. Meski demikian, dia tetap harus sangat hati-hati agar tidak ada suara berisik yang tercipta.


Akhirnya, salah satu daun jendela bisa dilepas total dan diletakkan di tanah. Kini jendela besar itu terbuka lebar. Si lelaki langsung bisa melihat keberadaan seorang wanita yang terlelap pulas di atas rangjang. Ternyata jendela yang dibobol adalah jendela kamar Gelis Sibening.


Lelaki itu memanjat lewat jendela, masuk langsung ke dalam kamar. Jejakan kakinya pada lantai papan kamar tidak menimbulkan suara. Ia langsung mendatangi ranjang.


“Beruntung bukan orang lain,” ucap lelaki itu lirih saat melihat tubuh Gelis Sibening yang begitu menggoda iman. Beruntung dia tidak punya iman, sehingga tidak tergoda.


Lelaki tersebut lalu menotok satu titik dari tubuh Gelis Sibening. Totokan itu mengejutkan sekaligus membangunkan si gadis.


“Ak! Siap …!”


Suara Gelis Sibening seketika terputus saat beberapa totokan kembali bersarang pada tubuhnya.


Kini Gelis Sibening mengejang dalam kondisi tertotok, termasuk pita suaranya. Hanya bola matanya yang bisa mendelik dan melirik liar.

__ADS_1


Tubuh Gelis Sibening diangkat dan dipanggul di bahu. Sepasang mata Gelis Sibening hanya bisa mendelik-delik ketika tangan lelaki bertopeng itu seenaknya saja memegang pahanya, bokongnyalah, atau yang lainnyalah, meski itu tidak bermaksud melecehkan.


Dengan susah payah, si penculik bergerak keluar dari kamar lewat jendela. Namun, ketika baru saja keluar dari dalam kamar, dari arah depan rumah muncul dua orang prajurit kademangan yang berpatroli.


Melihat ada pergerakan bayangan hitam yang memanggul benda besar, salah satu dari prajurit itu terkejut. Yang terlintas di dalam benaknya adalah hantu. Dengan tubuh langsung gemetar, ia menepuk temannya kasar.


“Apaan?” tanya si teman dengan nada agak keras, karena terkejut ditepuk tiba-tiba.


“Li-li-lihat!” tunjuk prajurit pertama sambil dengan berat dan gemetar tangannya menunjukkan arah.


Terkejutlah prajurit kedua melihat apa yang ditunjuk oleh rekan sepermalamannya itu.


Set!


“Hek!” keluh prajurit pertama terkejut dan mengejang sambil memegangi lehernya, seolah ada sesuatu yang mengenai lehernya. Ia jatuh tumbang, entah mati atau sekedar pingsan.


Alangkah terkejutnya prajurit kedua. Ia seketika berubah panik. Namun ….


Set!


Lelaki penculik sempat terkejut melihat tumbangnya dua prajurit di sebelah sana. Namun untung, rekannya sudah membereskan mereka dengan sumpit beracunnya. Maka setelah itu, penculik dengan leluasa melompati tembok pagar.


Kedua orang itu kemudian bergerak pergi di antara pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah Demang Baremowo. Meski sudah berhasil, keduanya tetap bergerak dengan menjaga jarak beberapa tombak.


Namun, setelah cukup jauh meninggalkan kediaman Demang Baremowo, ada satu suara yang mengejutkan dan menghentikan langkah mereka.


“Berhenti!”


Teriakan dari arah barat itu membuat kedua penculik berhenti dari langkahnya di dalam kegelapan. Seorang berpakaian serba kuning bersabuk putih muncul berlari dan berhenti di hadapan lelaki bertopeng pemanggul Gelis Sibening.


“Turunkan wanita itu, Penculik!” perintah si penghadang, yang adalah seorang pemuda tampan berhidung mancung, berambut gondrong sebahu, dan berikat kepala kain warna kuning. Ketampanannya terlihat karena terterangi cahaya suluh di jalanan kademangan.


“Dendeng Pamungkas!” desis lelaki bertopeng.


Terkejutlah pemuda berbaju kuning karena namanya disebut oleh lelaki bertopeng.


“Kau mengenalku? Berarti kau pasti orang yang aku kenal!” kata Dendeng Pamungkas.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa lelaki bertopeng. Lalu katanya dalam hati, “Dia tidak memandang ke mana-mana, berarti dia hanya melihat aku seorang.”


“Siapa kau? Dan siapa wanita yang kau culik itu?!” tanya Dendeng Pamugkas dengan membentak.


“Kau akan terkejut jika tahu siapa yang aku culik. Gadis ini adalah Gelis Sibening,” kata lelaki bertopeng.


“Apa?! Lepaskan Gelis, Tikus Kasur!” teriak Dendeng Pamungkas lalu berlari maju menyerang dengan jari-jari membentuk cakar.


Dengan gerakan yang cepat tapi berat, lelaki bertopeng mengelaki serangan cakaran Dendeng Pamungkas. Jika itu berlarut, lama-lama serangan Dendeng Pamungkas bisa berhasil. Berat tubuh Gelis Sibening yang ada dalam panggulannya membuat lelaki bertopeng terbebani.


Set! Bret!


Karena itu, si penculik cepat mengeluarkan pisaunya dan langsung menyerang sekali kibas. Serangan menggunakan pisau itu mengejutkan Dendeng Pamungkas, buru-buru dia melompat mundur. Namun, pisau itu masih berhasil menjangkaunya, meski hanya merobek perut baju.


Lelaki bertopeng berlari kecil, maju menyerang dengan tubuh Gelis tetap di bahunya. Ia berkelebat berat sambil pisaunya mengibas hendak menjangkau leher Dendeng Pamungkas. Pemuda berbaju kuning mundur selangkah dan membiarkan tubuh lawannya lewat. Ia cepat berbalik.


“Jika terjadi sesuatu terhadap kekasihku, nyawamu akan aku buru, Tikus Kasur!” teriak Dendeng Pamungkas.


“Tapi kaulah yang akan mati malam ini, Dendeng!” desis lelaki bertopeng.


Set!


“Akk!” pekik Dendeng Pamungkas tertahan. Gerakannya yang hendak menyerang mendadak berhenti.


Dengan wajah mengerenyit menahan sakit, ia meraba tengkuknya dan mencabut sesuatu. Ternyata sebatang jarum besar telah menancap di tengkuknya.


Kuda-kuda Dendeng Pamungkas mendadak lemah dan dia nyaris jatuh.


Set!


Kembali satu jarum besar datang melesat menusuk tengkuk Dendeng Pamungkas untuk kedua kalinya. Kali ini tanpa jeritan, Dendeng Pamungkas langsung tumbang.


Lelaki bertopeng yang bersenjatakan sumpit segera muncul dari dalam kegelapan.


“Kau bawa dia!” perintah lelaki pemanggul Gelis Sibening.


“Baik,” jawab lelaki satunya. Ia menyelipkan pipa sumpitnya pada tubuhnya, lalu segera mengurus tubuh Dendeng Pamungkas. (RH)

__ADS_1


__ADS_2