
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Sejumlah tokoh berkumpul di pendapa kecil di kediaman Adipati Marak Wijaya. Mereka adalah Adipati sendiri, Panglima Ragum Mangkuawan, Bendahara Adya Bangira, Kepal Kepeng dan istri, Komandan Gendas Pati dan Komandan Rewa Segili.
Tampak puluhan prajurit, prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan dan Pasukan Keamanan Ibu Kota, berbaris rapi dalam penjagaan.
Mereka sedang menunggu kedatangan Alma Fatara. Mereka sudah mengirim prajurit untuk memanggil Alma Fatara yang kabarnya sedang berada di penginapan.
“Bagaimanapun juga, kau harus dihukum, Adipati. Meski bukan kau yang merencanakan penyerangan terhadap Gusti Pangeran, tetapi kau yang punya acara,” tandas Ragum Mangkuawan.
“Baik, Gusti. Hamba mengaku salah. Hamba siap menerima hukumannya,” ucap Adipati Marak Wijaya pasrah.
“Biarkan Gusti Prabu yang menentukan hukumannya. Aku yakin, Gusti Prabu akan datang langsung bersama tabib Kerajaan ke sini untuk melihat kondisi putranya,” kata Ragum Mangkuawan.
“Baik, Gusti.”
“Aku harap, semua prajurit yang terlibat dalam rencana keji ini ditangkap. Jika anak panahnya ditukar, itu berarti ada prajurit yang membiarkan pertukaran anak panah terjadi,” duga Ragum Mangkuawan.
“Baik, Gusti. Komandan Gendas Pati yang nanti akan menyelidiki semua prajurit yang terlibat,” kata Adipati Marak Wiajaya.
“Baik, Gusti,” ucap Komandan Gendas Pati yang keadaannya sebenarnya sedang terluka akibat pertarungan dengan Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa tadi.
“Lalu bagaimana dengan putriku, Gusti Adipati?” tanya Kepal Kepeng yang tidak sabar, sebab tadi sudah dikatakan bahwa mereka harus membahasnya dengan Alma Fatara.
“Nanti kita akan bahas setelah Alma Fatara hadir,” jawab Adipati Marak Wijaya berusaha sabar.
“Alma Fatara itu adalah murid dari adik seperguruanku, jadi kalian jangan meremehkannya,” ujar Ragum Mangkuawan.
“Ooh!” desah mereka semua.
“Pantas, masih sebelia itu dia sudah sakti, sampai Lima Pendekar Sungai Ular tidak mampu menghadapinya,” ucap Adya Bangira.
“Bagaimana kedua putramu, Adya?” tanya Adipati Marak Wijaya.
“Kondisinya terluka, hanya perlu istirahat saja kata Tabib,” jawab Adya Bangira.
Tiba-tiba terdengar samar suara lari seekor kuda. Semakin lama semakin jelas mendekat. Akhirnya kuda itu berhenti tidak jauh dari barisan prajurit. Alma Fatara melompat turun dari kudanya seraya tersenyum kepada umum.
“Bergabunglah, Alma!” seru Ragum Mangkuawan.
“Aku pikir aku dipanggil untuk makan-makan, eh malah terlihat pertemuan serius. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa sendiri, yang hanya direspon dengan senyuman dari mereka yang hadir.
Kepal Kepeng hanya tersenyum getir, karena nasib putrinya belum jelas.
__ADS_1
“Hormatku, Paman Guru!” ucap Alma Fatara kepada Ragum Mangkuawan.
Sebelumnya, setelah Alma mengaku sebagai murid dari Wiwi Kunai yang berjuluk Pemancing Roh, Ragum Mangkuawan langsung mengaku bahwa dirinya adalah kakak seperguruan dari Wiwi Kunai. Awalnya Alma tidak percaya. Namun, ketika Ragum Mangkuawan menyebutkan sejumlah ilmu yang dimiliki oleh Wiwi Kunai, barulah Alma percaya.
“Ketika kau menahan dua anak panah yang akan menancap di dada Gusti Pangeran, kau tidak memakai kekuatan mata atau pikiran, tetapi kau memakai senjata yang bernama Benang Darah Dewa. Benar?” terka Ragum Mangkuawan tadi di alun-alun untuk lebih meyakinkan Alma.
“Benar,” jawab Alma.
Sejak itu, Alma menyebut Ragum Mangkuawan sebagai “Paman Guru”.
Alma Fatara lalu duduk tidak jauh dari sang panglima.
“Maafkan aku, Gusti Adipati,” kata Alma sambil menjura hormat secukupnya. “Urusanku dan teman-temanku sudah selesai di kadipaten ini. Kejahatan Pamong Sukarat di Kademangan Dulangwesi sudah kami bongkar. Kejahatannya di Kadipaten dan terhadap Pangeran, itu urusan paman guruku. Jadi, aku dan teman-temanku mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan ….”
“Tunggu! Tunggu, Alma!” seru Kepal Kepeng cepat memotong perkataan Alma. “Kami sejak tadi menunggumu untuk membahas nasib putriku.”
“Siapa putri Paman itu?” tanya Alma pura-pura tidak tahu.
“Putriku adalah Ninda Serumi, gadis yang menjadi hadiah utama dalam pertandingan tadi,” jawab Kepal Kepeng.
“Kenapa kau panik seperti itu, Paman? Anggap saja dia sudah menjadi hadiah dari pemenang pertandingan,” kata Alma seenaknya. “Apa bedanya dia dibawa oleh Petarung Panah dengan dibawa oleh Lima Pendekar Sungai Ular?”
“Jangan seperti itu, Nak Alma. Aku adalah ibunya. Aku tidak tenang selama Ninda Serumi tidak kami ketahui nasibnya,” kata Asih Munira dengan wajah sedih.
“Nasib putri Bibi sudah jelas, ada di tangan Lima Pendekar Sungai Ular. Mungkin pendekar di sana berniat menikahinya,” kata Alma, sengaja ingin mengacaukan perasaan kedua orang tua tersebut.
“Aku rasa, pasukan Kadipaten juga akan sulit untuk berurusan dengan pendekar-pendekar Sungai Ular itu. Apalagi aku dalam masa menunggu hukuman,” jawab Adipati Marak Wijaya.
“Kiranya Gusti Panglima bisa membantu. Gusti Panglima memiliki kesaktian yang tinggi, tentunya akan mudah untuk manangkap para penculik itu,” kata Kepal Kepeng kepada Ragum Mangkuawan.
“Maafkan aku, meski aku berkesaktian, tetapi aku seorang prajurit. Aku hanya patuh pada perintah,” jawab Ragum Mangkuawan, membuat Kepal Kepeng mengerenyit semakit putus asa.
Terlihat Kepal Kepeng mengembuskan napas masygul.
“Bagaimana ini, Kakang?” tanya Asih Munira sambil menangis dan memegangi lengan suaminya.
“Sebenarnya aku bisa mengambil dengan mudah Ninda Serumi dari tangan Lima Pendekar Sungai Ular, tapi dengan syarat. Bagaimana, Paman Kepal Kepeng?” ujar Alma menawarkan solusi.
“Baik, aku akan penuhi syaratmu, Alma!” kata Kepal Kepeng antusias, seperti orang kehausan yang menemukan aliran sungai.
“Sebenarnya aku benci kepada kalian berdua, karena kalian tidak memikirkan perasaan Ninda Serumi. Kalian begitu tega menjadikan putri kalian yang sangat cantik seperti benda, yang siapa saja boleh memiliki dan menyentuhnya. Apa jadinya jika yang menang pertandingan tadi adalah lelaki buruk rupa dan buruk niat? Awalnya aku yang berniat membawa kabur Ninda Serumi, tapi karena aku mencium siasat busuk di dalam pertandingan, jadi aku lebih mementingkan menunggu kejahatan apa yang akan terjadi,” kata Alma bernada serius.
“Baik, aku tidak akan mengorbankan putriku lagi, tapi tolong bebaskan putriku dari para penculik itu!” kata Kepal Kepeng.
“Aku sebelumnya pernah berbincang dengan Ninda Serumi. Apakah Paman dan Bibi tahu bahwa Ninda Serumi mencintai pemuda yang bernama Bandeng Prakas?” tanya Alma.
__ADS_1
“Ya, kami tahu dia menganggap Bandeng Prakas sebagai kekasihnya. Tapi kami tidak menyukai pemuda itu,” jawab Asih Munira.
“Karena kalian ingin menjual putri kalian dengan harga yang mahal. Begitukah?” tuding Alma.
“Tidak, kami tidak pernah berniat menjual putri kami sendiri. Kami hanya ingin agar dia mendapat suami seorang satria, yang kesatriaannya terbukti dengan memenangkan pertandingan,” kilah Kepal Kepeng.
“Hahahak!” tawa Alma terbahak sendiri. “Itu sama saja, Paman. Hanya beda penyebutan saja, karena dari pertaruhan dalam pertandingan itu Paman dan Bibi mendapat uang yang banyak. Baiklah, Paman. Aku persingkat saja. Jika Paman dan Bibi berjanji akan menikahkan Ninda Serumi dengan Bandeng Prakas, maka hari ini juga aku bisa menjemput Ninda Serumi pulang. Atau, jika Pangeran sembuh dan masih berminat menjadikan Ninda Serumi sebagai istri. Agar Pangeran tidak mengejar-ngejar aku. Hahaha!”
Terkejut Ragum Mangkualam dan Adipati Marak Wijaya mendengar hal itu.
“Aku lebih berharap Gusti Pangeran memperistri putriku,” kata Kepal Kepeng.
“Hahaha! Itu jika Pangeran masih berminat. Sebab, setelah melihatku, Pangeran justru menawariku untuk menjadi istrinya. Aku khawatir jika Pangeran sudah tidak berminat lagi kepada putrimu,” kata Alma yang merasa lucu sendiri.
“Baiklah, Nak Alma. Kami berjanji akan menuruti apa maunya Ninda Serumi. Namun tolong, selamatkan dia,” tandas Asih Munira.
“Baiklah, Paman, Bibi. Aku pegang kata-kata kalian yang disaksikan langsung oleh Paman Guru, Paman Adipati dan yang lainnya,” kata Alma.
“Kami menjadi saksinya, Alma,” kata Adya Bangira.
“Kuncinya memang ada padaku, tapi bukan aku yang akan pergi menjemput Ninda Serumi, cukup Paman Gendas Pati yang pergi.”
“Apa?” kejut Komandan Gendas Pati dengan mata terbeliak bingung.
“Hahaha!” tawa Alma melihat keterkejutan Gendas Pati.
“Aku bukannya takut, tapi aku dalam kondisi terluka akibat pertarungan dengan Jenjer Mahesa tadi,” kilah Gendas Pati, meski sebenarnya dia memang tidak mau berurusan dengan Lima Pendekar Sungai Ular.
“Tidak apa-apa, Paman. Ketika bertemu dengan mereka, sebut saja namaku. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa lagi. “Siapa yang sangka, Paman Kepal Kepeng nanti justru menjodohkanmu dengan putrinya. Hahaha!”
“Tapi aku sudah punya istri dan anak, Alma,” kata Gendas Pati agak malu diri.
“Apakah berdosa jika lelaki beristri lebih dari satu?” celetuk Ragum Mangkuawan.
“Hahahak …!” Alma tertawa kencang mendengar perkataan Ragum Mangkuawan.
Adipati dan yang lainnya juga ikut tertawa.
“Jangan lupa, Paman Gendas Pati pergi ambil sekantong uang di rumah Pamong Sukarat, jika ada, sebagai bayaran untuk menebus Ninda Serumi!” tandas Alma Fatara.
“Tapi …” ucap Gendas Pati berat hati.
“Jika Lima Pendekar Sungai Ular menyulitkan Paman, laporkan kepadaku!” kata Alma.
“Baiklah, Alma,” ucap Gendas Pati. Tapi kemudian tanyanya lagi, “Tapi kau akan pergi. Bagaimana bisa aku melapor kepadamu, Alma?”
__ADS_1
“Hahahak …!” Alma hanya tertawa berkepanjangan menertawakan Gendas Pati. (RH)