A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 26: Perampok Paling Ganas


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Ketua Perampok Paling Ganas bernama Sandung Wicara. Ia dan kesepuluh anak buahnya adalah warga Desa Turusikil. Hakikatnya mereka bukanlah perampok, tetapi warga desa yang berpura-pura atau terpaksa menjadi perampok. Mereka hanya mengandalkan kegarangan untuk menakuti calon korban.


Ini adalah aksi penghadangan pertama mereka. Namun apesnya, Sandung Wicara yang mereka tunjuk jadi ketua, terlalu lucu di mata Alma Fatara dan rekan-rekannya. Akhirnya kelompok Perampok Paling Ganas itu menyerah tanpa pertarungan atau perlawanan, nyali mereka lebih dulu ciut.


Sebelum meminta mereka menceritakan alasan di balik aksi nekatnya, Alma lebih dulu memerintahkan mereka menyingkirkan batang pohon dari jalan. Dengan diangkat beramai-ramai, batang pohon itu bisa dengan cepat disingkirkan ke pinggir, tidak melintang lagi.


Pedati rombongan Alma harus menepi dulu ke pinggir jalan. Kesebelas warga Desa Turusikil itu duduk di atas ilalang yang sudah direbahkan. Mereka duduk menghadap ke arah pedati, tempat Alma dan Magar Kepang duduk mendengarkan apa yang mereka ceritakan. Sementara Warna Mekararum tetap terbaring di bak sambil mendengarkan.


“Suatu hari Kepala Desa dibunuh oleh prajurit kerajaan karena dituduh tidak pernah membayar upeti. Beberapa hari kemudian, datanglah Ki Rampe Ulon, orang yang mengaku utusan Kademangan untuk menggantikan kepala desa yang dibunuh. Mulai saat itulah, warga desa diperah dan diperas hidupnya. Padahal kami tidak punya susu yang besar untuk diperah. Hampir semua warga desa kehilangan tanahnya karena dirampas oleh Ki Rampe Ulon. Siapa yang menentang atau melawan, tidak segan-segan akan dibunuh. Anak-anak gadis desa dijadikan wanita-wanita tidak suci lagi setelah dipaksa melayani nafsu binatang Ki Rampe Ulon. Kami adalah orang-orang yang berhasil kabur dari desa dan tinggal di hutan selama beberapa pekan. Ini pertama kali kami mencoba menjadi perampok,” tutur Baling Wong, pemuda berbaju pinky yang sering meralat kesalahan kata-kata Sandung Wicara.


“Sudah berapa lama hidup kalian disiksa oleh Ki Rampe Ulon?” tanya Alma.


“Dua bulan, Pendekar,” jawab Sandung Wicara.


“Berapa banyak anak buah Ki Rampe Ulon?” tanya Alma lagi.


“Banyak, Pendekar. Puluhan orang jumlahnya,” jawab Baling Wong dengan wajah mengiba.


“Itulah kenapa warga desa sunat keluar,” kata Sandung Wicara pula.


“Hahahak …!”


Meledak tawa Alma dan ketiga rekan lelakinya.


“Susah keluar, Ketua. Bukan sunat keluar!” bisik Baling Wong.


“Oh, aku salah sebut ya?” tanya Sandung Wicara.


“Iya, Ketua!” jawab kesepuluh anak buah Sandung Wicara.


“Menurutmu bagaimana, Nek?” tanya Alma kepada Warna Mekararum.


“Bantu mereka jika kau merasa sanggup melakukannya. Yang harus kau pastikan lebih dulu, cari tahu apakah orang itu memang utusan dari kademangan. Seorang pejabat tidak mungkin berbuat terlalu buruk seperti itu. Jika dia memang pejabat yang dikirim oleh demang, harus dicari tahu juga, apakah kejahatannya itu atas restu demang tersebut atau tidak,” kata Warna Mekararum.

__ADS_1


“Baik, Nek,” ucap Alma patuh. “Tapi, Nenek akan tertunda untuk sampai ke Gunung Alasan.”


“Nyawa warga desa itu lebih penting, sementara aku tidak akan mati,” kata Warna Mekararum.


Alma kembali mengalihkan perhatiannya kepada kesebelas orang lelaki itu.


“Bawa kami ke tempat persembunyian kalian, kami akan membantu kalian melawan Ki Rampe Ulon!” seru Alma bersemangat, membuat kelompok Perampok Paling Ganas itu turut gembira.


Sandung Wicara dan anak buahnya lalu membawa Alma serta rombongan ke hutan, tempat persembunyian mereka. Persembunyian mereka cukup masuk ke tengah hutan, sampai pedati tidak bisa melanjutkan lagi perjalanan.


“Perampok Paling Ganas bawa tawanan kaya! Perampok Paling Ganas bawa tawanan paling ganas!” teriak seorang gadis berkulit dekil dan berambut kusut. Meski baju warna kuning lusuhnya sudah robek-robek, tetapi ia masih mengenakan kemban warna hitam.


“Hah! Tawanan paling ganas?!” tanya sejumlah lelaki dan wanita, aki-aki, nini-nini dan anak kecil, terkejut.


“Cialan! Maksud aku itu, tawanan kaya!” ralat si gadis setelah memaki dan menepuk bibirnya sendiri.


Mereka yang jumlahnya sampai dua puluh orang, bergegas ramai-ramai pergi untuk mengintip kepulangan Sandung Wicara dan anak buahnya.


“Wuaaah! Bidadari!” jerit aki-aki bergigi dua lagi kuning kehitaman.


Plak!


“Biarkan saja mati, agar jatah makan jadi berkurang!” timpal ibu kurus yang lain.


“Seumur hidupku yang sudah setua ini, baru kali aku terpesona melihat wanita yang begitu cantik!” ucap Aki Lapuk sambil senyum-senyum genit sendiri, membuat orang-orang sekitarnya justru tergidik ngeri.


“Jangan dekat-dekat Aki Lapuk, sedang kemasukan ratu penunggu hutan!” kata anak yang sudah usia remaja.


Anak-anak yang usia sekolah dasar segera menjauhi Aki Lapuk.


Rombongan Sandung Wicara akhirnya tiba kepada para warga itu. Yang ikut Sandung Wicara hanyalah Alma Fatara dan Magar Kepang. Debur Angkara bertugas menjaga Warna Mekararum di pedati. Garam Sakti bertugas membangun tenda bersama beberapa anak buah Sandung Wicara.


“Wah! Ramai sekali!” kata Alma saat melihat warga yang banyak anak kecilnya itu. Ia tersenyum lebar kepada mereka semua, terutama kepada anak-anak.


“Wah! Cantik sekali!” balas si ibu yang tadi memukul kepala Aki Lapuk.

__ADS_1


“Hehehe! Bidadari!” ucap Aki Lapuk sambil tertawa senang. Ia bergerak merangsek menerobos kerumunan anak-anak hendak menjangkau Alma Fatara.


Bsrak!


Namun, ketika Aki Lapuk lolos dari pembatas, anak buah Sandung Wicara yang tinggi besar bergeser dan menyenggol gerak tubuh Aki Lapuk. Orang tua itu pun terpental dan jatuh mencium kaki Sandung Wicara tanpa sengaja.


“Haduh, haduh, haduh!” aduh Aki Lapuk.


“Hahahak!” tawa Alma terbahak, mengejutkan para warga yang belum mengetahui karakter gadis itu.


Namun kemudian, mereka tertawa ramai-ramai melihat nasib Aki Lapuk.


“Kakek pasti kesakitan!” kata Alma sambil memegang lengan kurus Aki Lapuk, membantunya untuk berdiri. “Hahaha! Kakek, sekarang tidak musim kodok.”


“Hahaha!” tawa mereka semua.


“Hehehe!” kekeh Aki Lapuk berbinar-binar bahagia, karena disentuh oleh tangan Alma yang putih bersih seperti piring yang baru dicuci. Ia begitu bahagia bisa melihat Alma dari dekat.


“Eh, Aki Lapuk!” jerit seorang ibu saat melihat Aki Lapuk tiba-tiba meleyot jatuh dengan lemas.


Sandung Wicara cepat menangkap tubuh Aki Lapuk.


“Aki Lapuk, jangan banyak tinja!” hardik Sandung Wicara.


“Jangan banyak tingkah, Ketua!” bisik Baling Wong.


“Iya, iya. Tapi kok, Aki Lapuk sepertinya mati,” kata Sandung Wicara heran.


“Hah! Mati?!” pekik para warga terkejut.


Lelaki tinggi besar anak buah Sandung Wicara jadi mendelik dan pucat berkeringat. Sebab, ia yang sengaja menyenggol Aki Lapuk.


“Aki Lapuk mati dengan bahagia,” kata Sandung Wicara. “Ayo angkat, ayo angkat!”


Mereka pun menggotong mayat Aki Lapuk. Dua ibu-ibu yang tadi berkata kasar kepada Aki Lapuk jadi menangis.

__ADS_1


“Kau hebat sekali, Alma. Bahkan kau bisa membunuh dengan kecantikanmu!” puji Magar Kepang.


“Hahaha!” Mau tidak mau Alma tertawa mendengar pujian kepala desa itu. (RH)


__ADS_2