A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 21: Jejak dari Pengemis


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Lelaki yang belum terlalu tua itu menatap dingin kepada Genggam Sekam. Ia mengenal pemuda tampan itu, tapi tidak dengan gadis cantik yang bersamanya. Namun, gadis yang adalah Alma Fatara itu, justru membuatnya terkejut di dalam hati.


Lelaki yang memang seorang pengemis itu berjalan lebih mendekat kepada Genggam Sekam dan Alma Fatara.


“Pendekar Tongkat Berat, ada apa memanggilku sekasar itu?” tanya lelaki bernama Pengemis Batok Bolong. Ia akrab dipanggil dengan nama Batok Bolong saja. Ia memang membawa sebuah belahan batok kelapa yang memiliki bolongan kecil pada dasarnya.


“Kekasihku Dewi Penari Daun dibunuh oleh Pisau Bunuh Diri dua purnama lalu. Aku baru saja menangkap orang yang memegang Pisau Bunuh Diri. Dia mengatakan bahwa pisau itu dia curi darimu,” tutur Genggam Sekam.


“Kurang ajar, rupanya pisau itu dicuri seseorang dariku,” rutuk Pengemis Batok Bolong kepada dirinya sendiri. Lalu katanya kepada Genggam Sekam, “Memang benar Pisau Bunuh Diri pernah ada di tanganku, tetapi aku memilikinya hanya selama dua pekan. Aku merebutnya dari Ulung Gegap sekitar tiga pekan yang lalu. Apakah kau mengenalnya?”


“Ya, aku mengenalnya,” jawab Genggam Sekam.


“Jika kekasihmu dibunuh dua purnama lalu, berarti itu tidak ada kaitannya denganku. Kau bisa tanyakan kepada Ulung Gegap, tapi aku tidak tahu apakah dia sudah mati atau belum. Ketika aku berhasil merampas pisau itu, dia aku lukai cukup parah menggunakan Pisau Bunuh Diri,” ujar Pengemis Batok Bolong.


“Apakah Kakek tahu siapa yang membunuh Pendekar Tinju Pusaka?” tanya Alma.


“Aku tidak menjawab pertanyaan dari orang yang tidak aku kenal,” kata Pengemis Batok Bolong dingin dengan tatapan tidak ramah.


“Namaku Alma Fatara, Kek. Apakah Kakek sudah sudi menjawab pertanyaanku?” kata Alma seraya tersenyum manis.


“Apa nama persilatanmu, Alma?” tanya Pengemis Batok Bolong.


“Dewi Gigi. Hahaha!” jawab Alma beseloroh lalu tertawa kencang. Meski Dewi Gigi bukanlah nama julukan resminya, tetapi entah kenapa dia suka menggunakan nama itu. Sebenarnya Alma belum memiliki julukan resmi.


“Jawabanku bernilai kepeng,” kata Pengemis Batok Bolong.


“Tidak masalah, Kek,” kata Alma.


Baru saja Alma hendak berteriak kepada Ning Ana dan Ayu Wicara di dekat pintu penginapan, Genggam Sekam sudah melempar tiga kepeng uang melambung di udara.


Trak!


Terdengar suara tiga kepeng mendarat di dasar batok Pengemis Batok Bolong.


“Pendekar Tinju Pusaka dibunuh oleh Empat Bunga Pesona,” jawab Pengemis Batok Bolong. “Aku rasa pertanyaan kalian sudah terjawab dan aku sudah mendapat uang. Aku akan pergi.”


Pemuda pemudi itu tidak membalas perkataan Pengemis Batok Bolong, membuat kakek itu berbalik lalu melangkah dengan punggung agak membungkuk.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin gadis semuda itu bisa membawa Bola Hitam ke mana-mana?” batin Pengemis Batok Bolong sambil melangkah pergi. Di dalam otaknya sedang menyusun siasat khusus untuk Alma Fatara.


“Hari kematian Pendekar Tinju Pusaka mungkin sama di saat Pengemis Batok Bolong merebut pisau itu dari Ulung Gegap. Berarti Pisau Bunuh Diri tidak berada di tangan Pendekar Tinju Pusaka saat dia mati dibunuh oleh Empat Bunga Pesona,” kata Alma Fatara mengurai analisanya.


“Kau benar, Alma,” kata Genggam Sekam. “Berarti kita harus mengikuti alur tahapan perpindahan pisau itu dari tangan ke tangan.”


“Kakang Genggam tahu kediaman orang yang bernama Ulung Gegap itu?”


“Setahuku Ulung Gegap tinggal di sebuah hutan kecil di kaki utara Gunung Alasan,” jawab Genggam Sekam. “Tapi, aku merasa itu terlalu jauh jika menghitung antara posisi pisau dengan kediamannya. Jika Pisau Bunuh Diri berpindah-pindah tangan hanya di sekitar daerah barat dan selatan gunung, berarti Ulung Gegap mengalami luka di sekitar daerah ini. Dalam kondisi terluka cukup parah, rasanya sulit jika dia harus pulang ke kaki utara gunung.”


“Tapi aku rasa Kakang tetap harus mencoba mendatangi kediamannya. Mungkin dia memang ada di sana,” kata Alma.


“Kak Alma! Tabibnya datang!” teriak Ning Ana memanggil.


Alma Fatara dan Genggam Sekam segera menengok. Dilihatnya pelayan penginapan datang bersama seorang wanita separuh baya berpakaian warna hijau gelap.


“Tabib Unyeng Guli!” sebut Genggam Sekam saat melihat tabib wanita itu.


Pemuda tampan itu lalu berlari kecil mengejar tabib yang baru masuk ke dalam penginapan.


“Tabib Unyeng Guli!” panggil Genggam Sekam.


“Kau memanggilku, Anak Muda?” tanya wanita yang membawa keranjang obat tersebut.


“Eh, kau bukan Tabib Unyeng Guli. Kau hanya mirip dan lebih muda. Apakah kau adiknya?” tanya Genggam Sekam, merujuk pada tabib di Desa Bungitan ketika dia mengantar Nyai Delima ke tabib bersama Ning Ara.


“Namaku Renta Ranum, adik dari Unyeng Guli. Kami sekeluarga memang keluarga tabib,” jawab wanita itu.


“Ooh!” Genggam Sekam hanya manggut-manggut.


“Di mana orang yang harus aku tangani?” tanya Renta Ranum.


“Ikut aku, Nek!” ajak Ning Ana yang tahu letak kamar Garam Sakti.


“Aku ini masih terlalu dini disebut nenek, Nak,” komplain Renta Ranum.


“Hihihi!” tawa Ning Ana.


Yang lain megikuti di belakang.

__ADS_1


“Paman, tabibnya datang!” kata Ning Ana kencang sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


“Aduuuh! Aduuuh!” aduh Magar Kepang yang menahan rasa sakit. Posisinya masih tengkurap dan Garam Sakti masih menutupi lukanya dengan sumpalan kain yang sudah kotor oleh darah.


“Tenang saja, Paman. Tidak perlu menangis seperti itu, pantat Paman tidak akan hilang. Aku yang kecil saja tidak menangis,” kata Ning Ana.


“Karena kau tidak ditusuk pisau! Aduuuh!” teriak Magar Kepang lalu kembali mengaduh. “Hah! Kenapa tabibnya perempuan?”


Alangkah terkejutnya Magar Kepang saat melihat sosok Renta Ranum yang menjadi tabibnya.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma yang berdiri di pintu kamar. “Nikmati saja, Paman Magar. Atau Paman mau aku carikan tabib lelaki?”


“Tabib lelaki hanya ada di Perguruan Pisau Merah. Tabib di Desa Bungitan pun perempuan,” kata Renta Ranum.


“Hihihi! Aku tahu kenapa Paman Magar tidak mau tabib perempuan,” kata Ning Ana sambil tertawa.


“Ayo, anak kecil tidak boleh berpikir jorok!” kata Alma sambil masuk dan menarik tangan Ning Ana.


“Aku tidak berpikir jorok. Kak Alma yang berpikir jorok!” bantah Ning Ana.


“Hahahak!” Alma malah tertawa.


“Aku sudah punya calon suami, jadi tidak masalah aku berpikir jorok!” kilah Ning Ana masih mendebat Alma.


“Tetap tidak boleh!” tandas Alma Fatara.


“Alasannya kenapa aku tidak boleh berpikir jorok?”


“Karena itu membuat malu!”


“Tapi aku tidak malu, Kak!”


“Karena kau itu tidak punya malu!”


“Aku punya ********!”


“Hahahak …!” Ujung-ujungnya Alma dibuat tertawa, begitu pun Genggam Sekam dan Ayu Wicara.


Sementara itu, Debur Angkara juga keluar dari kamar. Jadi tinggal Tabib Renta Ranum dan Garam Sakti yang membantu mengobati luka Magar Kepang.

__ADS_1


Alma Fatara lalu pergi ke kamarnya. Ia menceritakan apa yang menimpa Magar Kepang kepada Warna Mekararum. (RH)


__ADS_2