A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 31: Kemenangan Desa Turusikil


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Buk!                                                        


Satu tendangan keras mendarat di perut Garam Sakti. Lagi-lagi membuatnya terjengkang di kubangan lumpur.


“Mampuslah kau, Orang Besar bodoh!” maki Barong Gula lalu melesatkan satu sinar biru sebesar bola kasti.


Sess! Bluar!


Garam Sakti terpental, dengan wajah dan tubuh semua tertutupi oleh lumpur. Ia terpental bukan karena terkena serangan sinar biru, tetapi terpental karena dorongan daya ledak yang kuat. Serangan itu mengenai lumpur kosong karena Garam Sakti berguling menghindar. Satu kubangan cukup besar tercipta di dalam petak sawah itu.


“Kenapa kau tidak gunakan Keris Petir Api itu, Kang Garam?!” teriak Alma setelah melihat kondisi Garam Sakti yang benar-benar seperti pisang goreng siap diceburkan ke penggorengan.


“Bocah pesing!” maki Barong Gula kepada Alma yang berdiri di ketinggian.


“Hahaha!” Alma malah tertawa disebut bau pesing. Lalu katanya, “Hai hai hai, Kang! Temanmu sudah menyerah!”


“Dia memang gampang menyerah, tapi aku tidak!” teriak Barong Gula, lalu melesatkan sebola sinar biru.


Sess! Sess! Bluar!


Karena diserang, Alma pun balas menyerang dengan Pukulan Bandar Emas. Sinar emas menyilaukan mata melesat mengadu dengan bola sinar biru Barong Gula. Ledakan adu tenaga sakti terjadi keras.


Alma Fatara terjajar setindak saja. Namun bagi Barong Gula, tubuhnya terlempar terjengkang dan jatuh di petak sawah dalam kondisi terluka dalam. Akhirnya Barong Gula juga main lumpur-lumpuran.


“Kang Garam, bukankah kau memiliki tenaga dalam? Pakai keris hebat itu!” seru Alma kepada Garam Sakti.


Mendapat petunjuk dari pemimpin, Garam Sakti buru-buru menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam keris. Garam Sakti langsung bisa merasakan kekuatan keris yang sejak tadi tidak terlepas dari tangannya.


Zess! Bress!


“Wak!” jerit Garam Sakti terkejut seperti perawan, saat dari kerisnya melesat liar sinar hijau dan membakar sejenak lumpur di depan kakinya.


“Hahaha! Awas!” tawa Alma melihat Garam Sakti yang belum sempurna mengendalikan keris pusaka itu. Lalu ia cepat memperingatkan ketika Barong Gula sudah bangun sambil melesatkan sebola sinar biru.


Sess! Blar!


Bola sinar biru kembali Barong Gula lesatkan menyerang. Garam Sakti gesit melompat menghindar ke samping, sambil menusukkan keris pusaka di tangannya, mirip aksi penjaga gawang yang melompat jatuh demi menggapai bola.


Zess! Blep!


Sinar garis hijau yang melesat dari Keris Petir Api tepat mengenai pinggang Barong Gula.


“Aaak! Panas!” jerit Barong Gula ketika api hijau menyala membakar di area pingangnya.


Buru-buru Barong Gula melompat terjun ke dalam lumpur, lalu berguling-guling guna memadamkan api level serius di badannya.


“Hei, Paman!” panggil Alma. “Apakah masih mau melawan?”


Situasi Barong Gula tidak bagus, sebab ada Alma sakti di sisi atas dan Garam Sakti telah berdiri tidak jauh darinya. Garam Sakti bisa tinggal menusukkan keris di tangannya untuk membakar.


“Baik, baik, aku menyerah!” teriak Barong Gula terpaksa.

__ADS_1


“Woooi, warga desa! Kita menaaang!” teriak Alma kencang.


“Horeee!” sorak kelompok pimpinan Sandung Wicara dan warga desa yang mendengar hal itu.


Mereka segera beramai-ramai mendatangi Alma.


Barong Gula juga sudah berkumpul bersama Jabrang. Mereka sama-sama terluka fisik dan dalam. Barong Gula mengalami luka bakar yang cukup serius pada badannya.


“Paman-Paman! Bersediakah kalian meninggalkan Desa Turusikil ini bersama orang-orang Perampok Kelabang Setan?” tanya Alma kepada Dua Jagoan Hutan Kendil yang sudah tidak bertaji.


“Baik, kami akan pergi,” ucap Jabran.


“Ki Sandung! Coba periksa Ki Rampe Ulon, apakah masih hidup atau pura-pura mati!” perintah Alma, menunjukkan wibawanya.


“Baik!” sahut Sandung Wicara.


Sandung Wicara dan Jengkis lalu turun ke sawah untuk memeriksa kondisi Ki Rampe Ulon.


“Sudah mati!” teriak Sandung Wicara setelah memeriksa tanda-tanda kehidupan pada tubuh pimpinan penjahat itu.


“Waduh, kok mati?” ucap Alma terkejut.


“Ki Rampe Ulon sudah mati! Ki Rampe Ulon sudah mati!” teriak seorang warga desa dengan gembira sambil jingkrak-jingkrak.


Maka ramailah warga desa yang bergembira, seperti kegembiraan kodok ketika hujan datang setelah kemarau berlalu.


Para anak buah Ki Rampe Ulon pun ramai kasak-kusuk karena heboh dan terkejut.


“Baik, kami berjanji!” tandas Jabran.


“Jika aku mendengar kalian mengganggu warga desa ini lagi, aku akan mencari kalian sampai ke lubang gigi! Hahaha!” ancam Alma, tapi disusul dengan tawanya gegara menyebut “lubang gigi”.


“Hahaha!” tawa Garam Sakti yang tampil sudah seperti makhluk lain alam.


Jabran dan Barong Gula lalu berbalik pergi. Mereka mengajak para anak buah Ki Rampe Ulon yang masih bisa berjalan. Bahkan ada yang sampai digotong bersama-sama karena masih hidup tapi tidak bisa berjalan akibat luka.


Semua warga desa, baik itu lelaki dan wanita, kecil muda tua, merayakan kemenangan itu. Mereka pun mengelu-elukan Alma Fatara sebagai pahlawan.


Saat itu juga, nama Sandung Wicara dielu-elukan sebagai calon kepala desa baru.


“Alma, aku kembalikan keris ini,” kata Garam Sakti sambil menyodorkan Keris Petir Api yang masih di tangannya.


“Buat Kang Garam saja. Itu pusaka hebat loh, Kang. Sayang kalau enggak mau diambil,” kata Alma.


“Ah, yang benar, Alma?” tanya Garam Sakti seraya tersenyum, seolah tidak percaya.


“Iya. Aku tidak butuh. Senjataku lebih hebat dari yang itu,” tandas Alma.


“Waaah! Terima kasih, Alma, terima kasih!” ucap Garam Sakti begitu gembira.


“Ayaaam!”


Tiba-tiba ada teriakan seorang wanita dari kejauhan.

__ADS_1


Wanita muda itu mengenakan pakaian warna kuning gading. Penampilannya seperti seorang pendekar wanita. Ia membawa sebuah pedang dan satu buntalan kain. Saat jauh ia terlihat cantik, tetapi ketika mendekat, ternyata memang cantik.


“Yuyuuu!” teriak Sandung Wicara girang sambil berloncat-loncat di tempat dan melambaikan tangan.


“Ayaaam!” teriak wanita cantik itu lagi, kali ini sambil berlari datang mendekat.


“Yuyuuu!” panggil Sandung Wicara pula sambil berlari menyambut, mirip adegan lagu cinta film Bollywood.


Bduk!


“Hahaha …!” tawa terbahak seluruh warga desa, terutama Alma, saat melihat Sandung Wicara tersandung batu yang terlantar.


“Ayaaam!” sebut gadis itu cemas sambil buru-buru mendapati Sandung Wicara. “Ayam tidak apa-apa?”


“Ayah, aku ayahmu, bukan ayammu!” ralat Sandung Wicara sambil bangun duduk berjongkok.


“Ah, salah sedikit saja, tidak apa-apa. Hihihi!” kata gadis cantik itu sambil mendorong keras bahu Sandung Wicara, membuat orang tua itu terdorong terjengkang.


“Hahaha …!” tawa warga desa lagi.


“Siapa itu, Kang Jengkis?” tanya Alma sambil tertawa kepada Jengkis.


“Itu Ayu Wicara, putri Sandung Wicara yang pergi berguru sakti,” jawab Jengkis.


“Tidak jauh beda dengan ayahnya, omongannya suka terpeleset,” kata Baling Wong. Lalu tanyanya kepada dirinya sendiri, “Apakah Ayu rindu kepadaku, ya?”


“Hahaha!” tawa Alma mendengar kata-kata Baling Wong.


“Dia hanya rindu dengan ayamnya,” timpal Jengkis.


“Ayahnya!” ralat Baling Wong.


“Buktinya, dia menyebut Ayam,” debat Jengkis.


“Hahaha!” tawa Alma berkepanjangan.


Akhirnya ayah dan anak, yakni Sandung Wicara dan Ayu Wicara, saling berpelukan seperti Teletubbies.


“Ayam, siapa orang-orang tadi? Mereka sepertinya orang hajat,” tanya Ayu Wicara, merujuk pada Jabran dan Barong Gula bersama anak buah Ki Rampe Ulon.


“Orang jahat, bukan orang hajat,” ralat Sandung Wicara. “Mereka itu perampok yang menguasai desa kita ….”


“Akan aku kejar mereka. Biar aku beri pelayaran!” kata Ayu Wicara dengan wajah marah.


“Eeeh, mereka sudah kita usir, tidak perlu kau beri pelajaran. Kita ditolong oleh seorang pendekar wanita sakit,” kata Sandung Wicara.


“Wanita sakit bisa menghadapi para perampok itu?” tanya Ayu Wicara terkejut.


“Bukan wanita sakit, tapi wanita sakti,” ralat Sandung Wicara. “Ayo aku kenalkan kau dengannya. Dia secantik kau, Yuyu.”


“Namaku Ayu, Ayam, bukan Yuyu,” ralat Ayu Wicara.


“Hehehe!” kekeh Sandung Wicara lalu menarik tangan Ayu sepeti ayah menarik tangan anaknya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2