
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
Di kala Alma Fatara dan Jejak Langit masih berhadapan, orang yang pertama tiba di area belakang perguruan itu adalah Rereng Busa, Ki Sagu Gelegak dan Nyi Bungkir. Mereka datang ke tempat itu karena mendengar suara ledakan adu kesaktian yang keras.
Alma Fatara melirik sejenak siapa saja yang datang, tentu ia tidak mau jika nyawa Demang Baremowo terancam. Melihat keberadaan dua orang sakti Perguruan Jari Hitam sudah berdiri di tempat itu, Alma bisa lega, meski ia melihat Nyi Bungkir langsung masuk ke dalam kamar tempat suaminya dirawat.
Alma kembali fokus kepada lawannya, yaitu Jejak Langit yang berdiri dalam kondisi sudah terluka enam sayatan besar pada tubuhnya.
“Kita lanjutkan, Paman Jejak Langit!” seru Alma.
“Iya, sepertinya mau kabur pun akan percuma,” kata Jejak Langit.
Tempat itu semakin ramai dengan munculnya para murid senior Perguruan Jari Hitam. Disusul rekan-rekan Alma. Mereka semua akhirnya hanya bisa menonton.
Jejak Langit lalu melakukan gerakan tangan bertenaga dalam yang berujung dengan saling bertautannya kesepuluh jari tangannya.
Sesst!
“Awas, Amal!” teriak Ayu Wicara mengingatkan Alma.
Alma tidak melihat bahwa pedang panjang Jejak Langit yang ada di dinding kamar, tiba-tiba bersinar kuning dan bergerak-gerak. Klimaksnya, pedang itu melepaskan diri dari dinding dan melesat ke tangan tuannya.
“Hahahak!” Alma yang sempat waspada terhadap pedang itu, mendadak tertawa karena mengingat teriakan Ayu Wicara yang menyebutnya “Amal”, untung tidak pakai “Soleh”.
Jejak Langit telah menggenggam kuat pedang panjangnya yang bersinar kuning. Ia tempelkan sisi pedangnya pada keningnya, membuat ada aliran sinar kuning yang mengalir masuk ke dalam tubuh Jejak Langit, seolah memberi kekuatan tambahan.
“Sepertinya kau sudah perkasa kembali, Paman Jejak!” kata Alma.
“Dan inilah pertarugan terakhir kita!” teriak Jejak Langit lalu maju dengan putaran pedang yang sangat berbahaya.
Tanpa rasa takut, Alma justru maju memepet Jejak Langit dengan gerakan-gerakan yang begitu cepat.
Blar blar blar …!
Pedang Jejak Langit sangat berbahaya, kibasannya saja bahkan menciptakan ledakan tenaga di tanah yang dilalui atasnya. Namun, kehebatan itu justru tidak membahayakan Alma yang bertarung gaya rapat seperti ayam mau kawin, tetapi malah membuat takut para penonton.
Pada satu ketika, putaran pedang panjang Jejak Langit berkelebat di dekat area penonton, sejumlah ledakan tercipta di sekitar para penonton. Setelah kejadian itu, Rereng Busa memilih memasang pagar gaib sebagai pelindung aman bagi para penonton.
Ketika Alma bermain rapat, maka pedang panjang tidak terlalu berguna. Alma dengan cekatan mematikan setiap gerakan tangan Jejak Langit pada pedangnya, yang mencoba melukai Alma menggunakan gagang atau pangkal pedang.
Set set set!
“Aakh!” jerit tertahan Jejak Langit dengan pedang yang jatuh terlepas dari genggaman.
Dua sisi pinggir telapak tangan Alma mencacah tangan kanan Jejak Langit. Persis seorang chef profesional sedang mencacah daging hingga halus dengan kecepatan tinggi. Tangan Alma yang setajam pisau daging itu membuat tangan Jejak Langit tidak berbentuk lagi. Mengerikan.
Semua mata terbelalak melihat tangan kosong Alma bisa seperti pedang. Bahkan teman-temannya saja baru mengetahui bahwa tangan Alma bisa menjadi senjata berbahaya.
“Hukuman terakhir!” seru Alma. Sambil melompat mundur ia menghentakkan kedua lengannya kepada Jejak Langit.
Seset seset seset …!
__ADS_1
“Ak ak ak …!” jerit Jejak Langit berulang-ulang ketika tahu-tahu lehernya serasa ditusuki jarum bertubi-tubi dan ritmenya sangat cepat.
Semua orang bisa melihat leher Jejak Langit yang tertutupi oleh kain cokelat, berubah warna menjadi gelap dan basah, seolah banyak darah yang keluar dari leher Jejak Langit dan membasahi kain penutup wajah bawahnya.
Para penonton hanya bisa takjub karena mereka tidak melihat Alma melakukan serangan. Tahu-tahu Jejak Langit sudah tumbang berlutut dengan kain penutup lehernya telah bersimbah cairan segar.
Hal yang terjadi sebenarnya adalah Alma melesatkan Benang Darah Dewa yang tidak terlihat. Lalu menusuki leher Jejak Langit berulang-ulang dalam ritme yang cepat.
“Paman Jejak Langit!” panggil Alma sambil menghampiri Jejak Langit yang sudah terlutut dan tubuhnya mulai gontai hendak tumbang. “Siapa orang yang membayarmu?”
“Nyi … Kenanga,” ucap Jejak Langit pelan.
Bug!
Akhirnya tubuh Jejak Langit tumbang ke depan. Ia benar-benar mati.
“Horreee! Hidup Amaaal! Hidup Amaaal!” teriak Ayu Wicara keras dan kegirangan.
“Hei, Ayu!” hardik Debur Angkara. “Namanya Alma Fatara, kenapa kau selalu menyebutnya Amal?”
“Oh, salah ya?” tanya Ayu Wicara seperti anak buah tanpa dosa. Ia lalu berteriak lagi, “Hidup Amal Fataraaa! Hidup Amal Fataraaa!”
“Hahahak …!” Pecahlah tawa mereka semua mendengar ulah Ayu Wicara. Tentunya tawa Alma yang paling menonjol.
“Sudah, semua bubar!” perintah Rereng Busa kepada para murid yang sudah tidak memiliki kepentingan, karena pertarungannya sudah berakhir.
Tidak berapa lama, area belakang perguruan itu tidak begitu ramai. Giling Saga mengatur murid-murid untuk membereskan enam mayat yang ada.
“Ayu!” panggil Alma. “Katanya kau mau senjata pusaka!”
“Iya, Amal!” sahut Ayu Wicara sambil berlari mendatangi Alma.
“Ini pedang bagus,” kata Alma sambil menyodorkan pedang milik Jejak Langit kepada Ayu.
“Pedang ini bagus sekali. Tapi terlalu panggang, Amal,” kata Ayu.
“Tidak apa-apa panjang. Nanti kau akan terbiasa memegang yang panjang-panjang. Hahaha!” kata Alma.
“Hahaha …!” tawa Magar Kepang, Debur Angkara dan Garam Sakti yang datang menghampiri kedua gadis cantik itu.
Jika pedang panjang itu diberdirikan, maka akan setinggi dagu Ayu Wicara.
Alma lalu mendatangi Rereng Busa yang berdiri bersama dengan Ki Sagu Gelegak.
“Apakah perkara dengan pasukan Demang sudah selesai, Kek?” tanya Alma.
“Sepertinya demikian. Dendeng Pamungkas sudah pulang dan mengungkapkan siapa penculik Gelis Sibening sebenarnya,” jawab Rereng Busa. Ia lalu melangkah pergi memasuki kamar.
Di dalam kamar itu tampak Nyi Bungkir sedang duduk di pinggiran dipan di sisi tubuh suaminya. Di kamar itu juga ada Dengkul Geni.
“Bagaimana, Demang?” tanya Rereng Busa.
__ADS_1
“Aku harus meminta maaf kepadamu, Ketua,” ucap Demang Baremowo.
“Perkara hilangnya Gelis Sibening sudah jelas. Pelakunya adalah Ninggat, putramu sendiri. Kondisi Dendeng Pamungkas pun tidak baik. Kedua tangannya rusak parah dan akan hilang fungsi untuk waktu yang lama,” ujar Giling Saga.
“Anak tidak tahu diri!” maki Demang Baremowo. “Dia pasti disuruh oleh Kenanga!”
“Eh, Paman Demang!” kata Alma menyela. “Tadi Paman Jejak Langit menyebut nama Nyi Kenanga, orang yang menyuruhnya untuk membunuhmu, Paman.”
“Apa maksudnya dia ingin membunuhku!” gusar Demang Baremowo.
“Dengkul Geni, bawa pasukan dan tangkap Nyi Kenanga malam ini juga. Bunuh orang yang menghalangi!” perintah Nyi Bungkir.
“Baik, Nyi!” ucap Dengkul Geni patuh.
Dengkul Geni lalu melangkah keluar.
“Alma, aku ucapkan banyak terima kasih kepadamu. Aku berutang nyawa kepadamu,” ujar Demang Baremowo.
“Gusti Benang, kau orang kaya, aku rasa kau bisa membakar utangmu itu!” timpal Ayu Wicara.
“Hahahak!” tertawa ramailah mereka, kecuali Nyi Bungkir yang dingin. Demang Baremowo tersenyum.
“Mana ada utang dibakar, yang ada itu utang dibayar, Ayuuu!” kata Magar Kepang.
“Yang bicara dibakar itu siapa, Ki,” bantah Ayu Wicara dengan wajah merengut.
“Sudah kewajibanku, Pamang Demang. Kami tidak minta apa-apa. Aku hanya berharap, Perguruan dan Kademangan damai dan bisa saling menguatkan,” kata Alma.
“Yah, tidak jadi dapat uang biawak,” keluh Ayu Wicara kecewa.
“Hahahak!” tawa mereka lagi.
“Baik, Alma. Sebagai wujud dari niat baikku, aku akan menjodohkan Gelis Sibening dengan Dendeng Pamungkas!” tandas Demang Baremowo.
“Waaah!” sorak ramai Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara. Sementara yang lain hanya tersenyum gembira.
“Semoga dengan perjodohan itu, permusuhan ini bisa terhenti,” ucap Rereng Busa.
“Berarti tugasku sudah selesai terhadap dirimu, Paman Demang. Besok pagi kami bisa melanjutkan perjalanan,” kata Alma.
“Alma!” panggil Ki Sagu Gelegak.
“Iya, Kek?” sahut Alma.
“Aku bisa memberikan sedikit pengobatan kepada nenekmu, tetapi belum bisa menyembuhkan,” ujar Ki Sagu Gelegak.
“Aku akan tanyakan lebih dulu kepadanya,” kata Alma.
“Lalu kapan Kakang akan pulang?” tanya Nyi Bungkir kepada suaminya.
“Besok,” jawab Demang Baremowo.
__ADS_1
“Aku akan menemani di sini sampai besok,” kata Nyi Bungkir. (RH)