
*Alma Fatara (Alfa)*
Ki Rampe Ulon adalah seorang lelaki berusia separuh abad yang terbilang gagah. Tubuhnya berotot dengan batang leher yang kokoh. Namun, seolah ia berusaha bersikap rendah hati dengan mencoba menutupi keperkasaan raganya menggunakan pakaian warna biru terang. Kepalanya yang berambut gondrong sebahu diikat dengan kain warna putih. Di belakang pinggangnya ada sebuah keris bagus berwarna hijau gelap.
Saat ini Ki Rampe Ulon sedang bertelekan di balai-balai kebesarannya. Kakinya yang terlonjor sedang dipijat oleh dua orang wanita muda desa. Mereka berkulit putih bersih dan hanya mengenakan kain pinjung sedada, membuat sisi atas bukit mereka terbusung indah.
“Lapor, Ki! Ada tamu perempuan cantik, Ki!” lapor seorang anak buak Ki Rampe Ulon yang berseragam hitam-hitam.
“Secantik dia?” tanya Ki Rampe Ulon sambil menunjuk salah satu gadis yang memijat betisnya.
“Lebih cantik, Ki,” kata pelapor itu yakin.
Sepasang mata Ki Rampe Ulon jadi mendelik berbinar. Ia cepat bangun duduk. Kakinya ia tarik dari pijatan.
“Gadis itu mengaku utusan dari Demang Baremowo, Ki!” ujar pelapor itu lagi.
“Apa?!” pekik Ki Rampe Ulon terkejut. Lalu katanya, “Kau katakan saja bahwa aku sedang terkena penyakit yang sangat menular!”
“Ki Rampe Ulon! Ternyata kau pengganti Kepala Desa yang tewas itu!” kata satu suara wanita yang tiba-tiba muncul di depan rumah besar itu.
“Kurang ajar!” maki Ki Rampe Ulon lirih seraya mengerenyit tidak sakit. Ia cepat mengusir kedua gadis tukang pijatnya, “Kalian cepat pergi!”
Kedua gadis itu buru-buru pergi dan lewat di depan wanita cantik yang tadi berteriak, yang tidak lain adalah Alma Fatara. Di belakang Alma Fatara berdiri Garam Sakti, pendekar desa yang otot badannya lebih besar dari puya Ki Rampe Ulon.
Si penguasa desa itu sendiri buru-buru bangun berdiri. Empat anak buahnya segera bergeser mengawal Ki Rampe Ulon.
“Apa kau mengenalku, Rampe Ulon?” tanya Alma Fatara sambil berjalan seenaknya di depan Ki Rampe Ulon, lalu duduk di balai-balai kebesaran. Ia duduk layaknya seorang wanita berpangkat dan bermartabat. Tadi dia sempat diajarkan oleh Warna Mekararum bagaimana cara pejabat duduk.
Garam Sakti setia mengikuti di belakang Alma. Ketika Alma duduk, dia berdiri di samping kanannya.
“Ti-ti-tidak, Gusti!” ucap Ki Rampe Ulon tergagap.
“Sebagai seorang pemimpin Perampok Kelabang Setan, berani-beraninya kau mengaku sebagai orangnya Demang Baremowo. Apa kau sudah tidak sayang nyawa, Rampe Ulon?” kata Alma Fatara yang bersikap dingin, padahal ia sejak tadi menahan tawanya.
Terkejut Ki Rampe Ulon karena telah diketahui.
“Aku ingin memerasmu, Ki!” ujar Alma Fatara.
“Maksud, Gusti … aku akan memenuhi permintaan Gusti, tetapi aku tidak dilaporkan kepada Demang Baremowo?” tanya Ki Rampe Ulon menerka.
“Rupanya kau pintar, Ki,” puji Alma.
Seorang anak buah Ki Rampe Ulon datang dan berbisik kepada Ki Rampe Ulon.
__ADS_1
“Ketua, ada yang aneh dengan wanita ini!” bisik si anak buah.
“Apa?” tanya Ki Rampe Ulon berbisik pula.
“Perempuan ini terlalu muda. Jika dia utusan dari Demang, kenapa dia tidak berkuda atau membawa prajurit,” bisik si anak buah.
“Hei!” hardik Alma Fatara mendelik garang sambil tangan kanannya mengibas.
Wuss! Brakr!
Satu angin tenaga dalam dilepaskan oleh Alma yang membuat kedua lelaki di depannya itu terdorong mundur tanpa kendali. Keduanya sama-sama menabrak jebol dinding gedeg sisi teras rumah kepala desa itu.
“Beraninya kalian berbisik-bisik di depanku!” sentak Alma Fatara marah. Lalu perintahnya kepada Garam Sakti, “Robohkan rumah kepala desa ini!”
“Eeeh, jangan!” teriak Ki Rampe Ulon berusaha mencegah Garam Sakti.
Brak! Bsruak!
Namun, Garam Sakti sudah mengayunkan lengan besarnya, mematahkan satu tiang penyanggah atap teras rumah itu. Tiang dari bambu itu patah, membuat separuh atap teras ambruk.
Sontak Ki Rampe Ulon dan dua anak buahnya berlompatan ke depan rumah.
“Kumpulkan anak buah! Perempuan itu bukan utusan Demang Baremowo!” teriak Ki Rampe Ulon tiba-tiba.
“Perempuan itu malah tertawa?” kejut Ki Rampe Ulon.
“Rupanya kau memilih cara keras, Ki Rampe Ulon!” seru Alma Fatara.
Tak! Bak!
“Hukh!” keluh Ki Rampe Ulon saat terjangan Alma Fatara berkelebat cepat keluar dari teras dan langsung menendang dadanya. Ia hanya mampu menangkis sekali.
Ki Rampe Ulon terjengkang.
“Seraaang!” teriak sejumlah lelaki bergolok datang berombongan.
Tangan kiri Alma lurus ke belakang menyedot udara dalam jumlah besar dan cepat, sehingga pakaiannya mengembang seperti balon.
Wuss!
Saat Alma Fatara menghentakkan lengan kanannya, bertiup dan menderu angin kencang yang langsung menerbangkan para lelaki itu. Itulah ilmu pukulan Sedot Tiup.
“Cincaaang!” teriak sejumlah lelaki lagi dari sisi yang berlawanan.
__ADS_1
Wuss!
Alma Fatara melakukan hal yang sama. Segulung angin dahsyat menerbangkan para anak buah Ki Rampe Ulon lalu jatuh berserakan. Mereka semua menggeliat kesakitan, entah tulang anggota tubuh mana yang patah atau minimal terkilir.
Dari jauh terlihat sejumlah lelaki datang berlarian dengan golok yang sudah mereka hunus. Mereka begitu bersemangat untuk menolong tuan mereka.
“Giliranku menyerang!” teriak Ki Rampe Ulon sambil maju dengan tekhnik serangan cakar.
Meski tidak berkuku panjang, tetapi kesepeuluh jari tangan Ki Rampe Ulon membara merah. Ki Rampe Ulon memang orang yang mengerti cara bertarung.
Serangan cakar Ki Rampe Ulon sangat berbahaya karena sepanas bara api. Namun, meski berbahaya, tetapi gerakannya masih kalah cepat dengan Alma. Untuk sementara Alma hanya menghindar saja, seolah takut untuk menangkis, takut tersundut bara jari.
Akhirnya, para anak buah Ki Rampe Ulon yang berjumlah sembilan orang, angka bagus, tiba di lokasi pertarungan.
Para anak buah Ki Rampe Ulon adalah jatah Garam Sakti.
Bak bak bak …!
Oooh! Untuk pertama kalinya Garam Sakti unjuk kehebatan ilmu olah kanuragannya. Ternyata dia bukan garam kaleng-kaleng. Meski besar, ia termasuk lincah menghindari serangan-serangan golok, lalu menghantam lawan-lawannya satu demi satu dengan tinju besarnya. Hasilnya, para anak buah Ki Rampe Ulon yang sudah merasakan bogem matang Garam Sakti, tidak mau minta tambah karena saking asinnya.
Ki Rampe Ulon semakin bersemangat karena melihat Alma Fatara tidak berani menangkis serangannya.
“Kenaaa!” teriak Alma sambil menangkap kelima jari tangan kanan Ki Rampe Ulon yang membara.
Alangkah terkejutnya Ki Rampe Ulon ketika tahu ternyata wanita muda itu kebal terhadap panas bara.
Krekr!
“Aakk!” jerit Ki Rampe Ulon ketika jari-jarinya ditekuk ke atas oleh Alma sehingga terdengar berpatahan.
Buk!
Selanjutnya, satu tendangan menusuk keras menghajar perut Ki Rampe Ulon, membuatnya terjengkang sambil masih menjerit.
“Heaaat!”
Dari dua arah, para anak buah Ki Rampe Ulon yang sudah bugar lagi, menyerang beramai-ramai ke arah posisi Alma.
Sementara itu, warga Desa Turusikil hanya menyaksikan keributan itu dari jauh. Mereka semua tampak senang ada pendekar yang bisa menghajar Ki Rampe Ulon dan anak buahnya. Namun, kegembiraan itu mereka masih sembunyikan, mereka masih malu-malu takut.
Wuss! Wuss!
Alma kembali melepaskan pukulan Sedot Tiup untuk menghempaskan para centeng-centeng tersebut. (RH)
__ADS_1