
*Alma Fatara (Alfa)*
Gadis yang usianya dua tahun lebih tua dari Alma Fatara itu bernama Ayu Wicara. Dia anak semata wayang dari Sandung Wicara. Dua tahun lalu, Ayu Wicara izin kepada kedua orangtuanya untuk pergi menuntut ilmu kesaktian olah kanuragan.
Hari ini dia telah kembali dengan mengaku sebagai seorang gadis yang sakti. Kepulangannya tepat di hari ketika para perampok sudah diusir oleh Alma Fatara dan kawan-kawan.
“Yuyu, kau harus ikut bersama Pendekar Alma Fatara, pepaya kau bisa menjadi sakti juga!” tandas Sandung Wicara.
“Bukan pepaya, Ayam. Yang benar adalah supaya,” ralat Ayu Wicara. “Meski dia berhasil mengalahkan para perampok desa itu, tapi bukan berarti dia lebih sakit dariku!”
“Bukan sakit, Yuyu, tetapi sakti!” ralat Sandung Wicara.
“Hahahak …!” tawa Alma dan yang lainnya mendengar saling ralat antara ayah dan anak itu.
“Jika perempuan ini lebih sakit dariku, jangankan mengikutinya, menyembahnya pun akan aku lakukan!” tandas Ayu Wicara.
“Maksudmu, kau mau menantangku bertarung, Ayu?” tanya Alma.
“Iya. Aku menantangmu bersarung. Jika kau lebih sakit dariku, maka aku akan cecuruti perkataan ayamku!” kata Ayu Wicara.
“Hahahak …!” tawa Alma berkepanjangan. Lalu katanya sambil menahan tawanya, “Boleh boleh boleh. Jika aku kalah, aku akan memberikan Garam Sakti kepadamu untuk dijadikan suami.”
“Hah!” kejut Garam Sakti yang masih dalam kondisi tubuh dan pakaian penuh lumpur.
“Ayo kita mulai!” seru Alma.
“Kau harus kalah, Yuyu!” teriak Sandung Wicara.
“Tidak, aku harus benang!” teriak Ayu Wicara.
“Menang, Ayu Sayang! Bukan benang!” teriak Baling Wong menyemangati dan meralat.
“Jaga kelapa!” pekik Ayu Wicara sambil melompat dan mengibaskan tendangannya kepada Alma Fatara.
Tak!
Alma tanpa menghindar, ia tangkis tendangan itu dengan batang tangan kanannya. Hasilnya, Alma bergeming, sementara Ayu Wicara mendarat dengan sedikit terdorong, membuatnya nyaris jatuh.
Di saat Ayu Wicara mendelik, Alma justru tersenyum kepadanya.
Sandung Wicara dan warga lainnya segera mundur memberi ruang bagi pertarungan dua wanita cantik tersebut.
“Tahan sarangan!” teriak Ayu Wicara sambil melompat melakukan serangan kedua yang lebih keras.
Ia naik ke udara dengan tendangan yang lebih keras.
Tap! Tap!
Alma belum menghindar atau bergeser dari posisi berdirinya. Ia menangkap tendangan kaki kanan Ayu Wicara dengan tangan kirinya. Karena kakinya ditangkap, kaki kiri Ayu cepat menyusul menendang. Dengan telapak tangan kanan Alma menahannya. Namun, kuatnya tendangan Ayu yang terakhir kali ini mendorong Alma selangkah.
__ADS_1
“Hebat!” teriak Ayu Wicara lalu menyerang Alma dengan garang dan cepat.
Ayu mencoba melancarkan semua jenis pukulan dan tendangan yang ia kuasai. Dengan santai Alma meladeni amukan Ayu, tetapi tidak ada satu pun serangan Ayu yang berhasil menghajar Alma yang sejauh ini hanya bertahan.
“Ayo talas, Alma!” teriak Ayu.
“Aku bukan petani talas!” sahut Alma.
“Maksudku balas!” ralat Ayu.
“Baik!” sahut Alma.
Setelah itu, Alma akhirnya balas menyerang. Ayu dibuat mundur-mundur sambil menangkis dan menghindari serangan Alma. Ayu bahkan tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang. Namun, apa katanya?
“Hanya seperti inikah?” tanya Ayu sombong.
“Baiklah,” kata Alma seraya tersenyum.
Setelah itu, Alma merangsek maju dengan cepat, memepet Ayu, lalu melancarkan serangan tangan yang lebih cepat.
Bukbukbuk!
“Hukh!” keluh Ayu Wicara sambil terbungkuk menahan tiga tinju beruntun yang demikian cepat.
“Bagaimana, Ayu?” tanya Alma menawarkan.
“Kau menang jika tangan gosong!” kata Ayu belum mau mengaku kalah.
“Iya, itu maksudku!” kata Ayu. “Aku mau pakai rendang!”
“Pakai pedang, Ayu, bukan rantang!” ralat Baling Wong lagi.
“Eh, dengarkan saja, jangan banyak ompong!” Ayu menghardik Baling Wong.
“Hahaha …!” Alma dan warga tertawa terbahak mendengar kata-kata Ayu Wicara.
Hingga akhirnya suara tawa mereka reda.
“Ayu, jika kau bisa membuat kedua kakiku pindah tempat, maka kau aku anggap menang. Kau boleh menggunakan pedangmu,” ujar Alma Fatara.
“Wah!” desah Sandung Wicara dan para warga mendengar tantangan Alma.
“Bagaimana bisa tidak ke mana-mana di saat lawan bersenjata pedang?” tanya Garam Sakti yang menilai tantangan Alma tidak masuk akal.
Ayu Wicara sudah meloloskan pedangnya.
“Hiaat!” teriak Ayu Wicara sambil merangsek maju menyerang.
Set set set …!
__ADS_1
Dengan penuh ambisi, Ayu Wicara memainkan pedangnya, menusuk, menebas, dan mengayun. Namun, Alma dengan lincah dan cepat mengelaki pedang dan menangkis tangan Ayu yang memegang pedang. Meski hanya berpatok pada kaki kiri, Alma bisa mengelak dan menangkis dengan cepat, maju selangkah dan mundur selangkah, juga bisa meliuk seperti dahan tertiup angin.
Alma tetap berani bertarung merapat walaupun lawannya bersenjatakan pedang tajam.
Pada satu ketika, Alma maju selangkah sambil memiringkan badan atas sedikit ke belakang, membiarkan pedang lewat begitu saja. Sementara tangannya bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Ayu, lalu menotok beberapa titik tangan kanan itu, memberi kelemasan pada otot tangan Ayu.
Ting!
Akibatnya, pegangan tangan Ayu pada pedang melemas, membuat pedang itu terlepas jatuh.
Bak bak!
Lalu dua pukulan Alma mendarat pada dada Ayu, membuat gadis desa itu terjajar dua langkah.
“Bagaimana, Ayu?” tanya Alma.
“Baik, aku kalah, meski aku masih memiliki kesaktian terpendam,” kata Ayu dingin kepada Alma.
Alma hanya tersenyum lebar.
“Nah, seperti itu! Kau harus mengaku kalah!” seru Sandung Wicara. “Kau harus sikut dengan Alma, agar kau semakin hebat!”
“Ikut, Ketua, bukan sikut,” ralat Baling Wong.
“Iya,” ucap Sandung Wicara membenarkan.
“Nah, sekarang perampok sudah pergi dari desa ini, maka aku pamit, Kepala Desa!” ucap Alma kepada Sandung Wicara.
“Hah! Kepala Desa?” ucap ulang Sandung Wicara terkejut karena dirinya disebut Kepala Desa.
“Iya, Ki Sandung Wicara adalah kepala desa kita yang baru!” teriak Jengkis.
“Betul! Hidup Kepala Desa Sandung Wicara!” teriak Baling Wong pula.
“Hidup Kepala Desa Sandung Wicara!” teriak warga desa yang lain gembira.
“Hahaha!” tawa Sandung Wicara jumawa.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pula.
Akhirnya, Alma Fatara dan Sandung Wicara pergi menjemput Warna Mekararum, Magar Kepang dan Debur Angkara, bersama sejumlah warga yang menunggu di hutan.
Untuk sementara, rombongan Alma Fatara memutuskan bermalam di Desa Turusikil. Besok pagi barulah mereka akan melanjutkan perjalanan. Malam itu, warga desa berpesta sederhana untuk merayakan kebebasan mereka dari pendudukan yang dilakukan kelompok perampok.
“Alma, kenapa kau mengutamakan Garam Sakti? Aku juga ingin punya senjata hebat,” tanya Debur Angkara dengan wajah merengut. Ia cemburu karena Garam Sakti diberikan keris sakti oleh Alma, sedangkan dirinya tidak.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar kecemburuan Debur Angkara.
Debur Angkara merasa dirinya yang paling dekat dengan Alma, karena mereka satu desa sejak Alma masih bayi. Sementara Garam Sakit, ia baru kenal dengan Alma dalan sehari dua hari ini.
__ADS_1
“Jangan khawatir, Kang Debur. Kelak aku juga akan memberikanmu senjata pusaka. Senjata pusaka bukanlah penjamin atau penentu kita mati atau selamat. Pusaka itu memang rezekinya Kakang Garam Sakti,” ujar Alma mencoba menenangkan Debur Angkara.
“Baiklah. Aku akan jadi anak baik!” kata Debur Angkara seraya tetap merengut. (RH)