
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Gegara Garam Sakti yang kenyang angin, maklum dia tidak suka pakai baju, akhirnya rencana Alma Fatara dan geng berantakan oleh kentut ekspres dan kentut slow motion.
Ulah Garam Sakti yang kentut tanpa izin terlebih dahulu, diperparah oleh respon Alma yang tidak bisa menahan tawa.
Alangkah terkejutnya para prajurit yang ada di daerah terdekat di alun-alun pinggir sungai itu.
Sejumlah prajurit jaga yang mendengar suara tawa Alma di kegelapan malam, datang berlari dengan wajah dan sikap yang tegang menghampiri kedua prajurit patroli.
“Daruda! Suara siapa itu?!” tanya Gulong, prajurit yang sore tadi sempat bertemu dengan Alma dan Magar Kepang.
“A-a-aku ti-tidak tahu,” jawab prajurit patroli yang bernama Daruda. Ia tergagap dengan suara gemetar.
Gulong mendekatkan api obornya ke wajah Daruda dan rekan satu patrolinya. Terlihat wajah mereka pucat dan berkeringat, bukan karena usai olahraga malam, tetapi karena ketakutan.
“Dasar penakut!” maki Jalu, prajurit yang tadi sore berkelahi dengan Gulong.
“Hahahak …!” terdengar suara tawa Alma yang keras dan bergerak menjauh.
“Ayo kejar! Dedemit itu menuju ke sungai!” teriak prajurit lain yang bernyali kuat.
“Ayo ayo ayo! Kejaaar!” teriak Gulong penuh semangat sambil berlari duluan, karena temannya yang berkomando itu masih berdiri menunggu.
“Itu dedemit perempuan. Pasti lagi cari perhatian kita sebagai kaum pisangan!” celetuk Jalu pula sambil berlari di samping Gulong. Sepertinya dia telah melupakan sengketanya dengan Gulong.
Maka sebanyak tujuh orang prajurit segera berlari mengejar ke arah sungai. Mereka mengejar hanya bermodal mengikuti suara tawa Alma, karena mereka belum bisa melihat wujud pemilik suara disebabkan gelapnya malam.
Sementara Daruda dan rekannya yang sama-sama ketakutan, melangkah bertahap seperti anak usai disunat pisangnya. Satu kaki mereka kesemutan. Mereka memilih pulang ke basis penjagaan di tengah alun-alun.
“Kakang Garam Sakiiit! Kenapa Kakang begitu bocooor?” teriak Ayu Wicara geram bukan main, setelah tempat itu steril dari kehadiran prajurit. Ia cepat-cepat turun dari punggung Debur Angkara.
“Ma-ma-maaf. Hahaha! Perutku mules. A-a-aku mau buang kenikmatan dulu!” ucap Garam Sakti sambil cengengesan di dalam gelap.
“Buluan pergi sana!” sentak Ayu Wicara berang dengan wajah merengut level dewi.
“Hahaha!” tawa Debur Angkara karena mendengar kata “buluan” yang seharusnya “buruan”.
“Jangan tinggalkan aku!” pesan Garam Sakti lalu buru-buru pergi ke tengah-tengah semak belukar untuk buang hajat.
“Aku tidak sudi menunggumu!” rutuk Ayu Wicara. Lalu bentaknya kepada Debur Angkara, “Kenapa Kang Debur malah tertawa?”
“Hehehe! Kakang malu setelah Ayu memelukku,” jawab Debur Angkara cengengesan.
“Kalau malu kenapa terbawa!” dumel Ayu.
__ADS_1
Debur Angkara saat itu benar-benar berbahagia, sampai-sampai bunga-bunga di hatinya tidak kenal waktu untuk memekarkan diri. Insiden Ayu yang main tempel di punggungnya, baginya adalah suatu berkah.
Percekcokan ringan di antara mereka tidak terdengar dan tidak terlihat, sebab berada di dalam gelap dan sudah tidak ada orang lain di dekat mereka.
“Sekarang bagaimana, Kang Dengkur?” tanya Ayu Wicara.
“Hahaha! Kok Kang Dengkur? Kang Debur Angkara,” koreksi Debur.
“Tidak apa-apa salah sedikit saja,” kata Ayu Wicara.
“Kita tunggu Garam Sakti. Jika Alma belum datang, kita bergerak sendiri ke arah gudang,” kata Debur Angkara, kembali fokus kepada tugas mereka.
Sementara itu di sisi lain. Ketujuh prajurit yang hanya bermodal dua obor terus menuju sungai. Setibanya di pinggir sungai, mereka mendengar sesuatu.
Jbuur!
Ketujuh prajurit tersebut mendengar suara benda besar jatuh ke dalam air.
“Dedemitnya terjun ke dalam sungai!” kata Jalu terkejut.
Buru-buru mereka berlari ke pinggir sungai. Dua prajurit yang membawa obor mengangkat apinya tinggi-tinggi untuk melihat ke air sungai.
“Wah, dedemitnya sudah kabur!” keluh Gulong.
Wuss!
“Eh eh!” pekik Jalu ketika tubuhnya yang sedang melongoki air sungai terdorong ke depan. Tangannya refleks menggapai kepada temannya.
Sang teman yang juga sedang oleng, refleks meraih tangan Jalu. Lalu ia pun memegang tangan rekannya yang lain. Tapi berujung saling tarik.
Jbuur! Jbuur!
Ketiganya akhirnya jatuh tercebur ke air sungai yang dingin. Gulong dan tiga rekan lainnya justru sudah jatuh lebih dulu ke air.
“Hahahak …!”
Alma yang jadi biang keladi hanya tertawa sambil berkelebat pergi. Setelah itu ia menahan tawanya karena ingin fokus kepada misinya di malam itu.
Sebelumnya, ia melempar batang kayu ke sungai untuk mengecoh ketujuh prajurit yang mengejarnya. Akhirnya ia melepaskan angin pukulan bertenaga sedang hanya untuk mendorong ketujuh lelaki itu.
Alma Fatara akhirnya tiba di tempat Debur Angkara dan Ayu Wicara menunggu.
“Hahaha!” tawa Alma setibanya di depan kedua rekannya.
“Apa yang kau perkuat, Amal?” tanya Ayu Wicara.
Alma terpaksa tertawa cekikikan lagi mendengar pertanyaan Ayu.
__ADS_1
“Aku buat mereka semua tercebur ke laut. Eh, ke laut, ke sungai maksudku. Hahaha!” jawab Alma seperti orang latah, lalu tertawa terbatas. “Loh, ke mana Kang Garam?”
“Aku di sini, Alma!” sahut Garam Sakti sambil datang melompat dari kegelapan ke dalam kegelapan.
“Sudah beres buang kenikmatanmu, Garam?” tanya Debur Angkara.
“Hmm! Kok bau kue pantai?” tanya Alma sambil mengerutkan keningnya.
“Kang Garam, kau belum cobek!” tuding Ayu Wicara yang berbicara sambil menutup hidungnya sehingga terdengar sengau.
“Sudah. Aku cebok pakai rumput ilalang, tapi tadi aku menginjak kue pantaiku sendiri,” jawab Garam Sakti bernada anak yang tersalahkan.
“Hahahak!” tawa Alma dan Debur Angkara sambil membekap mulut mereka sendiri.
“Colok!” maki Ayu Wicara, tapi suaranya ditekan sehingga terdengar pelan tapi berat. Wajahnya merengut level dewi.
“Maaf,” ucap Garam Sakti.
“Sudahlah, ayo kita bergerak. Hihihi!” kata Alma, tapi masih cekikikan.
Mereka pun kembali bergerak. Meski bau kue pantai (kotoran manusia) cukup mengganggu penciuman mereka, tetapi mereka abaikan.
Mereka berhasil menyelinap memasuki alun-alun. Tidak ada prajurit yang melihat. Tinggal menuju ke gudang. Di sana di jaga prajurit.
“Tiarap!” perintah Alma berbisik tiba-tiba sambil buru-buru tiarap di atas rumput alun-alun yang pendek sependek pohon toge. Posisi mereka masih cukup jauh dari tujuan.
Ketiga rekan Alma cepat tiarap semua dan diam dengan wajah tegak memandang jauh.
Mereka tiarap karena dari dalam kegelapan di sisi seberang alun-alun muncul tiga orang berpakaian hitam-hitam. Salah satu dari ketiga orang itu membawa keranjang bambu yang terlihat jelas berisi seikat anak panah.
Mendelik sepasang mata Alma dan teman-temannya melihat anak panah itu.
Kedatangan ketiga lelaki berpakaian hitam itu juga seperti penyusup, karena muncul bukan dari jalur pintu alun-alun yang semestinya. Terlihat mereka pun waspada dengan mengamati keberadaan para prajurit yang berjaga.
Namun, ketika para prajurit penjaga gudang itu melihat kemunculan ketiga orang tersebut, prajurit penjaga segera membukakan pintu gudang yang ternyata tidak dikunci. Sepertinya para prajurit penjaga gudang mengenal ketiganya.
Ketiga lelaki langsung masuk, kemudian pintu ditutup lagi.
“Sepertinya ada yang mau main curang!” bisik Alma kepada rekan-rekannya.
“Berarti ada yang mendahului kita?” tanya Debur Angkara.
“Iya. Kita tunggu sebentar!” jawab Alma.
Tidak berapa lama. Pintu gudang dibuka dari dalam. Orang yang sama tetap membawa anak panah di keranjang yang dibawanya. Namun, ada perubahan bentuk posisinya, dan Alma menangkap perubahan itu.
Ketiga orang berpakaian hitam berjalan pergi begitu saja tanpa salam atau sepatah kata perpisahan. Mereka kembali ke arah semula mereka datang.
__ADS_1
“Pekerjaan kita sudah dikerjakan oleh orang lain. Ayo kita pulang!” bisik Alma mengambil keputusan. (RH)