
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Di antara kesembilan Petarung Panah yang masih bertahan, Arya Mungkara dan Bandeng Prakas saling menargetkan.
Set!
Arya Mungkara terkejut ketika anak panah Bandeng Prakas melesat begitu tipis di sisi wajahnya. Anginnya begitu terasa menggores kulit wajahnya. Mendapati kenyataan itu, Arya Mungkara jadi lebih bertindak hati-hati melawan Bandeng Prakas.
Namun, ia cepat balas memanah Bandeng Prakas. Dengan tangkas Bandeng Prakas mengibaskan satu kakinya menampar anak panah yang melesat. Selanjutnya, ia kembali memanah dengan bidikan-bidikan akurat kepada Arya Mungkara.
Dengan gesit, Arya Mungkara juga tangguh menghindari panahan-panahan dari Bandeng Prakas. Sesekali Arya Mungkara juga balas memanah, tetapi bisa dielaki pula oleh Bandeng Prakas.
Keborosan Bandeng Prakas dalam memanah membuatnya tersisa satu anak panah di tangannya, di saat anak panah Arya Mungkara masih ada lima batang.
“Sial! Tinggal satu. Ini harus membuatnya jatuh!” rutuk Bandeng Prakas ketika tersadar bahwa panahnya tinggal satu.
“Kakang Bandeng, selamat tinggal,” ucap Ninda Serumi lirih dan sedih melihat kondisi kekasihnya.
Dengan satu anak panah itu, rasanya sangat sulit bagi Bandeng Prakas akan menang. Jikapun ia berhasil lolos dari Arya Mungkara, masih ada Petarung Panah lainnya yang lebih berbahaya.
Set!
Arya Mungkara melesatkan anak panah keenamnya. Bandeng Prakas yang sudah merencanakan taktik serangan terakhir, langsung turun berjongkok, membiarkan panah Arya Mungkara lewat di atas kepala. Saat yang sama, dengan penuh konsentrasi ia bergerak cepat membidik dan lepas ekor anak panahnya.
Tuk! Dak!
Kotak kubus kecil anak panah Bandeng Prakas menghantam telak perut Arya Mungkara yang dilanda kebimbangan. Ia bimbang memikirkan harus bagaimana menghindarnya. Sedetik berpikir, maka akan fatal.
Namun, pada saat bersamaan, nasib nahas menimpa Bandeng Prakas pula. Tahu-tahu satu anak panah milik Arung Seto menghantam pelipisnya, memaksanya tersentak ke belakang.
Akibatnya, Bandeng Prakas hilang keseimbangan dan jatuh dari atas gawang.
Apa yang dikhawatirkan oleh Ninda Serumi akhirnya terjadi juga.
“Satu!” teriak Ragum Mangkuawan merujuk pada skor kekalahan Arya Mungkara. Kemudian dia berteriak lagi ketika melihat kejatuhan Bandeng Prakas, “Gugur!”
Ketika mendapat panah pada perutnya, titik lemah Arya Mungkara tercipta sesaat. Dan celah lemah itu ternyata ditangkap oleh Gegas Simanuk, salah satu Petarung Panah yang memiliki panah berkode.
Set! Tseb!
“Akh!” jerit Arya Mungkara saat panah Gegas Simanuk datang tanpa permisi.
Tubuh Arya Mungkara terlempar dari atas palang bambu yang dipijaknya dengan anak panah menancap di dada, tidak terpental.
Bduk!
__ADS_1
Arya Mungkara jatuh tengkurap di tanah berumput alun-alun.
“Arya!” pekik Adipati Marak Wijaya terkejut.
“Gugur!” teriak Ragum Mangkuawan.
“Aduuuh!” keluh kecewa para penonton pendukung Arya Mungkara. Mereka lemas. Bukan karena jago mereka kalah, tetapi karena uang taruhan mereka jelas raib.
Terlihat Arya Mungkara bergerak sebentar, lalu diam. Anak panah yang menancap di dadanya tertindih tidur oleh tubuhnya. Darah segar muncul mengalir membasahi rumput. Namun, tidak ada yang mengetahui hal itu.
Kecemasan melanda Adipati Marak Wijaya, tapi tidak mungkin hanya karena khawatir lalu dia turun ke arena pertandingan yang masih berlangsung.
“Mungkin Arya hanya pingsan,” pikir Adipati Marak Wijaya.
Namun, berbeda bagi penilaian Alma Fatara yang menyaksikan dari jauh. Sepasang alis cantiknya mengerut tanda ia heran.
“Sepertinya sesuatu terjadi pada Kakang Arya. Apakah dia mati? Bagaimana bisa mati? Panahnya tumpul. Semua yang terkena panah bisa bangkit kembali,” pikir Alma yang menaruh curiga melihat kondisi Arya Mungkara.
Memang, Petarung Panah yang sudah jatuh atau gugur, mereka hanya menderita luka memar yang tidak membahayakan. Ujang Barendo pun sudah bisa berdiri, meski menderita benjol besar.
Alma saat itu mencoba berpikir keras. Ia lemparkan pandangannya satu per satu, kepada arena pertandingan, kepada Pamong Sukarat, kepada anggota Lima Pendekar Sungai Ular yang tegang, seperti kawanan harimau yang sedang mengintai anak kambing.
Alma pun mengingat begitu patuhnya Pamong Sukarat saat ditangkap, padahal dia seorang berkesaktian. Alma juga langsung teringat kejadian di gudang tadi malam.
“Jika anak panah itu ditukar, berarti pengambil pertama yang berpeluang memegang anak panah palsu. Dua orang pertama pengambil anak panah kini mengeroyok Pangeran Derajat. Eh, bukankan dia pangeran kerajaan. Jika dia sampai terluka, maka bisa bahaya bagi Adipati yang mempunyai acara ini,” pikir Alma dengan kecepatan secepat cahaya. Lalu teriaknya kepada dirinya sendiri, “Pangeran jadi target!”
Dadak dadak!
“Hei!” teriak marah beberapa penonton tiba-tiba saat kepala mereka dijadikan pijakan untuk berlari oleh Alma.
Setelah itu, Alma kembali berkelebat cepat melewati atas kepala para prajurit.
“Hah!” kejut para prajurit yang mendongak ternganga melihat kelebat burung cantik berjubah hitam. Maksudnya bukan Alma yang punya burung, tetapi Alma seperti burung terbang.
“Berhenti!” teriak beberapa prajurit kepada Alma.
Seketika sejumlah prajurit sebagai perwakilan, berlari mengejar Alma yang masuk ke dalam alun-alun.
Pergerakan Alma Fatara itu jelas menarik perhatian seluruh penonton dan mereka yang ada di atas panggung utama. Alma berlari kencang menuju arena pertarungan panah.
Namun, tindakan Alma yang memancing keriuhan di kalangan prajurit dan penonton, tidak berpengaruh pada apa yang terjadi di atas dua gawang yang saling berhadapan.
Kini, Pangeran Derajat Jiwa telah kehabisan amunisi anak panah. Anak panahnya telah habis untuk menghujani Pendekar Mata Ular.
Set set!
Giliran Pendekar Mata Ular yang melesatkan lima anak panah secara berurutan dengan jarak yang begitu rapat.
__ADS_1
Namun, lima anak panah itu sanggup dielaki oleh gerakan lincah sang pangeran, membuat kelima anak panah tersebut lewat terus ke belakang dan menancap di tanah.
Terkejut Alma Fatara melihat jelas bahwa kelima anak panah itu bisa menancap kokoh di tanah, seharus tidak karena matanya tumpul.
“Bahaya!” desis Alma dengan hidung mengerut gusar.
Namun, selain Alma, tidak ada yang menyadari keanehan itu. Yang lainnya lebih fokus melihat tindakan Alma yang melanggar batasan dan melihat ke arena pertarungan yang tetap berjalan.
Tindakan Alma Fatara itu membuat Adipati Marak Wijaya, Bendahara Adya Bangira, Kepal Kepeng dan istri, serta tokoh lainnya bangun dari duduknya.
Set!
Sigap Pangeran Derajat Jiwa mengelak ketika satu anak panah dari Jenjer Mahesa justru ikut menyerangnya. Serangan itu begitu mengejutkan Pangeran Derajat Jiwa.
Serangan panah Jenjer Mahesa membuat Pendekar Mata Ular tersenyum tipis. Kejelian matanya langsung bisa menangkap lubang peluang pada diri Pangeran. Tangan kanannya dengan cepat mengambil dua anak panah sekaligus. Dengan cepat dua ekor yang sudah dipasang di senar busur, ditarik cepat.
Sementara itu, Alma kian dekat. Ia berlari ke arah gawang sebelah kiri, tempat Pangeran Derajat Jiwa, Gegas Simanuk, Balingga, dan Tiro Mulaga masih berdiri.
Seet!
Kali ini, dua anak panah yang dilesatkan Pendekar Mata Ular mengandung tenaga dalam, membuat dua anak panah itu melesat lebih cepat. Saking cepatnya, sampai membuat Pangeran Derajat Jiwa terpaku. Bukan karena jatuh cinta, tetapi karena tidak sempat bergerak untuk menghindar.
Slet!
Namun, semua Petarung Panah harus terkejut dengan kemunculan sosok berpakaian hitam yang berkelebat cepat di udara, terutama bagi Pendekar Mata Ular.
Tiba-tiba kedua anak panah yang melesat tertahan, tepat hanya sejengkal dari dada Pangeran Derajat Jiwa. Alma telah melesatkan dua helai ujung Benang Darah Dewa, yang cepat menangkap dengan kuat ekor kedua anak panah, sehingga tertahan, padahal lesatannya begitu cepat. Benang Darah Dewa lalu menarik kedua anak panah tersebut jauh dari tubuh sang pangeran.
Tidak ada dari para Petarung Panah itu yang bisa melihat pergerakan Benang Darah Dewa, sehingga mereka menyangka bahwa Alma menggunakan kekuatan mata atau pikirannya.
Set! Tseb!
“Akk!”
Dalam kejadian yang berlangsung begitu cepat itu, semua kembali dikejutkan oleh lesatan satu anak panah dari Jenjer Mahesa. Alma Fatara pun terkejut karena ia tidak bisa mencegah serangan itu.
Dengan jelas Alma Fatara dan beberapa Petarung Panah melihat, anak panah dari Jenjer Mahesa menghantam lambung kanan Pangeran Derajat Jiwa. Dan dengan jelas Alma melihat kayu kubus yang menjadi helm mata anak panah itu pecah dengan mudahnya, sehingga mata runcing si anak panah masuk menusuk lambung sang pangeran.
Pangeran Derajat Jiwa menjerit dengan tubuh terlempar ke belakang. Melihat anak panah itu menancap kokoh pada lambung sang pangeran, Petarung Panah lain yang tidak tahu-menahu tentang anak panah berkode, jadi terkejut bukan main.
“Pangeran!” sebut Alma terkejut, membuat para peserta ikut terkejut mendengar sebutan “pangeran”.
“Gusti Pangeran!” teriak Panglima Ragum Mangkuawam yang terkejut di atas panggung utama.
Wuss!
Alma Fatara melepaskan angin pukulan kepada Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa. Namun, keduanya dengan sigap berkelebat mundur menghindar.
__ADS_1
Ketika keduanya mendarat di tanah, mereka segera berkelebat untuk kabur. (RH)