
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Setelah melumpuhkan Pamong Sukarat dan Legi Kasep, Alma Fatara beralih pergi membantu Ayu Wicara bertarung melawan Si Cantik Mabuk. Wanita bersenjata kendi tanah liat itu baru saja membunuh Arang Saga.
Sebelumnya, Arang Saga menyerang Si Cantik Mabuk dengan permainan pedang yang cepat. Si Cantik Mabuk dengan santainya meliuk ke sana dan ke sini seperti wanita mabuk menghindari sentuhan pedang.
Glek!
Dengan gaya sempoyongannya, Si Cantik Mabuk masih sempat meneguk air kendinya. Air itu seperti air tajin yang warnanya keruh.
Fruuut!
Pada satu kesempatan, sambil menghindari tusukan pedang, Si Cantik Mabuk menyemburkan air di dalam mulutnya ke wajah Arang Saga.
“Aaak …!” jerit Arang Saga yang sontak memejamkan matanya. Sambil menahan rasa perih dan panas pada wajahnya, Arang Saga menyabetkan pedangnya.
Dengan muda Si Cantik Mabuk merangsek masuk ke depan Arang Saga dan menangkis tangan yang memegang pedang. Tangkisan itu membuat pedang terlepas dan jatuh.
Dak dak dak …!
Arang Saga yang tidak bisa melihat karena wajahnya disembur air keras, dihajar beruntun oleh punggung tangan halus Si Cantik Mabuk. Pukulan beruntun gaya mabuk itu menghantam dada Arang Saga. Pengawal pribada Kepal Kepeng itu terjajar beberapa tindak.
Set! Dak!
Selanjutnya, Si Cantik Mabuk melanjutkan serangannya dengan melesatkan kendi tanah liatnya yang antipecah. Kendi yang bukan sembarang kendi itu menghantam wajah Arang Saga yang kulitnya sudah rusak terkelupas.
“Akk!” jerit Arang Saga lagi sambil tumbang seperti batang pohon ditebang. Bukannya kendi yang pecah, justru kepala Arang Saga yang pecah. Maka matilah dia.
“Hiaat!”
Seet! Zeb!
Tiba-tiba ada suara teriakan seorang wanita lain selain Si Cantik Mabuk. Tahu-tahu telah ada sebilah pedang panjang dan besar yang mengayun dari atas ke bawah. Si Cantik Mabuk sigap mundur dua tindak, membiarkan pedang milik Ayu Wicara itu menebas tanah berumput.
“Tangan lari kau, Nenek Tua!” teriak Ayu Wicara, lalu dengan berat dia kembali mengayunkan pedang besarnya memutar. Ternyata kali ini Ayu Wicara tidak terbawa oleh pedangnya. Sepertinya ia sudah mulai bisa menguasai berat pedang itu.
Dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, Si Cantik Mabuk membungkuk sangat rendah demi mengelaki kibasan pedang.
“Beraninya kau menyebutku Nenek Tua, Bocah Kencur!” kecam Si Cantik Mabuk lalu melompat ke depan seperti gaya penjaga gawang melompat ke samping, sambil menghantamkan kendi yang dipegangnya.
Dak!
Kendi Si Cantik Mabuk menghantam kendi perawan Ayu Wicara, membuat gadis muda itu terlompat dan terjengkang jatuh bersama pedangnya.
Wuss!
__ADS_1
Ketika Si Cantik Mabuk hendak melanjutkan penghakimannya, tiba-tiba dari arah lain terdengar suara deru angin pukulan yang kuat. Ia buru-buru berkelebat tinggi menghindari serangan angin pukulan yang dilepaskan oleh Alma Fatara. Angin pukulan itu lewat tanpa mengenai sasaran apa pun.
Ketika Si Cantik Mabuk mendarat dari lompatannya, Alma Fatara sudah berdiri di hadapannya dengan tawa kecilnya yang santai.
Saat itu juga Si Cantik Mabuk dapat merasakan aura kesaktian benda pusaka yang bernama Bola Hitam. Aura kesaktian itu berasal dari tubuh Alma Fatara. Selama dalam misi perjalanannya, Alma memang belum pernah menggunakan atau mengeluarkan Bola Hitam. Selama ini dia masih mengandalkan kesaktian Benang Darah Dewa.
“Kita bertemu lagi, Kakak Mabuk,” sapa Alma Fatara ramah.
“Bagus, bisa sekalian aku merebut Bola Hitam darimu!” kata Si Cantik Mabuk.
“Tidak apa-apa sih, jika Kakak Mabuk bisa merebutnya,” kata Alma santai.
“Bagus! Rasakan keganasan jurus mabukku!” seru Si Cantik Mabuk lalu melesat maju melancarkan berbagai gaya pukulan di tangan kiri, sementara tangan kanan menjadikan kendi sebagai senjata.
Buk!
Baru beberapa gerak serangan, satu tendangan telah mendarat di perut Alma Fatara. Pasalnya, Si Cantik Mabuk yang menyerang dengan pukulan-pukulan gaya mabuk, tahu-tahu tanpa terduga kaki kanannya menendang dengan tiba-tiba.
Tendangan itu membuat Alma terjajar beberapa tindak, tetapi serangan Si Cantik Mabuk menyusul terlalu cepat.
Plak! Buk buk!
Tahu-tahu satu tamparan menghajar wajah cantik Alma, kemudian menyusul dua tinju pada dada. Kuda-kuda yang kuat membuat Alma tidak terjatuh, tetapi ia justru balas melompat dengan tendangan memutar.
Si Cantik Mabuk sigap menghindar dan balas melempar kendi mautnya.
Dak!
Pertarungan berhenti sejenak.
“Wah, baru kali ini wajah cantikku ditampar. Dan kau, Kakak Mabuk, kita sama-sama perempuan, kenapa kau menyerang kendiku?” protes Alma.
“Hihihi!” tawa Si Cantik Mabuk melihat reaksi Alma Fatara. “Jadi aku adalah orang yang pertama menamparmu dan menyentuh kendimu?”
“Tidak akan aku biarkan lagi. Ingat itu!” tandas Alma Fatara.
“Aku tidak boleh berlama-lama membunuhmu!” seru Si Cantik Mabuk lalu bergerak maju dengan ganas.
Serangannya kali ini lebih bertenaga dari sebelumnya. Namun, Alma Fatara juga menghadapinya dengan serius. Bahkan ia tidak tanggung-tanggung, pedang tangannya ia fungsikan dan Benang Dara Dewa ia aktifkan.
Wuut!
“Ak!” jerit Si Cantik Mabuk tiba-tiba dengan bokongnya tersentak kaget.
Saat tendangan mengibas Alma berkelebat menargetkan kepala, Si Cantik Mabuk melakukan kayang, membuat kaki Alma lewat di atas perutnya yang melengkung. Namun, tiba-tiba Si Cantik Mabuk merasakan bokong perawannya ditusuk oleh benda seperti jarum.
Tusukan itu memang tidak memberi luka berarti bagi seorang pendekar, tetapi cukup mengejutkan. Dan hal itu ternyata justru memancing emosi Si Cantik Mabuk.
__ADS_1
“Ternyata kau memakai cara curang, Gadis Kencur!” gusar Si Cantik Mabuk.
“Hahahak!” tawa Alma setelah agak lama tidak tertawa lepas.
“Habislah kau!” teriak Si Cantik Mabuk sambil tiba-tiba melontar tubuhnya ke depan.
Alma Fatara dibuat terkejut dan gelagapan menghindari serangan liar lawannya.
Bek!
Satu kibasan batang kaki Si Cantik Mabuk berhasil membabat perut Alma, membuat gadis berjubah hitam itu terdorong hilang keseimbangan dan nyaris jatuh.
Si Cantik Mabuk cepat manfaatkan momentum. Ia cepat meluruk memukulkan kendi di tangan kanannya. Namun, Alma menangkis batang tangan kanan Si Cantik Mabuk dengan batang tangan kirinya.
Set!
“Akk!” jerit Si Cantik Mabuk saat Alma menarik ke bawah tangan kirinya, mengiris batang tangan Si Cantik Mabuk.
Tangan kiri Si Cantik Mabuk cepat membalas dengan pukulan yang bertenaga dalam tinggi.
Dak! Set!
Namun, tangan kanan Alma menangkis dengan cara serupa, lalu menariknya ke bawah mengiris kembali batang tangan itu.
“Akk!” jerit Si Cantik Mabuk.
Setelah itu, Si Cantik Mabuk memilih mundur lalu memandangi luka sayatan pada kedua batang tangannya. Dengan tangan gemetar, Si Cantik Mabuk menuang air isi kendinya ke dalam mulut.
Fruuut! Fruuut!
Si Cantik Mabuk lalu menyemburkan air di dalam mulutnya ke kedua lukanya. Air semburan itu berfungsi sebagai obat.
“Tidak aku sangka, kedua tangan gadis itu bisa setajam pedang,” pikir Si Cantik Mabuk.
Setelah rasa perih pada kedua lukanya sudah hilang, Si Cantik Mabuk kembali bersiap. Ia kembali menuangkan air tuak ke dalam mulutnya. Air itu tidak langsung ia telan, tetapi ditahan di mulutnya.
Selanjutnya ia lambungkan kendinya yang telah bersinar hijau.
Tak!
Si Cantik Mabuk menendang kendinya sehingga melesat menyerang Alma Fatara. Gesit Alma Fatara menghindar. Pada saat itu, Si Cantik Mabuk datang dengan berlari miring condong ke depan seperti orang mau jatuh. Kesepuluh jari tangannya membara hijau.
Alma benar-benar berhati-hati agar tidak tersentuh oleh tinju atau tamparan tangan Si Cantik Mabuk. Alma bergerak lincah mampu mengimbangi kecepatan serang Si Cantik Mabuk.
“Kakak Mabuk, tanganmu panas sekali!” seru Alma sambil melengkungkan tubuh atasnya ke belakang, menjauhi tinju mabuk yang menyerangnya.
Fruut!
__ADS_1
“Ak!” pekik terkejut Alma ketika tiba-tiba Si Cantik Mabuk menyembur wajahnya dengan air yang ditahan di dalam mulut.
Alma Fatara cepat melompat mundur menjauhi Si Cantik Mabuk. (RH)