
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Melihat pergerakan dua nenek kembar yang bermaksud menyerang Alma Fatara, Debur Angkara dan Ayu Wicara yang posisinya lebih depan segera bertindak.
Seet!
Ayu Wicara lebih dulu dengan susah payah mengayunkan pedang besar dan beratnya, bermaksud menebas tubuh Nyai Delima yang datang lebih dulu.
Ternyata Nyai Delima sudah mengantisipasi kemungkinan adanya serangan penghadang, sehingga ia dapat menahan laju tubuhnya dan mengelaki bilah pedang yang besar. Selanjutnya, barulah dia berkelebat ke arah posisi Alma.
“Jaga Nenek Warna, Kang Garam!” seru Alma sambil berkelebat pergi ke sungai.
“Jangan lari kau, Bocah!” teriak Nyai Delima setelah singgah di bak pedati, tempat Alma barusan duduk. Ia cepat berkelebat mengejar Alma ke arah sungai.
Sementara itu, Debur Angkara melompat dari kudanya dan langsung menghadang Nyai Langsat di udara dengan tebasan dua golok birunya.
Dak! Baks!
“Akh!”
Namun, dengan mudahnya Nyai Langsat menangkis tangan Debur Angkara lalu menghantam dada kekar itu dengan keras. Debur Angkara memekik tertahan dan jatuh terjengkang di tanah jalan.
“Kacang Dengkur!” sebut Ayu Wicara terkejut, lalu buru-buru turun dari kudanya dan menghampiri Debur Angkara yang meringis kesakitan.
Nyai Langsat meninggalkan Debur Angkara dan lebih memilih turut mengejar Alma Fatara ke sungai.
Alma berlari di atas permukaan air sungai dengan begitu ringan, melewati arus deras dan sampai ke daratan seberang sana.
Nyai Delima dan Nyai Langsat juga berlari di atas permukaan air dengan begitu ringannya.
Wuss!
“Tikus Brojol!” maki Nyai Delima terkejut, saat mendengar deru angin yang bertiup kencang kepada mereka berdua yang sedang berada di atas tengah sungai.
Dalam posisi yang sedang berkelebat di atas air, kedua nenek kembar itu tidak bisa mengelak ketika angin pukulan datang kepada mereka.
Jbur jbur!
Tak ayal lagi, kedua nenek itu terhempas masuk ke dalam air.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara terbahak yang diikuti oleh tawa rekan-rekannya dan Empat Bunga Pesona.
“Ayo kita pergi!” ajak Bunga Dara kepada ketiga saudara seperguruannya.
Keempat gadis itu lalu pergi ke kudanya yang sedang asik merumput. Mereka tidak mau peduli dengan urusan nenek kembar dengan gadis berjubah hitam.
__ADS_1
“Hiah hiah hiah!” gebah para gadis berselendang meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, dua nenek kembar terbawa arus, tetapi keduanya bisa berjuang untuk tidak terus hanyut.
“Kalian pergilah dulu, aku akan menyusul lewat air!” seru Alma kepada rekan-rekannya.
“Baik!” sahut Magar Kepang.
Magar Kepang dan yang lainnya lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
Nyai Langsat dan Nyai Delima akhirnya kembali naik ke darat dalam kondisi kuyup.
“Hahaha!” tawa Alma melihat kondisi kedua nenek yang berseberangan sungai dengannya. Alma lalu berjalan pergi dengan santai di pinggiran sungai.
“Ikuti!” kata Nyai Langsat sambil ikut berjalan di pinggiran sungai.
Nyai Delima segera mengikuti. Mereka jadi berpikir dua kali untuk menyeberang, takut diserang seperti tadi. Alma sendiri bersikap tidak acuh dengan tetap berjalan. Sesekali ia melirik ke seberang seraya tersenyum melihat ulah kedua nenek itu.
Set set set!
Tiba-tiba Nyai Langsat melesatkan beberapa kerikil yang sempat-sempatnya ia pungut saat berjalan. Sebanyak lima kerikil melesat beruntun ke arah Alma Fatara.
Namun, jarak yang cukup jauh karena lebar sungai, membuat Alma Fatara dengan mudah menghindari serangan.
“Hahaha!” tawa Alma, membuat telinga kedua nenek itu memerah. Tawa itu terdengar seperti olok-olok dari seorang anak kecil kepada orang tua.
“Hei Nenek Serupa! Kalianlah yang kurang ajar. Mau merebut barang milik orang tapi tidak mau berkenalan dulu!” sahut Alma membalas.
“Apakah kau akan memberikan pusaka itu cuma-cuma jika kami memperkenalkan diri, hah?!” bentak Nyai Langsat.
“Hahaha! Ya tidak, Nek!” sahut Alma. “Setidaknya kalian bisa mengajarkan kaum muda bagaimana cara merampok yang sopan. Hahaha!”
“Kurang ajar! Kau menyamakan kami dengan perampok?” maki Nyai Delima.
“Jika bukan perampok, apa dong namanya?” tanya Alma.
“Pangambil!” jawab Nyai Delima.
“Jiahahaha …!” Alma tertawa terbahak.
Zest!
Ketika tawa Alma mereda, tahu-tahu Nyai Delima sudah berlari di atas air sambil melesatkan lima sinar biru kecil berekor seperti kecebong.
Alma terkejut lalu buru-buru melompat menghindari kelima sinar itu, sambil melemparkan Bola Hitam yang diam-diam ia telah siapkan. Alma ingin membuktikan salah satu kehebatan Bola Hitam.
__ADS_1
Blar blar blar …!
Sess! Breskr!
Seiring lima ledakan tercipta dari lima sinar biru Nyai Delima karena tidak mengenai sasaran, Bola Hitam melesat mengenai permukaan air lalu melesat balik ke tangan Alma.
Tiba-tiba air sungai yang terhantam oleh Bola Hitam seketika mengeras menjadi es, kemudian merembet setengah kecepatan kilat yang juga membekukan air sungai secara luas hinggi ke seberang.
Namun nahasnya, pada saat itu, Nyai Langsat tengah berlari di atas air menyusul Nyai Delima menyeberang. Kaki Nyai langsat yang menyentuh air terjerat kebekuan. Seketika larinya terhenti karena tubuhnya juga menjadi manusia berlapis es tebal.
Sementara Nyai Delima berhasil sampai ke seberang, satu daratan dengan Alma Fatara.
Alma Fatara terkejut menyaksikan efek jika Bola Hitam menghantam air. Sebelumnya ia belum pernah menyaksikan lapisan es seperti itu, apalagi sampai setebal itu.
Nyai Delima yang melihat saudari kembarnya berubah menjadi patung es, sangat terkejut.
Air sungai yang tidak membeku jadi terbendung, memaksa aliran air naik dan lewat deras di atas bidang lapisan es.
Alma Fatara cepat berlari di atas air menuju posisi patung Nyai Langsat yang mengandung seni, karena berekspresi terkejut dan memegang seutas cemeti. Tangan kanan Alma sudah terangkat siap menghantam patung tersebut.
“Jangan lakukan!” teriak Nyai Delima terkejut bukan main. Ia bisa bayangkan jika pukulan Alma menghantam patung es saudari kembarnya.
Teriakan membuat Alma Fatara mengurungkan niatnya, karena memang ia melakukan itu bertujuan untuk menggertak semata, tidak serius ingin memukul patung Nyai Langsat.
Terpaksa Alma hanya lewat di dekat patung tanpa menyentuhnya. Ia pun mendarat di tanah seberang, kembali berseberangan dengan Nyai Delima.
Sementara itu hawa dingin mulai menusuk kulit hingga ke tulang.
“Cepat kembalikan saudaraku seperti sedia kala!” teriak Nyai Delima.
“Maafkan aku, Nek. Aku tidak tahu caranya!” sahut Alma.
“Awas saja jika sampai saudaraku mati!” ancam Nyai Delima.
“Temanku yang kusir pedati bisa membebaskannya, Nek. Kau harus cepat mengejarnya jika ingin menolong saudara kembarmu!” kata Alma.
“Tikus Brojol!” maki Nyai Delima geram.
Ia lalu berkelebat berlari di atas air yang mengalir di atas bidang es. Alma tidak melakukan tindakan apa pun terhadap Nyai Delima. Ia membiarkan si nenek mendarat di tanah tidak jauh darinya.
“Jaga patung saudaraku, jangan sampai pecah!” pesan Nyai Delima, tapi dengan mata mendelik kepada Alma.
“Cepat, Nek. Nanti malah terlambat!” seru Alma pula yang membuat Nyai Delima semakin panik.
Wuss!
__ADS_1
Nyai Delima benar-benar melesat dengan kecepatan tinggi, pasalnya rombongan pedati kuda sudah tidak terlihat dari tempat mereka. (RH)