A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 4: Menolong Nyai Langsat


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


“Berhentiii!”


Warna Mekararum, Magar Kepang, Debur Angkara, Garam sakti, dan Ayu Wicara terkejut mendengar teriakan wanita tua dari arah belakang rombongan mereka.


Mereka semua serentak menengok ke belakang. Semuanya pun terkejut. Mereka melihat Nyai Delima sedang berlari kencang seolah tanpa menginjak bumi mengejar mereka.


“Tambah kecepataaan!” teriak Magar Kepang panik.


“Heah! Heah! Heah!” gebah Magar Kepang dan lainnya untuk memaksa kuda-kuda mereka berlari lebih kencang.


“Tikus Brojol!” maki Nyai Delima melihat rombongan itu kian mempercepat lari kudanya. Ia pun kembali berteriak, “Hei, Kalian! Berhentiii!”


“Jangan dengarkan, dia pasti mau membunuh kita. Nenek itu terlalu sakti!” teriak Debur Angkara pula.


Melihat tidak ada tanda-tanda rombongan itu melambatkan larinya, Nyai Delima semakin frustasi.


“Hei, tolong berhentiii!” teriak Nyai Delima lagi, kali ini teriakannya lebih sopan.


“Jangan cabuli, ayo lebih cepat!” teriak Ayu Wicara pula.


“Hahaha!” Akhirnya ketegangan itu pecah tawa gegara Ayu Wicara.


“Jangan peduli, Ayuuu! Bukan cabuli!” teriak Magar Kepang dengan ekspresi ingin menangis di saat Debur Angkara dan Magar Kepang tertawa keras.


“Jangan sedih, Paman Kepang!” teriak Ayu lagi.


“Hahaha!” tawa Debur Angkara dan Garam Sakti berkelanjutan.


Zest!


Rombongan itu tiba-tiba dikejutkan oleh lesatan lima sinar biru kecil berekor yang melintas di atas mereka.


“Tahaaan!” teriak Debur Angkara cepat, sambil tarik tali kekang kuda kuat-kuat.


Semuanya kompak menarik tali kendali kuda mereka, khawatir sinar-sinar itu justru menimpa mereka.


Blar blar blar …!


Kelima sinar biru berekor jatuh di area depan rombongan, menimbulkan lima ledakan yang bisa menghancurkan kulit, daging dan tulang.


Tingginya sang kuda mengangkat kedua kaki depannya saat melakukan pengereman mendadak, membuat Debur Angkara dan Magar Kepang terlempar dari kudanya dan jatuh bergedebuk di tanah.


“Aakk!” erang Magar Kepang dan Debur Angkara sambil memegangi bokong dan pinggangnya.


“Hihihik!” tawa Ayu Wicara melihat kejatuhan kedua lelaki besar itu.


Tiba-tiba sosok Nyai Delima telah berkelebat di udara melintasi kepala mereka. Ia mendarat dan berdiri menghadang.


Dalam kondisi sakit, Debur Angkara cepat pasang kuda-kuda siap tarung. Ayu Wicara yang tertawa mendadak berhenti dan melompat turun dengan pedang panjang langsung dipamerkan.


“Hentikan gaya-gaya bodoh kalian!” bentak Nyai Dilema. “Aku membutuhkan dia!”


Nyai Dilema menunjuk Garam Sakti. Lelaki yang ditunjuk malah menengok ke belakang mencari seseorang.


“Kau, Bodoh!” maki Nyai Delima membentak Garam Sakti.

__ADS_1


“Apa urusanmu denganku, Nenek Tua. Kau pasti sudah melukai Alma!” seru Garam Sakti dengan suara sedikit bergetar. Dia kini berdiri di atas pedati dengan memegang Keris Petir Api. Kakinya sedikit gemetar.


Keyakinan bahwa si nenek adalah orang yang jauh lebih sakti darinya, membuat nyali Garam Sakti cukup ciut.


“Ayo ikut aku kembali ke tempat tadi. Teman perempuanmu itu menunggu di sana!” ujar Nyai Delima agak lembut.


“Kami tidak akan tertipu. Kau pasti telah membunuh Alma!” teriak Garam Sakti dengan sepasang mata berkaca-kaca. Hatinya bergejolak membayangkan Alma yang cantik jelita telah mati di tangan kedua nenek kembar. “Aku akan membalas kematian Alma! Hiaat!”


Teriakan Garam Sakti yang penuh emosional dan kemarahan, jadi turut mengguncang perasaan rekan-rekannya, termasuk perasaan Warna Mekararum. Debur Angkara pun jadi bersedih, sepasang matanya pun memerah dan berair.


Garam Sakti telah berkelebat dari atas pedati langsung menyerang Nyai Delima dengan serangan pusakanya.


Zess! Bress!


Nyai Delima dengan mudah mengelaki aliran sinar hijau yang kemudian membakar setitik tanah di belakang. Nyai Delima menghindar sambil maju menyerang.


Ctas!


“Akh!”


Tahu-tahu dada bidang Garam Sakti sudah dihajar oleh lecutan cemeti Nyai Delima, membuat orang besar itu menjerit kesakitan. Kulit dada Garam Sakti jadi terluka bakar memanjang.


“Hiaat!” teriak Debur Angkara sambil berlari dengan wajah penuh kemarahan.


Ctas!


“Akk!” pekik Debur Angkara kesakitan.


Belum lagi sampai kepada lawan, cemeti Nyai Delima sudah menghajar dada kekarnya. Nasibnya sama seperti Garam Sakti, mendapat luka lecutan seperti luka bakar.


Tuk tuk!


“Jangan ada yang bergerak lagi!” seru Nyai Delima mengancam.


“Ja-ja-jangan coba-coba membunuhku, Nek!” teriak Garam Sakti tergagap.


“Aku tidak akan membunuhmu, tapi kau harus ikut kembali ke tempat tadi!” tandas Nyai Delima.


“I-iya. Aku akan ikut, tapi jangan bu-bu-bunuh aku!” kata Garam Sakti yang ketakutan.


Tuk tuk!


Nyai Delima lalu melepaskan totokan pada tubuh Garam Sakti.


“Cepat bawa pedatinya putar arah atau aku bunuh kau!” perintah Nyai Delima dengan ancaman.


“I-iya,” ucap Garam Sakti patuh. Ia yang sudah bebas dari totokan segera pergi ke pedati.


Akhirnya Garam Sakti mengarahkan kudanya berputar arah lalu menggebahnya. Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara mau tidak mau juga harus mengikuti ke mana pedati pergi.


Nyai Delima lalu berkelebat dan mendarat di bak pedati, di dekat tubuh Warna Mekararum.


“Lari yang cepat!” perintah Nyai Delima yang juga sedang memendam was-was, takut mereka terlambat untuk menolong Nyai Langsat.


“Heah heah!” teriak Garam Sakti menggebah kencang kudanya, membuat tubuh Warna Mekararum terguncang-guncang.


Nyai Delima sejenak memandangi wajah Warna Mekararum.

__ADS_1


“Racunmu sangat parah, Nyai. Mungkin hanya Ki Ramu Empedu yang bisa menyembuhkanmu,” kata Nyai Delima.


“Apa yang kau lakukan terhadap Alma?” Warna Mekararum justru bertanya.


“Tikus itu kurang ajar!” Nyai Delima justru memaki gusar tanpa memberikan jawaban.


“Itu Amal!” teriak Ayu Wicara menunjuk jauh, ia sangat mengenal sosok berkulit cerah dalam balutan pakaian serba hitam.


Tersenyumlah mereka semua saat melihat keberadaan Alma Fatara, kecuali Nyai Delima.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara ketika melihat kedatangan para sahabatnya.


Seiring mereka mendekati posisi Alma Fatara, suhu dingin segera menyergap mereka, terutama bagi Debur Angkara dan Garam Sakti yang tidak berbaju, tapi cukup mengademkan luka panas bekas cemeti si nenek.


“Ayo cepat turun!” perintah Nyai Delima sambil penepuk keras punggung Garam Sakti.


Dengan wajah merengut, Garam Sakti turun setelah pedatinya berhenti. Melihat tampang Garam Sakti, tertawalah Alma.


“Hahaha! Kau menjadi tawanan, Kang Garam?”


“Nenek ini begitu galak,” keluh Garam Sakti.


“Amal, kau sesat-sesat saja?” tanya Ayu Wicara yang cepat turun mendatangi Alma.


“Hahaha! Aku sehat-sehat saja. Mau peluk?” kata Alma tertawa lalu merentangkan kedua tangannya menawarkan pelukan.


“Tidak, kau basah!” ketus Ayu Wicara.


“Ayo, bebaskan saudaraku dari lapisan es itu!” perintah Nyai Delima kepada Garam Sakti.


Terkejutlah mereka ketika melihat ke sungai. Mereka melihat sebuah patung es yang terendam air hingga selutut. Bidang es sedikit tenggelam, tapi masih membuat hawa di area itu menjadi begitu dingin. Alma saja bersedekap karena dingin.


“Aku tidak tahu,” jawab Garam Sakti.


“Kang Garam tinggal menyerangnya dengan Keris Petir Api,” sahut Alma memberi petunjuk.


“Oh, baik,” ucap Garam Sakti mengerti.


Garam Sakti lalu menghunuskan kembali keris pusakanya.


Zess!


Keris itu ia tusukkan di ruang kosong ke arah posisi patung es di tengah sungai. Sealiran sinar hijau tanpa putus melesat dan mengenai patung es.


“Jangan berhenti sampai esnya mencair, Kang Garam!” kata Alma.


“Siap!” sahut Garam Sakti.


Sinar hijau pembakar yang bertenaga api itu dengan cepat mencairkan lapisan es pada tubuh Nyai Langsat. Perlahan Garam Sakti mulai menikmati kerjanya, meski ia harus mengerahkan tenaga dalam ekstra. Perlahan ia mengatur posisi titik pencairannya agar merata.


Kepala dan wajah Nyai Langsat yang lebih dulu bebas dari es, lalu bergeser ke bawah.


Mereka semua mengamati proses itu dalam keheningan.


“Cukup, Kang Garam!” seru Alma.


Garam Sakti pun berhenti mengalirkan tenaga dalamnya pada kerisnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2