A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 8: Laut yang Dirindukan


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


“Dulu, Kampung Siluman berada di bawah kekuasaan Kerajaan Bulaga. Namun, setelah Kerajaan Bulaga dihancurkan oleh Kerajaan Ringkik, Kampung Siluman bukan milik kerajaan mana pun. Dulu, Kerajaan Ringkik hanya bertujuan untuk menguasai mata minyak Kampung Siluman. Namun sekarang, mereka memiliki tujuan dua, yaitu menguasai mata minyak Kampung Siluman dan mempersunting bunga Kampung Siluman,” tutur Kirak Sebaya yang kedudukannya justru jauh lebih dihormati daripada Kepala Kampung Siluman Rempah Putih.


“Kita tidak pernah memiliki bunga apa-apa, kita berada di bukit batu. Bunga apa yang kau maksud?” tanya istri Kirak Sebaya, Nenek Gendar Sayu.


“Kita punya bunga kampung, yaitu Lilia Seharum,” jawab Kirak Sebaya.


“Hah!” kejut tokoh-tokoh Kampung Siluman, terutama Lilia Seharum sendiri.


“Kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana Raja Andika Januro tahu tentang Lilia Seharum. Aku pun sama bingungnya. Bagaimana raja tua itu tahu tentang Lilia Seharum dan kecantikannya?” kata Kirak Sebaya.


Semua mata tertuju kepada Lilia Seharum yang cantik jelita, mata mereka bertanya-tanya berjemaah.


“A-aku tidak tahu, Ayah,” jawab Lilia Seharum jadi salah tingkah.


“Sudahlah, lupakan,” kata Rempah Putih.


“Lalu apa yang kalian harapkan kepada kami?” tanya Alma Fatara.


“Sebenarnya yang kami harapkan hanyalah dirimu, Alma ….”


“Tidak bisa, Kek!” seru Ayu Wicara lantang memotong perkataan Kirak Sebaya.


Semua mata seketika tertuju kepada gadis cantik serata-rata itu. Alma sudah tersenyum lebih dulu melihat Ayu berinterupsi.


“Kami dan Amal ibarat satu teluh (tubuh). Satu saja anggota teluh (tubuh) yang sakti (sakit), anggota teluh (tubuh) yang lain ikut mengiris (meringis)!” kata Ayu Wicara penuh semangat peperangan.


“Hahahak!” Meledaklah tawa Alma Fatara dan rekan yang lainnya, termasuk Warna Mekararum.


Sementara warga Kampung Siluman hanya terpaku bingung mendengar perkataan Ayu Wicara yang terlalu tinggi bahasanya, sampai-sampai mereka tidak mengerti.


“Bukan teluh, tapi tubuh, Ayuuu!” ralat Magar Kepang.


“Buka sakti, Ayu, tapi sakit!” ralat Debur Angkara pula.


“Bukan mengiris, tapi meringis, Ayu. Hahaha!” tambah Alma meralat lalu tertawa lagi.


“Iya, maksudku itu semua,” kata Ayu Wicara tanpa permohonan maaf.


“Hahaha!” tawa Kirak Sebaya dan tokoh Kampung Siluman lainnya, setelah mereka memahami maksud perkataan wanita bersenjata pedang besar itu.


“Kalian yakin mau turun berperang? Bukankah Kakang Debur dan Kakang Garam tadi gemetar waktu di benteng?” tanya Alma serius.


“Hahaha! Itu hanya bawaan kesan pertama,” kata Debur Angkara sambil tertawa drama.


“Belut (betul). Percuma otot sebesar telur kalau berdiri di banteng (benteng) saja sudah gemetar!” celetuk Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa mereka.


“Eh, Ayu, lebih baik kau diam!” hardik Debur Angkara sambil membekap mulut Ayu dari belakang. Lalu jeritnya, “Ak!”


Debur Angkara cepat menarik tangannya karena digigit oleh Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa Ayu Wicara kencang setelah berhasil menggigit tangan Debur Angkara.

__ADS_1


Karena kesal, Debur Angkara mendorong belakang kepala Ayu dengan jari tangannya. Ayu diam saja.


Sementara yang lainnya hanya tertawa melihat pertengkaran itu.


“Jika di depan orang, mereka memang suka bertengkar, tapi kalau di belakang, mereka suka mesra,” kata Alma.


“Jangan berkusta (berdusta) kau, Amal!” tukas Ayu Wicara.


“Hahaha!” Alma justru tertawa.


Dari luar balai kampung itu datang seorang warga lelaki yang masih menyandang senjata perang.


“Bagaimana, Ranggis?” tanya Rempah Putih.


“Sepuluh orang mengalami luka dan tidak bisa ikut berperang lagi. Sementara Kaleleng gugur, Kepala,” lapor lelaki bernama Ranggis sedih.


Para pemimpin Kampung Siluman itu sama-sama mengembuskan napas masygul menunjukkan kesedihan mereka.


“Alat pelontar kita rusak berat, butuh waktu untuk memperbaikinya. Jadi kita hanya punya dua pelontar. Minyak masih mengalir dengan normal,” lapor Ranggis lagi.


“Ranggis, pastikan semuanya sudah makan sebelum malam tiba!” perintah Rempah Putih.


“Baik, Kepala.”


“Pergilah!” perintah Rempah Putih.


Seperginya Ranggis, Kirak Sebaya kembali berkata serius.


“Dulu, Raja Tanpa Tahta berperang dengan cara turun dari benteng. Dia dan aku sama-sama menghadapi pasukan kerajaan secara langsung. Itu harus dilakukan untuk menjangkau panglima perang musuh,” ujar Kirak Sebaya kepada Alma Fatara.


“Ya, memang seperti itulah peperangan,” jawab Kirak Sebaya.


“Jika tidak membunuh mereka, maka mereka yang akan membunuh kita semua, termasuk wanita dan anak-anak,” tambah Rempah Putih.


“Sepertinya aku akan mengecewakan kalian, Kek. Aku belum pernah bertarung menggunakan Bola Hitam,” kata Alma.


“Tidak apa-apa. Aku sangat yakin kepadamu, Alma. Sejak pertama melihatmu dan tahu kau membawa Bola Hitam, aku sudah yakin bahwa kau adalah gadis yang istimewa. Bukankah demikian, Nenek Warna?” kata Kirak Sebaya lalu ujung-ujungnya minta pendapat Warna Mekararum.


“Benar sekali, Kirak. Alma adalah anak yang bisa diandalkan,” jawab Warna Mekararum.


“Jika Nenek sudah berkata seperti itu, aku sudah tidak bisa beralasan lagi. Aku akan ikut berperang, tapi aku tetap tidak mau mati,” kata Alma Fatara.


“Jika Alma turun berperang, kami juga akan turun!” seru Debur Angkara.


“Tidak, Kakang Debur. Kalian berperang di atas benteng bersama yang lainnya!” tandas Alma Fatara. “Apakah Paman Magar Kepang mau ikut berperang?”


Terkejut Magar Kepang ditanya seperti itu oleh Alma.


“Eh, e … aku rasa ….”


“Biar kami yang mengurus Nenek Warna,” kata Tulu Rumping memotong perkataan Magar Kepang.


“Tentu saja Ki Magar akan ikut berperang di atas benteng,” sahut Garam Sakti, membuat Magar Kepang mendelik kepadanya. Garam Sakti yang bertubuh paling besar itu hanya tersenyum kambing.


“Hahaha! Iya, aku akan ikut bertempur di atas benteng,” kata Magar Kepang disertai tawa dramanya.


“Berarti kita istirahat dulu. Kalian tentunya perlu istirahat karena menempuh perjalanan jauh. Mungkin pertempuran akan berlanjut besok pagi,” kata Kirak Sebaya.

__ADS_1


“Biarkan Lilia Seharum yang mengantar kalian ke tempat peristirahatan,” kata Rempah Putih.


“Oh iya, aku seperti mencium aroma laut?” tanya Magar Kepang.


“Benar,” timpal Alma pula.


Sebagai orang-orang yang sejak bayi tinggal dan hidup di pantai laut, mereka sangat akrab dengan aroma udara laut.


“Di belakang kampung memang ada laut,” jawab Rempah Putih.


“Oh ya? Kami mau lihat!” kata Alma girang.


Memang, seketika Alma Fatara, Magar Kepang, Debur Angkara, dan Garam Sakti berubah gembira dan tersenyum lebar saat tahu ada laut di kampung itu.


“Sejak kita meninggalkan desa, kita belum pernah lagi bertemu dengan laut,” kata Debur Angkara.


“Ada apa dengan lauk?” tanya Ayu Wicara heran.


“Hahaha! Laut, Ayu, bukan lauk!” ralat Magar Kepang.


“Mari, biar aku antar kalian melihat laut,” ujar Rempah Putih.


“Aku akan menunggu di tempat peristirahatan, Alma,” kata Warna Mekararum.


“Baik, Nek,” kata Alma.


Maka, Rempah Putih dan putrinya mengantar Alma Fatara dan rekan-rekannya untuk melihat laut.


Bagian belakang kampung bukit itu adalah bentangan dinding batu, jadi pandangan warga kampung akan terhalang oleh dinding batu jika ingin melihat laut. Untuk melihat laut, mereka harus pergi naik ke atas tebing batu, dan itu ada jalannya.


Setibanya di atas tebing batu, maka mereka bisa melihat bentangan laut biru tanpa pantai karena terbentur oleh bentangan tebing batu yang besar dan memanjang jauh. Jika seandainya mereka melompat dari atas dinding batu, maka mareka akan jatuh di air laut.


Melihat keadaan alam itu, mempertegas bahwa tidak ada jalan lain untuk sampai ke Kampung Siluman, kecuali lewat depan yang ada bentengnya.


Alma Fatara berdiri tegar di atas tebing batu. Ia memejamkan mata lalu merentangkan kedua tangannya, membiarkan jubah dan rambutnya berkibar kencang. Ia menghirup udara laut dengan dalam, sampai dada besarnya membusung mantap. Ia benar-benar tampak menikmati kelezatan aroma laut yang begitu gurih.


Ternyata, Magar Kepang, Debur Angkara dan Garam Sakti melakukan hal yang sama seperti Alma.


“Huuu …!” teriak Alma kencang kemudian. Suaranya menggema luas.


“Aaa …!” teriak ketiga lelaki laut itu pula bersamaan.


Keempat orang itu begitu gembira bisa menghirup udara laut.


“Hahaha!” Rempah Putih dan Lilia Seharum hanya tertawa melihat kegembiraan mereka.


Sementara itu, Ayu Wicara hanya memandangi dengan keheranan tingkah sahabat-sahabatnya itu.


“Selamat tinggaaal! Hahaha …!” teriak Alma lalu melompat jauh ke depan sambil membalikkan tubuhnya dan melambai di udara lepas.


“Almaaa!” teriak mereka serentak karena terkejut bukan main.


Mereka hanya bisa memandang dengan mata mendelik, melihat tubuh Alma meluncur jatuh ke bawah dan ….


Jbur!


Terdengar jauh suara tubuh Alma masuk ke dalam air laut. (RH)

__ADS_1


__ADS_2