A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 10: Lima Pendekar Sungai Ular


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


Ketika Alma Fatara dan Magar Kepang berkuda sepulang dari kediaman Bendahara Kadipaten, tiba-tiba mereka berdua dihadang oleh lima orang berperawakan pendekar, tiga lelaki dan dua wanita.


Lelaki pertama berperawakan tinggi besar seperti Garam Sakti, hanya wajah dan model pakaian yang berbeda. Hitam kulitnya juga kira-kira sama kadarnya. Ia mengenakan baju abu-abu tapi dilapisi jubah biru gelap. Kepalanya diikat dengan kain warna hitam, yang pada sisi kanan kepala diselipi sehelai bulu ekor ayam jago yang panjang. Ia bernama Gemba Arek, berjuluk Ular Terbang Mungil.


Lelaki kedua adalah seorang pemuda tampan berkulit kuning langsat. Rambutnya gondrong dan lurus seperti di-rebonding. Di lehernya mencekik kalung gukguk yang terbuat dari kulit ular warna hijau gelap. Ia berpakaian warna cokelat hitam. Ada dua senjata yang dibawanya, yaitu celurit yang diselipkan di punggung dan sebuah pedang bergantung di pinggang kiri. Ia bernama Legi Kasep, berjuluk Pendekar Pembawa Maut.


Sementara lelaki ketiga sudah disebut sebelumnya, yang bernama Obol-Obol. Ia bersenjatakan tongkat pendek yang dia selipkan di pinggang belakang.


Sementara wanita pertama berusia kisaran empat puluhan, berpakaian warna merah gelap dengan kombinasi warna hitam. Model rambutnya diikat sebagian dan digelung sebagian, dengan hiasan rambut perhiasan emas. Di pinggang kirinya menggantung sebuah kendi tanah liat berwarna natural. Ia bernama Si Cantik Mabuk, meski kecantikannya mulai menuju tua.


Wanita kedua bernama Junjung Kemilau dan berjuluk Cangkang Sejati. Ia seorang wanita muda yang cantik, tetapi hidungnya agak pesek. Warna kulit putih terang tanpa jerawat, yang membuatnya betah dipandang. Rambutnya panjang lurus, tetapi dibiarkan terurai di sisi kanan. Di sabuk pada bagian perutnya terselip sebuah kipas warna hitam.


Kelima orang itu terkenal di dunia persilatan dengan gelar Lima Pendekar Sungai Ular.


“Siapa kalian?!” seru Legi Kasep kepada kedua penunggang kuda yang mereka hadang.


“Hahahak …!”


Bukan hanya Alma Fatara dan Magar Kepang yang tertawa kencang, Obol-Obol dan kedua pendekar wanita yang menghadang turut tertawa. Sementara Gemba Arek mendelik sendiri lalu menepuk kepala Legi Kasep.


“Hei, Legi Kasep! Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah mereka berdua, bukan kita!” hardik Si Cantik Mabuk.


“Tapi, bukankah kita memang tidak tahu siapa nama mereka,” kilah Legi Kasep membela diri.


“Kau tahu kenapa mereka berdua menertawakanmu?” tanya Gemba Arek.


“Karena aku lebih tampan darimu,” jawab Legi Kasep percaya diri.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara sambil memegangi perutnya. Ia lalu turun dari kudanya.


Magar Kepang ikut turun dari kuda.


“Kalian menghadang kami pasti bukan untuk berkenalan?” tanya Alma yang masih tersenyum.


“Aku sangat ingin berkenalan,” jawab Legi Kasep sambil tersenyum kuda.


Pak!


Gemba Arek kembali menepuk kepala Legi Kasep.

__ADS_1


“Tapi dia begitu cantik, Kakang. Lebih cantik dari Junjung Kemilau,” kata Legi Kasep jujur.


“Tapi kita berniat membunuhnya, Legi Kasep!” sahut Obol-Obol.


“Kalian tega membunuh wanita cantik seperti aku ini, Legi Kasep?” tanya Alma sambil mendekati mereka berlima, tanpa ada ekspresi permusuhan.


“Dia mengenalku, Gemba Arek!” pekik Legi Kasep girang sambil menepuk lengan besar Gemba Arek.


“Aku juga mengenal Junjung Kemilau dan kau, Arek,” ujar Alma Fatara seraya tersenyum tipis.


“Iya, dia mengenal kalian karena dia mendengar nama kalian disebut,” celetuk Si Cantik Mabuk.


“Hahaha …!” tertawalah Alma Fatara tanda membenarkan Si Cantik Mabuk. Lalu katanya, “Ayo, apa perlu kalian? Aku bersedia melayani.”


“Serakan Bola Hitam kepada kami!” pinta Gemba Arek to the point.


“Kalian menginginkan pusakaku?!” teriak Alma tiba-tiba mendelik marah. Ia tiba-tiba pula berteriak sambil menghentakkan kedua lengannya ke arah depan bawah, seolah hendak menyerang kaki-kaki kelima pendekar itu, “Heaaah!”


Sontak kelima pendekar itu berlompatan mundur sejauh beberapa tombak dan ketika mendarat, mereka langsung memasang kuda-kuda siap tarung.


“Hahahak …!” tawa Alma terbahak karena telah mengerjai kelima orang tersebut. Nyatanya ia tidak melepaskan sedikit pun serangan.


“Kurang ajar! Kita dipermainkan!” maki Si Cantik Mabuk.


Justru Alma Fatara yang maju kembali mendekati kelima pendekar itu. Ia meninggalkan Magar Kepang yang memegangi dua tali kendali kuda. Sementara itu, warga Ibu Kota mulai ada yang menonton ketegangan di tengah jalan itu.


“Bagaimana bisa aku memberikan pusakaku, sedangkan kalian ada lima orang? Lebih baik kalian bertarung satu sama lain. Siapa yang menang baru lawan aku!” kata Alma seenaknya.


“Setuju!” seru Legi Kasep.


“Bodoh!” Gemba Arek memaki Legi Kasep.


“Siapa kau, Nisanak? Sehingga Bola Hitam ada di tanganmu,” tanya Si Cantik Mabuk.


“Namaku Alma Fatara, Dewi Gigi. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa lagi.


“Kami beri dua pilihan. Nyawa atau pusaka?” tanya Gemba Arek seperti perampok era masa depan.


“Pusaka!” pilih Alma cepat tanpa ragu.


“Jika begitu, serahkan nyawamu!” seru Gemba Arek.

__ADS_1


“Tidak bisaaa!” sahut Alma. “Untuk memiliki pusaka, harus ada nyawa. Jadi kalau aku memilih pusaka, berarti pusaka dan nyawa satu ranting, tidak bisa dipisahkan. Kecuali jika aku memilih nyawa, maka aku akan menyerahkan pusakaku. Hahaha!”


“Langsung habisi saja dan ambil pusakanya!” seru Junjung Kemilau.


“Obol-Obol!” teriak Gemba Arek.


“Siap!” sahut Obol-Obol.


Bersamaan dengan itu, Alma merendahkan tubuhnya dengan memasang kuda-kuda, tangan kirinya lurus ke belakang.


Obol-Obol lalu melompat jauh ke depan seperti pantulan bola manusia, langsung kepada tubuh Alma.


Sweet! Wuss!


Tangan kiri Alma menyedot udara sehingga pakaian alma mengembang seperti balon boneka. Ketika tangan kanan menghentak menyambut tubuh bulat Obol-Obol, segulung angin keras langsung menerbangkan tubuh Obol-Obol berbalik arah dan jatuh jauh bergulingan seperti gentong digelindingkan.


“Hahaha!” tawa Alma melihat betapa menggemaskannya melihat tubuh bulat Obol-Obol menggelinding di jalanan.


Sementara itu, warga mulai meramaikan diri di sekitar tempat itu. Mereka sangat tertarik dan senang melihat orang bertengkar.


Setelah berhenti bergulingan di jalan, Obol-Obol bangkit kembali. Ia terkejut ketika Alma dan teman-temannya menghilang. Ia sempat menengok ke kanan dan kiri. Namun kemudian, dia tersadar bahwa ia telah salah arah. Ia cepat berbalik dan melihat keberadaan Alma nun jauh di sana.


Alma semakin tertawa melihat kekocakan Obol-Obol yang amnesia terhadap arah hidup.


“Tertawalah sepuasmu!” teriak Obol-Obol lalu berlari imut ke arah Alma.


Di tengah jalan, Obol-Obol melompat jauh ke depan dengan tangan kanan pendeknya bersinar biru seperti kembang api.


Swess!


Alma Fatara melesatkan sinar emas menyilaukan mata menyongsong tubuh Obol-Obol di udara. Obol-Obol terkejut. Sinar biru yang rencananya untuk dilesatkan kepada Alma, terpaksa untuk beradu dengan sinar emas.


Bluarr!


Pertemuan sinar emas dari ilmu Pukulan Bandar Emas dengan Pukulan Bintang Biru di udara, meciptakan ledakan tenaga sakti yang kuat dan suaranya terdengar sampai jauh.


Suara dentuman keras itulah yang didengar oleh Arya Mungkara, para prajurit, Ronggo Manik, dan peserta Pertandingan Petarung Panah lainnya, sehingga mereka berdatangan ke titik pertarungan.


Sementara itu, Obol-Obol terpental jatuh. Tetap lucu seperti gentong menggelinding. Alma yang kokoh berdiri di tempatnya, tertawa terbahak-bahak.


“Minggir! Beri jalan! Beri jalan!” teriak Rugu Banula dari belakang keramaian warga.

__ADS_1


Warga yang berkerumun segera membuka jalan. Yang pertama masuk ke dalam lingkaran besar itu adalah Arya Mungkara dan kuda tunggangannya, menyusul Rugu Banula dan pasukannya.


Rugu Banula yang awalnya berniat menertibkan keributan itu, jadi menahan pasukannya. Ia tahu bahwa orang-orang yang sedang ribut itu adalah pendekar-pendekar yang bukan kaleng-kaleng. (RH)


__ADS_2