
*Kampung Siluman (Kamsil)*
Alma Fatara sigap menghindari beberapa tebasan pedang Komandan Gelegar.
Sep!
Ketika Gelegar melakukan tebasan kuat berniat membelah tubuh cantik Alma, kedua telapak tangan Alma justru menangkap bilah pedang itu di atas kepalanya. Kedua telapak tangan Alma kuat menjepit pedang tersebut.
Seet!
Akhirnya, dengan sekuat tenaga, Komandan Gelegar menarik pedangnya dengan maksud mengiris tangan Alma.
Bak bak bak!
Ketika Komandan Gelegar menarik pedangnya, Alma cepat merangsek masuk dan mendaratkan tiga pukulan telapak tangan beruntun pada dada kekar musuhnya. Namun, itu hanya membuatnya terjajar dua tindak.
Set set set …!
“Akk! Akk! Akk …!”
Namun, tiba-tiba Alma menyusulkan serangannya dengan sayatan-sayatan tangannya yang bisa setajam pedang. Bukan hanya satu, dua, atau tiga sayatan, tetapi sepuluh sayatan. Sedikitnya sepuluh kali Komandan Gelegar menjerit kesakitan saat badan dan tangannya disayat-sayat memilukan.
Crass!
Sayatan terakhir menjadi eksekusi bagi Komandan Gelegar. Sayatan terakhir diberikan di leher, memaksa sang komandan meregang nyawa dalam waktu singkat.
Karena komandannya tidak memberi komando, para prajurit operator manjanik juga tidak melepaskan lemparan, meski bola apinya sudah menyala di sendok pelontarnya.
“Tembaaak!”
Mengetahui hal itu, akhirnya perintah itu diteriakkan oleh Senopati Gulung Sedayu.
Dak dak dak …!
Maka para prajurit operator alat manjanik memukul pasak pengunci.
Sezt! Brak!
Wuss! Wuss! Wuss …!
Secara bersamaan, Alma mengibaskan dua tangannya, melesatkan ilmu Sabit Murka. Dua sinar kuning melengkung tipis melesat sepintas memotong dua manjanik, membuat alat berbahan kayu-kayu balok besar itu ambruk bagian atasnya. Dua bola api yang hendak dilontarkan justru jatuh menggelinding di tanah.
Meski demikian, delapan bola api tetap terlontar naik tinggi menyerang puncak bukit batu.
“Seraaang!” teriak puluhan prajurit bertombak dalam satu baris datang kepada Alma. Pasukan itu terdiri dari dua banjar, satu baris membawa obor bambu, membuat suasana berubah terang. Mereka tidak langsung menyerang Alma, tetapi mengurungnya lebih dulu.
__ADS_1
Boam! Boam! Boam …!
Terdengar suara dentuman di atas bukit sana. Entah, sehancur apa nasib Kampung Siluman sekarang.
Di sisi lain, Kirak Sebaya dan Rempah Putih bertarung sengit menghancurkan pasukan panah yang jadi bulan-bulanan oleh kesaktian mereka berdua.
Zoss!
Kirak Sebaya menusukkan ujung tongkat kayunya. Seperti tukang sihir, dari ujung tongkat melesat gulungan spiral sinar putih yang mengenai tubuh satu prajurit tapi mementalkan tiga prajurit. Ketiga prajurit itu langsung mati.
Sementara Rempah Putih mengamuk seperti seorang sang pembantai. Pedang dan golok panjangnya berkelebat ke sana dan kemari menghabisi prajurit panah.
Set! Tak!
Bahkan ketika dua anak panah prajurit melesat menyerangnya, Rempat Putih sanggup memblokir dua anak panah itu dengan tebasan pedang dan goloknya.
Sejumlah pasukan berpedang tiba-tiba berdatangan mengeroyok Kirak Sebaya dan Rempah Putih. Meski kedua pemimpin Kampung Siluman itu dapat dengan mudah membunuh prajurit musuh, tetapi jumlah yang banyak membuat prajurit itu tidak habis-habis.
Dak!
Tahu-tahu Kirak Sebaya dan Rempah Putih bertemu punggung karena mereka terdesak oleh serangan bergelombang para prajurit. Awalnya mereka sama-sama terkejut dan hendak saling hantam, tetapi setelah saling mengenali, mereka kembali fokus kepada para prajurit.
Keduanya berhenti sejenak untuk melihat kondisi. Ternyata mereka sudah dikepung oleh pagar prajurit yang berlapis.
“Bagaimana ini, Panglima?” tanya Rempah Putih.
“Maju!” teriak Rempah Putih kepada para prajurit yang mengepung.
“Hiaaat!” teriak sejumlah prajurit berpedang.
Sambil berteriak garang, Rempah Putih menyambut serangan para prajurit itu. Pedang-pedang prajurit ditangkis dengan lincah satu per satu, dan satu demi satu pula dia melukai para prajurit tersebut, bahkan membunuhnya.
Wuut!
Seperti pemain sirkus tongkat, Kirak Sebaya memutar-mutarkan tongkat kayunya yang pada kedua ujungnya membara merah seperti bara api yang ditiup.
Das das das …!
Setiap kali ujung tongkat itu mengenai tubuh prajurit, maka nyala api langsung muncul membakar di tubuh, membuat prajurit yang terbakar kepanasan dan panik, terkadang mengacaukan gerakan rekan-rekannya.
Duss!
Pada satu kesempatan, Kerak Sebaya menancapkan ujung tongkatnya ke bumi, menciptakan gelombang sinar merah ke segala arah.
Puluhan prajurit yang mengepung berpentalan dalam kondisi menderita luka.
Namun, hal itu tidak merubah keadaan, sebab puluhan prajurit lainnya segera maju menggantikan kelompok rekannya.
__ADS_1
Seiring pasukan berpedang mengepung Kirak Sebaya dan Rempah Putih, pasukan panah bergerak pula membentuk formasi di lingkar luar.
“Bidik!” teriak komandan pasukan panah, membuat pasukan panah mengarahkan anak panahnya ke tengah-tengah lingkaran.
Seiring itu, pasukan pedang yang ada di lingkaran dalam, serentak turun berjongkok, membuat pasukan panah leluasa untuk memanah mereka berdua.
“Panah!” teriak komandan panah.
Set set set …!
Maka, serentak pasukan panah menembak. Sebenarnya serangan itu sangat berbahaya, berisiko anak panah mengenai teman sendiri jika tidak mengenai target.
Zurss!
Kirak Sebaya cepat menempel pada punggung Rempah Putih dan dia menusukkan kepala tongkatnya ke udara malam. Tiba-tiba muncul lapisan sinar kuning tipis berbentuk kubah yang mengurung keberadaan mereka berdua.
Munculnya ilmu perisai itu membuat puluhan anak panah yang menyerang tertahan dan jatuh ke tanah.
Setelah serangan panah gagal, prajurit pedang segara masuk dan menebaskan pedang-pedangnya ke dinding sinar kuning tipis itu. Namun, para prajurit itu seperti menebas dinding tenaga yang empuk tetapi tidak terbelah atau terluka. Pedang-pedang mereka justru berpantulan ke belakang.
Di sisi lain, Alma Fatara mengamuk dengan hebat. Selain lincah berkelit, tangan pedangnya juga bermain, begitu juga dengan Benang Darah Dewa.
Menggunakan kelincahannya, Alma menghindari agresi tusukan-tusukan tombak. Menggunakan tangannya yang setajam pedang, Alma menangkis dan melukai para prajurit, termasuk membunuhnya. Dan dengan menggunakan Benang Darah Dewa, Alma melumpuhkan para prajurit dengan menyerang persendian lutut musuh.
Para prajurit itu pun terkejut, karena banyak di antara mereka yang tiba-tiba tumbang berlutut dan tidak bisa bangun lagi. Kondisi lutut mereka mendadak sangat sakit dan tidak bisa dipakai berdiri.
“Ini terlalu lama,” batin Alma Fatara. Meski banyak prajurit yang dia bunuh dan lumpuhkan, tetap saja jumlah prajurit itu selalu banyak.
“Almaaa! Gunakan Bola Hitaaam!” teriak Kirak Sebaya dari jauh. Suaranya mengandung tenaga dalam.
Alma Fatara menengok sejenak ke arah kedua pemimpin Kampung Siluman. Alma terkejut, karena keduanya dalam kondisi terkepung dan mereka berlindung di dalam benteng perisai.
“Baiklah!” teriak Alma Fatara kepada dirinya sendiri.
Alma lalu meloncat tinggi ke udara. Di kedua telapak tangannya kemudian muncul dua sinar kuning menyilaukan mata dari ilmu Pukulan Bandar Emas.
Swess! Swess!
Bluar! Bluar!
Pada puncak ketinggian loncatannya, tangan kiri Alma melesatkan sinar kuning menyilaukannya lurus ke bawah, ke tengah-tengah pengepungan terhadap dirinya. Sementara, tangan kanannya melesatkan sinar kuning menyilaukan itu jauh ke arah manjanik terdekat.
Ledakan dahsyat terjadi di bawah sana. Kubangan besar tercipta begitu saja. Puluhan prajurit yang jelas-jelas mengepungi pusat ledakan, berpentalan dengan luka bakar dan hangus. Tidak sedikit nyawa yang melayang.
Sementara itu, sinar kuning menyilaukan satunya menghantam alat manjanik sehingga hancur berantakan, sekaligus membunuh prajurit operatornya.
Namun setelahnya, tetap saja gelombang prajurit datang mengepung.
__ADS_1
“Baik, waktunya bermain bola. Hahaha …!” teriak Alma lalu tertawa terbahak-bahak. (RH)