
*Alma Fatara (Alfa)*
Debur Angkara sebagai Pendekar Desa Iwaklelet, siang itu sedang melatih sejumlah pemuda desa yang ingin bisa ilmu beladiri, meski hanya sebatas tingkat dasar.
“Jangan lupa, ketika kalian melakukan tinjuan samping, bahu harus ikut mendorong, sehingga kekuatan pukulan kalian lebih kuat!” seru Debur Angkara kepada tujuh pemuda yang semuanya bertelanjang dada, tapi tidak bertelanjang paha.
Kelima pemuda itu berdiri mengelilingi Debur Angkara sambil manggut-manggut.
“Bujang! Pegang bambu ini!” perintah Debur Angkara.
Pemuda yang bernama Bujang dan memang masih jomblo, segera mengambil alih potongan batang bambu yang masih berwarna hijau.
“Pasang di depan yang kuat! Kuatkan kuda-kudamu!” kata Debur Angkara agak keras.
Bujang lalu berdiri dengan kuda-kuda yang kuat seperti yang sudah diajarkan. Ia merentangkan kedua tangannya ke depan memegangi kedua ujung batang bambu. Ia kencangkan pegangannya. Jantungnya agak berdebar. Ada sebulir keringat ketika Debur Angkara bersiap meninju dengan gaya pukulan hook kanan.
“Perhatikan bahuku saat aku memukul!” kata Debur Angkara sambil memasang ancang-ancang untuk memukul
Buk! Bluk!
Akhirnya hook kanan Debur Angkara menghantam keras batang bambu yang dipegang Bujang. Ternyata, Bujang tidak kuat menahan tinju itu, sehingga ia terlempar terjengkang ke pasir bersama batang bambu yang kemudian menimpa wajahnya. Potongan bambu itu sendiri masih utuh sempurna.
“Ah, payah!” keluh Debur Angkara karena hasilnya tidak sesuai dengan espektasinya. Ia ingin menghancurkan batang bambu itu.
Debur Angkara lalu dengan kesal mengambil batang bambu itu dan berjalan ke batang pohon kelapa.
“Bulung! Pegang sini!” perintah Debur Angkara.
Pemuda yang bernama Bulung segera datang. Ia lalu memegang satu ujung batang bambu yang ditempelkan di batang pohon kelapa.
“Perhatikan! Perhatikan! Perhatikan bahuku saat memukul!” seru Debur Angkara lagi. Ia telah bersiap.
Prok!
Tinju kuat tangan kanan Debur Angkara melesat seiring bahu kanannya bergerak mendorong pula. Pecahlah batang bambu itu dengan bentuk yang sudah gepeng, tidak bulat lagi.
Duk duk duk! Buk buk!
Namun, setelah itu mereka semua terkejut, sebab semua buah kelapa yang ada di atas, rontok dan jatuh menimpa tiga orang pemuda desa. Ketiganya pingsan. Kelapa lainnya jatuh langsung ke tanah berpasir.
Debur Angkara terkejut hingga mulutnya terbuka menganga. Ia tidak menyangka bahwa pukulannya bisa sehebat itu.
__ADS_1
“Hahahak …!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak seorang wanita. Mereka semua yang masih sadarkan diri karena selamat dari hujan buah kelapa, langsung memandang ke sumber tawa.
Mereka melihat seorang wanita cantik berkulit putih bersih, berpakaian serba hitam, sedang tertawa tidak jauh dari tempat itu. Ia tertawa terus sambil terbungkuk memegangi perutnya.
Debur Angkara dan empat pemuda lainnya, awalnya tidak mengenali siapa wanita itu. Namun, ketika wanita belia itu tegak berdiri sambil tertawa-tawa, barulah mereka mengenalinya. Empat tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu dengan gadis nakal itu.
“Alma!” teriak Debur Angkara marah.
“Cantik sekali kau, Alma!” puji seorang dari mereka.
“Hahahak!” tawa Alma sambil berjalan mendekati mereka. Lalu katanya, “Kang Debur! Apakah kau ingin membalas kekalahanmu empat tahun yang lalu? Pasti kau semakin sakti sampai bisa menjatuhkan semua buah kelapa!”
“Kau pasti mau mengolok-olok aku lagi, Alma. Aku tahu, buah kelapa itu adalah perbuatanmu!” tukas Debur Angkara.
“Kalau kau ragu, kita duel ringan saja,” kata Alma.
Bak!
Alma menghentakkan kaki kanannya ke tanah berpasir. Satu kelapa yang tergeletak di pasir terlompat ke atas lalu disambar oleh tangan kiri Alma.
“Wow!” desah para pemuda desa yang usia semuanya di atas usia Alma.
“Aku mengaku kalah darimu, Alma. Kau memang gadis yang hebat,” kata Debur Angkara akhirnya melunak.
“Baiklah, Kang Debur. Aku tidak akan mengambil kedudukanmu sebagai Pendekar Desa. Aku kira kau masih mendendam atas kekalahan empat tahun yang lalu,” ujar Alma seraya tersenyum.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan dari arah laut.
“Cemunguuut! Suamimuuu!” teriak seorang nelayan desa yang perahunya sebentar lagi menyentuh garis pantai.
“Cemungut! Cemungut! Suamimu, Cemungut!” teriak warga lain yang mendengar teriakan dari laut itu. Ia berlari mendatangi sebuah rumah warga.
Dari dalam rumah muncul seorang wanita bersama seorang anaknya yang masih usia baseta (bawah sepuluh tahun). Wanita yang hanya berpinjung sedada itu tampak cemas mendengar namanya diteriakkan, yaitu Cemungut.
“Ada apa? Ada apa?” tanya Cemungut bingung, sama seperti anak lelakinya.
“Aku tidak tahu!” jawab lelaki yang datang memanggil-manggilnya.
“Kenapa memanggilku kalau tidak tahu?” tanya Cemungut kesal.
__ADS_1
“Tapi Badiman tahu!” kata lelaki itu sambil menunjuk nelayan yang baru saja mendarat.
Teriakan-teriakan ramai itu membuat warga lain segera bermunculan dan berkumpul, termasuk Slamet Lara, Muniwengi dan Anjengan. Anjengan tampak semakin tinggi dan berkembang.
Debur Angkara dan para pemuda yang lain segera mendatangi pusat keramaian. Mereka mengerumuni nelayan bernama Badiman.
“Mak, Ayah, itu kan Alma!” kata Anjengan kepada kedua orang tuanya yang tidak berubah, kecuali semakin tua saja.
“Almaaa!” teriak Slamet Lara dan Muniwengi bersamaan saat mereka melihat keberadaan Alma.
Muniwengi yang tiba lebih dulu memeluk Alma karena larinya lebih kencang.
Bluk!
Tiba-tiba datang Anjengan yang berlari pelan tapi menabrak, membuat kedua wanita yang sedang berpelukan itu nyaris jatuh terdorong.
“Hahaha! Alma, tambah cantik seperti aku!” kata Anjengan yang terpukau melihat kecantikan adik pungutnya itu.
“Syukurlah, kau tambah terlihat seperti Orang Bersandal,” ucap Slamet Lara. Ia tidak turut memeluk anaknya. Ia khawatir putri angkatnya itu akan malu, karena Alma sekarang terlalu cantik.
Memang, jika keempat anggota keluarga itu berkumpul satu, maka Alma akan terlihat seperti bintang di gelapnya malam. Slamet Lara, Muniwengi dan Anjengan memiliki warna kulit yang gelap, sangat kontras dengan Alma yang putih bersih dan terang.
“Alma! Alma! Alma!” teriak orang banyak mendatangi Alma. Mereka adalah para tetangga dan teman-teman Alma.
“Waaah, Alma tambah cantik. Mak, lamarkan Alma untukku, Mak!” teriak Iwak Ngasin kepada ibunya yang bertubuh gemuk. Teman Alma itu kini semakin jangkung, tapi kurusnya tetap konsisten.
“Sembarangan kalau bicara!” hardik si ibu sambil memukul kuping kiri putranya. “Harusnya kau berkaca ke laut. Kau itu sangat tidak pantas dengan Alma. Alma itu jodohnya nanti dengan seorang pangeran, biar kita satu kampung diboyong ke Istana.”
“Hahahak! Betul, Mak Ruwet. Aku rencananya mau menikah dengan seorang pangeran!” sahut Alma yang didahului oleh tawa khasnya.
“Dengan siapa, Alma?” tanya Slamet Lara cepat.
“Masih dalam hayalan, Ayah. Hahaha!” kata Alma.
Mereka pun tertawa ramai-ramai.
“Apa yang terjadi dengan suami Mak Cemungut, Ayah?” tanya Alma ingin tahu.
Memang saat itu ada dua kerumunan, tapi tidak ada virus di sana. Kerumunan pertama adalah warga desa yang ingin tahu apa yang terjadi dengan suami Cemungut, dengan sumber terpercayanya adalah Badiman.
Kerumunan kedua adalah orang yang mengerumuni Alma karena mereka sangat senang melihat gadis itu pulang. Terlebih Alma sekarang bukan anak-anak lagi dan penampilannya pun memang sudah seperti seorang pendekar.
__ADS_1
“Siluman ikan di dekat Pulau Seribis telah menghancurkan perahu Lulapa. Lulapa lalu jatuh ke laut dan ikan itu memangsanya!” kata Badiman bercerita dengan ekspresi yang sangat sedih.
“Tidaaak! Suamikuuu!” teriak Cemungut histeris lalu jatuh pingsan. (RH)