A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 3: Menyergap Demang


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


Demang Baremowo duduk di kereta kudanya yang terbuka tanpa bilik atau atap. Pada kereta kuda itu hanya ada kursi dari kayu berukir dan sebuah payung bambu yang fungsinya memayungi Demang dari sengatan sinar matahari.


Demang Baremowo adalah seorang lelaki separuh baya, tetapi penampilannya yang berkelas dan rapi membuatnya terlihat lebih muda dan gagah. Ia memiliki wajah yang putih bersih, seperti kebanyakan orang bangsawan, lebih tinggi kastanya dibandingkan Orang Bersandal, kalangan kaya menurut versi penduduk desa di Pantai Parasemiris. Tidak seperti kepala daerah kebanyakan, Demang Baremowo tidak berlemak. Ia hanya memelihara jenggot tipis. Ia mengenakan pengikat kepala dari kain berwarna cokelat, berbeda dengan warna pakaiannya yang hitam dari bahan kain bagus.


Selain kusir yang bernama Jamurang, Demang Baremowo juga dikawal oleh dua lelaki berkuda berpenampilan pendekar. Lelaki berkumis berbaju hitam bernama Gedak Suta. Lelaki berambut tipis tapi gondrong dan botak di tengah, bernama Goda Kadal. Ia mengenakan baju merah tanpa kancing. Gedak Suta dan Goda Kadal dikenal dengan julukan Dua Golok Setia. Keduanya memang berbekal golok tidak biasa.


Demang Baremowo duduk dengan kedua tangan direntangkan di atas sandaran kursi keretanya. Seolah ia sedang menikmati perjalanannya.


“Jamurang, kau mencurigai siapa atas hilangnya Gelis Sibening?” tanya Demang Baremowo kepada kusirnya.


“Pastinya aku curiga dengan orang Perguruan Jari Hitam, Gusti, terutama kepada Dendeng Pamungkas. Gelis Sibening dan pemuda itu beberapa kali aku ketahui melakukan pertemuan. Namanya anak muda, sering bertemu diam-diam dan saling mencintai, aku khawatir keduanya kabur demi cinta,” jawab Jamurang agak panjang.


“Jika demikian, langsung pergi ke Perguruan Jari Hitam saja!” perintah Demang Baremowo.


“Tapi, Gusti …. Itu hanya dugaanku saja,” kata Jamurang cepat, ia khawatir karena dugaannya itu justru menjadi pemicu konflik yang lebih buruk antara Perguruan Jari Hitam dengan Demang Baremowo.


“Kita tidak akan buat keributan, hanya sekedar bertanya,” kata Demang Baremowo.


“Baik, Gusti,” patuh Jamurang.


Karena arah tujuan jadi berubah, ketika mereka tiba pada sebuah pertigaan di area pepohonan bambu, Jamurang memilih berbelok ke kiri. Gedak Suta dan Goda Kadal terus mengikuti majikannya.


Namun, tanpa mereka ketahui, ada pergerakan senyap orang-orang berseragam cokelat-cokelat yang mengikuti kepergian rombongan itu. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah jalan yang diapit oleh kerimbunan dua kelompok pohon bambu di kanan dan kiri jalan.


“Serang!”


Tiba-tiba terdengar satu teriakan komando, mengejutkan Demang Baremowo dan anak buahnya. Setelah itu, dari sisi kanan dan kiri jalan, dari balik kerumunan batang pohon bambu bermunculan orang-orang berpakaian cokelat yang menutup wajahnya dengan kain, hanya mata mereka yang tidak ditutupi.


Bukan hanya pendekar Dua Golok Setia yang langsung melakukan perlawanan atas serangan tersebut, Demang Baremowo dan Jamurang juga melakukan perlawanan, karena mereka jadi target serangan.


Ada sekitar dua puluh orang lelaki berseragam cokelat-cokelat bersenjatakan pedang yang menyerang. Ada satu orang yang saat ini hanya berdiri menonton.


Satu orang itu juga berpakaian serba cokelat, tetapi warnanya lebih gelap. Postur tubuhnya berisi padat dengan dua otot lengan yang besar dan keras. Ketika ia bersedekap, tercetak jelas sembulan dadanya yang besar. Lelaki berambut gondrong itu hanya menutupi wajah bawahnya dengan kain berwarna cokelat. Ia berbekal senjata pedang yang jauh lebih besar dan panjang dari pedang biasa. Sebut saja dia bernama Jejak Langit.


Rupanya, para penyerang itu bukan sekedar pendekar kaleng-kaleng. Keroyokan mereka langsung membuat Demang Baremowo dan anak buahnya terdesak.


Set! Set! Seb!


“Aaak!”

__ADS_1


Meski Jamurang bisa bertarung, tetapi keroyokan itu membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Dua tebasan pedang bersusulan melukai punggung dan lengan Jamurang. Serangan terakhir bagi Jamurang adalah satu tusukan pedang pada perutnya yang tembus hingga ke belakang. Pemilik pedang mencabut senjatanya dengan gaya petarung samurai.


Jamurang tumbang ke tanah, tidak jauh dari kaki kuda kereta. Sais itu tewas.


Selanjutnya, orang-orang yang membunuh Jamurang beralih menyerang Demang Baremowo, bergabung bersama rekan-rekannya.


Karena semakin keteteran, Demang Baremowo memutuskan melompat turun dari atas kereta kudanya. Ketika ia mendarat, tujuh orang segera memburunya dari segala arah. Namun, sebelum pedang-pedang itu sampai kepada tubuh Demang, penguasa Kademangan Dulangwesi itu cepat mengeluarkan kesaktiannya.


Blaam!


Ketika Demang Baremowo menghentakkan kedua lengannya, dari tubuhnya meledak segelombang tenaga sakti. Ketujuh lelaki bertopeng berpentalan dan berjatuhan, tetapi mereka segera bangkit.


“Serangan Tukar Pedang!” teriak salah satu lelaki bertopeng memberi komando.


Untuk melakukan jurus Serangan Tukar Pedang dibutuhkan delapan orang. Maka satu orang lelaki segera bergabung bersama ketujuh rekannya. Demang Baremowo kini dikepung dari delapan arah mata angin. Kedelapan orang itu berdiri dalam posisi tubuh menyamping dan kaki rapat, sementara posisi tangan melipat di depan dada bersama pedang yang diatur sedemikian rupa.


Demang Baremowo bersiap.


Set set set …!


Dengan posisi tangan tetap seperti bersedekap di depan dada, kedelapan orang bertopeng itu melesatkan pedang lurusnya. Pelesatan itu tidak bersama, tetapi dimulai satu orang lalu yang lain mengikuti dengan ritme berurutan.


Setelah satu pedang melesat, pedang dua, tiga, empat, hingga delapan dilesatkan susul-menyusul. Semua pedang dilesatkan ke arah Demang Baremowo. Uniknya, tidak ada pedang yang saling bertabrakan atau saling senggol-senggolan seperti penonton orkes dangdut.


Set set set …!


Kedelapan orang itu kembali melakukan serangan yang serupa. Karena sudah melihat gaya serangan lawan, Demang Baremowo melakukan cara yang berbeda. Ia segera mengerahkan tenaga dalam yang tinggi pada kedua lengannya.


Pedang-pedang kembali menyerang dengan lesatan yang cepat. Demang Baremowo bergerak gesit menghindar. Beberapa pedang ia tangkis dengan kedua tangannya yang dilapisi tenaga sakti tinggi, membuat tangannya tidak terluka. Tangkisan itu membuat lesatan beberapa pedang jadi berbelok arah, sehingga formasi arah pedang jadi terkacaukan.


Namun, ternyata kacaunya arah lesatan pedang bukan masalah besar bagi kedelapan orang tersebut.


“Mainkan!” seru satu orang berkomando lagi.


Perintah itu bukan perintah untuk menari, tetapi perintah untuk memainkan lesatan pedang. Mereka berdelapan main oper-operan pedang sesama teman, tetapi sebagian juga dilesatkan menyerang Demang Baremowo. Yang jadi masalah bagi Demang Baremowo adalah dia jadi tidak bisa membaca jelas arah semua pedang. Beberapa arah pedang ternyata hanya bermaksud lewat di dekatnya sekedar mengalihkan perhatian, sementara beberapa pedang yang lain menyerang dari sisi Demang yang lengah.


Set set!


“Akk!” jerit Demang Baremowo saat dua pedang berhasil menyayat lengan dan bahunya.


Di sisi lain, ternyata Gedak Suta dalam posisi yang sama dengan Demang Baremowo, ia juga dikurung dalam formasi jurus Serangan Tukar Pedang. Serangan jurus pedang itu semakin ganas mendesak Gedak Suta yang bermodal Golok Setia berwarna biru gelap.

__ADS_1


Ting ting ting …!


Tangkisan-tangkisan berulang itu Gedak Suta lakukan demi melindungi tubuhnya dari pedang.


Sress! Trang!


Pada satu ketika, golok biru Gedak Suta menyala biru redup. Gedak Suta membabat tiga pedang yang datang sekaligus. Tiga pedang itu langsung berpatahan.


Set set!


“Aaak!” pekik tertahan Gedak Suta saat dua pedang berhasil menyayat paha dan pingggang kanannya.


Keberhasilan Gedak Suta mematahkan tiga pedang pengeroyoknya, menciptakan sedikit lubang lemah bagi Gedak Suta. Lubang lemah itu dengan jeli dimanfaatkan oleh musuh, sehingga dua pedang berhasil masuk melukai Gedak Suta.


Treng!


Ketika menyusul dua serangan pedang lainnya, Gedak Suta bisa menangkis dan mematahkan dua pedang tersebut. Lagi-lagi lubang lemah tercipta dan tiga pedang yang tersisa memanfaatkan celah lemah itu.


Cara Gedak Suta selamat adalah berguling di tanah dan langsung mendekati posisi kaki dua orang pengeroyoknya. Sambil menahan rasa sakit pada lukanya, Gedak Suta menebaskan goloknya mengincar kaki dua orang lawannya.


Dua lawannya mampu mengelak dengan melompat mundur. Namun, pada saat yang sama, dua tendangan berkelebat cepat kepada Gedak Suta, memaksanya melompat tinggi ke udara.


Set! Ting!


Sest! Jless!


Ketika berada di udara, sebilah pedang melesat terbang menyerang Gedak Suta. Pedang itu bisa ditangkis oleh Gedak Suta sehingga patah dua. Namun, tiba-tiba ada pedang lain berwarna kuning melesat sangat cepat dan langsung menusuk tembus perut Gedak Suta. Pedang kuning itu tidak lain adalah seberkas sinar berwujud pedang. Pelepasnya adalah Jejak Langit, pemimpin pasukan bertopeng tersebut.


Blugk!


Gedak Suta jatuh berdebam ke tanah tanpa jeritan, tapi dengan perut yang berlubang dari depan hingga tembus ke belakang. Serangan curang dari Jejak Langit telah membunuh Gedak Suta.


“Adik Gedaaak!” teriak Goda Kadal terkejut melihat kematian saudaranya.


“Yah, bubur,” ucap Ayu Wicara mengomentari tewasnya Gedak Suta.


“Gugur, bukan bubur, Ayu! Hahahak!” ralat Alma lalu tertawa.


“Iya, itu maksud aku, Amal,” kata Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa Alma, Magar Kepang, Debur Angkara, dan Garam Sakti mendengar nama Alma salah sebut oleh Ayu.

__ADS_1


Ternyata, rombongan Alma Fatara sudah ada di jalanan tersebut dan menjadi penonton. Mereka mau lewat, tetapi terhalang oleh pertarungan. (RH)


__ADS_2