A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 27: Panglima Turun Tangan


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


 


Arung Seto, Ariang Banu, Bandeng Prakas, Balingga, Ujang Barendo, dan Ronggo Manik mengeroyok Gegas Simanuk dan Tiro Mulaga. Namun, meski mereka jumlahnya lebih banyak, tapi pada faktanya mereka kalah tingkat untuk urusan ilmu kesaktian dibandingkan Gegas Simanuk dan Tiro Mulaga.


Pak pak!


Terbukti ketika tinju Arung Seto dan Ariang Banu datang bersamaan kepada Gegas Simanuk, kedua tinju itu diadu dengan hantaman dua telapak tangan yang bertenaga dalam tinggi. Hasilnya, Arung Seto dan Ariang Banu terdorong keras beberapa tindak. Keduanya meringis menahan rasa sakit berdenyut yang melanda lengan kanan mereka. Sementara Gegas Simanuk tidak menderita rasa sakit sedikit pun atau terdorong mundur.


Demikian pula dengan Tiro Mulaga. Lelaki bertubuh besar itu seperti tiang beton yang kokoh. Pukulan dan tendangan tidak ada yang bisa membuatnya meringis kesakitan. Berulang kali keenam pengeroyoknya dibuat terpental dan jatuh bangun, seperti judul lagu dangdut.


Bandeng Prakas melompat dengan tendangan keras yang berasap, menunjukkan bahwa tendangan itu bukan tendangan kaleng-kaleng.


Daks!


Tiro Mulaga hanya menegakkan batang tangan kanan melindungi kepalanya. Kaki Bandeng Prakas menghantam batang tangan Tiro Mulaga. Namun hasilnya, kaki dan tubuh Bandeng Prakas terpental balik. Kakinya seperti menghantam sesuatu yang tidak bergerak karena begitu kokohnya.


Bandeng Prakas jadi terjatuh. Ia cepat bangkit, tapi gerakan langkahnya jadi terpincang.


“Bandeng, kenapa kau sibuk di sini? Lihat di sana, kekasihmu diculik!” kata Ujang Barendo.


Terkejutlah Bandeng Prakas, seolah baru tersadar. Ia segera melempar pandangannya ke arah jauh, sementara yang lainnya terus berusaha melawan kedua pendekar hebat yang mereka keroyok.


Bandeng Prakas melihat Ninda Serumi sudah berada di dalam panggulan Gemba Arek, yang baru saja menghancurkan sejumlah prajurit dengan angin pukulannya. Setelah itu, Gemba Arek berkelebat pergi ke luar alun-alun, tetapi dia dihadang oleh Debur Angkara dan Garam Sakti.


Bandeng Prakas cepat berlari pergi meninggalkan pertarungan. Ia berlari terpincang untuk mengejar Gemba Arek yang membawa kekasihnya.


Ronggo Manik, Balingga dan Ujang Barendo, kini untuk kesekian kalinya berusaha menjatuhkan Gegas Simanuk.


Ses! Bress!


Balingga menghentakkan tangan kanannya yang melesatkan selarik sinar ungu tanpa putus. Gegas Simanuk cepat menciptakan tameng sinar biru di depan badannya, membuat sinar ungu Balingga tertahan.


Posisi bertahan yang dilakukan oleh Gegas Simanuk segera dimanfaatkan oleh Ronggo Manik dan Ujan Barendo. Keduanya sama-sama melancarkan kepal tinju yang bertenaga dalam tinggi.


Namun, tiba-tiba Tiro Mulaga muncul di belakang punggung Gegas Simanuk.


Paks!


Bung! Bung!


Tiro Mulaga yang baru saja menjatuhkan Arung Seto dan Ariang Banu, menempelkan telapak tangan kanannya ke punggung Gegas Simanuk, mengalirkan tenaga sakti.


Selanjutnya, dua tinju Ronggo Manik dan Ujang Barendo menghantam tenaga perisai lain yang tidak tampak di depan tubuh Gegas Simanuk. Ronggo Manik dan Ujang Barendo terpental balik dan jatuh terjengkang.


“Hoekh!” keduanya langsung muntah darah kental bersamaan seperti anak kembar.


Blarr!


Tiba-tiba pertemuan antarujung sinar ungu Balingga dan perisai sinar biru Gegas Simanuk meledak hebat dan nyaring. Balingga terpental oleh hentakan tenaga balik dari ledakan tersebut. Sementara Gegas Simanuk tetap berdiri di tempatnya, karena punggungnya ditahan oleh Tiro Mulaga.

__ADS_1


“Hoekh!” Balingga juga muntah darah. Ia mengerang menahan sakit pada seluruh tubuhnya. “Arrrg!”


Ronggo Manik dan Ujang Barendo telah bangun kembali, tetapi berdiri mereka goyah, seolah sedang kehilangan kekuatan. Terlihat lengan kanan mereka yang tadi meninju perisai tanpa wujud, terkulai menggantung tidak berdaya.


“Sepertinya kita kalah, Ujang Jengkol,” kata Ronggo Manik saat melihat kakak adik putra Bendahara Kadipaten bernasib tidak lebih baik.


“Pulanglah, para Anak Muda!” teriak seseorang tiba-tiba.


Sosok berpakaian merah terang berkelebat dan langsung menghantamkan telapak tangan kanannya yang bersinar hijau kepada Gegas Simanuk.


Bress! Pak!


Gegas Simanuk kembali mengerahkan ilmu perisainya yang berwujud sinar biru, ilmu yang sama ketika ia menahan kesaktian Balingga. Pada saat yang sama, Tiro Mulaga kembali menempelkan telapak tangannya ke punggung Gegas Simanuk, menyalurkan tenaga bantuan kepada rekannya.


Bags!


Telapak tangan lelaki berpakaian merah terang yang adalah Panglima Ragum Mangkuawan itu, menghantam dahsyat sinar biru perisai di depan tubuh Gegas Simanuk. Sinar biru itu hancur sirna seiring tubuh Gegas Simanuk yang terhentak keras di posisinya.


“Hukr!”


Darah kental sampai tersembur dari mulut Gegas Simanuk sehingga mengotori pakaian Ragum Mangkuawan yang ada di depannya. Darah tidak hanya keluar dari mulut Gegas Simanuk, tetapi juga keluar lewat lubang hidung, mata dan telinga, seolah-olah ada yang pecah di dalam kepalanya.


Sementara itu, tubuh besar Tiro Mulaga terlempar ke belakang dan jatuh terjengkang. Ia meringis kesakitan sambil pegangi dadanya. Ada segaris darah yang keluar dari celah bibirnya.


Pukulan Mutiara Hijau milik Ragum Mangkuawan telah memecahkan jantung dan isi kepala Gegas Simanuk. Setelah itu, ia tumbang tanpa nyawa lagi.


“Kalian telah bersekongkol hendak membunuh Pangeran Kerajaan Singayam. Maka mati adalah hukumannya!” teriak Ragum Mangkuawan kepada Tiro Mulaga.


“Orang ini terlalu sakti, lebih baik aku kabur,” batin Tiro Mulaga, lalu ia tiba-tiba melesat mundur menjauh.


Ternyata kecepatan lesatan tubuh sang panglima lebih cepat dari Tiro Mulaga. Maka dalam waktu singkat, jarak kejar keduanya semakin dekat.


Set! Seet!


Tiba-tiba keris warna perak Ragum Mangkuawan melesat terbang sendiri dari sarungnya. Lalu melesat mengejar ke arah Tiro Mulaga.


Zess!


Alangkah terkejutnya Tiro Mulaga mendapat serangan keris terbang seperti itu. Sambil membalikkan tubuh, Tiro Mulaga menghentakkan lengan kanannya, mengirim sebola sinar merah kecil guna menghadang si keris perak.


Sref! Tseb!


Ternyata, sinar merah milik Tiro Mulaga bisa ditembus oleh keris perak yang langsung melesat menusuk perut sixpack Tiro Mulaga.


“Akk!” jerit Tiro Mulaga dengan tubuh yang tumbang.


Tangan kanan Tiro Mulaga memegang gagang keris yang menancap lalu mencabutnya. Namun, keris itu tidak tercabut sedikit pun, seolah melekat kuat pada perutnya.


“Katakan, siapa yang meyuruh kalian membunuh Pangeran DerAjat Jiwa!” perintah Panglima Ragum Mangkuawan yang sudah berdiri di dekat kaki Tiro Mulaga yang wajahnya memerah menahan sakit.


“Tidak akan aku katakan!” desis Tiro Mulaga.

__ADS_1


“Sudah mau mati masih setia!” rutuk Ragum Mangkuawan. “Aku akan membiarkanmu hidup jika kau menyebut siapa yang membayarmu!”


“Wakil Adipati!” jawab Tiro Mulaga akhirnya.


“Kurang ajar!” maki Ragum Mangkuawan.


Set! Blup!


“Aak!” jerit Tiro Mulaga tinggi, ketika Ragum Mangkuawan menarik kerisnya dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya memasukkan sebutir sinar kecil berwarna putih ke dalam luka tusukan Tiro Mulaga. Meski itu sinar ilmu obat, tetapi rasa sakitnya tidak ketulungan.


Baks!


“Hakrr!”


Namun kemudian, Ragum Mangkualam menjejakkan kaki kanannya ke dada Tiro Mulaga yang terbaring kesakitan di tanah. Ada gelombang sinar merah yang halus dari hantaman telapak kaki itu.


Panglima Ragum Mangkuawan memang mengobati luka tusukan pada perut Tiro Mulaga, tetapi hantaman pada dada dengan ilmu Injak Tanam Keji membuat Tiro Mulaga rusak tubuh dalamnya, tapi tidak sampai akan membuatnya mati.


Setelah itu, Ragum Mangkuawan menengok melihat ke arah jauh. Dilihatnya Wakil Adipati Pamong Sukarat sedang merayap di tanah berumput alun-alum. Dia merayap karena tidak sanggup bangun berjalan. Kini kedua lututnya telah bengkak.


Ragum Mangkuawan lalu berkelebat ke arah posisi Pamong Sukarat.


“Bebaskan Adipati Marak Wijaya!” perintah Ragum Mangkuawan kepada keempat prajurit yang masih menyandera sang adipati.


“Baik, Gusti Panglima!” sahut keempat prajurit itu.


Terkejut Pamong Sukarat mendengar perintah itu. Ia berhenti merayap dan mendongak untuk melihat situasi sekitar.


Namun, Pamong Sukarat kian terkejut saat melihat sosok berpakaian merah terang datang berkelebat ke arahnya.


Seet!


Masih sanggup Pamong Sukarat melesatkan sekumpulan jarum sebagai senjata rahasianya. Namun, Ragum Mangkuawan mampu menggugurkan jarum-jarum itu menggunakan kibasan tangannya yang bertenaga dalam tinggi.


Jleg!


Ragum Mangkuawan mendarat tepat di depan wajah Pamong Sukarat yang sudah panik dengan tatapan liar, seolah mencari jalan kabur. Namun, dalam kondisi lumpuh kedua kakinya, Pamong Sukarat telah tidak berdaya.


“Kenapa kau ingin membunuh Pangeran Derajat Jiwa, Wakil Adipati?!” bentak Ragum Mangkuawan.


“Bukan aku, Gusti. Aku difitnah oleh Adipati!” jawab Pamong Sukarat berusaha berdalih.


“Bohong! Kau ingin menjebakku agar kau yang kemudian naik menjadi Adipati!” teriak Adipati Marak Wijaya yang datang mendekati Ragum Mangkuawan.


“Tidak ada kata ampun, Wakil Adipati!” tegas Ragum Mangkuawan sambil cabut keris peraknya.


“Jangan, Gusti Panglima! Ja … aakk!” teriak Pamong Sukarat ketakutan, tetapi kemudian keris perak itu memutuskan kata-katanya dan berganti dengan jeritan.


Ragum Mangkuawan tanpa ragu menusuk dada Pamong Sukarat.


Crass!

__ADS_1


Dilanjutkan dengan eksekusi mengiris leher Pamong Sukarat.


Maka, seperti hewan kurban, Pamong Sukarat tumbang dengan mata melotot dan lidah menjulur penuh darah. Lehernya seolah menjadi mata air darah. Tamatlah karir dan hidup Wakil Adipati Pamong Sukarat. (RH)


__ADS_2