A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 15: Anggota Baru Dadakan


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Siang itu, Alma Fatara dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat, Alma harus memastikan dulu jumlah personelnya agar tidak ada penambahan penumpang.


Nenek Warna Mekararum sudah duduk santai di bak pedati. Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara sudah siap di atas kudanya masing-masing. Garam Sakti sudah duduk di belakang kuda sambil memegang tali kendali dua kuda penarik pedati.


Genggam Sekam harus tinggal sejenak di kediaman Dugil Ronggeng untuk memperkuat silaturahmi kepada kedua orangtua Ning Ara. Gadis itu ternyata menyatakan menerima pinangan Pendekar Tongkat Berat untuk menjadi kekasih setia.


Sementara Nyai Delima sudah pergi meninggalkan desa itu setelah luka tusuk di perutnya mendapat penanganan medis dari tabib desa. Ia harus cepat kembali kepada saudara kembarnya yang ia tinggalkan beristirahat di suatu tempat.


Saat keberangkatannya, Alma tidak melihat keberadaan Ning Ana.


“Mungkin Ning Ana mengurung diri di kamarnya karena usai dimarahi habis-habisan oleh ayahnya,” pikir Alma.


Perjalanan pun dilanjutkan dengan kegembiraan. Kepala Desa dan orang terkaya desa itu menyatakan sangat berterima kasih atas bantuan Alma Fatara. Bahkan mereka dibekali berbagai macam makanan untuk konsumsi selama perjalanan.


Dari Desa Bungitan, mereka pergi ke arah Sungai Ngulur, lalu mengikuti jalan yang menuju hilir.


Ketika rombongan itu sedang menyusuri jalan di sepanjang pinggiran Sungai Ngulur, tiba-tiba ….


“Kakak Almaaa! Kakang Garaaam!” teriak seorang wanita dari balik rumput ilalang yang tinggi.


Alangkah terkejutnya mereka mendengar panggilan itu. Meski belum melihat orangnya, tetapi mereka mengenal suaranya.


Dan benar saja, dari balik ilalang di sisi jalan muncul seorang gadis tanggung yang berlari mengejar pedati kuda.


“Ning Ana!” pekik mereka bersamaan.


“Hihihi …!” tawa Ning Ana sambil dengan gesit naik ke pedati yang berhenti. Ia langsung duduk di sisi Garam Sakti, bahkan duduknya merapat ke tubuh Garam Sakti.


Orang-orang dewasa itu hanya dibuat terperangah dengan tingkah si gadis tanggung. Alma sampai mengerenyit, sementara Garam Sakti jadi bingung sendiri dengan memandang kepada Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara.


“Hihihi!” Ayu Wicara justru kemudian tertawa melihat kondisi psikis Garam Sakti yang bingung. Lalu katanya, “Kalau sudah bodoh, tidak akan ke tanah-tanah!”


“Siapa yang bodoh?” tanya Ning Ana.


“Siapa yang bilang bodoh? Aku bilang, kalau sudah bodoh …. Eh, kalau sudah jodoh, tidak akan ke tanah-tanah,” tandas Ayu Wicara.


“Ke mana-mana, Ayuuu!” ralat Magar Kepang.


“Iya, maksudku itu,” kata Ayu Wicara.

__ADS_1


Rombongan itu kembali berjalan, tapi pelan. Mereka harus memastikan dulu posisi si anak bandel, yaitu Ning Ana.


“Ning Ana!” panggil Alma Fatara.


“Iya, Kak Alma?” sahut Ning Ana sambil menengok dan tersenyum seimut-imutan.


“Sebenarnya kau mau apa?” tanya Alma bernada serius.


“Aku mau ikut kalian berpetualang sampai jauh seperti burung. Tadi aku mengajak Kak Ning Ara, tetapi gara-gara sudah jadi kekasih Kakang Mata Buaya, dia tidak mau. Jadi aku pergi sendiri saja,” jawab Ning Ana dengan lancar, seolah tindakannya tidak ada masalahnya.


“Kau sudah diizinkan oleh ayahmu?” tanya Alma.


“Jika aku diizinkan, aku pasti ikutnya mulai dari depan rumah, bukan dari sini,” jawab Ning Ana.


“Kami akan pergi jauh. Jika kau ikut, ayahmu akan mencarimu dan dia tidak tahu kau ada di mana sekarang,” kata Alma dengan nada sedikit tinggi. Jarang-jarang Alma dibuat kesal seperti itu.


“Nanti juga Ayah akan tahu jika diberi tahu oleh Kakak Ara,” jawab Ning Ana enteng.


Alma mengembuskan napas masygul.


“Bagaimana menurut, Nenek?” tanya Alma kepada Warna Mekararum.


Mendelik Alma mendengar jawaban sang nenek berwajah kebiruan itu.


“Hihihi! Aku jadi sayang kepada Nenek Warna,” celetuk Ning Ana gembira, karena mendapat dukungan dari orang terhormat dalam rombongan itu.


“Tapi Ning Ana tidak memiliki keahlian apa-apa, Nek. Itu akan menjadi hambatan bagi kita,” protes Alma.


“Kang Garam akan melindungi calon istrinya sepanjang waktu!” sahut Ning Ana lagi, lalu mencolek lambung berotot Garam Sakti.


Garam Sakti hanya tersentak kaget mendapat colekan geli seperti itu.


“Anak seperti Ning Ana ini, tidak akan pernah manjur jika dipaksa. Diancam dibunuh pun, jika dia punya kemauan, pasti tetap akan dilakukan. Jika Dugil Ronggeng tahu bahwa putrinya pergi bersama kita, itu tidak akan membuatnya begitu khawatir,” jelas Warna Mekararum. “Biarkan Ning Ana menjadi bagian dari kita, keamanannya serahkan kepada Garam Sakti, selama Garam Sakti masih bisa bertahan.”


Alma Fatara manggut-manggut mendengar penjelasan sang ratu.


“Baiklah, Ning Ana! Sekarang kau anggota dari rombongan ini!” teriak Alma Fatara.


“Yeee! Hihihi …!” teriak Ning Ana girang lalu tertawa kencang sambil memeluk erat tubuh besar Garam Sakti.


“Hihihi …!” tawa Ayu Wicara melihat ekspresi Garam Sakti yang tidak bisa berbuat apa-apa saat dipeluk Ning Ana yang sepantasnya menjadi adik atau anak pemuda besar itu.

__ADS_1


Meski kecil, tetapi Ning Ana yang sudah memiliki tanda-tanda pertumbuhan, tetap saja membuat Garam Sakti dag dig dug.


“Sekarang Ning Ana di bawah lindungan kita semua. Kang Garam bertugas untuk selalu memastikan keberadaan dan keamanan Ning Ana!” seru Alma lagi.


“Baik, Alma!” sahut Garam Sakti patuh.


“Percepat lari kuda!” teriak Alma berkomando.


“Siaaap!” teriak para anggota rombongan kembali bersemangat. Perkara Ning Ana dianggap selesai.


“Hihihi! Kak Alma memang punya kelompok yang menyenangkan. Sayang, Jelita tidak bisa ikut,” kata Ning Ana.


“Memang Jelita itu siapa?” tanya Garam Sakti.


“Nah! Begitu dong, Kang Garam. Aku juga merindukan untuk ditanya-tanya oleh calon suami. Hihihi!” kata Ning Ana, membuat Garam Sakti jadi menelan ludahnya lalu memilih diam kembali.


Alma hanya tertawa melihat ketersudutan Garam Sakti.


“Jelita itu nama kambing kesayangan Ning Ana, Kang Garam,” kata Alma menjawab pertanyaan Garam Sakti yang tidak dijawab oleh Ning Ana.


“Ooh,” desah Garam Sakti.


“Kang Garam! Apakah Kang Garam senang punya calon istri secantik aku?” tanya Ning Ana.


“A-a-aku tidak tahu,” jawab Garam Sakti tergagap.


“Garam Sakti itu sudah punya calon istri di Desa Iwakculas!” sahut Magar Kepang yang kudanya berjalan berdampingan dengan kuda pedati.


Terkejut Ning Ana dan Garam Sakti mendengar perkataan Magar Kepang. Ning Ana terkejut karena merasa akan menjadi pelakor. Garam Sakti terkejut karena ia merasa tidak pernah punya kekasih, apalagi calon istri.


“Aku tidak peduli. Jika nanti aku bertemu dengan calon istri Kang Garam, aku akan membunuhnya!” kata Ning Ana yang membuat mereka semua terkesiap, kecuali Alma dan Warna Mekararum.


Setengah hari bersama Ning Ana tadi, membuat Alma tidak heran jika kata-kata Ning Ana terkadang barbar. Itu sudah menjadi karakter gadis tanggung itu. Adapun Warna Mekararum, dia sudah kenyang oleh asam garam kehidupan, tidak akan kaget lagi jika menjumpai seburuk-buruknya karakter. Orang yang berkarakter paling jahat sudah pernah ia hadapi, yaitu orang yang kini membuat dirinya menjadi pesakitan seperti itu.


“Ta-tapi, aku tidak pernah punya calon istri,” kata Garam Sakti meluruskan.


“Hahaha!” tawa Magar Kepang, menunjukkan bahwa ia berbohong.


“Wah, Paman Magar perlu merasakan cubitanku nanti!” geram Ning Ana.


Dari arah yang berlawanan muncul tiga ekor kuda yang ditunggangi oleh tiga lelaki berpenampilan pendekar. (RH)

__ADS_1


__ADS_2