
*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*
Setelah berjalan menyusuri dinding es ke arah kanan, Adipati Lalang Lengir akhirnya menemukan tangga es yang menuntun ke atas.
Adipati wanita itu lalu menaiki tangga es. Ia harus mengerahkan sedikit tenaga dalamnya dalam menahan hawa dingin yang ekstrem.
“Selamat datang di benteng es Rawa Kabut, Bibi!” sapa Alma Fatara setibanya Adipati Lalang Lengir di atas. Senyum lebarnya memperlihatkan gigi ompongnya. “Ternyata Bibi Adipati sangat cantik.”
Adipati Lalang Lengir sejenak terdiam memandangi Alma Fatara.
“Ikut aku, Bibi!” ajak Alma Fatara lalu berbalik melangkah pergi.
Adipati Lalang Lengir mengikuti Alma Fatara dan berjalan di sisi kirinya.
“Siapa kau, Nisanak Muda?” tanya Adipati Lalang Lengir dingin.
“Namaku Alma Fatara.”
“Kenapa aura Bola Hitam begitu kuat ada pada dirimu?” tanya Adipati Lalang Lengir.
“Karena Bola Hitam ada padaku. Apakah Bibi juga tertarik ingin merebutnya?”
“Dengan posisiku saat ini, sangat tidak mungkin melakukan itu. Apakah kau wanita yang menolong Gusti Ratu Warna Mekararum?”
“Benar.”
“Di mana kau bertemu dengan Gusti Ratu?”
“Di Pulau Seribis, pulau yang kami ketahui tidak berpenghuni. Aku menemukan Gusti Ratu dalam kondisi disiksa ratusan binatang berbisa oleh sekelompok prajurit kerajaan.”
“Apakah mereka prajurit Kerajaan Jintamani?”
“Prajurit itu mengakunya seperti itu. Gusti Ratu juga menyebutnya seperti itu,” jawab Alma.
“Apa warna seragam prajurit itu hijau dan hitam?” tanya Adipati Lalang Lengir masih bermaksud benar-benar mengetes kebenaran yang sudah ia percayai.
“Bukan warna itu, tetapi warna biru gelap,” jawab Alma Fatara.
“Berarti benar mereka adalah prajurit Kerajaan Jintamani.”
“Apakah Bibi masih ragu?” tanya Alma.
__ADS_1
“Hanya bertemu dengan Gusti Ratu yang membuatku tidak bisa curiga lagi,” tandas Adipati Lalang Lengir. “Apakah kau yang membangun benteng es ini?”
“Benar.”
“Siapa sebenarnya kau, Alma?”
“Hahaha! Aku hanya anak nelayan yang atas izin Dewa bertemu dengan Gusti Ratu, tidak seperti Bibi yang adalah seorang berkedudukan.”
Akhirnya mereka tiba di depan rumah Jangkung Jamur alias Ki Ramu Empedu. Dari atas rumah turun seorang wanita tua yang adalah Ratu Warna Mekararum. Perkembangan yang sangat baik bahwa kini sang ratu sudah bisa berjalan sendiri. Namun, masih ada sisa-sisa warna biru samar pada wajah putihnya.
Melihat sosok yang memang adalah Ratu Warna Mekararum, Adipati Lalang Lengir langsung turun berlutut menyembah.
“Sembah hamba, Gusti Ratu!”
“Bangkitlah, Lalang Lengir!” perintah Ratu Warna Mekararum.
Adipati Lalang Lengir bergerak bangkit berdiri.
“Kau datang dengan siapa?” tanya sang ratu.
“Dua orang pengawal setiaku dan tiga puluh prajurit berkuda yang terhenti di Lembah Hilang,” jawab Adipati Lalang Lengir.
“Setelah kau melihatku, kau memilih setia kepada tahta Kerajaan Jintamani atau kepada pemberontak Gending Suro?”
“Kau tidak perlu ragu, Lalang Lengir. Meski aku tidak memiliki pasukan, tetapi aku memiliki pendekar berkekuatan seribu pasukan,” kata Ratu Warna Mekararum.
“Menurut Pendekar Tongkat Berat, pasukan Kadipaten Pagamuyung sudah diambil alih oleh Senopati Gending Suro,” kata Adipati Lalang Lengir.
“Itu artinya tetap akan ada perang. Apakah kau tahu, ada berapa kekuatan yang dikirim untuk menyerang ke sini?” tanya sang ratu.
“Enam kadipaten, Gusti Ratu.”
“Enam? Dugaanku tiga kadipaten.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk Gusti Ratu?” tanya Adipati Lalang Lengir.
“Pergilah peringatkan adipati yang lain bahwa mereka akan dieksekusi mati di medan perang jika terus mengikuti perintah orang-orang Senopati Gending Suro!”
“Baik, Gusti Ratu.”
“Alma, mulai hari ini, jika ada pasukan yang datang, aku beri kepadamu wewenang untuk mengeksekusi pemimpinnya!” perintah Ratu Warna Mekararum.
__ADS_1
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Alma patuh.
Setelah pertemuan itu, Adipati Lalang Lengir kembali meninggalkan Rawa Kabut untuk melaksanakan tugas, yaitu membujuk adipati lainnya. Akan ada empat adipati yang harus ia bujuk untuk tidak melakukan pemberontakan.
Setelah satu hari meninggalkan Rawa Kabut dan Lembah Hilang, Adipati Lalang Lengir berpapasan dengan Genggam Sekam dan Sumirah di tengah jalan.
“Aku tidak berhasil bertemu dengan Adipati Garongjaga, dia telah berangkat lebih dulu. Namun, selama pengejaran ke arah Rawa Kabut, aku tidak menemukan rombongannya,” ujar Genggam Sekam kepada Adipati Lalang Lengir.
“Mungkin kalian berbeda jalan. Sebab, pasukan akan berkumpul lebih dulu di Bukit Belah yang jalannya berbeda dengan ke arah Rawa Kabut,” kata sang adipati.
“Pantas.”
“Kau kembalilah ke Rawa Kabut. Aku sudah bertemu langsung dengan Gusti Ratu. Aku ditugaskan untuk pergi membujuk para adipati yang lain,” kata Adipati Lalang Lengir.
“Baiklah jika demikian. Aku kembali ke Rawa Kabut!”
Maka, Genggam Sekam dan Sumirah melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke Rawa Kabut. Sementara rombongan pasukan Kadipaten Sorangan pergi menuju Bukit Belah, tempat berkumpulnya pasukan dari enam kadipaten menurut yang direncanakan.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah hari, Adipati Lalang Lengir dan pasukannya berpapasan dengan satu pasukan besar. Pasukan itu terdiri dari pasukan berkuda dan pejalan kaki. Ada tiga kereta kuda terbuka yang membawa seorang punggawa.
Pasukan itu terdiri dari dua pasukan. Satu pasukan yang jumlah lebih banyak berseragam hijau hitam. Pasukan lain yang jumlahnya sekitar tiga ratus prajurit berseragam biru gelap. Mereka adalah pasukan langsung dari Kerajaan Jintamani.
Pasukan besar itu dipimpin oleh seorang komandan yang bernama Jaru Berawak. Ia adalah Komandan Pasukan Penakluk. Ia yang diutus khusus oleh Senopati Gending Suro untuk memimpin penyerangan ke Rawa Kabut.
Jaru Berawak adalah seorang lelaki bertubuh kekar dengan tinggi biasa saja. Ia bertelanjang dada dengan gelang-gelang logam melingkar di kepala, leher, kedua lengan, dan kedua pergelangan kaki. Di pinggang belakangnya terselip keris bagus berwarna merah gelap.
Dalam pasukan itu, ada juga sejumlah pendekar, termasuk Sanggar Aga alias Pengelana Kepeng, Merah Matang dan Wanita Kipas Melati.
Jaru Berawak menghentikan rombongan pasukannya saat berhadapan dengan rombongan Adipati Lalang Lengir yang jauh lebih sedikit.
Adipati Lalang Lengir lalu turun dari dalam kereta kudanya. Ia maju ke depan kuda Komandan Jaru Berawak.
“Hormatku, Komandan Jaru Berawak. Maafkan aku karena baru bergabung,” ujar Adipati Lalang Lengir.
“Kenapa pasukan Adipati Lalang Lengir sangat sedikit?” tanya Jaru Berawak.
“Maafkan aku. Aku salah memahami perintah. Aku lebih dulu membawa pasukanku ke Rawa Kabut. Pasukanku dibantai dan inilah yang tersisa,” kata Adipati Lalang Lengir.
“Bergabunglah dengan pasukan ini, kita hancurkan penghuni Rawa Kabut!” kata Jaru Berawak.
“Baik.”
__ADS_1
Maka bergabunglah Adipati Lalang Lengir ke dalam pasukan Kerajaan Jintamani. Pasukan itupun melanjutkan perjalanan menuju Rawa Kabut yang akan memakan perjalanan dua hari lagi.
Pada masa pasukan melakukan singgah istirahat, Adipati Lalang Lengir melakukan gerakan menemui sejumlah adipati lalu melakukan pembicaraan rahasia. (RH)