
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Alma Fatara dan Debur Angkara menyerahkan diri. Mereka siap dibawa sebagai tahanan Kadipaten. Alma dan kelompoknya tidak melakukan perlawanan terhadap jeratan hukum yang mengenai mereka berdua.
“Siapa kalian adanya?” tanya Komandan Gendas Pati.
“Aku Alma Fatara, Paman. Ini sahabatku, Debur Angkara, Pendekar Desa Iwaklelet. Kami sedang menuju ke Gunung Alasan untuk mengobati nenekku,” jawab Alma.
“Hmm!” gumam Gendas Pati.
“Berarti kami bebas, Paman Komandan?” tanya Alma sambil tersenyum ceria.
“Prajurit, lucuti senjatanya!” perintah Komandan Gendas Pati kepada anak buahnya, membuat Alma membengkokkan bibirnya karena kecewa.
Maka seorang prajurit mendekati Debur Angkara. Ia lalu mengambil dua golok biru milik Debur Angkara.
“Awas, jika sampai dua golokku tidak kembali kepadaku, akan aku hancurkan kadipaten ini!” ancam Debur Angkara.
“Geledah gadis itu!” perintah Gendas Pati pula.
“Eit, tunggu, Paman Komandan! Jika Kadipaten punya aturan, aku juga punya peraturan atas diriku yang cantik ini. Aku tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Aku bersedia di penjara, tetapi jangan coba-coba menyentuhku, atau akan terluka, bahkan mati. Itu aturanku, Paman Komandan. Hahaha!” ujar Alma Fatara lalu tertawa jumawa.
“Di balik pakaiannya pasti ada senjata. Periksa gadis itu!” perintah Gendas Pati tanpa mengindahkan perkataan Alma.
Maka, seorang prajurit segera datang mendekati Alma.
“Jangan melawan!” kata prajurit itu sambil mengulurkan dua tangannya hendak menyentuh pinggang Alma. “Ak!”
Mendadak prajurit itu menjerit sambil spontan menarik kedua tangannya menjauh dari tubuh Alma. Terkejut Gendas Pati dan seluruh prajurit Kadipaten yang masih mengepung di depan pasar itu. Si prajurit melihat kedua telapak tangannya mengeluarkan sedikit darah. Ia tadi merasakan kedua tangannya seperti ditusuk jarum, tapi tidak terlihat. Saat itu, Alma Fatara tidak berbuat apa-apa.
“Apa yang terjadi, Prajurit?” tanya Gendas Pati heran.
“Ada yang menusuk tanganku, Komandan,” jawab prajurit yang hendak menggeledah Alma.
“Hahaha! Sudah aku katakan, aku juga punya peraturan, Paman Komandan. Silakan bawa aku dan Kang Debur untuk dipenjara, tapi jangan coba-coba mau menyentuhku. Ingat, aku adalah wanita yang cantik. Hahaha!” kata Alma.
Magar Kepang, Garam Sakti dan Ayu Wicara hanya tersenyum mendengar kata-kata Alma.
__ADS_1
“Mundur, biar aku yang menggeledah!” perintah Gendas Pati.
Komandan prajurit itu lalu turun dari kudanya. Ia langsung menghampiri Alma yang hanya tersenyum kepadanya. Gendas Pati menatap tajam wajah Alma, seolah ingin menelan bulat-bulat kecantikan Alma yang masih begitu muda.
Sambil terus manatap sepasang mata Alma, kedua tangan kekar Gendas Pati mengulur ke arah pinggang si gadis.
“Ak!” pekik Gendas Pati tertahan saat merasakan kedua tangannya ditusuk sesuatu seperti jarum, padahal Alma diam tidak bergerak sedikit pun.
“Hahaha!”
Pekikan Gendas Pati membuat Alma tertawa, disusul oleh tawa rekan-rekannya. Gendas Pati melihat pada telapak tangannya keluar darah seperti usai disuntik jarum.
“Masih mau mencoba, Paman. Tapi, aku akan pastikan kau tidak akan bisa berdiri lagi. Kau harus belajar mendengar peringatan dari orang lain, Paman,” kata Alma.
Namun, peringatan Alma itu justru membuat Gendas Pati naik pitam.
“Jangan coba-coba menipuku dengan permainan anak kecil seperti ini!” teriak Gendas Pati gusar lalu maju hendak meraih pinggang Alma dengan paksa. Namun, “Aak!”
Sedikit pun Alma tidak bergerak ketika tiba-tiba Gendas Pati menjerit keras dan jatuh berlutut dengan kedua lututnya. Semua prajurit terkejut dan jadi tegang, mereka semua kembali menghunus pedang setelah sebelumnya telah disarungkan.
Melihat hal itu Alma mundur dua langkah. Kubu Alma hanya tertawa kecil melihat hasil dari kekeraskepalaan sang komandan. Padahal ia sudah diperingatkan.
“Maafkan aku, Paman Komandan. Aku sudah mengingatkan dirimu. Aku juga punya peraturan atas diriku. Hahaha!” kata Alma lalu malah tertawa datar.
“Kau …,” ucap Gendas Pati tanpa bisa berkata-kata lagi. Ia terlalu meremehkan kelunakan Alma.
“Bagaimana, Paman Komandan? Apakah aku jadi ditahan?” tanya Alma.
“Prajurit, bawa dua orang ini ke hadapan Adipati untuk ditahan!” perintah Gendas Pati kepada anak buahnya sambil mengerenyit menahan sakit.
“Debur Angkara, Alma Fatara, ayo jalan!” perintah prajurit yang telah berdiri di belakang Alma dan Debur Angkara dengan hunusan pedang.
Alma yang baru saja memainkan Benang Darah Dewa lalu berjalan mengikuti para prajurit. Demikian pula dengan Debur Angkara. Sementara rombongan Alma memilih tidak mengikuti.
Gendas Pati akhirnya harus jadi pesakitan. Setelah kedua persendian lututnya diserang oleh Benang Darah Merah, ia benar-benar tidak bisa berdiri lagi. Dua orang prajurit anak buahnya memapahnya. Ketika diusahakan untuk naik ke punggung kuda, Gendas Pati juga tidak bisa.
“Hei, kau!” panggil prajurit kepada Garam Sakti. “Bawa ke sini pedatimu!”
__ADS_1
Terkejut kesal Garam Sakti mendapat panggilan seperti itu.
“Jika tidak dilarang buat rusuh, aku bakar juga dengan Keris Petir Api,” dumel Garam Sakti mangkel. Namun, ia bertanya dulu kepada Warna Mekararum, “Bagaimana, Nek?”
“Turuti saja perintahnya, agar kita bisa bertemu dengan Adipati,” jawab Warna Mekararum.
Maka, Garam Sakti memajukan pedatinya ke dekat Gendas Pati. Sang komandan kemudian dinaikkan duduk di sisi sais sambil mengerenyit menahan sakit pada lutut yang berdenyut genit.
“Kau berurusan dengan gadis yang salah, Komandan,” kata Garam Sakti.
“Aah, sudah, jalan saja, ikuti para prajurit itu!” kata Gendas Pati. Ia sejenak menengok ke belakang memandangi Warna Mekararum.
Karena pedati kudanya pergi mengikuti para prajurit yang menggiring Alma dan Debur Angkara, Magar Kepang dan Ayu Wicara juga harus mengikuti.
Berada dalam giringan para prajurit Kadipaten, membuat Alma Fatara dan Debur Angkara jadi pusat perhatian warga Ibu Kota.
Dari arah yang berlawanan, berlari dua ekor kuda yang ditunggangi oleh dua orang pemuda. Ketika melihat ada orang yang digiring oleh para prajurit, kedua pemuda tampan berpakaian ala bangsawan itu memelankan kudanya. Namun, sangat jelas terlihat bahwa pandangan kakak adik itu fokus kepada Alma Fatara.
“Cantik sekali,” ucap pemuda berambut pendek nyaris botak, tetapi berikat kepala biru terang, sesuai warna pakaian mewahnya. Ia bernama Ariang Banu.
“Sungguh kecantikan yang sempurna,” ucap pemuda berambut gondrong yang memiliki tahi lalat di atas alis kanannya. Pemuda yang adalah kakak dari Ariang Banu itu mengenakan pakaian warna kuning emas. Ia bernama Arung Seto.
Kakak adik itu adalah dua anak lelaki Bendahara Kadipaten. Mereka membawa senjata pada kudanya. Ada panah dan pedang.
Alma Fatara tahu bahwa ia sedang diperhatikan oleh kedua pemuda tampan itu, tetapi ia bersikap tidak acuh. Justru Debur Angkara yang balas memerhatikan keduanya. Ada rasa tidak suka di dalam hati Debur Angkara melihat kedua pemuda itu memperhatikan Alma begitu lama.
Ariang Banu dan Arung Seto memilih menghadang kuda pedati.
“Siapa wanita yang kalian tangkap itu, Gendas Pati?” tanya Arung Seto kepada sang komandan.
“Namanya Alma Fatara, pendekar wanita yang melanggar hukum Kadipaten,” jawab Gendas Pati.
“Pelanggaran apa yang dia lakukan?” tanya Ariang Banu.
“Mencopot papan pengumuman,” jawab Gendas Pati yang sedikit-sedikit meringis.
“Kenapa kau?” tanya Arung Seto curiga.
__ADS_1
“Wanita itu melumpuhkan kakiku,” jawab Gendas Pati pelan.
“Jangan suka macam-macam dengan pendekar asing. Kalian itu hanya prajurit,” ujar Ariang Banu, lalu menjalankan kudanya meninggalkan rombongan tersebut. Arung Seto segera mengikuti. (RH)