
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
“Hahaha …!”
Tawa Dendeng Pamungkas dan Gelis Sibening terus berkepajangan di undakan tangga candi yang sudah berlumut. Jika ada warga yang hanya mendengar tawa tanpa melihat keberadaan mereka, pastinya akan dikira dedemit candi yang usianya sudah terlupakan.
Gelis Sibening begitu manja duduk bersandar pada dada Dendeng Pamungkas yang duduk di belakangnya. Jari-jari warna hitam Dede Pamungkas memainkan rambut terurai si gadis yang harum.
Angin alam senja yang sejuk benar-benar memberi nuansa cinta yang begitu mesra, terlebih bersandar pada dada seorang pemuda tampan yang bayangannya pun tidak mau menghilang. Ditambah irama air sungai yang seolah menata syair cinta, kasih dan sayang untuk hati mereka berdua.
Hanya sekitar sepuluh tombak di depan mereka, tepatnya di depan tangga tua candi, ada sebuah sungai yang cukup besar. Di seberang sungai adalah hamparan luas tanah sawah milik orang-orang kaya Kademangan. Saat itu padi di sawah dalam masa vegetatif, ketika malai padi baru terbentuk. Sungai dan padi adalah dua obyek pemandangan alam yang bisa menggugah selera bercinta, tetapi masih dalam batas-batas budaya ketimuran.
“Sepuluh burung bangau terbang menuntun mata, di kala senja bersemu merah muda, bayu beriak membelai padi yang masih belia, memancing hati kita selalu mekar berbunga. Bolehlah air sungai mengalir dan menghilang, tenggelam oleh hilir di balik ilalang, tapi tidak dengan cinta rindu dan sayang, yang selalu membawa kita terbang melayang,” ucap Dendeng Pamungkas bersyair indah.
Gelis Sibening ganti bersyair dalam dekapan tangan kekar Dendeng Pamungkas dari belakang.
“Lihatlah ikan emas yang sekuning padi di musim panen, selalu membuat semua orang tersenyum kala memandangnya dari tepian, bisikan-bisikan rindu nan syahdu menjadi suara angin, menenteramkan hati seperti terlelap dalam pelukan. Capung jarum pernah bertanya kepada si kupu-kupu pagi, mengapa kita berdua selalu tersenyum bersuka hati, kupu-kupu lalu bernyanyi dan menari, sebagai gamelan cinta yang tidak pernah mati,” ucap Gelis Sibening.
Tiba-tiba Dendeng Pamungkas terkejut. Dunianya mendadak hancur buyar menjadi kehitaman belaka. Hanya warna hitam yang ia lihat. Pelukannya kepada Gelis Sibening tiba-tiba hilang tanpa terasa ada wujudnya. Ia pun sepertinya tidak duduk di undakan tangga candi tua, melainkan seperti sedang tergeletak di suatu tempat. Pemandangan sungai dan sawah luas di seberang sana hilang seperti direnggut oleh si pembunuh kenikmatan.
Syair indah dari wanita yang sangat dicintainya juga mendadak hening, hilang terbawa angin.
“Kang, Kakang …!”
Di dalam gelap yang menyelimuti, kini Dendeng Pamungkas mendengar suara panggilan dari orang yang ia kenali, yaitu suara Gelis Sibening. Namun, kenapa suaranya terasa bergetar dan mengandung isak tangis.
__ADS_1
“Kakang, hiks …. Kakang Dendeng, bangunlah! Hiks …!”
Suara panggilan bercampur isak tangis itu semakin jelas di telinga Dendeng Pamungkas. Ia berusaha untuk membuka matanya yang ternyata dalam kondisi tertutup. Keindahan pemandangan, kemesraan cinta, dan kemerduan syair, ternyata hanyalah mimpi.
Dendeng Pamungkas merasakan seluruh tubuhnya lemas dan sakit. Ia berusaha untuk bergerak dan membuka mata. Namun, sedikit pun ia tidak memiliki tenaga dan kelopak matanya seolah berubah menjadi seberat batu sungai. Ia benar-benar tidak berdaya, seperti orang yang kehilangan seluruh pakaian saat sedang mandi di sungai siang-siang bolong.
Daripada berusaha membuka mata yang tak bisa dilakukan, Dendeng Pamungkas memilih untuk mengumpulkan kembali memorinya. Ia berusaha mengingat-ingat kejadian apa yang terakhir dia alami.
“Aku bertarung dengan seseorang bertopeng kain hitam di malam hari yang aku hadang. Orang itu membawa seorang wanita. Lalu aku merasakan sakit pada tengkukku,” pikir Dendeng Pamungkas. “Tapi suara tadi seperti suara Gelis Sibening ….”
“Kang Dendeng, jangan mati! Hiks …!”
Suara wanita itu kembali terdengar oleh Dendeng Pamungkas, berasal dari tempat yang tidak jauh, tapi di dekatnya.
Pikiran Dendeng Pamungkas segera melakukan teori cocoklogi. Ia mencocokkan wanita yang diculik oleh lelaki bertopeng dengan suara yang sekarang ia dengar. Ia pun teringat ketika orang bertopeng itu menyebut nama wanita yang diculiknya.
Terkejutlah Gelis Sibening mendengar suara teriakan pemuda yang dicintainya itu. Ia terkejut disusul rasa lega, karena Dendeng Pamugkas belum mati. Meski demikian, rasa cemas tetap ada karena kondisi murid Perguruan Jari Hitam itu tidak baik-baik saja.
Dendeng Pamungkas saat ini dalam kondisi tengkurap di lantai tanah yang keras. Ia terkapar tidak berdaya karena racun dari dua jarum sumpit yang mengenainya telah membuatnya lumpuh.
Sementara itu, sejauh dua tombak darinya, duduk Gelis Sibening dengan hanya berpinjung merah dan berkain batik kuning menutupi tubuh bawahnya. Tubuhnya bersandar pada tiang balok ruangan, sementara kedua tangannya diikat di belakang merangkul tiang, sehingga ia tidak berdaya. Ditambah kedua pergelangan kakinya juga diikat tali.
“Kakang Dendeng, kau masih hidup!” pekik Gelis Sibening girang di dalam penderitaan.
“Apa … apa yang terjadi, Gelis? Aku tidak bisa membuka mata,” tanya Dendeng Pamungkas.
__ADS_1
“Aku diculik, Kang. Aku diikat di tiang. Hiks …!”
Gelis Sibening jadi menangis lagi karena sedih dengan kondisi mereka berdua.
“Maafkan aku, Gelis. Aku tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa di saat seperti ini! Haaa …!” ucap Dendeng Pamungkas meratap lalu menangis seperti lelaki yang tidak berdaya.
“Jangan salahkan dirimu, Kakang. Ayah pasti akan menemukan kita dan membebaskan kita,” kata Gelis mencoba menyemangati kekasihnya. Ia harus tidak menangis agar pemuda itu tidak bersedih hati karena mengkhawatirkannya.
Klak!
Tiba-tiba terdengar suara benturan kayu, seperti seseorang yang sedang membuka pintu. Gelis Sibening cepat menengok ke arah pintu yang posisinya cukup jauh dari mereka. Tempat itu seperti gudang besar, tetapi kosong.
“Ada yang datang, Kakang. Jangan bersuara!” kata Gelis Sibening setengah berbisik.
Maka diamlah Dendeng Pamungkas dan Gelis Sibening.
Seorang pemuda berpakaian hitam berjalan masuk. Pemuda yang terbilang tampan itu memelihara kumis tipis. Rambutnya diikat sederhana gaya ekor kuda. Ia membawa sebuah keranjang anyaman kulit bambu berisi makanan. Lelaki itu menghampiri Gelis Sibening
“Kakang Ninggat, kenapa kau melakukan ini?” tanya Gelis Sibening kepada pemuda yang dikenalnya.
“Tidak usah menangis seperti itu. Aku hanya menculikmu, tidak membunuhmu. Setelah nanti perang-perangan antara Kademangan dengan Perguruan Jari Hitam selesai, barulah kau akan dibebaskan,” jelas lelaki yang tadi disebut namanya adalah Ninggat. “Ini, aku bawakan makanan untukmu!”
“Aku tidak akan memakannya!” tolak Gelis Sibening, menunjukkan raut kemarahan.
“Jika kau tidak mau memakannya, baiklah. Nikmati saja deritamu!” rutuk Ninggat, ia lalu meletakkan wadah yang berisi makanan di depan kaki Gelis Sebening. Ia tidak mau ambil peduli bagaimana caranya Gelis Sibening bisa makan, sedangkan kedua tangannya diikat di belakang.
__ADS_1
Ninggat lalu melangkah pergi. Setelah pemuda itu keluar dan mengunci pintu, Gelis Sibening dan Dendeng Pamungkas kembali memulai drama ketidakberdayaan di antara mereka. (RH)