
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
Malam itu, Ki Sagu Gelegak melakukan pengobatan alternatif terhadap Warna Mekararum. Proses pengobatan disaksikan oleh Ketua Perguruan Jari Hitam Rereng Busa dan Alma Fatara.
Sejak kedatangan Alma dan rombongan di perguruan itu, Ratu Warna Mekararum ditempatkan di kamar khusus. Ketika terjadi kekisruhan tadi sore, Warna Mekararum hanya bisa mendengar dari dalam kamarnya.
Ki Sagu Gelegak memberikan pengobatan melalui kepala. Warna Mekararum sendiri harus didudukkan dengan bersandar pada tiang kamar. Sementara Alma duduk bersila di dekat sang nenek. Di pangkuan Alma ada baskom tanah liat kecil berisi air putih.
Ki Sagu Gelegak melakukan beberapa kali cengkeraman jari pada kepala Warna Mekararum. Titik yang ditekan pun berubah-ubah, seperti gitaris yang sedang menekan kunci pada fingerboard gitar.
“Hoek!”
Tiba-tiba Warna Mekararum mual. Sesuai arahan Ki Sagu Gelegak sebelumnya, Alma Fatara segera meletakkan baskom tepat di bawah dagu Warna Mekararum. Ki Sagu Gelegak terus menyalurkan tenaga dalamnya melalui cengkeraman jari-jari tangannya.
“Hoeekh!”
Akhirnya Warna Mekararum muntah darah, tapi warnanya hitam pekat dan hijau gelap. Baunya busuk. Wajah Warna Mekararum yang biru, mengerenyit menahan sakitnya perut dan tenggorokannya saat darah itu naik untuk dimuntahkan. Urat-urat wajahnya sampai bertonjolan dan sepasang matanya mengeluarkan air mata.
“Hoekhr!” Warna Mekararum kembali muntah untuk keduakalinya.
Giling Saga muncul di pintu dan melangkah masuk lalu menghormat kepada gurunya.
“Guru, Nyi Bungkir ada di luar, ingin bertemu,” ujar Giling Saga.
“Hmm!” gumam Rereng Busa. Ia lalu beranjak pergi ke luar kamar yang temaram karena hanya berpenerangan satu obor.
Setibanya di luar, ternyata sudah ada wanita cantik berdiri menunggu, yaitu Nyi Bungkir.
“Maafkan aku, Ketua. Aku harus pergi malam-malam. Ada prajuritku datang melaporkan bahwa Nyi Kenanga telah menawan dan mengancam nyawa Gelis Sibening,” ujar Nyi Bungkir.
“Oh, rupanya Nyi Kenanga masih melakukan perlawanan,” komentar Rereng Busa. “Silakan, Nyi. Tapi, biarkan dua orang muridku mengawalmu, Nyi.”
“Baiklah.”
“Giling Saga, ajak satu murid utama untuk mengawal Nyi Bungkir!” perintah Rereng Busa.
“Baik, Guru,” ucap Giling Saga patuh.
Maka, malam itu juga Nyi Bungkir meninggalkan Perguruan Jari Hitam dengan kereta kuda, dikawal oleh seorang sais, seorang prajurit berkuda, dan dua murid perguruan yang juga menunggang kuda. Giling Saga mengajak Brata Ala sebagai teman mengawal Nyi Bungkir.
“Ada apa, Kek?” tanya Alma penasaran ketika Rereng Busa kembali masuk ke dalam kamar.
“Gelis Sibening ditawan lagi dan diancam oleh ibu tirinya,” jawab Rereng Busa.
“Loh, bukankah katanya sudah bebas?” tanya Alma.
“Entahlah. Aku pun tidak mengerti konflik keluarga itu,” kata Rereng Busa.
“Wah, berarti Dendeng Pamungkas tidak boleh tahu jika kekasihnya masih disekap,” kata Alma.
“Permisi, Guru!” ucap seorang murid wanita perguruan yang muncul di ambang pintu. Murid wanita itu adalah Rinai Serintik.
__ADS_1
“Ada apa, Rinai?” tanya Rereng Busa.
Rinai Serintik lalu melangkah masuk.
“Mohon izin, Guru,” ucapnya sambil menjura hormat kepada gurunya.
“Hmm!” gumam sang guru.
“Demang Baremowo ingin bertemu denganmu, Alma,” ujar Rinai Serintik kepada Alma.
“Oh,” desah Alma. “Ada apa ya?”
“Pergilah. Mungkin demang itu perlu bantuanmu lagi!” anjur Warna Mekararum yang sudah selesai diobati. Kini dia berbaring di ranjang bambunya yang bertilam.
“Baik, Nek!” ucap Alma patuh.
Setelah izin, Alma Fatara dan Rinai Serintik pergi ke kamar tempat Demang Baremowo berada.
“Hahaha! Rupanya Paman Demang belum siap berpisah denganku!” kata Alma tertawa setibanya di kamar Demang Baremowo.
“Sepertinya aku harus minta bantuanmu lagi, Alma. Saat ini, hanya kau yang aku percaya,” ujar sang demang.
“Asalkan aku tidak mengeluarkan biaya. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa.
“Aku minta kepadamu untuk memastikan keselamatan nyawa Gelis Sibening. Aku berjanji akan memberikan apa pun yang kau minta kepadaku, Alma,” kata Demang Baremowo.
“Hahaha!” tawa Alma. “Tidak perlu repot-repot, Paman Demang. Asalkan Paman Demang bahagia, itu sudah cukup. Tapi … jika Paman Demang bersikeras mau memberi sesuatu kepadaku, kirimkan saja kepada ayah ibuku di Desa Iwaklelet di Pantai Parasemiris. Mereka pasti sangat senang.”
“Berarti aku harus mengikuti rombongan Nyi Bungkir agar tidak tersesat,” ucap Alma Fatara.
Akhirnya Alma memenuhi permintaan Demang Baremowo. Alma menunggangi kuda di dalam kegelapan mengejar rombongan Nyi Bungkir.
Sementara itu, rombongan kereta kuda Nyi Bungkir menemui satu kondisi yang tidak terduga oleh mereka. Rombongan yang hanya berbekal dua obor pada bagian atap kereta itu, tanpa terduga berpapasan dengan ratusan prajurit berobor di pertigaan jalan Kademangan.
Ratusan prajurit pejalan kaki itu berseragam warna merah gelap. Mereka bersenjata tombak, pedang dan tameng. Bahkan dalam rombongan itu ada pula pasukan pemanah. Obor-obor bambu yang mereka bawa membuat suasana persimpangan itu menjadi terang.
Pasukan itu dipimpin oleh dua penunggang kuda. Keduanya berpenampilan layaknya sebagai punggawa prajurit. Dari keduanya bisa dicirikan siapa yang berstatus sebagai pemimpin, yaitu seorang lelaki bertelanjang dada berusia kisaran empat puluhan tahun. Ia tidak bertubuh atletis, tetapi berbadan besar dan agak gendut berlemak. Senjata yang tersandang di punggunya adalah sebuah pedang. Ia berstatus sebagai Komandan Utara Kadipaten Balongan, namanya Dampuk Ulang.
Lelaki kedua yang menunggang kuda selain Dampuk Ulang adalah tangan kanan sang komandan, namanya cukup “Lot” saja. Ia bersenjatakan pedang yang menggantung di pinggang kirinya.
Mau tidak mau, sais kereta kuda Nyi Bungkir menghentikan kudanya. Jika mereka memaksa terus berjalan, mereka akan tepat lewat di depan pasukan itu. Namun kemudian, Komandan Dampuk Ulang justru menghentikan pasukannya.
“Siapa mereka, Lenggir?” tanya Nyi Bungkir kepada saisnya. Ia bisa melihat suasana terang di luar kereta dan suara ramainya langkah kaki.
“Sepertinya pasukan dari Kadipaten Balongan, Nyi,” jawab sais yang bernama Lenggir.
“Apa?” kejut Nyi Bungkir.
“Sebutkan siapa kalian!” perintah Dampuk Ulang kepada Giling Saga, Brata Ala dan satu prajurit Kademangan.
“Orang di dalam kereta ini adalah penguasa Kademangan ini!” jawab Giling Saga. “Apakah kalian pasukan dari Kadipaten?”
__ADS_1
“Siapa orang di dalam kereta? Apakah Demang Baremowo?” tanya Dampuk Ulang tanpa mempedulikan pertanyaan Giling Saga.
Karena pertanyaannya tidak dianggap, Giling Saga tidak menjawab pula. Ia hanya mendengus.
“Hei, Kisanak! Jawab pertanyaan Komandan Dampuk Ulang!” bentak Lot sambil menunjuk wajah Giling Saga.
“Hentikan perdebatan kalian!” seru Nyi Bungkir tiba-tiba dari dalam bilik keretanya.
Terkejut Dampuk Ulang dan Lot, ternyata orang di dalam kereta adalah seorang wanita.
Nyi Bungkir memilih keluar dari dalam bilik keretanya dan berdiri di sisi saisnya.
“Aku Nyi Bungkir, istri Demang Baremowo. Apa tujuan pasukan Kadipaten malam-malam datang ke Kademangan?” tanya Nyi Bungkir setelah memperkenalkan diri.
“Oh, Nyi Bungkir,” ucap Dampuk Ulang sambil menggut-manggut seolah pernah kenal nama.
“Prajurit! Kepung!” teriak Lot tiba-tiba.
Breg breg breg …!
Perintah itupun diikuti oleh pergerakan seratus prajurit yang berlari teratur, memecah diri, lalu berhenti setelah mereka sudah mengepung posisi kereta kuda dan dua kuda lainnya.
Nyi Bungkir dan kedua murid Perguruan Jari Hitam jadi terkejut dan heran. Sementara satu prajurit yang bersama mereka terlihat cemas.
“Apa yang kau lakukan, Prajurit? Beraninya kau menyerang keluarga Demang!” hardik Giling Saga.
“Adipati telah mendapat laporan bahwa Demang Baremowo dan istrinya yang bernama Nyi Bungkir telah menyalahgunakan kekuasaannya. Aku datang malam ini untuk menangkap keduanya!” tandas Dampak Ulang. “Menyerahlah kalian agar tidak ada darah tertumpa!”
“Keputusan ada di tanganmu, Nyi Bungkir!” kata Giling Saga kepada istri muda Demang itu.
Nyi Bungkir tidak langsung menjawab. Ia sedang berpikir, menerka dan menimbang kenapa kondisi di malam itu bisa terjadi.
“Aku heran, kenapa Adipati Marak Wijaya begitu serius menanggapi laporan bohong. Siapa sebenarnya yang mengutus kalian? Aku yakin, bukan Adipati Marak Wijaya yang mengirim kalian,” tanya Nyi Bungkir.
“Beraninya kau meragukan kami, Nyi Bungkir!” gusar Dampuk Ulang. “Aku beri satu kesempatan. Turun berlutut!”
“Jika kalian memang benar datang atas perintah Adipati untuk menangkap Demang dan aku, tunjukkan tanda perintah dari Adipati Marak Wijaya!” seru Nyi Bungkir.
Mendeliklah Dampuk Ulang mendengar tuntutan Nyi Bungkir.
“Heh! Ternyata pasukan tidak resmi!” dengus Nyi Bungkir. Lalu katanya lagi, “Aku tahu bahwa setiap pasukan Kadipaten dan pasukan Kerajaan yang melakukan tugas resmi pasti dibekali tanda perintah.”
“Beraninya kau mencurigai pasukan Kadipaten!” kecam Dampuk Ulang. Lalu teriaknya, “Bunuh mereka semua!”
Sebelum pasukan berpakaian merah gelap itu bergerak serentak menyerang, Nyi Bungkir telah mendahului berkelebat cepat langsung menyerang Dampuk Ulang di atas kudanya.
Plak!
Pukulan telapak tangan Nyi Bungkir dihadang oleh pukulan telapak tangan Dampuk Ulang pula. Benturan dua tenaga dalam terjadi. Dampuk Ulang terdorong sampai terjatuh dari atas kudanya. Sementara Nyi Bungkir terdorong balik lalu mendarat bagus di tanah.
“Seraaang!” teriak puluhan para prajurit yang mengepung.
__ADS_1
Maka Nyi Bungkir, Giling Saga, Brata Ala dan satu prajurit melakukan perlawanan. (RH)