A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 12: Mengkhianati Pemberontak


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Selain Adipati Garongjaga, Adipati Panji Gumo dan Adipati Kendrang, Adipati Lalang Lengir juga bertemu khusus dengan Adipati Butak Jelaga dari Kadipaten Duno. Mereka sudah memutuskan siasat untuk melakukan pengkhianatan terhadap pasukan yang dipimpin oleh Komandan Jaru Berawak.


Untuk pasukan Kadipaten Pagamuyung yang tidak dipimpin oleh adipatinya, Adipati Lalang Lengir diam-diam memberi pesan kepada pemimpin prajurit tanpa sepengetahuan Komandan Bariat.


Rombongan pasukan itu terus melanjutkan perjalanan menuju Rawa Kabut. Hingga waktu pun berlalu dan jarak pun tertempuh.


Pasukan akhirnya tiba di daerah yang bisa disebut sebagai gerbang Lembah Hilang yang ada di sisi barat Gunung Alasan.


Sebelum memasuki Lembah Hilang, Komandan Jaru Berawak menghentikan pasukannya.


“Pergi periksa sampai ke seberang lembah!” perintah Jaru Berawak kepada seorang prajuritnya.


“Baik, Komandan!” ucap prajurit itu patuh.


Dengan berkuda, si prajurit segera berlari pergi membelah tanah lembah berumput.


“Panggil semua pemimpin pasukan dan para pendekar!” perintah Jaru Berawak kepada asistennya yang bernama Rukaki.


“Baik, Komandan!” sahut Rukaki.


Menggunakan kuda tunggangannya, Rukaki segera pergi untuk memanggil semua pemimpin pasukan dan para pendekar. Pendekar ada dua kelompok, yaitu pendekar bayaran dan pendekar yang memang bekerja tetap sebagai pendekar kadipaten.


Tidak berapa lama, dua komandan, lima adipati dan tujuh pendekar berkumpul dalam satu lingkaran berdiri.


Ketujuh pendekar yang berkumpul di antaranya adalah Remuk Pusaka dan Remuk Hasrat yang merupakan pendekar Kadipaten Sorangan, Pengelana Kepeng, Merah Matang, Wanita Kipas Melati, Algojo Tombak, dan Pendekar Macan Putih selaku pendekar bayaran.


“Kita sedang menunggu kembalinya prajurit yang aku utus dari seberang lembah. Jika kondisi sesuai keadaan, maka kita akan maju bersama melewati Lembah Hilang dan masuk ke Rawa Kabut. Kalian, para pendekar, akan maju lebih dulu untuk mengacaukan rencana musuh. Ingat, lawan kita hanya beberapa orang saja. Kemungkinan kuat mereka sudah menyiapkan perangkap agar bisa membunuh pasukan dalam jumlah banyak sekaligus. Jadi majunya para pendekar untuk merusak rencana itu,” tutur Jaru Berawak.


“Aku hanya ingin memburu gadis ingusan berjubah hitam itu!” kata Merah Matang. Ia dan Wanita Kipas Melati menaruh dendam kepada Alma Fatara yang membunuh saudara seperguruan mereka, Setan Cakar Biru.


“Tidak masalah. Yang terpenting, jangan biarkan mereka bertindak sesukanya!” tandas Jaru Berawak.


Akhirnya prajurit yang ditugaskan untuk mengecek kondisi Lembah Hilang telah kembali.


“Lapor, Komandan!” ucap prajurit itu dengan suara yang gemetar dan badan yang menggigil.


“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Komandan Jaru Berawak.


“Ujung Lembah Hilang udaranya sangat dingin, Komandan!”


“Sejak di mana kau merasakan dingin?” tanya Jaru Berawak.


“Sejak tengah lembah,” jawab si prajurit.

__ADS_1


“Jika begitu, pasukan akan maju sampai ke tengah Lembah, setelah itu para pendekar yang maju terus sampai menuju ke Rawa Kabut!” perintah Jaru Berawak memutuskan. “Kembalilah ke posisi masing-masing!”


Para pemimpin pasukan dan pendekar bubar kemudian kembali ke posisi masing-masing. Setelah itu, Jaru Berawak memimpin pasukannya bergerak maju memasuki Lembah Hilang.


Suara bergerak majunya pasukan terdengar ramai di sekitar Lembah Hilang, termasuk pasang-pasang mata yang memantau dari tempat bersembunyi, baik di sisi kanan dan kiri lembah, maupun di ujung lembah.


Orang-orang yang bersembunyi di ujung lembah tidak lain adalah Alma Fatara dkk. Bersamanya ada Ayu Wicara, Debur Angkara, Genggam Sekam, dan Sumirah. Mereka semua mengenakan pakaian tebal berlapis, tapi Alma tetap tampil seperti biasa dengan jubah hitamnya.


Namun, belum jelas siapa orang-orang yang bersembunyi di sisi kanan dan kiri lembah.


Semakin maju pasukan itu, maka mereka semakin merasakan hawa yang dingin. Semakin maju, semakin dingin.


Ketika pasukan sudah berada di tengah Lembah Hilang, sebagian prajurit mulai kedinginan, terihat mereka mulai memeluk dirinya sendiri. Namun, mereka terus melangkah maju karena belum ada perintah berhenti dari sang komandan.


Komandan Jaru Berawak lalu menghentikan langkah kudanya sambil mengangkat tangan, memberi tanda berhenti. Pasukan pun berhenti.


Sejenak Jaru Berawak mengedarkan pandangannya memeriksa wilayah sekitar. Ia tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan karena memang sulit melihat dari jarak kejauhan.


“Para pendekar, maju!” teriak Komandan Jaru Berawak kencang menggelegar.


“Heah heah!” teriak para pendekar yang difasilitasi kuda tunggangan.


Maka sebanyak lima pendekar berkuda melesat maju dengan kencang.


Komandan Jaru Berawak mengerutkan kening melihat hanya ada lima pendekar yang maju, bukan tujuh.


“Hamba, Komandan!” sahut Rukaki menghadap.


“Lihat, siapa pendekar yang tidak maju!” perintah sang komandan.


“Baik, Komandan!”


Rukaki bergegas pergi untuk memeriksa siapa pendekar yang tidak turut maju.


Rukaki akhirnya tiba di barisan pasukan Kadipaten Sorangan pimpinan Adipati Lalang Lengir. Ia mendapati dua pendekar bawahan adipati perempuan itu masih duduk di kudanya di sisi kereta kuda junjungannya.


“Kenapa kalian berdua tidak maju?” tanya Rukaki kepada Remuk Pusaka dan Remuk Hasrat.


“Kami bertugas menjaga keselamatan Gusti Adipati,” jawab Remuk Pusaka dengan tenang.


Tanpa berkata-kata lagi, Rukaki segera memutar balik arah kudanya dan langsung pergi untuk melapor kepada junjungannya.


“Lapor, Komandan. Kedua pendekar yang tidak maju adalah kedua pengawal Adipati Lalang Lengir!” lapor Rukaki kepada Jaru Berawak.


Belum lagi sang komandan menanggapi laporan Rukaki, tiba-tiba terdengar teriakan keras seorang wanita.

__ADS_1


“Seraaang …!”


Terkejut Komandan Jaru Berawak dan Komandan Bariat yang memimpin pasukan Kadipaten Pagamuyung. Bagaimana ada perintah penyerangan sedangkan Komandan Jaru Berawak belum memberi perintah? Dan itu adalah suara teriakan Adipati Lalang Bengir.


“Seraaang …!” teriak para adipati serentak kepada pasukannya.


“Seraaang …!” teriak seluruh pasukan berseragam hijau hitam yang merupakan pasukan kadipaten.


Seluruh pasukan kadipaten mengikuti perintah adipatinya masing-masing. Mereka diarahkan menyerang pasukan berseragam biru gelap yang merupakan pasukan dari Kerajaan Jintamani.


Alangkah terkejutnya Komandan Jaru Berawak melihat semua pasukan kadipaten menyerang pasukan bawaannya.


Tidak hanya itu, pasukan Kadipaten Pagamuyung yang tidak dipimpin oleh adipatinya sendiri, ikut menyerang pasukan kerajaan dan Komandan Bariat yang memimpin mereka.


“Semua adipati memberontak!” teriak Komandan Jaru Berawak gusar.


Sementara itu, lima pendekar yang sedikit lagi sampai di ujung lembah, terkejut mendengar suara ramai jauh di belakang. Mereka pun berhenti dan menengok ke belakang.


Mereka semua terkejut melihat pasukan mereka saling serang.


“Apa yang terjadi?” tanya lelaki tinggi besar yang menyandang tiga buah tombak berbeda di punggungnya. Ia adalah Algojo Tombak.


“Sepertinya ada pasukan yang berkhianat,” duga Pengelana Kepeng.


“Ayo kita kembali ke pasukan!” seru Pendekar Macan Putih yang mengenakan pakaian putih berbahan bulu, sepertinya dari bahan kulit binatang.


Mereka berlima pun sepakat untuk berbalik, meninggalkan ujung lembah yang suhu udaranya sangat dingin.


Namun, baru belasan tombak kuda-kuda mereka berlari pulang, tiba-tiba mereka melihat seorang gadis cantik berlari cepat jauh di sisi kanan. Gadis berjubah hitam itu berlari kencang seolah ingin balap lari dengan kuda-kuda para pendekar.


“Hahahak …!” tawa gadis yang tidak lain adalah Alma Fatara. Dia berlari sambil menengok memandang kepada para pendekar, seolah ingin memberi tekanan psikis.


Pada akhirnya, Alma Fatara berhasil maju lebih ke depan membalap kelima kuda, tetapi masih cukup jauh di samping kanan.


Sezt!


Alma Fatara kemudian berhenti lalu mengibaskan kedua tangannya ke arah rombongan kuda yang berlari cepat.


Dua sinar kuning tipis melengkung melesat cepat menyerang rombongan itu.


“Lompaaat!” teriak Pengelana Kepeng cepat kepada empat pendekar rekannya, dia yang berada di sisi paling kanan.


Ternyata pendekar lainnya sepakat melompat bersama-sama dari punggung kudanya.


Bsezt!

__ADS_1


Mengerikan, sedetik setelah para pendekar itu melompat ke udara, kelima kuda yang mereka tunggangi terpotong dua dan tiga bagian oleh tebasan kilat dua sinar kuning dari ilmu Sabit Murka milik Alma. (RH)


__ADS_2